Flashback

Flashback
Bab 16: Don't Say Hello to Your Ex


__ADS_3

Mulai hari ini, misiku berlaku, yaitu "Don't say hello to your ex". Walau sejak kejadian malam itu aku belum pernah melihat batang hidungnya. Aku yakin, dia tidak mungkin mengurung diri di kamar karena menyesal telah memutuskanku. Yang aku yakin, dia sedang tertawa bersama teman-temannya di kelas. Masa bodolah.


"Panjang umur juga tuh cowok."


"Maksud lo, Kak Ryan, Ti?" tanya Anye yang duduk di sebelahku. Aku tidak menyangka jika suaraku sampai bisa didengar oleh Anye. Langsung kututup mulutnya. Pasalnya, saat Anye berucap begitu, Kak Ryan lewat di depan bangku yang kami duduki. Bisa gawat jika Kak Ryan sampai dengar. Nanti tuh cowok geer, kepalanya bisa jadi besar. "Sssttt! Bisa nggak sih, nggak usah sebut nama," protesku pada Anye setelah Kak Ryan melewatiku dan teman-temanku.


Anye melepas tanganku yang membungkan mulutnya. Gadis itu terlihat kesulitan napas. "Takut banget, sih sama Kak...maksud gue mantan lo," ucap Anye.


"Nggak. Gue nggak takut. Lo tahu kan kalau gue lagi punya misi."


"Misi? Misi apaan?"


Aku harus sabar menghadapi sahabatku yang menjengkelkan seperti Anye ini. Pantas saja Kak Teguh menghindar, pasti alasannya karena Anye yang pelupa, agak lemot, dan masih kayak bocah. Tapi untungnya dia sahabatku dan aku sayang padanya. "Gue ingetin lagi, yah, ke kalian semua kalau gue mau move on dan misi gue sekarang ini yaitu menjauh dari hal-hal yang berbau dengan mantan."


"Emang bau mantan lo kayak apa?" tanya Anye yang rasanya ingin gue jitak kepalanya.


"Maksud Tia itu hal yang berhubungan dengan mantannya Tia. Bukan baunya," jawab Jihan yang selalu sabar menghadapi Anye. Mungkin karena mereka yang sudah seperti saudara kembar.


"Pokoknya pedoman gue sekarang itu don't say hello to your ex. Jadi, kalau ada tuh cowok gue bakal ngejauh," tambahku.


"Kalau misal lo papasan di jalan?"


"Gue bakal tetap jalan, tapi nggak bakal nyapa."


"Lo yakin bisa, Ti?"


"Yakinlah, Yul. Doain, yah, guys."


Dari aku duduk, telingaku bisa dengar suara teman-teman Kak Ryan yang bertanya tentang alasan dia memutuskanku. Tapi yang kudengar hanya tawa dari dia sebagai jawaban. Selucu itukah alasannya memutuskanku? Jadi ingin ikut tertawa.


~•~

__ADS_1


Sebelum ke ruang theater, aku pergi ke kantin untuk membeli roti dan minuman botol. Tak sengaja aku berpapasan dengannya. Sesuai misiku, aku tidak menyapanya. Cukup sulit karena masih awal, tapi aku yakin aku bisa melakukan hal ini. Segera aku berjalan cepat menuju ruang theater sebelum dia memanggilku.


Sebenarnya hari ini tidak ada jadwal ekskul. Tapi karena harus mempersiapkan acara wisuda Kakak kelas 12, mangkannya hari ini kumpul. Tidak hari ini saja, hampir setiap hari kami kumpul hanya untuk mengecek dialog. Wisuda kelas 12 sebentar lagi dan kami harus menyiapkannya mulai dari sekarang. Takut jika tidak segera disiapkan, kami akan lupa karena banyak hal sibuk lainnya.


Aku duduk memojok, jauh dari anak-anak yang lain. Ini kulakukan agar aku bisa fokus menghapal naskah. Kali ini aku jadi pemeran utama lagi, maka harus ekstra latihannya. Ditambah, nantinya drama ini ditonton oleh bapak ibu dari kakak kelas 12.


"Fokus banget kalau baca naskah."


Aku ingat itu suaranya. Tapi aku tetap fokus membaca. Bahkan, aku bisa merasakan dia duduk di depanku. Namun, tak ada niatan untuk menanggapinya. Karena aku masih ingat akan misiku.


Naskah dramaku diambil olehnya secara paksa. Mungkin itu caranya agar aku menanggapinya. "Balikin," pintaku dan dia mengembalikannya. Aku berusaha untuk senormal mungkin dan tidak menatap wajahnya.


"Siapa yang buat dramanya?"


"Sie naskahlah."


"Lo yang meranin pemeran utama?"


"Iya."


Tidak tahu kenapa dia mengajakku berbicara. Tidak tahu juga kemana arah pembicaraan ini. Aku hanya menjawab sewajarnya dan tetap berusaha bersikap normal.


"Trus, nanti waktu penutupan mos, lo juga yang jadi pemeran utama?"


"Iya. Kan dari dulu emang gitu. Ketua ekskul selalu jadi pemeran utama."


"Lawan mainnya siapa?"


"Kenapa tanya terus?" tanyaku yang akhirnya menatap wajah yang sudah lama tidak kutatap sedekat ini. Hampir saja aku mencubit pipinya, untung aku ingat jika kami sudah bukan lagi sepasang kekasih.


"Gue sebagai mantan ketua theater harus mastiin lo jadi ketua yang baik. Biar gue nggak nyesel milih lo," jawabnya yang memajukan wajah dengan senyum yang sudah lama tak kulihat. Sontak aku mati duduk, nih. Mau mundurin kepala, tapi belakangku sudah tembok. Kudorong keningnya dengan tanganku. "Gue udah ngelakuin sesuai jabatan gue selama kurang lebih 6 bulan dan lo baru sekarang mastiin gue jadi ketua yang baik?"

__ADS_1


Wajah Kak Ryan berubah saat aku mengubah ucapanku yang biasanya aku-kakak jadi gue-lo. Sebenarnya aku masih susah untuk berucap seperti itu. Pertama karena tidak sopan, kedua karena aku sudah terbiasa aku-kakak dengannya. Tapi aku terpaksa melakukan ini karena misiku.


"Lo udah banyak berubah, yah, dek?"


"Sama dong, kayak lo. Misi," ucapku yang berdiri dan memutuskan untuk pulang karena latihan hari ini sudah cukup. Tidak kuat jika terus-terusan berada di ruangan itu dengan Kak Ryan yang masih mendekatiku.


Dipikir-pikir, Kak Ryan itu aneh. Dia mengakhiri hubungan dengan cara tidak baik. Tapi masih ingin hubungan kami baik. Atau dia hanya ingin mengetes aku yang sekarang setelah ditinggal olehnya.


Aku terkejut saat aku merasakan pipiku basah. Buru-buru aku lari ke kamar mandi. Menghapus air mataku yang ternyata malah terus keluar. "Rasanya masih nggak bisa terima, Kak. Kalau aku bukan siapa-siapa Kakak lagi. Mungkin karena aku masih sayang sama Kakak. Mungkin karena rasaku yang terlalu dalam. Aku sudah coba dan sekarang juga masih coba buat lupain Kakak, tapi sakit. Aku nggak yakin kalau aku bisa. Tapi aku akan tetap coba, Kak. Aku nggak mau nyimpen rasa sama orang yang nggak punya rasa sama aku."


~•~


Malam ini, Mama lagi nggak masak. Karena itu aku ajak Papa beli makan di warung penyetan. "Emang beneran enak sambelnya?"


"Enak, Pa. Apalagi kalau makannya di sini."


"Berarti, orangnya pake dukun, dong," bisik Papa yang langsung kupukul lengannya.


"Papa kalau ngomong. Kalau orangnya denger kan nggak lucu," kataku yang hanya dibalas tawa oleh Papa.


Sambil menunggu pesanan kami, mataku bertemu dengan mata cowok yang baru saja masuk ke tenda warung penyetan ini. Dia melemparkan senyum yang tak kubalas. Namun mataku masih terus melihati tubuhnya dari belakang. Malam ini dia masih sama, dengan kaos putih dan celana pendek hitamnya. Walau aku hanya melihat punggungnya, aku sudah terpesona padanya. Dia memang punya daya pikat yang tidak akan pernah bisa kuhindari.


"Mas, pesanan saya tadi, sudah?"


Suaranya yang sudah kubilang seksi dipertemuan pertama kami. Entah sudah berapa lama, aku tidak mendengar suara letihnya dan menguapnya di malam hari. Kenapa aku jadi rindu akan itu.


"Tia, lagi makan di sini."


Aku tersadar dari lamunanku. Dia menyapaku dan juga mencium tangan Papa. Walau hanya sekedar menyapa lalu berpamitan untuk pulang.


"Itu bukannya Ryan yang waktu itu ajak kamu keluar pas tahun baru?" tanya Papa yang kujawab anggukan. Waktu itu dia memang tidak bilang ke Papa dan Mama jika dia mengajakku ke Paralayang. Katanya jika dia jujur akan susah dapat izin.

__ADS_1


"Pantes aja, kamu bilang kalau lebih enak makan di sini. Soalnya yang nemenin temen mesra kamu itu."


~•~


__ADS_2