
Pertunjukan drama akan tampil 1 jam lagi. Semua pemain sudah berganti baju dan merias wajah. Kini kami sedang melakukan gladi bersih namun tanpa gerak. Kak Ryan menyuruh para pemain membuat lingkaran, lalu berbicara sesuai adegan dan tentunya tanpa membaca teks. Gladi bersih ke-2 ini cukup baik. Semua pemain sudah hapal bagian masing-masing. Tadi Kak Ryan juga bilang jika cara bicaraku sudah benar hanya saja harus dikeraskan lagi, meskipun nanti kami menggunakan pengeras suara.
15 menit sebelum drama dimulai, kami menyatukan tangan dan dipimpin oleh Kak Ryan. "Semoga drama pangeran dan gadis kayu bisa berjalan dengan lancar," ucapnya yang dijawab aamiin oleh yang lain.
"Bismillah," ucap kami semua bersama sambil mengangkat tangan ke atas.
Setelah itu kami berjalan menuju aula. Aku bisa mengintip bagaimana banyaknya orang yang tidak sabar menunggu lanjutan drama ini. Entah kenapa rasa gugup mulai menyerangku. Ini pertama kalinya aku berakting di depan banyak orang. "Fokus sama penampilan. Kamu bisa, dek. Lantangin suara, jangan sampai gugupmu buat apa yang udah kamu hapalin hilang semua. Semangat," ucap Kak Ryan yang berdiri di sebelahku.
"Makasih, Kak. Semangat juga," balasku yang dibalas senyuman manis olehnya.
Kak Febi yang sebagai narator sudah masuk ke dalam aula. "Di hutan yang sepi ini. Pangeran menemukan seorang gadis cantik yang mencuri hatinya. Bahkan, di pertemuan pertama, Pangeran sudah jatuh hati dengan gadis yang sedang mengumpulkan kayu dan rantin yang jatuh. Dan inilah kisah Pangeran dan Gadis Kayu, selamat menyaksikan," ucap Kak Febi yang kemudian berjalan ke pinggir panggung.
Kak Ryan dengan baju pangerannya masuk ke dalam aula. Suara riuh penonton meneriaki namanya. Sepopuler itukah Kak Ryan?
"Hai, siapa nama kamu?" Baru saja Kak Ryan berucap seperti itu, aula langsung ramai. Kalau aku jadi Kak Ryan, pasti sudah keluar keringat dingin karena sangking gugupnya.
"Nama saya Gadis. Anda pangeran?" tanya Silvi---kakak kelas yang sekelas dengan Kak Ryan---pemeran Gadis Kayu.
"Apa kau tak melihat baju yang kukenakan ini? Kau tahu, semua orang langsung mengenaliku karena bajuku ini."
"Maaf, pangeran. Pangeran kenapa bisa ada di sini? Bukannya pangeran tidak boleh keluar istana tanpa prajurit."
"Aku bosan dengan suasana istana. Aku ingin hidup bebas, tanpa dayang-dayang melayaniku. Tanpa prajurit yang mengawalku. Karena aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Tapi pangeran, orang di istana pasti sedang khawatir. Pangeran harus segera kembali."
"Tidak. Aku tidak akan kembali, jika tidak bersamamu."
Aula kembali ricuh. Aku tertawa mendengar teriakan cewek-cewek yang berkata, "pangeran, jika dia tidak mau, bawa aku saja."
"Untuk apa kau membawaku ke istana."
"Tentunya untuk menikahimu."
"Tapi kita baru kenal Pangeran."
"Apa salahnya? Aku sudah jatuh hati padamu."
"Baiklah, jika pangeran memaksa. Tapi pangeran harus meminta restu pada Ibuku."
"Baik. Dimana rumahmu?"
"Ikuti aku."
__ADS_1
"Gadis Kayu pun mengantar pangeran ke rumahnya. Di perjalanana mereka berbagi cerita. Membuat Gadia Kayu juga jatuh hati. Apalagi pangerannya setampan itu. Lalu sampailah mereka di rumah Gadis Kayu untuk meminta restu pada Ibu."
Sekarang adeganku. Aku pun memasuki aula dengan baju kebaya dan tongkat yang kupegang. Suasananya langsung beda. Terasa panas dan mencekam. Aku bisa melihat dari sudut mataku, semua melihatiku.
"Ibu, aku bawa teman."
"Dia siapa nak? Kok kayak pangeran."
"Dia memang pangeran, Bu."
"Lalu, untuk apa dia kemari?"
Kak Ryan mendekatiku, membuatku jadi gugup. Padahal saat latihan aku biasa saja. "Kedatangan saya kemari untuk meminta restu. Saya ingin menikahi putri anda."
"Apa kamu tak salah pilih? Saya dan anak saya dari keluarga miskin. Rumah juga berada ditengah hutan seperti ini."
"Saya sudah jatuh hati pada putri anda."
"Saya tidak bisa merestui kalian."
"Kenapa, Bu?"
"Kalian baru 1 hari kenal. Ibu tidak bisa merestui."
"Tidak, Gadis. Kamu tidak boleh menikah dengan dia."
"Kenapa? Gadis juga bukan anak kandung Ibu. Kenapa Ibu melarang Gadis? Gadis juga pingin tinggal di istana, bukan di tengah hutan seperti ini. Gadis capek hidup susah, Bu."
"Kalau Ibu bilang tidak, ya tidak."
"Kalau begitu Gadis akan tetap pergi tanpa restu dari Ibu," ucap Silvi sambil menarik Kak Ryan pergi.
"Jika kamu tetap pergi, kamu akan kembali pada wujud aslimu."
"Pangeran dan Gadis Kayu tidak menghiraukan ucapan Ibu. Mereka pergi menuju istana. Acara pernikahan mereka pun sudah tersebar luas di penjuru kota. Banyak orang yang sudah tak sabar menunggu hari itu dan hari itu pun tiba."
"Apa kamu gugup?"
"Tidak, pangeran. Aku senang, kita akan menjadi suami istri."
"Aku juga."
"Saya nikahkan dan kawinkan Pangeran dengan..."
__ADS_1
"Baru berucap seperti itu, tiba-tiba saja Gadis Kayu berubah menjadi seekor kelinci putih."
"Kenapa kamu bisa menjadi seperti ini?"
"Sepertinya karena ucapan Ibu."
"Jadi kamu adalah kelinci?"
"Dulu, saya adalah tuan putri di istana yang terletak di kota sebrang. Namun karena saya melakukan kesalahan, saya dikutuk oleh Ayah saya menjadi kelinci dan saya dibuang ke hutan. Ibu-lah yang menolongku, dia adalah orang sakti yang membuatku bisa menjadi manusia kembali. Namun satu syaratnya agar aku tetap menjadi manusia, yaitu harus menurutinya. Jika aku tidak menurutinya, maka selamanya aku akan menjadi kelinci."
"Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?"
"Lupakan saja. Saya harus kembali ke hutan. Maafkan saya pangeran, saya mencintai pangeran."
"Semenjak itu, Gadis Kayu yang berubah menjadi kelinci kembali ke hutan. Namun saat ia ingin menemui sang Ibu, ternyata sang Ibu sudah tiada. Hiduplah dia sendiri di tengah hutan yang sepi. Sementara Pangeran terus bersedih karena cinta pertamanya hanya bisa berlangsung sekejap mata. Sekian dan terima kasih."
Tepuk tangan meramaikan aula. Siulan, ucapan pujian, teriakan fans Kak Ryan, semua bercampur. Kami para anggota theater berbaris di atas panggung dan memberi hormat penonton juga berterima kasih. Ternyata seru juga berperan dalam drama ini.
"Kok nggak jadi peran utama? Malah jadi nenek-nenek," protes Yuli. Ke-4 temanku menemuiku di depan ruang theater, karena tadi aku menitip makanan pada mereka.
"Ntar deh, waktu drama penutupan MOS."
"Ntar-ntar aja terus."
"Udahlah, Yul. Tadi akting Tia bagus kok," puji Dita yang kuberi jempol 2.
"Iya, Ti bagus kok. Bangga gue punya temen kayak lo," ucap Jihan.
Kami ber-5 berpelukan. Lalu datang Kak Ryan yang baru saja dari aula. Jihan meminta Kak Ryan untuk mempotokan kami ber-5. "Satu, dua, tiga. Ganti gaya," ucapnya membuatku tertawa. Suaranya itu loh, lucu banget.
"Sekarang gantian. Kak Ryan yang foto sama Tia," celetuk Anye yang mendapatkan pelototan mata dariku. Namun aku tak bisa menolak. Mereka semua mendorongku dan aku juga tidak mau menyiakan kesempatan ini.
"Satu, dua, tiga. Ganti gaya dong, terus kurang deket tuh," kata Jihan yang menjadi fotografer.
Setelah itu, ke-5 temanku kembali ke kelas dan tinggallah aku dengan Kak Ryan. "Gimana tadi penampilanku, Kak?"
"Permulaan yang bagus. Aku kasih 2 jempol," ucapnya sambil memberikan 2 jempol padaku.
"Jariku masih lengkap, Kak," kataku menunjukkan jari-jari tanganku. Dia tertawa dan mencubit hidungku, "lucu banget sih, dek."
Kak Ryan selalu saja begitu. Akan mencubit hidungku jika aku terlihat lucu baginya. Andai saja aku seberani dia, aku juga akan mencubit pipinya jika dia terlihat lucu bagiku.
"Ntar foto kita gue post di ig."
__ADS_1
~•~