
Lorong bernuansa romantisme yang tidak akan pernah diduga muncul dengan gaya modern. Langit-langitnya yang dekoratif pun cukup kuat untuk menciptakan suasana klasik.
Konstruksi yang elegan mengingatkan kembali kepada banguanan bersejarah di Eropa pada abad pertengahan.
Setelah melewati gerbang, area taman, dan pintu utama sekolah, aku dan Aisha disambut oleh pemandangan lorong ini dan--
"Saya telah menantikan kedatangan Anda, Kris Waarheid"
Anastasia Castellani de Silenziosa.
Aku tidak paham mengapa, tetapi sepertinya dia menghindari kontak mata denganku.
"Hm... Tampaknya ucapan 'terima kasih' ku yang sempurna dari kemarin malam membuatnya sangat malu-malu, bahkan dia tidak bisa menatap mataku."
"Secara pribadi, menurut Aisha, tatapan tersebut terlihat seperti tatapan yang akan ditunjukkan kepada kecoa yang masih bergereak-gerak setelah di pukul mati dengan sandal, tetapi Aisha kira itu tidaklah penting bagi Tuan."
"Anastasia Castellani de Silenziosa, aku sungguh tidak menyangka kau akan menyambutku langsung."
"Saya sungguh ingin sekali menolak, tetapi Profesor Adella menunjuk saya sebagai rekan pendamping Anda di sekitar sekolah. Sangat mengecewakan.... Dengar Kris Waarheid, saya akan membimbing Anda hingga Anda terbiasa dengan kehidupan di Akademi. Apabila ada sesuatu yang ingin Anda ketahui, silakan langsung tanyakan kepada saya."
Kesempurnaan. Dia menyembunyikan rasa malunya dan membungkuk sedikit dengan sempurna.
"Kita akan memulainya dari ruang kelas. Tolong ikuti saya."
"Mhm. Baiklah."
Ketika aku mengikutinya, tiba-tiba ia langsung memutar badanya menghadap ke arah ku dan melompat sejauh lima meter menjauh ke belakang. Kakinya yang kuat mengingatkan pada rusa thomson. Dia kemudian memelototi diriku seperti hendak mengutuk sampai tujuh keturunan.
"Astaga, benar-benar lompatan yang sangat jauh. Apakah ada ranjau di sekitar sini?"
"Mendekatlah lebih dari tiga meter dan saya akan menembak mati Anda."
Akankah kurang sopan jika aku bertanya kepadanya, jika ia benar-benar membawa sebuah pistol atau tidak? Dia kelihatan sangat serius, yang membuat aku semakin penasaran.
"Hm... Aku yakin Kau baru saja mengatakan padaku bahwa Kau akan membimbingku berkeliling sekolah."
"Ya. Dan mendekatlah kemudian saya akan bunuh Anda."
"Aisha, aku masih belum memahami. Sebenarnya apakah yang sedang terjadi? Apakah ini semacam dilema filosofis?"
"Sampai kita tiba di sini, Aisha berpikir 'Gila, kaku banget, sok bangsawan amat deh ih', dan itu cukup mengganggu, tetapi Beliau tampaknya jauh lebih jujur daripada yang Aisha kira. Dia mendapatkan 10 point dari Aisha."
"Hm... aku iri dengan keahlianmu dalam melihat perasaannya. Kira-kira berapa banyak poin yang aku miliki? Dia begitu tenang sehingga aku tidak bisa memahami ekspresinya."
"Tuan memang sangat kekurangan penglihatan."
"Apa?! Tapi penglihatan 20/20 ku yang sempurna tidak perlu pemeriksaan dan penggunaan kacamata."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Waarheid... "
Setelah mempertimbangkannya, sepertinya dia memutuskan untuk memanggil aku dengan nama belakangku.
"...Hanya siswa yang diperbolehkan memasuki batas ini."
Ada seseorang yang bukan siswa di antara kami.
Aisha, pelayan pribadi ku yang setia dan terampil.
"Aisha, aku akan ke ruang kelas. Mulai hari ini, aku adalah siswa di sekolah ini."
"Aisha, tahu itu."
"Mulai hari ini, aku akan tinggal di asrama."
"Tentu saja, Aisha paham itu."
Aku teringat dengan sesuatu yang harus aku pastikan kemudian menghadap ke gadis cantik yang masih kesal karena alasan yang tidak dapat kupahami.
"Apakah siswa asrama tidak boleh tinggal bersama dengan pelayan pribadinya?"
Aku bertanya dengan raut wajah cemas, khawatir jika nanti aku tidak bisa bersama dengan Aisha, sementara Anna memelototiku seolah-olah aku adalah sejenis serangga.
"Tidak ada hal semacam itu disini."
"Kau dengar itu, Aisha. Tampaknya Anastasia sedang merasa tidak enak badan di hari tersulit bagi wanita setiap bulannya, jadi mari kita berpisah di sini."
"Komentar Tuan sudah melampaui batas yang dapat ditoleransi, tetapi karena hanya Tuan yang akan menderita, jadi Aisha tidak peduli."
Sekarang pandangan Aisaha terhadapaku sama dengan Anastasia, sepertinya dia kecewa dengan tuanya yang tidak dapat bernegosiasi agar kami bisa tinggal di asrma bersama.
"Kalau begitu, Tuan... Aisha mohon pamit. Jangan khawatir, Aisha akan menikmati ketidak hadiran Tuan dengan sungguh-sungguh.
"Sejujurnya, aku agak khawatir. Dapatkah aku benar-benar menjalani kehidupan yang beradab dengan seorang diri?"
"Sifat aneh Tuan adalah hasil dari lingkungan sekitar Tuan, jadi menurut Aisha , Tuan lebij baik menyerah saja. Mencoba untuk hidup di dunia normal adalah sebuah ujian tersendiri. Berdoa dan lakukan yang terbaik."
Aisha memberiku senyum lebar yang manis. Senyum yang memeberikan gelombang kesejukan ke jiwaku, menghempas jauh semua rasa khawatirku.
Dia hadir untuk melayaniku dikarenakan sebuah suratan takdir yang tak terduga.
"Ada pepatah yang mengatakan, "tidak ada akar, rotan pun jadi."
"Manusia bisa berhasil dan bertahan hidup dalam kondisi seperti itu."
Dengan senyumnya Aisha saat ini, mengingatkan ku kembali bertapa beruntungnya diriku saat pertamakli bertemunya.
__ADS_1
"Bahkan jika Anda tidak memiliki mimpi atau martabat, Anda masih bisa bertahan. Dan jika Anda memiliki tekad yang tak tergoyahkan, tidak akan ada jalan yang tidak dapat Anda lalui."
Kris Waarheid memiliki janji yang harus dipenuhi. Panggung yang ditujunya masih jauh, tetapi keyakinan dalam hatinya tetap sejati dan jernih.
Oleh karena itu, dia akan terus melangkah maju. Tidak peduli seberapa berat jalan yang akan dilaluinya, dia tidak akan pernah berhenti.
"Tuan Waarheid, Anda pasti akan sampai di sana."
"Kau adalah pelayan yang paling sempurna, Aisha."
"Aku akan tinggal..."
Karena tidak tahan dengan percakapan kami, Anastasia pun berjalan duluan meninggalkan kami.
Aku memperbaiki postur tubuhku... dan Aisha merapikan bagian yang berantakan dari seragamku.
DING-DONG
Bel tanda dimulainya kelas berbunyi tepat pada momen itu dengan suara yang nyaring.
"Semua ini sudah memasuki perjalanan yang cukup panjang, bukan?"
Aisha menatap tajam mataku, menghapus senyum lembutnya dalam sekejap.
"Ini adalah 'tanah yang dijanjikan' yang kau inginkan. Jangan tunjukkan belas kasihan, penyesalan, atau kekesalan, pergilah ke tempat yang harus kau tuju, dan lakukan apa yang harus kau lakukan."
"Setelah titik ini adalah kesedihan umat manusia. Selamat tinggal kepada semua yang membentuk hati manusia."
Aisha sedikit menunduk dan mngangkat sedikit rok nya yang panjang. Ia memberikan penghormatan perpisahan kepadaku.
"Sampai jumpa. Bertindaklah sesuai keinginan Tuan. Aisha akan menguasai teknik-teknik pelayan seorang viking pada saat Tuan kembali."
Dia membalikkan badan dan pergi ke tempat yang harus dia tuju tanpa menoleh ke arahku
Malam penculikkan yang gagal telah berlalu, dan aku telah tiba di Akademi.
Aku, Kris Waarheid, adalah siswa pindahan. Mulai hari ini, aku akan bergabung dengan sekolah ini dan menjalani masa mudaku sambil membenamkan diri dalam pendidikan.
Sejujurnya, aku sempat ragu. Kehidupanku sampai saat ini tidak pernah merasakan bangku sekolah.
"Jangan takut akan perubahan." Kata-kata emas itu memberikan dorongan yang aku butuhkan.
Jika kita merasakan kenyamanan dalam suasana yang sudah dikenal, tenggelam dalam ketenangan, membenci hal yang tidak diketahui, takut akan ketidakpastian, dan lupa untuk mengejar mimpi, hidup ini menjadi tidak berharga.
Dengan mengingat hal itu... busungkanlah dada.
Jangan takut. Jangan berhenti. Dan tantanglah perubahan baru ini... kehidupan di sekolah ini.
__ADS_1