Flower Petal Revolution Stage

Flower Petal Revolution Stage
2 - 04


__ADS_3

Seperti kavaleri berkuda yang datang untuk menyelamatkan kami dari situasi yang sedikit canggung, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang generik.


Suara dering itu berasal dari ponsel milik Anna. Dan ada lambang Akademi di ponsel itu. Menggunakannya sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dariku, dia menjawab panggilan ponsel itu.


"Ya? Dengan Silenziosa. Baiklah, saya segera ke kelas, Profesor Adella. Apa? Benarkah?"


Sementara dia berbicara dengan Pengajar Adella melalui ponsel, aku sedikit bosan karena tidak melakukan apa pun.


Tidak ada dinding di balik pilar-pilar mewah di sepanjang lorong, jadi aku dapat melihat sesuatu di arah taman.


Aku mulai bosan dengan lorong yang megah, karena itu aku membiarkan rasa penasaranku mengambil alih dan menuntunku melewati pilar-pilar itu menuju taman.


Taman yang luas itu terhubung ke area lorong dengan tangga batu yang besar. Aku menyusuri salah satu anak tangga dan dihadapkan pada pemandangan yang memikat oleh perbukitan setempat, serta hutan tua yang lebat di belakangnya.


Untuk sebuah surga kecil yang dibangun hanya untuk 200 orang siswa, tempat ini cukup menakjubkan.


Saat itulah aku melihat seseorang yang sedang mengamati hutan ke arah yang sama denganku.


"Oh?"


Warna hitam menerjang warna putih.


Warna putih adalah kanvas yang ditopang oleh sebuah rangka kayu, sedangkan warna hitam adalah garis dari arang pensil lukis.


Garis horizontal yang tipis dan tidak tergoyahkan, merupakan bagian dari sketsa yang digambar dengan pensilnya.


"....."


Ia bahkan tidak bereaksi terhadap kehadiranku, dan justru memusatkan perhatian sepenuhnya pada kanvasnya.


Wajah tampan pemuda itu tampak pucat. Dia tidak mungkin berusia lebih tua dariku, tapi rasanya aku seperti melihat sosok dengan jiwa yang sudah tua.


Tatapan sayu dan tampilan wajah yang terlihat lemah dan suram, membuat suasana hati ku seakan-akan melihat sosok bijak sudah lanjut usia, yang sudah bosan dengan dunia yang selalu tetap sama tiap harinya.


Meskipun demikian, matanya bersinar dengan semangat muda.


Saat aku mengawasinya dari belakang, ia mulai membubuhkan lebih banyak garis lugas pada sketsanya.


Tidak perlu diragukan lagi aku memang hebat tapi sehebat-hebatnya aku, aku bukanlah sosok dewa. Aku memiliki kekurangan dan hal-hal yang tidak aku kuasai. Salah satunya adalah rasa seni yang aku miliki sangat rendah.


Meskipun begitu, aku tahu bahwa aku sedang melihat seorang seniman sejati yang sedang berkarya.


Ujung pensil yang telah dipotong dengan pisau, serta kecepatannya sedemikian rupa, sehingga ia seakan-akan tidak melihat ke arah kanvas.


Tepat dan mendalam, sentuhannya adalah apa yang diharapkan dari seorang seniman sejati.


Kemeja putih polos, celana panjang biasa... Pakaiannya tampak sederhana dan terlihat seperti kebanyakan orang di kota. Mustahil itu merupakan seragam sekolah ini.


Anna baru saja memberi tahu padaku bahwa Akademi hanya mengizinkan siswa dan karyawan berada di dalam kawasan ini.


Lalu, siapakah orang ini? Bisa saja dia adalah seorang siswa, tetapi kelihatannya tidak demikian.

__ADS_1


Dia adalah eksistensi berbeda yang tidak selaras dengan tempat ini.


"Seni merupakan sesuatu yang sangat marvelous. Seni menangkap momen-momen fana yang berharga dalam hidup dan memberikannya kehidupan selama-lamanya."


Dia berbicara kepadaku, tetapi matanya masih tetap terpaku menatap kanvas.


"Apakah kamu siswa pindahan?"


"Oh? Kau bisa menebaknya dengan benar."


"Aku sudah banyak melihatnya. Tentu saja kamu bukan yang pertama. Mereka semua datang ke sini dengan dream, sama seperti dirimu. Mereka semua keluar dari sini dengan despair, mungkin juga akn terjadi pada dirimu."


"Hm... Jadi mereka hanya memilih beberapa orang yang memenuhi syarat?"


"Benar-benar perceptive. Kurang lebih seperti itu."


Masuknya Kris Waarheid ini juga melalui proses yang sama.


Karena suatu kejadian yang membosankan dan tidak layak untuk dibicarakan, kualitas diri ini menarik perhatian mereka, dan aku diundang secara resmi ke Akademi.


Aku sangat mengapresiasinya. Bohong jika aku mengatakan bahwa aku tidak cemas, karena kehidupan sekolah adalah hal yang baru bagiku, tetapi hal yang tidak terduga selalu membuatku antusias.


"Apakah kau merupakan siswa di sekolah ini?"


"Daigo."


Daigo? Bagaimana hal itu menjadi hal yang berkaitan dengan pertanyaanku?


"Ohhh, begitu ya. Baiklah, Daigo. Aku Kris Waarheid, siswa pindahan. Mulai hari ini, aku akan tertawa, belajar, dan hidup berdampingan dengan siswa lainnya di sekolah ini."


"Kalau begitu kita pasti akan sering bertemu."


Daigo tersenyum ketika mengatakan itu.


"kamu pasti bertanya-tanya, aku adalah exception. Aku bukan seorang siswa, tapi aku bisa keluar masuk sekolah. Ada sebuah alasan dibalik itu."


"Begitu rupanya..baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, kuharap kita bisa saling mengenal."


"kamu agak sedikit odd rupanya."


"Alasan apa yang membuat kau berpikir seperti itu?


"Setiap siswa pindahan baru lainnya ingin mengetahui mengenai circumstances ku, tetapi kamu sepertinya tidak peduli sama sekali."


"Kalau begitu Daigo, seandainya tiba waktuny kau berkenan untuk menceritakannya, silakan beritahu aku."


"Aku tidak yakin mengapa, tapi menurutku sepertinya kita akan mudah get along."


"Sebagai bentuk persahabatan kita, bolehkah aku menanyakan sesuatu? Hal ini cukup menggangguku."


"Silakan."

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lukis?'


Awalnya, aku mengira itu adalah hutan ginkgo, tetapi sepertinya tidak demikian.


Daigo dengan santai menunjuk ke arah pintu masuk hutan dengan pensilnya.


Disana...


"Aku sedang menggambarnya."


Aku melihat seorang pelayan wanita. Sebagain dirinya dari kepala hingga ujung kaki tersembunyi di balik gerbang menuju hutan. Meskipun terlihat seperti sedang bersembunyi aku bisa melihat, dia berpose dengan kedua tangannya yang diletakkan di atas roknya.


"Maid sangat luar biasa. Begitu elegan dan mengesankan, seperti wine yang berkualitas. Mengurangi panjang rok mereka bahkan satu sentimeter saja, maka hasilnya akan sangat mencolok."


Aku mengamatinya dengan mata yang penuh ketelitian. Pelayan itu mengenakan seragam yang berbeda dari Aisha. Tampilan seragmnya sederhana, cenderung tertutup, namun sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Hmmm, boleh juga."


Terlalu fokus dengan pelayan yang ditujuk Daigo, aku tidak menyadari dia ternyata juga terfokus terhadapku.


"Sepertinya aku benar. Aku sudah menduga kita akan dengan mudah menjadi good friend."


"Dadanya terlihat datar. Pelayan pribadi harus memiliki tubuh yang menggairahkan. Itu adalah simbol produktivitas dan rahasia kehidupan. Sayang sekali dia gagal dalam hal itu. Sebuah kekurangan yang disayangkan."


"Benar-benar disappointing. Sepertinya kita tidak dapat mencapai kesepakatan. Aku tidak pernah menduga bahwa kamu adalah tipe orang yang tidak bisa melihat pesona dari dada yang penuh kesederhanaan."


Anna pasti sudah selesai berbicara sekarang. Karenanya, aku mengalami perjumpaan yang tak terduga, dan itu menghasilkan hal positif, tetapi sudah waktunya untuk mengakhiri petualangan singkatku.


"Aku ingin sekali berbicara lebih banyak, tapi aku harus kembali. Aku tidak bisa membuat seorang Lady menungguku."


"Tentu saja kamu seharusnya tidak melakukannya. Hanya pria bodoh yang membiarkan Lady menunggu."


"Mhm aku tahu itu. Sampai jumpa teman dan musuh baruku."


"Binatang buas akan menggigit dirimu di hamparan bunga mawar."


Kata-kata itu terdengar dari belakang dan membuat ku menghentikan langkahku.


"Ya?"


"Apakah kamu akan percaya jika aku mengatakan bahwa semua itu adalah sebuah prediction?"


"Apakah aku sedang dituntun menuju kematianku? Seperti ksatria setia yang ditipu oleh para penyihir dari tanah terkutuk untuk mengikuti ambisi menyedihkannya?"


"Apakah kamu Macbeth atau Banquo?"


"Aku Kris Waarheid. Apakah sekolah ini juga memiliki taman penuh dengan bunga mawar?"


"Tampaknya kau adalah hero yang tidak mengenal rasa takut."


Dia menunjuk dengan pensilnyanya ke sebuah titik pada arah tertentu.

__ADS_1


"Goodbye untuk saat ini, Kris. Aku menunggu hari dimana kita akan bertemu lagi."


__ADS_2