Flower Petal Revolution Stage

Flower Petal Revolution Stage
2 - 06


__ADS_3

"Tidak apa-apa. Lakukanlah Hui-ho."


Anna baru saja membuat kaget Hui-ho dan Charlotte dengan ucapannya.


"Anna...?"


"Apa yang kamu katakan, Anna?! Jika Hui-ho melakukannya siswa pindahan itu benar-benar akan..."


"Sebagian dari diri saya sangat berharap itu adalah kesempatan yang tepat, tetapi..."


"Um...? Anna, apakah kamu menyadarinya bahwa kamu baru saja mengatakan sesuatu yang tidak biasa kamu katakan?"


"Saya ingin mengukur dia. Bertindaklah semaksimal mungkin, Hui-ho. Saya akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang buruk."


"Haha..Baiklah. Sebaiknya kau bersiap-siap untuk tanggung jawab."


Hui-ho memperlihatkan senyum liar dan buas. Senyumnya terlihat bengis, penuh dengan kepercayaan diri yang tidak ada habisnya, dan juga terlihat begitu mempesona.


"Sungguh sebuah senyuman yang membuar hati berdebar, itu membuatku merinding. Aku benar-benar dapat merasakan aku dalam bahaya sekarang."


Pengalaman dan insting yang aku kembangkan dari berbagai bahaya yang pernah kualami membuatku secara tidak sadar memperhitungkan nasibku.


Ini akan menjadi sebuah tarian kematian. Jika aku ingin menang, aku harus menghentikannya sebelum dia bergerak.


"Baiklah, Hui-ho. Apa yang ingin kau lakukan? Sesuatu yang tidak diketahui benar-benar indah. Hal itu sama dengan kesenangan. Tidak ada yang membuat aku lebih bersemangat dari pertemuan dengan sesuatu yang belum pernah kulihat."


Aku tahu bahwa aku berada dalam bahaya, tapi di sisi lain aku hanya mengawasinya. Dalam pikiranku, rasa takut dan panik kalah oleh sensasi yang menggelora ini.


Tentunya aku tidak berniat untuk mati. Aku tidak bisa mati di tempat seperti ini.


Aku belum memenuhi janji yang telah kubuat.


Oleh karena itu, aku akan melewati tembok di hadapanku dan tiba di panggung yang telah ditakdirkan untukku.


"Anna memberiku izin, jadi aku akan melakukannya. Aku tidak main-main, mengerti? Kau akan membayar dosamu karena menyentuh dada seorang gadis dengan nyalimu! Bersiaplah menjadi pupuk untuk semua bunga mawar disini!"


Kata-kata yang diucapkan selanjutnya seperti sebuah lantunan yang bergema di seluruh taman.


"Open...


O judgment..


...thou art fled to brutish beasts, 


And men have lost their reason!


Julius Caesar Act 3... BETRAYAL !"


Sekejap kemudian, ia pun lenyap.


Dia hanya meninggalkan kelopak bunga yang tak terhitung jumlahnya dan pusaran angin yang membawa aroma bunga mawar yang pekat.


Dengan mendengarkan suara angin terhembus bagaikan sayatan pedang yang tak terlihat, aku mengikutinya.


Hui-ho berlari ke arah kiriku. Tidak ada yang istimewa.


Namun, kecepatannya tidak layak untuk di bandingkan dengan kecepatan manusia.


"Binatang buas" benar-benar kata cukup tepat. Ia bergerak dengan kecepatan 70 kilometer per jam, membuat hamparan bunga-bunga tampak berantakan.


"Hup..."


Aku menghindari serangan pertamanya. Pukulan langsung ke arah kanan yang ia lancarkan benar-benar membuat bulu kuduk ini berdiri.


Serangan yang sebelumnya bisa ku hindari dengan mudah telah menjadi serangan mematikan yang hanya bisa kuhindari dengan jarak sehelai rambut saja. Seandainya naluri bertarung dalam diri ini tidak membuat aku sedikit mundur, aku pasti sudah kena hantamannya.


Dia mengatakan bahwa dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya.


Dan sudah sangat jelas dirinya tidak sedang melebih-lebihkan. Serangannya begitu cepat sehingga tidak terlihat sama sekali dan begitu kuat sehingga satu hantaman bisa menjadi tembakan meriam yang mengoyak seluruh tubuh.


Dia membuat udara di sekelilingnya meledak hanya dengan berlari menambah kecepatanya. Hui-ho menjadi angin, membawa bunga-bunga yang penuh warna dan aromanya bersama dengannya.


Sejumlah atlet papan atas yang berkompetisi di cabang olahraga lari dapat berlari dengan kecepatan paling tinggi 30 hingga 40 kilometer per jam. Kecepatan Hui-ho benar-benar tidak wajar.

__ADS_1


Dia juga tidak dibatasi oleh satu arah. Hui-ho berlari ke kiri, ke kanan, dan bahkan ke atas.


Binatang buas berwujud manusia yang berlari bebas dengan kecepatan seperti itu, terlalu cepat untuk diikuti dengan mata telanjang.


Hui-ho tidak berhenti sedetik pun. Gerakannya adalah menyerang, lalu dengan cepat mundur, dan dia mengulanginya tiga kali berturut-turut.


"Ughh.."


Serangan yang terus menerus membuat seolah-olah diriku berada di pintu kematian, meskipun semua gerakan dan serangannya terlihat jelas dan terbaca.


Gaya menyerangnya tidak berubah sama sekali. Satu-satunya perbedaan adalah kecepatannya yang luar biasa.


Kecepatan eksplosifnya yang seperti roket mengubah pukulan kanannya menjadi hantaman palu baja, sementara tendangannya bagaikan sambaran petir.


Memprediksi arah pergerakan tidak ada artinya, karena manusia tidak bisa menghindari apa pun yang jauh lebih cepat dari mereka.


Akhirnya aku memahami, bahwa kecepatannya hanyalah sedikit dari kekuatannya.


Dia berlari, melompat, dan melancarkan serangan pada tingkat yang jauh di atas kemampuannya sebelum dia melantunkan kata-kata itu.


Penjelasan yang berlaku untuk hal itu sederhana saja... Dia telah meningkatkan kemampuan otot, kerangka, dan tubuhnya secara menyeluruh hingga mencapai tingkat yang memberikan kecepatan dan kekuatan yang tidak terukur.


Kemampuan fisik yang sangat sederhana, namun sangat dahsyat.


Ini adalah wujud alami dari kekuatan Hui-ho. Dia mampu menghilangkan segala teknik dan keahlian seni bela diri hanya dengan kekuatannya saja.


"Kita harus menghentikannya! Jika ini terus berlanjut, dia akan tewas!"


"Benarkah?"


"Lihat saja, dia hampir tidak bisa menghindarinya!"


"Ya, hampir... Dia menghindari Hui-ho ketika sedang menggunakan seluruh kekuatannya."


"Ah..."


"Memang, dia tidak memiliki waktu yang mudah seperti sebelumnya, tetapi dia masih menghindarinya ketika lawannya bertarung dengan kekuatan penuh. Kris Waarheid, siapa dirimu sebenarnya..."


Hui-ho kembali menampakkan dirinya.


Jaraknya hanya sejauh sekitar sepuluh meter. Wajahnya yang penuh dengan kemarahan pasti merupakan bukti bahwa percaya diri telah mengkhianatinya,  dia sudah merasa yakin bahwa dirinya mampu mengalahkan ku.


"Kenapa kau masih hidup? Apakah itu karena Grace milikmu?"


"Hm... Grace, ya? Jadi kekuatanmu sekarang ini merupakan Grace-mu?"


"Berhenti mengatakan hal yang sudah jelas! Itu sebabnya aku ada di sekolah ini, bodoh!"


"Aku mengerti. Aku rasa karena kau sudah menjawab pertanyaanku, aku harus membalasnya. Apa yang aku pertunjukkan di sini hanyalah sebuah keterampilan belaka. Tidak ada Grace yang terlibat. Ini adalah mekanisme, fisika murni dan sederhana. Dengan ketekunan yang cukup, kita manusia bisa melakukan banyak hal."


"Ohhh? Ha...? Heh... Keterampilan, hah? Kung Fu, kah? Kau pikir kau siapa, seorang pendekar ilmu bela diri? Kau benar-benar bilang kau bisa menghindariku hanya dengan itu? Heheheh. Lelucon yang bagus."


"Aku tidak bermaksud menjadikannya sebagai lelucon. Hm... Berkomunikasi verbal ternyata lumayan menyulitkan."


"Tidak apa-apa. Sudah cukup. Aku tak peduli jika kau mengatakan yang sebenarnya atau hanya mempermainkanku. Yang jelas kau telah membodohiku."


"Baiklah, Hui-ho. Jika kau benar-benar merasa kesal... lakukanlah apa yang kau anggap harus kau perjuangkan."


Aku memejamkan mataku sejenak, kemudian menatap langsung mata Hui-ho yang berapi-api.


"Mulailah bergerak... Karena kau akan mati!"


Hui-ho menciptakan jarak yang lebih jauh lagi di antara kami, dengan jarak sekitar 20 meter dari posisi semula.


Dia pada dasarnya seperti sebuah roket yang berada di atas landasan luncur.


Aku tidak bisa melindungi diriku dari kecepatan yang diciptakan oleh akselerasi sebesar itu. Dia akan menghancurkan semua yang menghalangi jalannya untuk mencapai target yang dituju.


"BERSIAPLAH MA----"


Hembusan angin.


"--tiiiiiieeeeeeeee?!"

__ADS_1


Dia meluncurkan dirinya ke depan, hanya untuk terlempar ke udara, dengan kedua kaki dan tanganya terbentang.


"Huuuh?!


"Tidak mungkin."


Tidak dapat memahami apa yang terjadi, Hui-ho terbang tinggi ke udara.


Aku menggunakan teknik yang dinamakan Nadee, atau yang berarti sungai dalam Hindi, untuk mengarahkan energi kinetik dari muatannya ke arah atas.


Ia terbang begitu tinggi karena ia bergerak dalam kecepatan tinggi.


"Ini juga merupakan keterampilan belaka. Hui-ho... Kau membuat keputusan yang salah."


Dia mencoba menghancurkan ku dengan kecepatan yang luar biasa, tetapi jarak jauh yang dia ciptakan di antara kami memberi aku kesempatan untuk mempersiapkan serangan balasan.


Dia hanya meningkatkan kekuatan dan kecepatannya.


Tekniknya masih sederhana, jadi dengan mudah untuk memprediksi apa yang akan ia lakukan dan mempersiapkan serangan balik.


Jika ia ingin menang, seharunya ia hanya menyerang dengan jarak dekat dan tidak memberi celah kesempatan bagi lawannya untuk bereaksi.


Kekalahannya telah ditentukan saat ia hanya terfokus pada kekuatan dan menciptakan jarak untuk meningkatkannya.


Hui-ho masih melayang tinggi. Dia akan terluka, bahkan meskipun dia dapat mendarat dengan sempurna seperti sebelumnya.


Dia terjatuh, dirinya benar-benar dalam kekuasaan gravitasi.


"AHHHHHHHHHHHH!"


"HUI-HO!"


Anna dan Charlotte secara spontan menyebut namnya dan bergerak cepat secara bersamaan.


Meskipun mengetahui bahwa lengan feminin mereka tidak dapat melakukan banyak hal untuk menolong, Anna dan Charlotte melompat untuk menangkapnya.


Sayangnya, mereka tetap tidak berhasil.


"Ngh... Ah..."


"Apa kau terluka?"


"Hah?!"


Saya telah menangkap Hui-ho dan sekarang menggendongnya seperti seorang tuan putri.


"Tidak ada kenikmatan yang ku rasa dari membuat wanita terluka."


"Ngh... Ah... Ahhh..."


Kepala Hui-ho masih terlihat berputar-putar.


Guncangan dari loncatan yang begitu tinggi telah membuat aliran darahnya berantakan, membuat kulitnya yang semula tampak putih, menjadi berwarna kemerahan.


"T-Turunkan akuuu...


"Tampaknya kau tidak terluka. Sungguh melegakan. Namun, sebaiknya kita harus memastikannya."


"Anna, apakah kau keberatan jika kita mampir ke tempat lain sebelum ke kelas? Aku ingin mengantarkan Hui-ho ke ruang kesehatan sekolah."


Tepat di sampingku, ada Anna dan Charlotte, yang sangat tercengang. Untungnya, suaraku cukup untuk membuat mereka tersadar.


"Hah? Ah, ya... kesini. Ikuti saya."


"Kris... Um... Terima kasih."


"Tung...gu, tidak-tidak... aku tidak bisa.... terlihat seperti ini..."


"Sudahlah Hui-ho. Bersabarlah hanya untuk beberapa saat."


"Tidak... Tolong... turunkan aku..."


Kemudian, aku mengikuti Anna ke ruang kesehatan sekolah, sementara aku menggendong Hui-ho di lenganku.

__ADS_1


__ADS_2