
"Jika Anda tidak keberatan, maka ya Kris Waarheid memiliki pertanyaan dan saya akan mengatakannya. Penjelasan Anda agak terlalu abstrak bagi saya, dan sebagai orang yang baru mengenal tempat ini, saya ingin Anda menjelaskan lebih lanjut."
Tanggapan logis yang tak terduga dari anak yang dirasakan sebagai anak bermasalah itu membuat sang guru mengangguk setuju.
"Itu benar. Baiklah, kita akan mengulas pelajaran sebelumnya. Ini adalah kesempatan yang tepat, jadi mari kita bahas tentang pentingnya Grace. "
Sang guru mempersiapkan materi dengan mengayun-ayunkankan jarinya untuk mencari materi.
Sementara itu bagian belakang kelas, tempat untuk para Radiance duduk memulai kegaduhan kecil.
"Nampaknya dia akan menjadi siswa pindahan yang mengesalkan."
Elsa memelototi Kris dari tempatnya duduk.
"Benar, sungguh menyebalkan. Dia juga telah me-... Ugh! Pokoknya, dia membuatku kesal!"
"Hui-ho yang tidak memiliki apa-apa selain kekuatan, tetap saja kalah meski menggunakan kekuatan penuh. Benar-benar tidak menyangka Hui-ho adalah yang terlemah diantara Empat Pengawal Langit.."
Hui-ho mengepalkan erat tangannya. Nampaknya kejadian tadi pagi masih menyisakaan amarah yang cukup besar.
"Aku tidak kalah! Dan bukan empat, ada lima orang di antara kita!"
"Anak berandalan yang terkenal itu kalah setelah menggunakan Grace-nya, kemudian digendong seperti seorang tuan putri di depan umum sampai ke ruang kesehatan. Sungguh sebuah pertunjukan yang memalukan.
Seandainya itu terjadi pada diri ini, luka yang dalam akan membekas seumur hidup. Kalian harus memaksa diri ini untuk datang ke kelas, dan diri ini akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai orang tertutup yang mengurung diri dikamar selamanya."
Kata-kata Elsa memprovokasi Hui-ho, membuatnya semakin mengingat kejadian tadi pagi yang sangat ingin ia lupakan.
"UGHHHHH! JANGAN KATAKAN! JANGAN INGATKAN ITU! S-S-Sialan kau kris! Aku-aku tidak pernah merasa dipermalukan seperti itu...! D-Dia juga mejamah ... Dia melakukannya... lalu menyebut dadaku kurang berisi...Tak bisa dimaafkan. Aku akan membunuhnya!"
Amarah Hui-ho benar-benar masih menggelora, tanpa sadar ia menggebrak meja kelas.
"Nona Lee Anda sedang dikelas."
"Ah. Maaf."
Hui-ho meringkuk menyadari telah menjadi pusat perhatian seluruh siswa.
"Bodoh."
"Diam, sialan! Aku tidak kalah!"
"Charlotte mengatakan kepada diri ini bahwa dia mengalahkan Hui-ho dengan serangan balik saat akan melancarkan serangan andalan."
Dengan membuka kedua telapak tangan dan mengarahkannya ke Charlotte, Elsa kini melibatkan anggota Radiance yang paling ramah dan lembut ke dalam 'obrolan kelas' mereka.
"CHARLOTTE! Kau berjanji tidak akan memberitahu Elsa!"
"Tetapi, sesama teman, saya merasa tidak enak jika Elsa tidak mengetahui kejadaian itu."
"Cobalah untuk juga merasa tidak enak kepada teman mu yang ini! Sial, sial, sial! Aku tidak dalam kondisi terbaikkku pagi ini! Jika aku mendapat kesempatan lagi, aku tidak akan kalah dari..."
Elsa menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan nya dan tertawa kecil. Elsa bukanlah anak yang selalau menunjukan ekpresi di wajahnya. Dengan tawa datar seperti itu jelas sekali anggota termuda ini hanya ingin membuat temannya kesal.
"Bahkan pemebelaan Hui-ho membuat dirinya seperti karakter sampingan, benar-benar tidak pantas menjadi salah satu dari Empat Pengawal Langit."
__ADS_1
"Apakah mulut ini yang tidak bisa diam dari tadi?!"
Hui-ho menangkap wajah Elsa. Postur pekcil Elsa yang mengdapai Hui-ho yang hampir dua kali lipat darinya tidak dapat menghindar dengan mudah.
"Sini aku akan beri pelajaran!"
Hui-ho mencubit pipi ELsa di kedua sisi dan menarik nya tanpa ampun.
"Owii! Dawsar aonta tewemah! awib shandelier! Rawskan iwi!
Elsa melakukan serangan balasan tapi ia hanya dapat menggapai salah satu pipi Hui-ho.
"Hangan meerawan, asar bocah sialan!"
Plok. Plok.
Perangkat tablet mendarat di kepala Hui-ho dan Elsa.
Guru mereka, Addela, muncul di hadapan Hui-ho dan Elsa tanpa mereka sadari.
"Saya yakin saya telah meminta Anda sekalian untuk diam."
"M-maaf..."
"Mohon dimaafkan..."
Setelah menyelesaikan urusan nya sang guru kembali memperhatikan perangak tablet nya dan kembali mempersiapkan materi.
"Suara kalian berdua sangat keras sih."
"Apakah dalam kondisi terbaik atau tidak, itu tidak mengubah fakta bahwa Hui-ho-san telah dikalahkan oleh pemula, kan?"
Sayuri yang dari tadi hanya tenggelam dalam pikirannya, ikut mengutarakan apa yang dalam pikirannya.
"I-itu.."
Hui-ho tidak bisa mengelak fakta jelas dalam perkataan Sayuri.
"Yang paling memalukan, digendong seperti tuan putri."
"JANGAN KATAKAN itu!"
Seperti belum kapok dengan puklan pwrangkat tablet di kepalanya, Elsa mulai kembali memprovokasi Hui-ho.
"Pahamilah Hui-ho, kalah tetaplah kekalahan."
"Oh ya? Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kau coba kalahkan dia."
"Tidak seperti Hui-ho, diri ini bukan tipe orang yang suka bertengkar dengan siswa pindahan dan terlibat dalam pertarungan yang tidak berguna."
"Iya. Iya."
Tidak seperti Elsa, sepertinya Hui-ho mulai kehilangan semangat dengan pertempuran kecil mereka.
"Pertama-tama diri ini akan melihat siswa pindahan itu bertarung melawan Sayuri atau Charlotte untuk mengumpulkan cukup data, lalu diri ini akan menyerang titik lemahnya dan mengalahkannya dalam satu pukulan."
__ADS_1
"Idih, rendahan banget."
"Tapi Hui-ho, bukankah kamu orang terkuat di sekolah ini?"
"Tepat sekali. Hui-ho-san tidak diragukan lagi adalah petarung jarak dekat terkuat. Jika dia kalah..."
"Tidak, tidak, tidak! Aku tidak kalah!"
Meskipun Hui-ho meyetujui apa yang di katakan Charlotte, dia masih tidak bisa setuju apa yang di katakan Sayuri.
"Hal ini bisa menjadi situasi yang gawat bagi kita, Chandelier. Bagaimanapun juga, ketertiban sekolah tergantung pada kita."
Sayuri kembali memejamkan matanya, ia seperti kembali tenggelam dalam pikirannya. Dan kali ini ekspresi cemas benar-benar telihat dengan jelas.
"Sayuri bukankah itu sedikit berlebihan?"
Tidak memhami apa yang Sayuri maksud Charlotte juga ikut menjadi cemas mendengar Sayuri mengatakan hal itu dengan serius.
"Itu tidak berlebihan Mountbatten-san. Selain itu, dari apa yang bisa saya simpulkan, hanya masalah waktu sebelum dia mengganggu pimpinan kita, Silenziosa-san.
"I-Itu... tidak baik."
Mendengar itu, ekspresi cemas Charlotte berubah menegang. Aura lembut yang selalu di pancarkan dari wajah nya kini tampak seperti bongkahan es.
Seperti mencoba merubah susana, Elsa melemparkan pertanyaan tidak terlalu penting di antara percakapan Sayuri dan Charlotte.
"Mengenai Kris... Mengapa dia duduk di sebelah Anna?"
Hui-ho yang paham dengan maksud Elsa menjawabnya.
"Anna akan terus menemaninya. Ia disuruh membimbingnya di sekitar sekolah sampai orang itu terbiasa."
"KENAPA?!"
"Elsa sstttt!! Nanti dimarahi lagi."
Kembali menajdi dirinya yang seperti biasa, Charlotte memperingati Elsa.
"Uuuuu..."
Elsa yang hanya bertanya tidak penting kini ia menemukan infomasi yang ia tidak sukai.
"Tentu saja karena di suruh Prof Adella , kan?"
"Kris adalah seorang Radiance, jadi salah satu dari kita harus membimbingnya. Anna paling cocok untuk tugas itu."
"Tidak bisa dimaafkan..."
"Elsa?"
"Hui-ho. Waktunya untuk pertandingan ulang. Mari kita bunuh dia sesegera mungkin."
"Bukankah kau baru saja mengatakan sesuatu tentang tidak suka terlibat dalam pertarungan yang tidak berguna?"
"Selanjutnya..."
__ADS_1
Pengajar Adella kembali berdiri di depan layar. Kelas yang sempat tertunda sementara ia mempersiapkan materi, akhirnya dilanjutkan kembali.