
"Apakah anda Kris Waarheid?"
Setelah membereskan kelompok bersenjata, salah seorang korban penyandraan memanggil namaku.
Sangat tidak terduga, sebab selama tujuh tahun ini aku tidak kembali ke Jepang.
Aku tidak mengenal siapa pun di sini, dan aku tidak berpikir bahwa siapa pun dari saat aku berada di sini akan mengenaliku setelah aku banyak berubah.
Kecantikan yang lugas bagaikan gunung bersalju di kutub melangkah keluar dari mobil... Adella Kristi.
"Senang bertemu dengan Anda, Kris Waarheid. Saya Adella Kristi, seorang guru di Akademi. Saya sudah lama menantikan untuk bertemu dengan Anda."
"Aku paham sekarang. Akademi pasti sudah memiliki dokumen-dokumenku. Cukup masuk akal kalau kau mengenaliku. Aku rasa aku harus menyapa Anda dengan benar. Senang bertemu dengan Anda, Pengajar Adella Kristi. Aku Kris Waarheid. Aku ingat melihat nama Anda dalam dokumen yang aku terima... Apakah aku bisa berasumsi bahwa Anda adalah orang yang bertanggung jawab atas diriku?"
"Benar. Meskipun, Anda seharusnya baru akan datang baru besok pagi, saya tentu saja tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di sini. Dan terlebih dalam situasi yang seperti ini."
"Umm... Profesor Adella, Anda mengenalnya?"
Gadis pemberani yang baru saja berurusan dengan maut, dengan malu-malu berbicara kepada Pengajar Adella.
"Ya. Dia Kris Waarheid. Sebelum kecelakaan ini, saya akan memberitahu Anda bahwa kita akan mendapatkan siswa pindahan baru."
"Dan tingkatannya adalah Radiance. Artinya, dia adalah Chandelier keenam."
Penjelasan itu membuat gadis itu bingung. Mengingat fakta bahwa dia tidak goyah sebelum kematian, hal ini pasti merupakan perkara yang serius.
"Yang benar saja? Ke-keenam...? Seorang laki-laki? Tidak Mungkin... Jadi itu berarti..."
"Apa yang begitu sulit untuk dipahami, Anna Silenziosa? Jika Anda membiarkan konsep-konsep tertentu membatasi Anda, Anda tidak akan pernah benar-benar menjadi orang yang mulia"
"Sejauh ini HGG dengan tingkatan Radiance adalah perempuan, tetapi hal itu tidak pernah membuktikan adanya hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, apa pun kemungkinannya, tidak aneh jika suatu saat terdapat seorang Radiance laki-laki"
"Itu benar, tapi..."
Dia benar-benar seperti yang ku bayangkan. Dia menata kembali dirinya, menghadap kepadaku, dan memulihkan kembali sosoknya yang anggun tanpa cela.
"Terima kasih atas bantuan Anda, Kris Waarheid. Sulit untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya diri ini karena Anda telah menyelamatkan saya."
__ADS_1
Ia menegakkan punggungnya dengan penuh wibawa seakan-akan hal seperti itu sudah merupakan hal yang alami. Hal itu saja sudah sangat menarik perhatian dan membuat suasana di sekeliling kami berubah.
"Saya Anastasia Castellani de Silenziosa, salah satu Radiance di Akademi yang akan segera Anda masuki."
Aku dibuat terpesona.
Kecantikan seseorang tidak dapat diukur hanya dengan angka dan bentuk.
Keindahan sejati ada pada cara mereka hidup, hal-hal yang tidak terlihat yang muncul secara natural.
'Radiance' berarti 'sinar cahaya', dan Anna Silenziosa lebih dari sekadar memenuhi syarat untuk meraih sebutan tersebut.
Keindahannya membuat ku secara spontan membungkuk dan berlutut seperti seorang ksatria di hadapan ratunya yang mulia.
Terkejut dengan sikap ku, dia hendak menarik mundur dirinya. Dan seolah-olah untuk menghilangkan kekhawatirannya dengan gerakan yang elegan, aku langsung menggapai tangannya yang putih pucat.
"Anastasia, namaku Kris Waarheid."
Aku mencium punggung tangannya. Itu merupakan sebuah ciuman tanda terima kasih dan rasa hormatku.
Apapun situasinya. Tidak peduli terlihat seberapa putus asa dan hilangnya harapan. Hal-hal yang benar-benar berharga selalu layak mendapatkan sebuah penghormatan.
Aku adalah murid pindahan. Terhitung mulai besok, aku bersama dengannya akan menjalani hari-hariku di dalam Akademi bersamanya.
Aku benar-benar bersyukur bahwasanya aku telah menemukan cahaya yang bersinar seterang dirinya.
Tidak peduli seberapa banyak ucapan terima kasih yang bisa kuucapkan, tampaknya masih belum cukup. Bagaimana caraku mengekspresikan perasaan yang ada di dalam diriku ini?
Rambut hitamnya yang tergerai anggun memantulkan cahaya bulan. Matanya yang berkaca-kaca menyembunyikan keresahan dan tekad yang tak tergoyahkan. Keanggunan dan keteguhannya saat ia menghadapi sang maut.
Dan terakhir, hal yang paling menonjol dari semuanya...
"Dada indah dan menggairahkan!"
"...Huh?"
Seperti orang pendosa terdahulu yang terlempar ke neraka ketika selangkah lagi menuju surga, wajah Anastasia tiba-tiba menegang.
__ADS_1
Rupanya, kata-kata dari diri ini tidak cukup untuk mengekspresikan luapan perasaan yang ada. Sebuah anugerah yang melebihi dada yang menggairahkan, hanya sedikit dan jarang terjadi.
Mereka merupakan perwujudan dari kehidupan dan identitas wanita, simbol kesuburan dan kedamaian.
Untuk mengekspresikan perasaan yang membara di dalam diri ini dengan tepat, aku memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Gunung Kembar milik Anastasia, benar-benar nomor satu!
"Ueggh......."
"Aisha positif yakin dia sangat terganggu. Haruskah Tuan mengucapkannya dengan lantang?"
"Bukankah cinta dan kemarahan tidak dapat diungkapkan hanya sebagai sekadar perasaan? Perasaan hati kita hanya bisa tersampaikan kepada orang lain dan terwujud jika kita mengungkapkannya dengan benar."
"Itu pepatah Jepang, bukan? Aisha setuju dengan apa yang Tuan katakan, tetapi Aisha juga percaya bahwa ada hal-hal yang harus dan tidak boleh diungkapkan untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan. Jepang memiliki kata untuk itu. Wabisabi."
"Diam juga adalah sebuah tindakan yang bijak... Aku mengerti, tetapi secara pribadi, aku tidak bisa menahan rasa sukacita yang aku rasakan saat ini."
"Baiklah kalau begitu. Tolong mulai dari sekarang perlakukan Aisha seperti orang asing yang saling tidak mengenal dan hanya kebetulan berjalan beberapa langkah di belakang Tuan."
Kemudian, aku mendekati sinar yang menyilaukan itu...
Meremasnya dengan penuh percaya diri...
...dan menggenggamnya layaknya sedang berjabat tangan
"AHHHHHH!"
Di hadapan sinar kebenaran, manusia tidaklah berdaya akan chayanya. Penglihatan saja tidak cukup, kita juga harus merasakanya dengan sentuhan.
"Luar biasa. Mereka gagah, elastis, dan memiliki kekuatan untuk melawan gravitasi. Ini jelas merupakan sebuah mahakarya yang sangat mengagumkan!"
"TIDAK! TIDAK! TIDAK! Mesum, mesum, mesum! Menjauh, jangan sentuh, pergi, DAN MATI SANA!"
Dia mengangkat kaki kanannya hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat yang sempurna kemudian mengayungkan badannya dan mendaratkan tendanganya di kepalaku.
Aku begitu terpesona oleh pemandangan itu, sehingga aku tidak bisa menghindarinya. Tendangan diagonal dari bawah ke atas yang sungguh luar biasa. Untuk menghormati stoking hitam yang membalut pengantar maut tersebut, aku memutuskan untuk menamainya "Pusaran Angin Hitam Mempesona Pembawa Kematian".
__ADS_1