Flower Petal Revolution Stage

Flower Petal Revolution Stage
3 - 05


__ADS_3

"Tolong ikut Saya sebentar!"


"Kemana? Hm... Aku tidak menentang ide untuk mengikutimu, tapi aku ingin tahu alasannya."


Setelah pelajaran Pengajar Adella berakhir, Anna dengan memaksa menyeret ku keluar kelas.


"Itu tidak penting, cepat ikutlah dengan saya!"


Kami berjalan melewati lorong, lalu keluar, dan menuju ke tangga besar di bangunan di sebelah gedung utama sekolah.


Pemimpin kami yang tercinta menatap aku seperti hendak menggigit kepalaku seperti raksasa dalam dongeng.


"Kris Waarheid! Ini adalah hari pertama Anda di sini ... Bagaimana Anda bisa membuat begitu banyak masalah sebelum waktu istirahat makan siang?"


"Hmm... Jadi, kau mengamati tindakanku ini hingga ke yang paling sepele?"


"Jangan berpura-pura Anda sedang bersikap ramah seperti tadi pagi. Siapa pun akan berhati-hati dan wsapada jika berada di sekitar bom yang menyala!"


"Apakah Hui-ho sekasar itu? Dari apa yang saya lihat, dia tampak sangat blak-blakan."


"Lihatlah ke cermin! Dan jika Anda menghargai hidup Anda, jangan pernah mengatakannya kepada Hui-ho."


Dia meletakkan tangannya di pelipisnya, menarik napas dalam-dalam, dan menujukan wajah mulia dengan ekspresi yang aku mulai terbiasa melihatnya


"Sebenarnya apa yang ada dalam pikirkan Anda?"


"Kau berharap untuk dapat mengenal lebih dalam mengenai diriku?"


"Saya tidak menginginkannya, tetapi ini telah menjadi situasi yang saya harus lakukan."


"Baiklah. Karena kau mengatakannya seperti itu, aku akan menerima keadaan ini sepenuhnya."


"Ngapain buka baju!"


Raungan Saku membuat beberapa siswa yang lewat melihat ke arah kami dengan heran.

__ADS_1


"Hm... Bukankah agak memalukan bahwa salah satu Radiance Akademi berteriak tanpa alasan?"


( Ugh... Kenapa dia seperti ini? Apakah ini niat membunuh yang kurasakan? Ya, mungkin saja. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar ingin mengubur seseorang! Apakah dia bodoh? Atau idiot? Aku tidak terlalu peduli, tapi apa yang akan terjadi padaku? Dan aku harus membawanya berkeliling juga?!)


Anna bersandar ke dinding, kemudian mengepalkan tangan dan berkata, "Lakukan yang terbaik, Anna," berulang-ulang. Apakah dia sedang stres?


"Aku akan mengajari kau sebuah metode pernapasan yang dapat meredakan stres. Metode ini akan membantu kau dalam menenangkan pikiran."


"Serius... Mengapa Anda mengatakan hal itu tadi?"


Tadi? Mungkin maksudnya adalah perbincangan ku dengan Pengajar Adella.


Setelah kejadian itu, aku merasakan perasaan tidak nyaman dari seluruh penjuru ruang kelas. Rasanya seperti menjadi bantal yang di tusuk banyak peniti.


"Aku hanya mengutarakan pendapatku. Aku memahami tujuan Akademi, tetapi aku tidak setuju dengan mereka. Apakah ada sesuatu yang salah?"


"Tentu saja ada! Orang seperti apa yang menentang metode sekolah barunya dan mengatakannya dengan lantang seperti sedang mengajak berkelahi?!"


"Wah, orang seperti aku, tentunya."


Aku melihat Anna mengepalkan tangannya, rasa semangat akhirnya terlihat karena kami mulai saling memahami.


"Anda mungkin tidak akan pernah mengerti. Saya tidak begitu mengerti saat kita berbicara sebelumnya, tetapi sekarang saya menyadari bahwa Anda memang tidak bisa dimengerti."


Dia menegakkan postur tubuhnya dan mengangkat kepalanya lebih tinggi. Itu sudah cukup baginya untuk mendapatkan kembali kekuatannya yang murni.


"Kami semua setuju dengan tujuan Akademi. Itulah mengapa kami memilih untuk belajar di sini. Terlepas dari pendapat pribadi Anda tentang Akademi, secara terang-terangan menyangkal prinsip-prinsip yang dibangun oleh sekolah ini adalah serangan terhadap kedamaian sekolah. Sebagai seorang Chandelier, saya ditugaskan untuk menjaga ketertiban di sini, jadi saya tidak bisa mentoleransi tindakan Anda"


Dia menghela napas seakan-akan sangat lelah, kemudian sedikit rileks dan menatap ke arah ku.


"Kamu terlihat terlalu mencolok... Meskipun jika Profesor Adella tidak keberatan, para siswa di kelas sekarang jelas sangat marah kepada Anda."


"Jika tindakan yang kujalani membuatku menjadi sasaran kemarahan, aku akan menerimanya dengan senang hati."


"Ugh... Kenapa Anda seperti tidak mengerti apa yang saya sampaikan? Pokoknya, tolong jaga sikap Anda untuk tetap lebih berhati-hati, setidaknya sampai hari ini berakahir. Jangan harap saya akan membantu Anda jika Anda membuat masalah lagi!"

__ADS_1


"Terima kasih atas kekhawatiran tulus yang datang dari hati".


"Selain itu, saya akan mengajak Anda berkeliling seusai sekolah. Pastikan untuk meluangkan waktu."


"Aku mengerti. Sekali lagi, terima kasih atas perhatian yang tak ada habisnya."


"Saya telah diberitahu untuk menjadi pendamping Anda. Sudah menjadi tugas saya untuk membantu siswa pindahan seperti Anda, jadi tidak perlu berterima kasih."


"Bertugas atau pun tidak, kebaikan harus tetap dihargai."


Jawabanku yang jujur membuat Saku menatapku dengan tatapan aneh.


"Anda cenderung melakukan apa pun yang ingin Anda lakukan, tetapi Anda sangat serius dalam hal tersebut, ya?"


"Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Terima kasih dan bersyukur adalah salah satu hal yang harus ditunjukkan oleh semua manusia"


"Jika Anda sungguh-sungguh meyakini hal itu, cobalah membaca suasana dengan lebih baik."


"Hm... Apakah aku mengikuti kehendakku atau tidak, itu adalah masalah yang sama sekali berbeda. Kau, sebaiknya jangan mencampuradukkan keduanya."


"Anda benar-benar... Yah, terserahlah. Sampai jumpa seusai sekolah."


"Bolehkah aku menanyakan satu hal lagi?"


Anna berbalik memandangku, tetapi dia jelas tidak ingin melanjutkan percakapan kami. Bukan hal yang penting, tetapi aku merasa perlu untuk mengajukan pertanyaanku.


"Kau mengatakan bahwa semua siswa setuju dengan gagasan Akademi..."


"Ya. Tentu saja."


"Apakah itu juga termasuk dengan kau, Anna Silenziosa?"


"Tentu saja!"


Sebuah jawaban cepat dan singkat.

__ADS_1


__ADS_2