Flower Petal Revolution Stage

Flower Petal Revolution Stage
1 - 01


__ADS_3

Waktu adalah temanku


Musim akan berganti. Yang tajam akan tumpul. Kata-kata yang dikenang di hati akan terlupakan.


itu adalah putaran tanpa akhir yang bernama 'perubahan'


Aku yang tak akan terlupakan, akan terus melangkah sendirian


***


**


*


Aku teringat akan langit yang pernahku tatap dahulu kala.


Jari-jari anak kecil menunjuk pelangi yang menghiasinya.


Warna-warna cerah yang membelah langit menginspirasi diriku untuk berlari ke arahnya.


Aku bermimpi untuk mengejar jembatan di langit itu.


Tetapi sejak itu, hal tersebut hanya menjadi bayang-bayang dari hari-hari yang hilang.


"Sekarang, mari kita buka tirainya dan mulai pertunjukannya."


Sebuah kota kecil muncul di tengah-tengah pedesaan yang sederhana namun tak memiliki batas.


Tempat ini tidak terasa seperti rumah. Sebaliknya, tempat ini tampak seperti sebuah oase di padang pasir.


Tentu saja, ini bukan gurun, dan kota itu bukanlah oasis.


Ini adalah tanah di mana Kris Waarheid akan mengatur panggung yang telah lama ditunggu-tunggu.


"Ngomong-ngomong, Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Tidak ada orang yang berjalan di jalanan, dan angin yang mengalir melalui celah-celah di antara bangunan terasa dingin dan lembut. Harus kuakui, tanah yang dijanjikan terasa sedikit sepi."


Kota kecil yang dibangun di sekitar hotel dan mal dekat stasiun ini memiliki bangunan lama dan baru, kemungkinan karena kurangnya perhatian terhadap perencanaan kota.


Hal ini mengingatkan ku pada lukisan Salvador Dali. Yang suci dan yang nista, yang baru dan yang usang bercampur tanpa ada sedikit pun aturan, tetapi memiliki jenis keindahan yang aneh yang menarik hati sanubariku.


"Tuan? Um, Tuan muda? Hei, kau biadab, cabul, congkak. Apa Anda mendengar pelayan hebat dan sempurna Anda, Aisha, berbicara dengan Anda? Aisha takut jika Anda terus mengabaikan Aisha, Aisha terpaksa akan menancapkan tongkat penyiksa bertegangan listrik yang dibuat khusus hanya untuk Anda kesemua lubang yang terbuka di tubuh Anda."


Karena saat sudah larut malam, jadi sepinya orang-orang adalah hal yang wajar. Seekor anjing yang kurus dan tersesat berlari menghampiri ku, namun kemudian lari menjauh dengan ekor di antara kedua kakinya ketika mata kami bertemu.


Binatang liar yang hidup di bawah hukum "Yang kuat adalah yang berkuasa" memiliki indera yang jauh lebih tajam daripada manusia. Tentunya ia takut akan bahaya yang tercium dari diri ku.


"Lihatlah, wahai penguasa di langit. Aku akhirnya tiba di sini. Aku telah melampaui semua penderitaan, mengikuti jalan takdir... dan akhirnya tiba di panggung yang dijanjikan. Oh, dewi bulan yang menawan, pancarkan kedamaian padaku dengan senyummu. Panggung ini akan menampilkan drama yang penuh dengan air mata, darah, dan perselisihan. Tutuplah mata Anda dan bermimpilah dengan tenang hingga semuanya berakhir."

__ADS_1


"Tuan... Jika Anda tidak berhenti berbicara pada diri Anda sendiri, Anda akan terlihat lebih aneh daripada blobfish yang menggelepar kekurangan okisgen di darat."


"Hm? Apa kau mengatakan sesuatu, pelayanku tersayang?"


"Ya, Tuanku yang terhormat. Aisha bertanya seperti berikut : "Apa yang harus kita lakukan sekarang."


Namanya adalah Aisha.


Jika seragam pelayan retro bergaya Inggris tidak membuatnya terlihat jelas, dia adalah pelayan pribdadi yang benar-benar melayani tuanya... dan dengan sempurna, tentu saja.


Meskipun demikian, tidak ada manusia yang bebas dari kekurangan. Kekurangannya adalah kurangnya kemampuannya dalam membaca suasana mood sekitar.


"Aisha, kegembiraan ku saat ini sudah mencapai puncaknya."


"Ya, Aisha sedang memperhatikannya. Tapi secara pribadi, Aisha tidak terlalu memperhatikan puncak-puncak Anda yang terlihat berantakan dengan lengkungan disana-sini. Karena yang lebih penting adalah, apa yang harus kita lakukan sekarang? Secara pribadi, Aisha tidak yakin apa yang harus Aisha pikirkan hanya dengan berdiri di depan stasiun."


"Cobalah memikirkan kegembiraan tuanmu ini."


"Sebenanya Aisha cukup senang hari sudah malam. Jika siang hari dan ada orang yang melihat kita, Aisha akan berpura-pura tidak mengenal Anda dan melarikan diri, tapi seorang pelayan sempurna seperti Aisha tidak bisa melakukan itu, jadi Aisha sekarang kesal emas. Ngomong-ngomong, perak akan lebih baik daripada emas. Dan di bawahnya, Anda akan mendapatkan kesal perunggu. Aisha harap tuan tidak terlalu sering mendapatkan emas."


Meskipun seorang pelayan yang hebat, dia memiliki kecenderungan untuk menjadi cukup tidak peka.


"Kau bertanya apa yang akan kita lakukan? Tentu saja tidak ada yang perlu diucapkan lagi. Aku akan pergi ke tempat yang harus aku datangi dan melakukan apa yang harus aku lakukan."


Di prefektur ini, Kota Okushima adalah salah satu wilayah terbesar di selatan.


Menurut sensus tahun 2010, kota ini memiliki populasi 263.542 dari total 775.421 di seluruh prefektur.


Menurut standar Jepang, tempat ini termasuk pedesaan, tetapi dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Eropa atau Timur Tengah, tempat ini cukup urban. Ada hutan dan tanah kosong yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama satu atau dua hari.


Jepang memiliki lebih dari seratus juta orang di wilayah yang relatif kecil. Dengan berjalan kaki ke arah yang acak, seseorang dapat menemukan toserba hanya dalam waktu sepuluh menit. Jadi, ketika mempertimbangkan hal itu, mungkin Jepang adalah sebuah anomali.


Okushima sering disebut sebagai "Kota Air". Kebanyakan orang akan melihatnya di pamflet-pamflet wisata.


Dan, hal itu tidaklah mengada-ada. Kota ini memiliki laut di sebelah timur, serta tiga sungai yang melewatinya.


Acara lokal terbesar adalah tarian rakyat yang diadakan di musim panas, selama obon. Tarian ini sangat terkenal baik di dalam maupun luar negeri.


Acara ini dianggap sebagai salah satu dari tiga festival terbesar di Jepang, dan selama empat hari penyelenggaraan, festival ini menarik jutaan pengunjung dari Jepang dan sekitarnya.


Konon, penduduk setempat berlatih sejak usia muda untuk mempersiapkan diri mengikuti festival tari dan menjadi bintangnya.


Gerak-gerak tarian di sana memiliki sejarah empat ratus tahun di belakangnya. Dipadukan dengan pakaian tradisional yang unik, tarian ini memukau dan menyatukan para penikmatnya seperti sebuah ritual suci. Aku ingin sekali melihatnya, tapi sayangnya, aku tidak punya waktu untuk itu.


Aku, Kris Waarheid, masih memiliki sesuatu yang harus kulakukan, dan janji suci yang harus kupenuhi


"Ngomong-ngomong, pelayan terpercaya ku. Aku punya pertanyaan untukmu."


"Silakan tanyakan saja, Tuan. Tunjukann kebodohan yang tuan miliki, Aisha akan menjawabnya.."

__ADS_1


Aku langsung bertanya tentang pertanyaan yang terlintas di benakku.


 "Mengapa malam?"


"Apa maksud Anda dengan 'mengapa'? Mencoba untuk memahami Anda adalah hal yang sulit, jadi Aisha harap Anda dapat mengembangkan pertanyaan itu dalam tiga kalimat untuk memperjelasnya."


Hanya tiga kalimat, tentu saja bagi ku hal itu lebih mudah daripada menangkap belalang.


"Kita tiba di Okushima, tetapi kita harus pindah dari tujuan kita yang sebenarnya. Aku ingat bahwa kita seharusnya tiba di sini pagi-pagi sekali. Lalu, mengapa sekarang sudah malam?"


"Sungguh prestasi yang luar biasa, Tuan. Penjelasan Anda sangat jelas. Aisaha sungguh bangga."


Aisaha memuji ku dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Tidak perlu memuji. Memang mengesankan, aku tahu, tapi itu tidak ada apa-apanya bagi orang yang berbakat seperti diriku. Sekarang, bolehkah aku mendengar mengapa?"


"Persis seperti yang Anda katakan, Tuan."


"Hm... jawaban darimu terkadang membuat aku memiliki semakin lebih banyak pertanyaan."


"Menjelaskannya akan memakan waktu terlalu lama."


"Tolong rangkumkan dalam satu kalimat."


"Aisaha memesan kursi untuk penerbangan yang salah."


Saya langsung paham dengan penjelasannya.


"Menakjubkan. Bagus sekali, Aisaha."


"Anda tidak perlu berterima kasih kepada Aisaha."


Dia berdiri dengan tenang, meletakkan tangan di dadanya, dan tersenyum malu.


Semua orang melakukan kesalahan. Tidak ada alasan untuk memarahinya atas kesalahan kecil seperti itu.


Seperti kata pepatah, "waktu adalah uang." Waktu sangat berharga seperti emas. Jika memandangnya dengan cara seperti itu, tiba setengah hari lebih awal pun bukanlah sebuah permasalahan.


Namun, ada sesuatu yang harus kami pikirkan...


"Apa yang harus kita lakukan tengah malam di kota yang gelap ini?"


Kami harus melakukan perjalanan ke tempat tujuan kami, tetapi mendapatkan sarana transportasi untuk itu sangat sulit di malam hari. Dan karena kami berencana untuk tiba di pagi hari, kami tidak memesan hotel terlebih dahulu.


Terakhir, berdiri di depan stasiun pada malam hari cukup membosankan.


Pelayan terpercaya dan paling setia ini menanggapi pertanyaan dari ku dengan mengangkat bahu.


"Tau 'deh."

__ADS_1


__ADS_2