Flower Petal Revolution Stage

Flower Petal Revolution Stage
2 - 05


__ADS_3

Sebuah ramalan... Dia menyatakan bahwa dia telah memberi tahu mengenai masa depan ku. Sungguh aneh dan menarik.


Aku merasa bersalah pada Anna, tapi aku memutuskan untuk menunda kembali kepadanya. Melainkan, aku berjalan ke arah yang ditunjukkan Daigo dan menemukan tempat dengan suasana yang sepenuhnya berbeda.


Rasanya seperti aku terlempar ke dunia yang sangat berbeda. Luasnya tempat yang kutemukan di ujung jalan sungguh mengejutkanku.


Ini adalah hamparan padang bunga mawar yang bermekaran dengan warna merah dan putih yang memesona. Aromanya yang mencapai hidungku hampir membuatku tersedak.


Pemandangan mewah dari hamparan ladang yang terawat dengan baik dan penuh dengan mawar pasti sudah cukup untuk membuat sebagian besar orang terkesima.


Orang yang memiliki sekolah ini pastilah orang yang benar-benar memahami akan keindahan.


"Hm? Itu.."


"Hei, tidak apa-apa, kan? Ayolah."


"Tidak, kamu harus melakukannya sendiri... Ahhh jangan, sudah kubilang tidak boleh...."


Di pintu masuk ke taman mawar, aku melihat sesuatu yang berprilaku seperti binatang buas menyerang seseorang.


Dua sosok siluet sedang berseteru. Tidak seperti pertemuan ku dengan Daigo, keduanya mengenakan seragam sekolah ini. Yang satu adalah seorang siswi berpostur tinggi, sementara yang satunya lagi bertubuh mungil mengenakan seragam yang sama dengan sepertiku.


"Ayo, cepat berikan aku catatan dari minggu lalu... Whoa!"


Tiba-tiba, perempuan tinggi itu kehilangan keseimbangan.


Dia hampir saja terjatuh, tetapi entah bagaimana dia bisa mendarat dengan kedua kakinya seperti seekor kucing yang gemulai.


Tentu saja, dia terjatuh bukan karena tersandung sesuatu. Kebetulan aku hanya berusaha membuat dia kehilangan keseimbangan dengan membantingnya secara tiba-tiba.


"Apa-apaan ini...?! Apa yang kau lakukan?!"


Perempuan yang membentak padaku terdengar keras, tetapi tidak kasar. Dia memiliki ketenangan dalam dirinya yang tampaknya tidak sesuai dengan pola bicaranya yang berapi-api.


Meskipun tinggi, ia memiliki postur tubuh yang ramping dan lentur, aku bisa melihat bahwa badan dan otot-ototnya terlatih dengan baik.


Berdasarkan fakta bahwa ia mengerti aku yang harus disalahkan karena hampir membuatnya terjatuh, dan dari bagaimana ia menangani caranya mengendalikan kakinya, jelas bahwa ia memiliki pengetahuan bela diri.


Ia memiliki rambut panjang yang ditata di sisi kanan, penampilannya menawan, yang mengandung ketajaman dan kekuatan.


Jika aku harus membandingkannya dengan sesuatu...


... Aku akan mengatakan bahwa dia adalah seekor macan tutul, makhluk yang bergerak dengan keanggunan dan kekuatan. Keganasan emosi yang diproyeksikannya sungguh mengesankan.


"Kau memperkeruh suasana dengan suara yang terlalu berisik. Ladang bunga mawar seharusnya dinikmati dalam keheningan, bukankah begitu?"


"Kenapa lagi nih orang?"


"Jika kamu bertanya kepada saya seperti itu... Saya pun...tidak begitu tahu."


Mereka berhenti bertengkar dan saling berpandangan. Tak lama kemudian muncul orang lain.


"Dia adalah Kris Waarheid. Seorang siswa pindahan."


Orang yang bergabung dengan kami adalah Anna. Dia pasti sudah bosan menunggu dan datang menemui untuk mencariku.


"Hah?! tunggu-tunggu, jadi dia orang baru yang Charlotte ceritakan?"


"Seorang teman Radiance baru!"


"Tapi dia laki-laki! Dan dia baru saja membantingku tiba-tiba! Apanya yang teman!"


"Ya, saya sangat setuju."


"Hmm? Setuju? Ada apa, Anna? Kamu tidak seperti biasanya..."


"Ya, ya... Rumor tentang diriku sudah menyebar di hari pertamaku rupanya. Temtu saja, itu wajar untuk orang sepertiku. Semua situasi ini membuat diriku agak gugup, perkenalkan aku Kris Waarheid. Aku akan belajar bersama kalian sebagai siswa di Akademi. Aku harap kita bisa saling menyesuaikan diri."


"Apa-apan dengan sikap sok-nya itu?"

__ADS_1


"Uaaaah..."


"Hm? Ada apa, Charlotte ?"


"Hah? Anna? Oh, tidak ada. Tidak ada-apa..."


"Pokoknya, dia mengatakan bahwa dia telah berada di luar negeri selama bertahun-tahun, jadi dia belum sepenuhnya terbiasa dengan budaya di sini."


"Intinyaa, dia orang yang aneh, kan?"


"Kamu tidak seharusnya mengatakan itu, Hui-ho."


"Kris, Izinkan saya untuk memperkenalkan mereka kepada Anda. Mereka adalah sesama Radiance, sama seperti saya dan Anda."


Anna mengarahkan telapak tangannya ke arah siswa berbadan mungil.


"Charlotte Mountbatten. Dia di tahun ketujuh."


Selanjutnya ke perempuan tinggi disebelah Charlotte.


"Tahun keenam. Lee Hui-ho"


"Hm... Baru saja aku ikut campur dalam pertengkaran kalian karena aku merasakan aura yang tidak senonoh, tetapi jika kalian saling mengenal... itu pasti karena gairah nafsu belaka."


"Ga-Gairah?! A-apa maksudnya?! Apanya yang tidak senonoh?!"


Wajah Hui-ho menjadi merah. Ia tampaknya tipe orang yang mudah menunjukkan ekspresi emosinya.


"Dengar! Charlotte mungkin berpakaian seperti itu, tapi--"


"Ya, dia mungkin mengenakan seragam laki-laki, tapi tidak diragukan lagi, dia adalah seorang perempuan, bukan? Aku bisa membedakannya dari jauh."


"Ah. Kamu tahu...?"


Charlotte Mountbatten. Dia memasang senyum tipis dan, entah mengapa, mengenakan seragam sekolah anak laki-laki.


Kerah tegak dengan hiasan di pundak, celana dengan garis-garis lipatan... Tampilan luar yang kaku, khas pakaian pria, tidaklah menyembunyikan kecantikannya. Malahan, ini semakin membuatnya tambah mencolok.


Jika aku harus membandingkannya dengan sesuatu...


Aku akan mengatakan bahwa dia adalah sekuntum bunga kaca. Meskipun tidak memiliki kehidupan, namun karena penciptaannya oleh tangan manusia, bunga ini memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh semua bunga yang tumbuh alami....


Jika ia mengenakannya memang secara sengaja, dan menyadari nuansa yang demikian, aku tidak bisa melakukan apa pun, kecuali menganggukkan kepalaku pada rasa estetikanya.


"Aku adalah orang yang berpikiran luas. Cinta tidak seharusnya memiliki satu bentuk yang sudah ditetapkan dari awal!"


Ya, cinta adalah perwujudan hasart yang tidak memiliki bentuk pasti.


"Cinta bagi setiap orang memiliki bentuk yang unik. Oleh karena itu, aku tidak akan memandang rendah pertunjukan cinta antara seorang gadis yang berdandan seperti laki-laki dengan seorang gadis berhasrat binatang buas!"


"Siapa yang kau sebut binatang buas, hah?! Akan kupecahkan tengkorakmu dan jadikan otakmu pupuk bunga!"


"Tunggu! Apakah aku salah?"


Sungguh suatu yang mengagetkan. Dalam keterkejutan ini, aku mau tidak mau mencoba mengkonfirmasi fakta-fakta yang ada.


"Huh...?"


Aku mendekati Hui-ho.


Matanya terbuka lebar. Sayang sekali aku tidak bisa membalas tatapannya yang penuh hasrat itu dengan baik.


"Mustahil? Dia memasuki jangkauan Hui-ho dengan mudah!"


"Kamu memiliki gerakan yang menakjubkan!"


Jadi, untuk menghapus kegelapan akan keraguan diri ini...


"Ah, Kris! Jangan! Tung--!

__ADS_1


Aku meremasnya dengan penuh semangat..


...seperti seorang filsuf pencari kebenaran, aku menggenggam permukaan Hui-ho yang datar.


"AAAHHH!"


Aku menggunakan kedua tanganku, untuk berjaga-jaga. Satu tangan saja sudah cukup, tetapi aku tidak boleh melakukan kesalahan.


"Bentuknya kecil, tetapi keduanya penuh energi dan lembut. Ini benar-benar sepasang dada seorang gadis."


"Aku tidak sepenuhnya yakin apa yang harus kupikirkan saat kau menyatakan bahwa kau bukan binatang buas, tetapi tampaknya kau memang seperti yang kukira. Mata ini tidak membuat kesalahan saat menilai gadis!"


"E-Eeeeeek! M-m-m-m-mesum! ORANG MESUM! Jangan sembarangan pegang payudara perempuan seenaknya!"


"Oh, tapi aku melakukannya, dan aku merasakannya pada tingkat yang mendalam. Jadi, izinkan aku meyakinkan kau. Kekurangan itu memang ada, dan meskipun itu merupakan noda, namun janganlah kau meratapinya. Yang kecil memiliki keindahan dan cita rasa tersendiri yang dinikmati beberapa orang."


"Kurang...? Kecil...? P-Pertama kau menyentuhnya, lalu kau mengatakan semua omong kosong itu? H-Heheheheh..."


Dia tertawa seperti ada bagian dari dirinya yang tersentak.


"Hui-ho tenang! Coba tenangkan dirimu sebentar.."


"Hui-ho! Jangan!"


"Kau sudah melewati batas. Aku akan merobek-robek tubuhmu sekarang juga! Mati!!"


Dia melompat ke arah ku dengan gesit yang mengesankan, melancarkan tendangan memutar mematikan yang menebarkan aroma mawar.


Dengan mudah aku menghindarinya, membuat serangan mematikan itu menebas angin tepat di atas kepalaku.


"Apa?! Dia menghindari tendangan Hui-ho?"


"Sialan, jangan menghindar!"


Kanan, kiri, atas... Dia menerjang seperti badai dan melepaskan tiga tendangan yang cepat dan kuat.


Aku dengan mudah menghindarinya. Bunga-bunga yang diterbangkan oleh angin yang ia ciptakan oleh tendangannya mulai turun seperti salju.


"Mungkinkah dia benar-benar melihat serangannya?"


"Tidak mungkin Kris dapat... Itu mustahil."


"K-Kau... Berhentilah bermain-main dan...


Komunikasi dengan bahasa tubuh ini berlangsung selama hampir satu menit. Semua serangannya hanya melayang di udara, dan dia sekarang terengah-engah.


Agak terlalu dini untuk kehilangan napas, tetapi itu wajar. Kelelahan akibat gagal mendaratkan serangan jauh lebih berat daripada mendaratkan serangan.


Selain itu, ada juga kelelahan mental. Anggapan bahwa mustahil dirinya tidak bisa mengenaiku membuatnya panik.


Hui-ho. Kau terlalu mengandalkan tenaga brutal. Kecepatan mu memang patut di puji, tapi seranganmu terlalu mudah dibaca.


"Apakah kau pernah melihat seorang profesional sejati? Seorang petinju terkenal di dunia, misalnya. Teknik yang digunakan untuk mencapai kesempurnaan secepat dan seoptimal mungkin adalah sebuah seni tersendiri."


Serangannya semakin cepat namun tetap tidak merubah situasinya


"Dan dari apa yang bisa kukatakan, kau tidak cocok untuk panggung seperti itu."


"Haha... Hahahah. Sialan. Namamu Kris 'kan? Dengar Kris, jika kau mau mengoceh omong kosong itu, lebih baik kau tidak menyesal setelah melihat apa yang akan terjadi selanjutnya."


Hui-ho menghentikan serangannya, ekspresinya berubah. Kemarahannya masih tetap sama, tetapi ada rasa kegembiraan di sana.


Dia telah kehilangan kendali dan memutuskan untuk melepaskan batasan terakhir pada dirinya.


"Hui-ho, JANGAN! Tidak seharusnya kamu melakukan itu!"


"Ugh......"


Charlotte berlari ke arah Hui-ho kemudian memeluknya, menghentikannya dari apa yang hendak ia lakukan, memulihkan cahaya kesadaran pada matanya yang penuh gejolak.

__ADS_1


Ini pasti keajaiban yang lahir dari persahabatan mereka, tetapi sayangnya, keajaiban itu dihilangkan oleh orang lain.


"Tidak apa-apa. Lakukanlah Hui-ho."


__ADS_2