Flower Petal Revolution Stage

Flower Petal Revolution Stage
1 - 04


__ADS_3

"Si-siapa kalian...?"


Seorang pria yang mengenakan topeng alien memandangi Aisha dan aku seperti menemukan sosok hantu.


Aksinya cukup berani, tetapi ia tampak sangat kekurangan semangat dan energi.


Mungkin, sifat kehati-hatiannya layak dipuji. Di dunia ini, bukanlah hal yang mustahil bagi seorang pejalan kaki biasa di tengah malam untuk memiliki hasrat membunuh.


"Kumohon larilah! Mereka--!"


 "Berhenti mengoceh!"


Pria bertopeng alien itu mengucapkan hal tersebut sambil berusaha membungkam sanderanya dengan menodongkan senjatanya ke tenggorakannya.


"Ohh."


Aku terkesan. Bukan karena tindakan pria itu yang ceroboh, melainkan penampilan gadis yang menjadi sasarannya.


Aku tidak tahu apa yang dia rasakan di dalam hatinya, tetapi terlepas dari kenyataannya bahwa hidupnya berada di tangan pria itu sepenuhnya, dia sama sekali tidak mengubah ekspresinya.


"Benar-benar indah."


Aku bahkan tidak perlu mengatakan sepatah kata pun tentang penampilan luarnya.


Rambutnya yang berkilau lembut, yang samar-samar bersinar di bawah sinar bulan. Matanya yang tajam, yang menyembunyikan gairah yang membara. Bibirnya yang indah dan ranum seperti buah ceri.


Hal yang paling pantas dipuji saat ini bukanlah kecantikan luarnya, tetapi cara dia mengendalikan dirinya sendiri.


Tekadnya tidak goyah di hadapan perlakuan yang tidak berkeadilan ini. Keanggunannya tidak tergoyahkan menghadapi kematian. Harga dirinya merelakan dirinya untuk memberikan perhatian kepada ku, seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.


Jika aku harus membandingkannya dengan sesuatu...


...Aku akan memilih sebuah pedang.


Pedang yang anggun dan tajam. Bukan pedang yang ditempa oleh kekuatan tangan manusia, tetapi pedang yang dianugerahkan kepada manusia oleh sosok-sosok dalam mitos.


Walaupun ditangkap, dia berdiri dengan bangga dan menatap tajam para pelaku penindasan di sekelilingnya. Penampilannya tampak seperti seorang wanita yang dilahirkan untuk menjadi seorang ratu.


Aku tidak bisa membuang terlalu banyak waktu terpesona olehnya. Aku harus berusaha untuk mengatasi hal ini dengan baik-baik.


"Aku bertanya siapa kalian? Apakah kalian tidak mengerti bahasa yang ku gunakan?"


Aku merentangkan tanganku untuk mempertegas bahwa aku tidak memiliki senjata.


Aku berusaha menenangkan situasi kelompok bersenjata dan membahayakan itu terhadap pemandangan yang benar-benar sangat umum, yaitu seorang majikan dan pelayan pribadinya yang sedang melintas dengan berjalan kaki di tengah malam menuju pegunungan.


Yang terbaik adalah menyelesaikan berbagai hal secara damai dan semulus mungkin. Aku baru saja tiba di negara ini, jadi aku tidak ingin membuat keributan terlalu dini.


"Jika Anda sekalian tidak memhamai bahasa yang kugunakan, je peux parler Francais, oder auf Deutsch, lingua Italiana? O tal vez Espanol?"


"Tuan, jika mereka bukan pemberontak yang memberontak melawan pemerintah, tapi geng amatir yang terorganisir, Aisha yakin Tuan harus menggunakan kata-kata khas mereka."


"Kosakata khusus ...? Itu berarti bahasa Chibaragi, aksen Nanbashi, atau bahasa-bahasa penduduk di Kyushu... Aku tidak berpengalaman dalam hal itu. Sungguh merepotkan."


"Aisha juga masih belajar bahasa bisnis perindustrian, kali ini Aisha tidak bisa banyak membantu."


"Hm... Tidak biasanya kau datang tanpa persiapan."


"Aisha tidak menyangka akan terjadi hal seperti demikian secepat ini. Aisha minta maaf atas kegagalan Aisha."


Aisha membungkuk kepada ku, dan kelompok bersenjata itu, yang masih belum sepenuhnya memahami apa yang kami sampaikan, tetap diam di tempat.


Tentu saja, itu bukan masalah besar bagiku.


"Baiklah, kalau begitu. Mari kita bicara dengan bahasa tubuh. Selama kedua belah pihak bersikap terbuka dan tetap yakin pada kehendak mereka, kita akan saling memahami."


"Ide yang briliant. Tuan muda benar benar jenius."


Kami kembali menghadap ke kelompok bersenjata tersebut, dan pria bertopeng alien itu memberi kami ekspresi paling sederhana dari kehendaknya.


"Enyahlah bajingan."


Dia mengarahkan laras AK-47 tepat ke arah ku. Meskipun desainnya sudah tua, potensi membunuhnya jauh lebih besar ketimbang senjata api biasa.


Senapan ini dapat menembakkan 600 peluru per menit dengan kecepatan awal 700 meter per detik. Melaju dengan kecepatan hampir dua kali lipat kecepatan suara, peluru 7,56 mm tidak hanya dapat menembus manusia, tetapi juga tembok beton.


"Kalian para anti-manusia yang bodoh adalah alasan mengapa akhir dari pemurnian masih sangat jauh! Tapi umat manusia tidak akan kalah. Tekad kami akan menjadi palu yang menenmpa era ini!"


"PALU! PALU!"


Anggota kelompok bersenjata dengan topeng monster Frankestien kembali berteriak-triak sambil mengangkat senjatanya keudara dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Entah marah atau hanya sedikit tidak senang, pria bertopeng alien itu menyuarakan keluhan dan kekesalannya sambil menodongkan instrumen kekerasaannya kepada diriku.


Kelompok bersenjata yang mengenakan berbagai topeng karet itu berjumlah enam orang. Mereka semua menodongkan senjatanya ke arah ku, menunjukkan betapa bersahabatnya mereka.


"Tuan, ini adalah situasi yang menyulitkan."


Para pria itu memalingkan muka dari sandera mereka, tetapi mereka menyeringai seolah-olah situasi sudah terkendali.


Itu sangat jelas. Ini adalah tempat di antah berantah. Sang sandera tidak bisa lari dari hadapan sekelompok enam orang yang bersenjatakan senapan otomatis.


Mereka bisa menembak mati dan menjadikannya seperti bubur bahkan sebelum dia menempuh jarak sejauh sepuluh meter.


DOR! DOR!


"Kami sedang sibuk! Tidak mungkin kami menyia-nyiakan waktu untuk orang gila seperti kalian."


Anggota kelompok bersenjata dengan topeng Drakula menembak ke langit, dia mencoba membuat ketakutan dengan menunjukan dominasinya.


"Kalian para anti-manusia tidak tahu arti pertempuran! Putar arah dan pergi langsung ke kota. Itu akan menghemat waktu kami untuk mengubur kalian. Dengan begitu moral kalian sebagai manusia tetap ada."


"BENARKAN MORAL KALIAN! BENARKAN MORAL KALIAN!"


"Sebelumnya, bukankah aku mengajukan pertanyaan kepada kalian?" Aku bertanya : Apa yang sedang kalian lakukan?"


Meskipun aku bersikap seakan-akan situasi ini tidak berarti apa-apa bagiku, namun ekspresi kemenangan pria bertopeng alien itu berubah menjadi lebih bengis. Aku tidak bisa melihatnya melalui topeng, tetapi sepertinya mungkin memang demikianlah yang terjadi.


"Kau tidak menjawab, jadi aku hanya bisa berasumsi bahwa kalian tidak bisa diajak berkomunikasi."


"Tuan, jika Anda bertanya kepada Aisha, mereka sepertinya marah dengan kata-kata dan tingkah Anda."


"Hm... Kalau begitu, mereka cukup dangkal. Meskipun, aku rasa itu cocok untuk kelompok aneh yang mengeroyok seorang gadis ditengah malam."


Aku hampir bisa merasakan wajah pria asing itu berkedut menahan marah.


Banyak orang di seluruh dunia marah ketika seseorang menunjukkan kebenaran yang pahit kepada mereka.


"Oh... Yah, baiklah. Baiklah... aku akan warnai tanah dengan darah kalian!"


Pria bertopeng alien itu menyodorkan laras senjatanya ke arah keningku dan, menampilkan kedangkalan seorang tiran daripada menampilkan sikap bangsawan yang mulia, memilih untuk memusatkan kekuatannya pada jarinya, bukan pada wajahnya untuk memberikan senyuman.


Aku memejamkan mataku, bukan karena aku pasrah menerima ending seperti ini.  Aku hanya berpikir kecewa masih banyak orang-orang seperti dangkal seperti mereka di luar sana.


"Tuan-tuan, apakah Anda sekalian memahami arti dari menghilangkan sebuah nyawa?"


Momen itu berlangsung kurang dari satu detik.


Pria itu dan kawan-kawannya terguncang, memperlihatkan kerapuhan yang sesungguhnya sebagai manusia.


Dalam kehidupan manusia, menyakiti orang lain berarti mengakui penderitaan yang sama akan terjadi terhadap diri sendiri.


Dihadapkan dengan momen ketika mereka harus melakukan hal itu, membuat gengaman senjata mereka gemetar.


Dan keraguan itu menentukan masa depan mereka.


Dengan menggunakan tangan kiriku, aku merampas dan membanting senapan tersebut hingga jatuh ke tanah. Pria bertopeng alien itu terlalu terkejut untuk menarik pelatuknya. Pose yang ditampilkannya saat ini negangkat tanganya karena kaget, nyaris membuatnya tampak seperti sedang bersorak-sorai.


Mengendalikan perubahan.


Itu adalah satu kebenaran yang aku peroleh selama tujuh tahun terakhir, dan itu adalah satu hukum yang mengendalikan dunia yang indah ini.


Aku berlari di antara orang-orang bersenjata itu. Kecepatan lariku membuatku seperti terbang. Tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa memberikan reaksi.


Terjangan kanan, tendangan kiri, bantingan kiri, tinjuan kanan.


Empat dari mereka tumbang dalam sekejap mata. Mereka pingsan ketika aku memukul mereka di titik-titik lemah yang diajarkan dalam pengobatan tradisional tiongkok.


Aku tahu dari cara mereka memegang senjata, bahwa kelompok bersenjata itu sangat tidak terlatih.


Mereka sangat mencemaskan pertempuran ini sampai-sampai mereka terlalu dekat satu sama lain. Seharusnya mereka menempatkan setidaknya salah satu dari mereka lebih jauh di belakang.


Dua orang yang tersisa memiliki cukup waktu untuk membidik senjata mereka, tetapi tidak cukup untuk menarik pelatuknya.


"TEGAKKAN KEADILAN! TEGAK-- Hah?!"


Aku mempersempit jarak tiga meter dalam satu langkah, menghempaskan senjatanya ke langit dengan tendangan, dan menghantamkan siku kananku ke titik lemah di dadanya


Itu adalah teknik yang disebut "anak panah," yang sering dianggap mirip dengan teknik dalam Bajiquan, seni bela diri Tiongkok yang menampilkan kekuatan eksplosif jarak pendek dan terkenal dengan serangan siku dan bahunya. Namun, punyaku, telah diajarkan oleh mentor ku dan memiliki sedikit sentuhan pribadi ku di dalamnya.


Pria bertopeng monster Frankenstein pingsan saat berdiri dan jatuh pingsan. Hanya dalam dua tarikan napas, hanya tersisa satu orang, yaitu pria bertopeng manusia srigala. Namun, ada jarak antara aku dan dia.


Dia hanya berjarak tiga langkah, yang berarti..

__ADS_1


"TEGAKKAN KEADILAN!"


Aku tidak akan berhasil. Jarak yang jauh memberikannya cukup waktu untuk secara spontan membidik dan menembak ke arah ku.


Pria itu mengerahkan kekuatan pada jari telunjuknya, rasa takut dan kemarahan yang kuat terpancar darinya.


Terlihat pertempuran akan berakhir begitu saja.


"Agggh?!"


Dia pasti tidak menyadarinya selama pertarungan ini. Dari atas, senapan yang digunakan oleh pria bertopeng monster Frankenstein jatuh menimpa tangannya yang memegang senjata.


Ketika aku menghempaskan senapan dari tangan pria bertopeng monster Frankenstein, aku memastikan bahwa senapan tersebut langsung terpental ke arah pria bertopeng drakula.


Topeng Drakulanya mengurangi penglihatannya sehingga merugikannya. Namun, dalam kegelapan ini, dia mungkin tidak bisa melihatnya meskipun wajahnya tanpa topeng.


Benturan dan rasa sakit hampir membuatnya menjatuhkan senjatanya, tetapi pada saat dia kembali stabil, aku sudah berada di hadapannya.


Jedeug


"Mimpikanlah mimpi yang serasi dengan malam yang indah ini."


Ketika aku selesai menangani anggota kelompok bersenjata yang terakhir, Aisha menghampiriku. Bagaimanapun juga, seorang pelayan harus mengikuti tuannya.


"Sepertinya Tuan telah menghabisi mereka semua. Beristirahatlah dengan tenang."


Dia berdoa dihadapan enam orang yang terbaring di tanah.


 "Jangan membuatnya terdengar lebih buruk dari yang sebenarnya. Mereka hanya pingsan."


"Benarkah? Cih... Aisha sedikit kecewa."


Aisha adalah seorang pelayan yang handal, tetapi dia kurang memiliki akal sehat. Sebagai orang yang memilikinya, aku sering merasa sedih dengan kenyataan itu.


"Negeri ini adalah negeri yang damai. Tidak seutuhnya, tentu saja, tapi setidaknya kau bisa pergi ke beberapa toko dengan aman di malam hari. Jika aku mengambil nyawa mereka, aku akan dicap sebagai pembunuh, penjahat, dan itu akan sangat merepotkan."


 "Aisha mengerti. Baiklah, Aisha akan mencoba meminimalkan masalah dan barang bukti saat melakukan kejahatan di sini."


"Bagus. Seperti itulah Aisha-ku."


Seorang pria legendaris yang telah menghancurkan tiga kasino di Las Vegas pernah mengucapkan kata-kata indah ini, 'Bukan kecurangan namanya jika mereka tidak mengetahuinya.'


Dengan demikian, keheningan pedesaan telah kembali ke kawasan ini. Meskipun begitu, tidak ada cara untuk menyembunyikan bukti-bukti peristiwa ini, seperti kelompok bersenjata atau mobil yang masih berada di jalan.


"Negeri ini sungguh unik, Aisha masih terkejut melihat toko-toko tetap ada yang buka di atas jam sepuluh malam walau ada kelompok bersenjata berkeliaran mengayung-ayunkan AK-47 dengan riang di tengah malam. Ini kah yang namnya culture shock."


"Apa yang kau maksudkan tidak berhubungan dengan budaya, tapi keamanan. Tampaknya keamanan telah memburuk sampai-sampai ada geng-geng bersenjata yang berkeliaran di pinggiran kota. Tidak adanya patroli keamanan di jalanan ini, tampanya menurunkan tingkat keamanan di kawsan ini. Hal ini tentu saja akan dapat dihindari jika orang-orang yang memimpin atau memiliki kuasa meluangkan waktu mereka memahami kemampuan mereka dan sadar perubahan apa yang bisa mereka ciptakan"


"Emmmmm..mmmm...Lupakan itu Tuan, 'Taki's Yakimochi' yang terkenal secara lokal yang Aisha  beli dari seorang pria tua dengan gerobak di depan stasiun ternyata sangat lezat. Aisha terharu."


"Makan saat tuannya berbicara, bukankah ini bertentangan dengan etiket makan seorang pelayan?"


"Maafkan Aisha, Tuan. Aaaam... mmm.. Sejak Aisha masih kecil, mmmm... Aisha diawawwkan unhuk mmmm.. makan kapan pun selagi bisa."


Dia meminta maaf kepada ku dengan mengangkat roknya sedikit dan membungkuk perlahan dengan mulutnya yang penuh. Tindakan yang sangat sopan.


Sebagai seorang pelayan yang terlatih, Aisha benar-benar sempurna dalam mengekspresikan kesopanan dan kesetiannya.


"Orang tua mu telah mendidikmu dengan baik."


"Kue Jepang pada umumnya memiliki mochi yang dilapisi anko, tetapi kue ini istimewa karena membuatnya lebih tipis dan kedua sisinya hanya gosong sedikit. Konon, kue ini awalnya dipesan oleh seorang penguasa."


Melihat Aisha menikmati manisan sungguh menyejukan hatiku.


"Gosongnya hanya menyisakan sedikit rasa manis yang pekat, tetapi rasa yang muncul dari gosong tersebut dan kenyamanan saat digigit, membuatnya menjadi camilan yang menyenangkan."


"Ini disajikan sebagai satu set dengan teh hijau dan wijen hitam, dan Aisha sangat menyukai perpaduan rasa pahit teh dan mochi. Tidak meninggalkan sisa rasa, jadi Aisha berpikir untuk menjadikannya sebagai hidangan untuk teh besok."


"Hmm. Kurasa aku akan mencobanya."


Aku mengambil salah satu yakimochi dari kantong kertasnya dan memasukkannya ke dalam mulutku. Manisan seukuran koin itu dibungkus satu per satu.


"Rasa manis memang baik untuk otak yang lelah, tetapi aku menikmati sensasi liar yang ditinggalkan oleh rasa terbakar. Ini membuat ku menginginkan wine sebagai pendamping."


"Alkohol dan makanan manis? Selera Anda tidak terlalu bagus, tetapi penelitian Aisha menunjukkan bahwa merek lokal populer 'Housui' memiliki rasa yang menyegarkan."


"Kalau begitu, aku akan menantikan saat aku bisa mencicipinya."


"Kris Waarheid!?"


"Mengejutkan. Apakah Tuan mengenal mereka?"

__ADS_1


Menikmati manisan bersama Aisha benar-benar telah membuatku lupa akan keberadaan teman-teman tak dikenal yang telah kami selamatkan.


__ADS_2