
Janji harus selalu ditepati.
Mungkin hal itu tidaklah selalu berlaku bagi orang lain, tetapi bagiku, Kris Waarheid, janji adalah kontrak dan sumpah yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Bahkan, kesepakatan lisan semata pun memiliki beban tersendiri bagiku.
Janji adalah masa lalu.
Dalam pengertian yang lebih sederhana, itu adalah bagian dari perjalanan yang menciptakan hidup seseorang. Melanggar janji berarti menyangkal jalan yang telah ditempuh dan mengejek diri sendiri sebagai orang yang tidak layak memiliki kepercayaan.
Bagi orang sehebat diriku, janji adalah sesuatu yang tak ternilai harganya, jadi aku akan berusaha sekuat tenaga dengan tekad sepenuh jiwa untuk memenuhinya.
Banyak orang akan menertawakan mereka yang membiarkan masa lalunya mengikat mereka, dan aku percaya bahwa hal itu juga merupakan bentuk lain dari keberanian dengan cara yang berbeda.
Tapi itu bukanlah sesuatu yang aku, Kris Waarheid, akan pilih
Aku tidak tahu siapa yang aku tiru. Pasti dia adalah orang bodoh yang keras kepala, tapi itulah bagian dari diriku.
Jika aku melepaskannya, aku akan berhenti menjadi Kris Waarheid.
Karenanya, aku akan menghadapinya.
Kris Waarheid memiliki janji yang harus dipenuhi.
Itu adalah alasan utama mengapa aku kembali ke tempat yang jauh di timur ini.
Tetapi, sekarang, aku menghadapi masalah.
Aku dan Aisha berencana untuk tiba saat subuh, namun sebuah kesalahan membuat kami datang terlalu dini.
Keyakinan ku tidak menyisakan ruang untuk takut pada kuasa dewa dan dewi, pengadilan, atau tuduhan palsu tentang kesesatan, namun arus waktu adalah unsur kehidupan yang cukup sulit untuk ditangani.
Mungkin aku seharusnya menyadari kesalahan itu saat kami berpindah pesawat. Meskipun aku sangat peka, aku juga sangat apatis, mengabaikan hal-hal sepele.
"Perlu diketahui, bahwa kurangnya ketelitian adalah hal yang sangat Tuan sekali. Meskipun demikian, Aisha memilih untuk tidak meniru hal itu."
"Ngomong-ngomong, apa nama tempat itu?
"Anda bahkan lupa namanya? Harap tetapkan batas ke tidak telitian Anda. Kita menuju ke Akademi Bangsawan Caelum Flumen, sering disebut sebagai 'Akademi."
"Ya, itu dia! Aisha benar-benar dapat diandalkan."
"Ngomong-ngomong juga, Tuan, kita sudah berjalan kaki agak lumayan jauh dari stasiun, tapi kemana tujuan kita?"
"Tentu saja, Akademi."
Kami melangkah menuju tanah yang dijanjikan, berjalan di sisi kanan jalan mobil yang tampak tak berujung, hanya dengan bintang-bintang sebagai penerang kami.
__ADS_1
Menunggu sampai subuh akan terasa membosankan, jadi aku memutuskan untuk melihat-lihat tempat di mana aku akan menghabiskan hari-hariku mulai besok. Dengan setiap langkah yang semakin dekat, aku semakin bersemangat.
Jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari kota. Seharusnya sekolah itu akan terlihat setelah kita berjalan kaki sekitar lima kilometer lagi.
"Jika ingatan Aisha baik-baik saja, tempat itu seharusnya ada di atas gunung."
"Tentunya kau tidak menentang jalan-jalan di malam hari menusuri tanah Jepang yang damai dan sunyikan?"
"Aisha lebih suka jika Tuan memahami apa yang Tuan lakukan hanya merepotkan Aisha dan--"
BRUUUK
Tiba-tiba suara hantaman yang terdengar didak menyenangkan menembus udara malam.
"Mungkinkah, sebuah kecelakaan?"
DOOOR
Suara yang muncul setelahnya tidak diragukan lagi adalah suara tembakan.
Aku berlari bahkan sebelum gema berhenti.
Aku menuju ke sumber suara dengan gerakan secepat mungkin dan membelah kegelapan malam dengan cahaya tipis dari sinar bulan menerangi setiap langkahku.
"Tampaknya kau tidak dapat megharapkan dunia yang damai akhir-akhir ini. "
Di sebuah tikungan kecil di jalan, di tempat di mana penglihatan menjadi semakin terbatas, aku menemukan sebuah mobil yang menabrak pagar pembatas jalan. Tampak dari posisinya, mobil itu memang sengaja menabrak pagar pembatas jalan.
Sebuah mobil besar buatan Jerman, terlihat kokoh, dicat hitam dan dengan jendela berwarna. Itu adalah kombinasi yang mencolok di kota terpencil seperti ini, yang tidak mungkin ditumpangi oleh orang biasa.
Dan pemandangan di depanku jauh lebih mengerikan daripada sebuah kecelakaan.
Sekelompok pria bersenjata mengepung kendaraan seperti sekawanan anjing liar mengelilingi seekor mangsa yang terluka.
Seorang wanita, yang jelas-jelas seorang penumpang, ditodong dengan laras senapan berasap ke arahnya. Itu pasti sumber suaranya. Senapan itu telah ditembakkan untuk mengancamnya.
Kelompok bersenjata ini menyembunyikan wajah mereka di balik topeng karet yang biasa ditemukan pada monster-monster di film-film Hollywood.
Kelihatannya seperti pesta Halloween, namun terlalu berdarah dan berbahaya bahkan untuk sebuah pesta Halloween.
Menyerang seorang wanita yang tidak bersenjata dengan menggunakan senjata api dan menyembunyikan wajah mereka adalah tindakan yang sangat rendahan.
Atau mungkin mereka pantas mendapatkan pujian karena telah mempersiapkan diri dengan baik untuk tindakan buruk apa pun yang akan mereka lakukan
"Fuuuh... Tuan Muda, jika Anda berlari secepat itu, Aisha akan kesulitan mengikuti."
__ADS_1
Aisha sedikit kehabisan napas.
"Keadaan darurat. Aku tidak punya pilihan."
"Oh? Dan siapa orang-orang itu yang dengan gembira mengayun-ayunkan Kalashnikov yang mereka bawa?
Kelompok tersebut tidak dipersenjatai dengan pistol New Nambu M60 yang digunakan oleh penegak hukum setempat.
Bentuk senjatanya saja sudah mengancam. Itu adalah senapan otomatis, AK-47 yang terkenal.
Senjata ini diciptakan lebih dari setengah abad yang lalu di Uni Soviet, dan kemudahan penggunaan serta daya tahannya, yang memungkinkannya beroperasi dalam kondisi apapun, bahkan saat berlumpur, menjadikannya pemandangan umum dalam konflik regional di seluruh dunia.
Aku pernah mendengar bahwa produsennya tidak mampu mengatasi kesulitan sosial dan bangkrut akibat iklim ekonomi, tetapi ada banyak sekali salinan sempurna yang dibuat di seluruh dunia, yang menjadikan peninggalan dari bukti reputasinya.
Ada lebih dari seratus juta senjata ini di seluruh dunia, dan banyak di antaranya yang digunakan untuk menembak dan membunuh banyak lawan dalam peperangan. AK-47 adalah simbol kuat dalam peperangan.
"Aku tidak pernah menyangka akan melihat tanah kelahiranku dipenuhi oleh para pemberontak bersenjata. Banyak yang telah berubah selama tujuh tahun sejak aku tidak berada di sana. Jepang yang dulu aku kenal adalah salah satu tempat teraman di dunia."
"Senjata itu adalah teman baik pemberontak sama seperti bola adalah teman baik pemain sepak bola itu. Ini adalah salah satu senapan otomatis termurah di dunia. Bahkan geng-geng pedesaan di timur jauh tidak kesulitan untuk mendapatkannya"
Kalashnikov kehilangan nilainya karena kelebihan produksi.
Kabarnya di Namba, salah satu kota paling berbahaya di Jepang, seseorang bisa mendapatkan sekotak berisikan enam buah hanya dengan 30.000 yen, dan penjualnya ada di setiap restoran gyudon rumahan.
"Mikhail Kalashnikov menciptakan senjata itu untuk melindungi tanah airnya dan rakyatnya. Jika dia mendengar tentang penggunaannya saat ini, dia akan gelisah di kuburnya."
Namun, ini bukan waktunya untuk meratapi seseorang yang sudah tidak lagi bersama kita.
Terlepas dari apakah orang-orang itu adalah ******* yang ingin mendapatkan uang tebusan atau seorang penganut aliran radikal yang tersesat karena fanatisme, itu tidak menjadi urusan sang korban.
"Dan itulah mengapa kehidupan mobil dan penumpangnya bagaikan lilin yang tertiup angin."
Lokasinya adalah daerah pedesaan yang umum, tempat yang optimal untuk kejahatan semacam itu.
Suara mobil yang menabrak dan gema tembakan yang bising akan tersamarkan oleh malam, sehingga tidak mungkin ada orang yang datang untuk menghentikan mereka.
"Aisha punya pertanyaan, Tuan. Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Hanya ada satu jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.
Saya melangkah ke hadapan kelompok bersenjata itu dengan sikap sewajarnya.
Aisha langsung mengerti niatku dan hanya menemaniku.
"Di malam yang tenang yang diterangi rembulan dan bintang-bintang di langit, apa gerangan yang kalian lakukan sehingga merusak kesyahduan-nya?"
__ADS_1
Penampilan ku yang tidak terduga membingungkan kelompok bersenjata dan wanita tersebut.