Flower Petal Revolution Stage

Flower Petal Revolution Stage
1 - 05


__ADS_3

Tertulis "Jadilah Mulia".


Kata-kata itu terukir di bawah lambang sekolah yang tergantung di dekat dinding, sedikit ke atas dari sofa tempat mereka duduk.


Lambang prisai dengan ukiran serta daun laurel terangakai di sekelilingnya merupakan simbol Akademi Bangsawan Caelum Flumen.


Ini adalah ruang utama yang disiapkan untuk para gadis tersebut... para Chandelier.


Bangunan modern ini tidak memiliki karakteristik sederhana seperti asrama sekolah pada umumnya. Bangunan ini sangat mewah dan berkelas.


Asrama yang jelas-jelas mahal ini adalah tempat tinggal bagi dari lima orang gadis.


Mereka adalah kelompok elite, siswa-siswa terbaik di antara 200 siswa yang bersekolah di sekolah ini.


Murid-murid dan guru-guru memanggil mereka "Chandelier " dengan penuh rasa hormat dan takut. Mereka adalah lima orang yang paling dekat dengan makna sebenarnya dari tujuan sekolah, yaitu 'kemuliaan'.


Ada empat orang gadis yang sedang duduk mengelilingi meja. Dan mereka semua duduk sambil memegang cangkir berisi teh yang baru disiapkan di depan mereka.


"Apakah Anna tidak sedikit terlambat dari biasanya?"


Salah seorang di antaranya adalah seorang gadis yang rambutnya dikuncir ke samping. Matanya tajam, dan tubuhnya tampak kokoh sekaligus anggun. Walaupun hanya berbaring bermalsa-malsan di sofa, tidak mengurangi semangat yang terpancar dari dirinya.


Lee Hui-ho dengan ringan melambaikan tangannya di atas meja untuk mengontrol layar informasi.


Dia mengenakan perangkat realitas berbentuk lensa kontak khusus yang digunakannya untuk mengakses augmented reality dan melihat informasi tertentu.


Saat itu pukul 11 malam.


Pengatur suhu ruangannya optimal dan ada cukup cahaya, membuatnya mudah untuk melupakan bahwa di luar benar-benar sudah gelap.


Berlawanan dengan sekolah elite di belahan benua lain,  sekolah ini memiliki koneksi ke berbagai perusahaan yang telah menyediakan teknologi eksperimental terbaru.


Bagi Hui-ho, yang lahir di daerah pedesaan tanpa internet, ini adalah sebuah pengalaman fiksi ilmiah yang nyata baginya.


"Anna adalah simbol dari Chandelier, jadi Hui-ho tidak bisa menyalahkannya jika dia pergi. Dia memiliki lebih dari sekadar kekuatan otot."


"Ya, ya, aku tidak pandai dalam hal-hal rumit."


Gadis kedua, Elsa Brandenburg, adalah yang termuda di antara para Chandelier. Badan yang kecil, namun postur tubuhnya tegap dan kurangnya ekspresi membuatnya terlihat seperti sebilah pisau yang tipis.


Matanya yang jernih dan seperti batu onyx tidak pernah bergeming. Namun, dia bukanlah seorang robot. Dia menangis dan tertawa seperti orang lain, tetapi faktanya tidak ada orang lain yang pernah melihatnya berguling-guling sambil tertawa.


Anna Silenziosa, yang pergi bersama Adella Kristi, seharusnya sudah kembali sebelum makan malam. Sesuatu tampaknya membuatnya tertahan.

__ADS_1


Hui-ho menguap dan menyilangkan kakinya. Ia sungguh menikmati relaksasi yang tidak seperti biasanya. Dengan Anna yang begitu berperilaku santun, ia bahkan selalu menahan diri dan kerap membungkukkan badan di hadapannya, jadi ini adalah kesempatan langka untuk Hui-ho bersantai.


Hui-ho yang tidak bisa menangani formalitas, tiba-tiba seseorang memukul lututnya dengan kipas lipat.


"'Jadilah Mulia'"


Itu adalah gadis ketiga, Nanbu Sayuri yang berpenampilan seperti boneka Jepang.


Wajahnya sangat mengesankan Jepang tradisional, tetapi sulit untuk mengatakan, apakah pakaian kimono atau yukata akan cocok untuknya. Sebab dia memiliki dada yang cukup 'menyulitkan' untuk pakaian tradisional Jepang.


"Jadilah pribadi yang mulia dan disiplin setiap saat. Apakah kamu ingat?"


"... Anna dan Prof tidak ada di sini, lho? Apakah kau ketularan Anna?"


"Tidak ada yang perlu 'ditularkan'. Saya adalah orang yang tidak bisa mentolerir siapa pun yang tidak melakukan apa yang harus mereka lakukan."


"Untuk malam ini saja mari kita tidak perlu memikirkan hal itu, bolehkan? Hui-ho tidak terlalu suka bersikap formal."


Gadis keempat, Charlotte Mountbatten yang berambut pirang, meminta Sayuri untuk bersikap lebih santai.


Wajahnya yang bulat, tak seperti orang Inggris pada umumnya. Posturnya yang mungil namun memiliki kaki yang panjang selalu terlihat 'relex'.


"Saya tidak bisa melakukan itu. Ketidak hadiran Silenziosa-san bahkan memberikan lebih banyak alasan untuk berperilaku dengan baik. Reputasi Chandelier akan tercoreng dengan sikap seperti itu."


"Hui-ho selalu berpura-pura. Jalan menjadi bangsawan sangat jauh untuknya. Sungguh memalukan."


"Diam pendek! Jangan ikut urusan orang."


"Sudah-sudah, mari kita nikmati pesta minum tehnya."


"Mountbatten-san, Anda terlalu memanjakan mereka..."


Tidak peduli seberapa tegasnya Sayuri, ini sudah jelas waktunya untuk bersantai. Satu-satunya alasan mereka bisa mengadakan pesta teh hingga larut malam adalah karena gadis kelima yang terkenal sangat ketat, Anna, tidak ada di tempat.


Ini sudah melewati waktunya untuk mematikan lampu dan kembali ke kamar mereka masing - masing.


"Diri ini berada di pihak Anna. Kemungkinan akan mengadukan kelakukan Hui-ho jika Anna pulang nanti."


"Ini sudah lewat jam tidur anak kecil, kau yakin ingin menunggu Anna pulang?"


"Masih ada esok hari."


"Awas aja kalau mengadu!"

__ADS_1


Perlahan Elsa mendekati Hui-ho.


"Malam ini, diri ini akan mengabaikan dosa-dosa Hui-ho hanya dengan Gianduja ini."


Dengan gesit Elsa mengambil salah satu manisan Hui-ho dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia sudah mengincar manisan itu dari tadi. Karena manisan miliknya sudah tidak tersisa, bahkan sebelum teh di siapkan oleh Charlotte, ia telah memakan habis manisan miliknya.


"Hmmmm...Rasanya manis... dan manis."


Gianduja adalah campuran antara cokelat dan tiga puluh persen pasta hazelnut, yang ditemukan di Turin, Italy. Dapat dikonsumsi dalam bentuk batangan atau sebagai isian cokelat. Gianduja pada dasarnya adalah cokelat yang diregangkan dengan selai hazelnut. Konon, Gianduja diciptakan ketika terjadi kelangkaan cokelat saat negara ini berada di bawah kekuasaan Napoleon.


"Cuma manisan satu-satunya hal yang membuat kau bertindak cepat, ya?!"


"Ngomong-ngomong, saya mendengar rumor yang menarik."


Sayuri menyembunyikan mulutnya dengan kipas lipatnya dan menengok ke arah teman-temannya yang berisik.


Ekspresinya membuat semua orang penasaran. Mereka menatapnya dengan penuh minat.


"Rumor apaan?"


"Maksud kamu rumor tentang 'itu'?"


"Jadi hanya seorang Lee Hui-ho yang tidak mengetahui hal itu. Sungguh menyedihkan."


"Hah? Serius?! Kok bisa?! Hei, Charlotte, rumor apaan?! Rumor apa?"


"Ada siswa pindahan lagi. Dan terlebih, seseorang yang berpindah ke sini nantinya adalah seorang Radiance."


"Apa?! Seorang Radiance?!"


Informasi yang di berikan Charlotte membuat Sayuri yang memulai topik ikut terkejut.


"Apakah Sayuri tidak tahu?"


"Hanya sebagian kecil saja. Saya tidak pernah menduga ternyata seorang Radiance."


"Diri ini sebenarnya juga tidak tahu tentang Radiance itu. Charlotte, seberapa yakin kamu dengan hal itu?"


Ekspresi wajah mereka berubah menjadi tegang.


Seorang Radiance baru. Informasi itu menjadi hal yang sangat berarti bagi mereka.


"Itu hanya rumor. Tapi menurut apa yang saya dengar juga siswa pindahan ini....."

__ADS_1


__ADS_2