Freya : The Emperor'S Daughter

Freya : The Emperor'S Daughter
Ch. 01 : The Girl who looked like a Boy.


__ADS_3

Prolog——


Awalnya, aku hanyalah siswi SMA biasa, hidup biasa, berteman secara biasa, mengunjungi berbagai tempat dan menghabiskan masa mudaku juga secara biasa.


Namun, suatu hari, keseharianku yang biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi luar biasa setelah aku terbangun dari koma setelah yang aku ingat, tubuhku tergeletak dengan bersimbah darah di tengah-tengah jalan.


Aku membuka perlahan mataku, kemudian aku melihat, dua orang dewasa yang menatapku dengan tatapan lega namun juga tatapan tidak puas.


Aku yakin mereka tidak puas akan sesuatu akan tetapi... apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku? Apa aku bereinkarnasi?


***Freya 01———


Seiring berjalannya waktu, aku memahami tatapan tidak puas yang dulu mereka tunjukkan kepadaku semasa aku baru saja bereinkarnasi.


Singkatnya, Kekaisaran Cellescia merupakan kekaisaran yang telah berdiri hingga tujuh turunan, dan aku menjadi keturunan yang ke-8.


Keturunan para kaisar biasanya dilengkapi dengan satu orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Terkadang ada dua anak laki-laki dalam satu keturunan kaisar. Yang tidak ada, keturunan kaisar yang hanya memiliki satu orang anak dan anak tersebut berjenis kelamin perempuan.


Iya, itu adalah aku. Freya Von Cellescia.


Meskipun mereka berulangkali berkata tidak perlu mempermasalahkan nya, aku tetap merasa tak enak. Mereka takut jika tahta kaisar akan jatuh ke tangan keponakan mereka. Mereka berdua takut, jika kami sekeluarga, harus menderita karena dibuang setelah keponakan mereka menjadi penerus kaisar.


"Saya bersedia menjadi kaisar. Meskipun saya tidak tahu bagaimana caranya, Ayahanda, Ibunda, kumohon, jangan menyia-nyiakan anak kalian."


Setelah aku mengatakan hal tersebut di usiaku yang masih berumur 13 tahun, ayah dan ibu ku berkata, "Kau benar, putri kita anak dalam ramalan, aku rasa kita memang harus benar-benar menjadikan Freya sebagai kaisar wanita pertama dalam sejarah berdirinya kekaisaran Cellescia," itu adalah perkataan ibuku.


"Tetapi, kebanyakan negara yang kita kelola menyepelekan wanita sebagai pemimpin. Apakah kita benar-benar harus...?"


"Ayahanda, Ibunda, jika hal tersebut berpengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup kita, maka, silahkan dandani aku seperti seorang pria."


"...."


Mereka berdua terdiam setelah aku mengatakan kata-kata tersebut dengan tatapan serius.


Di usiaku yang mulai tumbuh dewasa, 15 tahun. Aku disekolahkan ke akademi di ibu kota kekaisaran ini supaya kemampuan fisik dan sihirku, tidak kalah jauh dengan kemampuan laki-laki. Jika tidak bisa menggunakan fisik, maka sihir jawabannya, begitulah yang kami bertiga pikirkan.


Yah, sebelum aku masuk ke akademi, aku sering melatih kemampuan sihirku tanpa sepengetahuan ayah dan ibu. Aku juga melatih kemampuan fisikku dengan berlatih berpedang bersama para prajurit yang berada di kamp pelatihan.

__ADS_1


"Freya Von Cellescia."


"Baik!"


Hari ini adalah hari dimana kami melakukan pengecekan ulang kemampuan kami dengan cara melihat aura sihir yang terpancarkan melalui bola sihir di depan kami.


Ketika aku mengarahkan lenganku ke bola tersebut, aku sangat terkejut. Tiba-tiba saja aku terpental kemudian bola sihir tersebut mengeluarkan kabut hitam kebiruan yang kemudian, membuat bola sihir tersebut retak lalu hancur menjadi berbagai bagian.


"Apa Anda tidak apa-apa, Putri?!"


"Ah, ya, Yuna."


Pelayan pribadiku, dia sepantaran denganku, dirinya merupakan anak dari pelayan yang melayani kami sejak keturunan pertama. Mereka mengabdikan diri untuk melayani kebutuhan anggota kaisar secara turun temurun. Tentunya mereka akan diberikan tunjangan saat mereka pensiun karena jasa mereka yang tak terhitung jika dilihat dari zaman kakek buyutku.


Melihatku terlempar hingga membentur tembok depan kelas, Yuna dengan sigap berlari menuju diriku kemudian mengecek keadaanku.


Karena dia merupakan pelayan pribadiku, otomatis dia akan bersamaku terus-menerus. Dan tentunya, dia juga bersekolah di sini sama seperti diriku.


"Apa yang Anda perbuat, Tuan putri?"


Kau tahu? Aku suka Yuna, maksud ku, sifatnya. Aku suka sifatnya yang dapat dengan mudah diajak bicara tanpa harus memperhatikan bahasa yang aku gunakan.


"Bola sihirnya pecah...." ucap Professor dengan keringat dingin mengalir di pipinya.


"Ah, karena ledakan, pakaian Anda jadi kotor, Tuan putri, sebaiknya kita mengganti pakaian Anda terlebih dahulu."


"Baik."


Kami berdua meninggalkan kelas dengan kekacauan yang masih belum reda dengan alasan mengganti baju.


"Tuan putri,"


"Ah Yuna, apa? Apa kamu tergoda dengan tubuhku?! Hahaha, aku cewek tahu!"


Benar, mungkin kalian salah paham tapi, setelah aku berkata jika aku siap di dandani layaknya laki-laki, saat itu juga, rambutku dipotong sangat pendek seperti ukuran anak laki-laki pada umumnya dan terus pendek tak peduli seberapa panjang aku ingin memanjangkannya.


"Anda masih belum memakai bra?"

__ADS_1


"Coba katakan sekali lagi? Setelah itu, aku akan membunuhmu!", aku mencekik Yuna setelah dia mengatakan kata-kata sakral di atas.


Keparat, meskipun aku suka cara bicaranya, terkadang dia sering menghina ku, terlebih soal pertumbuhan dadaku yang begitu lambat!


"Memangnya salah? Jika aku masih mengenakan singlet?!"


"Tidak, hanya saja, apakah Nona tetap akan berpenampilan seperti ini? Saya takut Anda terkena banyak masalah... tidak, maksud saya, Kaisar akan terkena masalah."


"Hah, kau pikir aku anak nakal?"


"Memangnya tidak?"


"Tidak!"


"Lalu, apa alasanmu di saat engkau menggoda para gadis saat bosan?"


"Ah itu..."


"Terlebih lagi, saat korban dari tindakan Anda, bersedia dibawa ke hotel. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan. Apa yang terjadi jika saya tidak mengatakan kepadanya jika Anda ini seorang perempuan."


"Sebagai hukuman, kau harus memakai pakaian yang aku siapkan selama 1 tahun penuh!"


"Eh, apakah yang Anda maksudkan, adalah pakaian itu?!"


Selain enak diajak bicara, ekspresi Yuna saat aku mulai menggodanya, sangat imut. Aku jadi sering menggoda dan mempermainkannya. Meskipun begitu, Yuna tidak pernah menaruh dendam kepadaku, pasalnya, setiap kali aku menggodanya aku pasti memberinya hadiah. Jadi tak perlu khawatir jika aku telah berlebihan. Semuanya telah aku rencanakan sejak awal. Saat hendak menggoda Yuna, aku telah menyiapkan hadiahnya sejak awal.


"Ya!"


"Maafkan saya, Nona. Kumohon apapun selain memakai pakaian bejat tersebut di lingkungan kekaisaran."


"Tidak ada komentar!"


"Kumohon, Nona!!"


"Tidak!"


"Anda jahat~"

__ADS_1


__ADS_2