Freya : The Emperor'S Daughter

Freya : The Emperor'S Daughter
Ch. 07 : Zen Dè Lá Fortress


__ADS_3

Myline, Sang Ratu Iblis. Perawakannya cukup pendek dari diriku, meskipun kini dia menjadi budakku, aku masih ragu jika dia tidak akan mengacau kehidupan ku lagi.


Malahan, kehidupan ku semakin kacau karena ia terus-menerus merengek meminta darah kepadaku!


Saat menyelesaikan tugas yang ayah berikan, Myline mengendap-endap lalu menghisap darahku dengan porsi yang cukup besar. Setelah dihisap, tentunya aku menjadi lemas. Namun hanya sebentar saja. Tak lama kemudian, darahku kembali seperti semula. Seperti meregenerasi dengan sendirinya.


"Pulanglah! Apa sepuluh kali masih belum cukup bagi mu?!", aku marah lantaran Myline tak berhenti menghisap darahku.


"Jahatnya~. Bukankah sudah sepatutnya budak berada di tempat yang sama dengan majikannya?"


"Oh.... bukankah sudah sepatutnya juga, budak mematuhi perintah majikannya?"


"Entahlah, kalau kutukannya hanya sebatas ini saja, bukan masalah bagiku. Aku bisa menahannya sampai itu hilang dengan sendirinya."


Karena dia sangat sombong, aku berbalik ke arahnya lalu mengarahkan telapak tangan ku ke tempat dimana aku memasangkan segel budak kepada Myline.


Dengan sihir kegelapan, aku meningkatkan efek kutukan hingga ke level maksimal karena aku merasa, Myline tidak akan jatuh hanya karena kutukan di level menengah.


"Baiklah baiklah!!!! Aku akan pulang!" Sekejap setelah aku menaikkan efek kutukannya, Myline bergeliat geliat di atas lantai karena tak kuat menahan kutukan tersebut.


"Bagus."


"Curang!"


"Tenang saja, kita masih bisa berhubungan dengan telepati. Dan aku dapat ke tempatmu dengan teleportasi."


"Kau dapat menggunakan teleportasi?!"


"Tentu! Hanya saja, aku perlu ke tempatmu terlebih dahulu."


"Eh~"


Singkat saja, kami pun menjadi teman dekat, dari pada dibilang teman dekat, ini justru seperti aku menjadi pemasok darah bagi Myline. Sial, kenapa jadi begini?


****


"Tuan putri, tolong bangunlah!"


"Uhwqkk!!!?!!!"


Apa-apaan ini?!


"Brengsek!!! Kamu jadi semakin semena-mena terhadap diriku semenjak kita berdua telah abadi!!!", aku benar-benar marah... bayangkan, bukannya dibangunkan dengan lemah lembut dan penuh perhatian, Yuna justru mendekap wajahku dengan menggunakan bantal yang tersedia di atas tempat tidur ku.


"Habisnya Anda sulit dibangunkan."


"Hah?"


"Kita akan terlambat masuk ke akademi jika saya tidak menggunakan cara tersebut. Mohon dimaklumi!", aku bisa memakluminya.... asalkan!!!!


"Jangan cengar-cengir!! Sepertinya kamu sangat puas setelah melakukan hal itu!?"


"...."


Memang benar sih, aku kesiangan... sepertinya baru kali ini aku kesiangan dalam beberapa tahun terakhir ini. Apa karena kelelahan?


Entahlah.....


Sesampainya di akademi, seperti biasa, belajar dan bersenang-senang. Tak ada yang spesial. Meskipun aku sudah cukup bahagia dengan keseharian ku saat ini, namun lama-lama aku merasa bosan.


"Tak ada yang spesial ya, Yuna?", aku mengeluh dengan wajah yang ku sandarkan di atas meja.


"Anda Tuan putri, tolong jaga sikap Anda ketika di luar, Tuan putri!"


"Berisik, dari pada itu, aku terkesan, bahkan setelah dipasangkan segel budak, namun itu tidak terlihat ya..?", aku melihat ke perut Yuna, aku jarang memperhatikannya namun, segel budaknya hilang?


Ngomong-ngomong, seragam khusus wanita itu, tidak menutup area sekitar pusar. Ini agak vulgar kau tahu.... meskipun, sesekali aku ingin mencoba seragam tersebut.


"Yah... apa kamu lupa? Memangnya sudah berapa lama aku menyembunyikan keterkaitan ku dengan Ratu iblis? Tentunya aku dapat dengan mudah menyembunyikan nya. Meskipun, disembunyikan, efek kutukannya masih ada dan segel budak tetaplah segel budak meskipun tidak terlihat."


"Eh..."


Pelajaran selanjutnya pun dimulai. Selanjutnya adalah jam praktek. Setelah guru masuk dan memberi beberapa patah kata, kami kemudian digiring ke lapangan untuk menjalankan ujian praktek.


"Ujian...?"


"Mau bertaruh, Freya?"


"Bentar, kenapa tiba-tiba begitu? Ngomong-ngomong, aku tidak diberitahu soal ujian ini..."


"Karena kau sangat sibuk dengan pekerjaan mu..."


"Mungkin kau benar. Jadi, apa taruhannya?"


"Dalam ujian kali ini, kelas kita akan diadu tanding dengan kelas sebelah. Masing-masing dipasangkan sesuai dengan tingkat kekuatan lawannya."


"Hei, apa kamu lupa kalau aku kemarin melawan Ratu Iblis?"


"Entahlah, bagaimana ya....?"

__ADS_1


"Jadi, apa taruhannya?"


"Jika aku kalah, kamu akan memakai seragam perempuan selama seminggu. Jika aku menang, maka aku rela melakukan apapun selama seminggu. Tak peduli seaneh apapun perintah nya."


"Tunggu, ini bukan seperti bertaruh sesuai yang aku ketahui! Ini lebih ke memasang taruhan ke dirimu!"


"Memang itulah yang aku inginkan. Hehe, aku tak sabar melihatmu memakai seragam perempuan, Freya~"


"Brengsek!!"


Yuna itu!!! Aku rasa sifatnya tidak berubah meskipun sudah menjadi budakku! Malahan, dia semakin semena-mena terhadap diriku!


"Yah, kuharap kamu melawan perempu—"


"Sayang sekali, Freya~"


Brengsek, lawannya malah laki-laki. Jika sudah begini, aku yakin Yuna akan puas tertawa ketika melihat wujudku saat memakai seragam perempuan!


Semoga lawannya mundur! Semoga mundur!!! Ayolah mundur!!


Itulah yang aku harapkan. Tanpa sadar aku mengintimidasi laki-laki yang menjadi lawannya Yuna hingga teman nya, menghampiri ku lalu mengajakku pergi.


"Meskipun kamu calon penerus kaisar tahta kekaisaran, kecurangan dalam suatu pertandingan tidak dilegalkan!"


Iya-iya, aku tahu itu... aku hanya kesal dengan sikap Yuna! Maaf karena tak sengaja mengintimidasi teman mu.


"Maafkan aku, aku sedang kesal dengan sifat menjengkelkan yang pelayan pribadiku miliki."


"Seseorang yang bertanding tadi?"


"Ya, meskipun parasnya cantik, gadis itu sangat menjengkelkan. Terlebih di saat dia mulai menyadari jika aku tengah lengah. Pasti dia akan merencanakan sesuatu demi mengganggu ku."


"Hubungan pelayan dan majikan yang aneh."


"Kau benar. Kalau sudah tidak ada hal lain lagi, aku permisi....."


Akhirnya aku dapat menyingkir dari tempat itu... bayangkan, dia menarikku ke tempat sepi, sebagai seorang gadis normal, tentunya aku cukup takut jika ia bertindak nekat.


"Semangat, Yuna!!!"


Saat aku sampai ke arena pertandingan, terlihat Yuna yang bertarung dengan sengit bersama laki-laki yang menjadi lawannya itu.


"Hebat kau...."


"Ah...", ah? Jangan-jangan.....


"Sesuai taruhan, ya, Freya?"


"Kau benar-benar busuk! Yah, baiklah, gantian! Jika aku menang, kamu harus mematuhi perintahku selama seminggu. Apapun yang kuperintah meskipun perintahnya aneh, kau tetap harus melakukan nya! Jika aku kalah, maka aku akan mematuhi perintahmu selama seminggu!"


"Itu sih.... yah tak apa, lagipula tujuanku telah tercapai sih."


"Segitunya ingin melihat ku memakai seragam perempuan?"


"Ya! Ini kejadian langka!"


"Uh, padahal tinggal bilang saja."


"Kau mau melakukan nya?"


"Jika tidak ketahuan oleh kedua orang tuaku, itu aman!"


"Baiklah, aku aka—"


"Sepertinya sifatmu sama bejat nya seperti Myline."


"Ayolah, aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kecantikanmu saja. Berada ditengah-tengah antara cantik dan tampan, kau cocok jadi laki-laki maupun perempuan!"


"Aku cewek tulen!"


Kemudian setelah beberapa saat menunggu, akhirnya giliranku tiba juga. Pedang kayu ya? Yah apa aku bisa melakukan nya?


"Ah, kamu?"


"Kau juga?!"


"Apa maksudmu 'kau juga?' Keparat? Apa kamu mencoba mengejek pewaris tahta?!"


"Ah sudahlah, cepat kita selesaikan saja."


"Tapi, katanya kita dipasangkan dengan lawan yang setara. Aku ingin tahu seberapa jauh kemampuan mu sebagai laki-laki,.... btw, siapa namamu?"


"Zen! Zen Dè Lá Fortress." aku tahu!!! Maaf, aku tak memperhatikan saat guru memanggil ku tadi. Duh, dia memasang wajah yang sangat menjengkelkan..... hal ini membuatku cukup kesal!


"Zen."


"Baru kenalan tapi sudah sok-sokan manggil nama asli..?"


"?", memangnya kenapa?

__ADS_1


"Kau ini, dimana kewibawaan mu sebagai seorang bangsawan! Terlebih sebagai pewaris takhta!"


"Ah....", kenapa baru sadar?! Normalnya, para bangsawan akan memanggil nama belakang orang yang diajak bicara. Duh, aku terlalu terlena dengan kebiasaan ku. Saat bicara dengan para gadis dan orang di kelas, mereka tidak peduli meskipun aku sok akrab.


"Kenapa tidak dimulai?"


"Ah, maaf, Pak!", ucapku, "Baiklah, Zen. Mari kita mulai?"


"Kau ini benar-benar keturunan bangsawan atau bukan sih?!"


*Keduanya pun saling beradu pedang.


Gerakan Zen cukup lincah, hampir setara dengan pergerakan Freya namun, ia masih belum cukup untuk melampaui Freya. Di saat keduanya beradu pedang, para penonton yang merupakan dua kubu kelas yang diadu tanding, sangat terkesan dengan setiap gerakan-gerakan yang mereka lihat. Bagaikan melihat pertarungan sungguhan. Keduanya saling tidak memberi celah dan terus menyerang saat memiliki kesempatan menyerang.


"Nona Cellescia adalah perempuan.... agak menyakitkan tapi, indah..... aku melihat kecocokan diantara mereka berdua...."


"Ngomong apa sih? Mana mungkin Nona Freya yang elegan mau dengan pria tak berperasaan itu?"


"Pastinya gak mungkin sih..."


Zen Dè Lá Fortress, terkenal sebagai pria tak berperasaan, minim empati, bahkan pernah, dia menolak seorang gadis yang menyukainya secara brutal.


Maksudku, seperti saat memberi surat cinta ke seseorang dan saat bertemu sesuai dengan isi surat tersebut, yang terkait malah merobek surat kemudian melemparkan potongan surat ke wajah sang gadis.


Bukankah itu menyakitkan?


Begitulah pandangan tentang diri Zen menurut para gadis. Jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, Zen merupakan murid teladan, berprestasi, merupakan murid terkuat kedua setelah Freya di akademi tersebut.


Meskipun pencapaian nya sangat baik, seperti yang kubilang di atas, para gadis trauma dengan tindakan Zen yang menolak para gadis secara brutal.


"Aku menang!", ucap Freya setelah berhasil mengeluarkan Zen dari arena. Aturan mengatakan, lawan akan dianggap kalah jika keluar garis, tak dapat melanjutkan pertandingan, k.o, dan menyerah.


"Hah?!"


"Hei hei, bung, jaga sorot mata ganas mu itu. Banyak gadis-gadis berhati tipis di sini..."


"Cih..."


"Freya dari kelas A memenangkan duel antar kelas! Dengan begini, kelas A dan B seri!"


"Rasanya agak menyakitkan.... masa harus seri sih?"


"Entahlah, kenapa kau bicara padaku?"


"Memangnya tidak boleh?"


"Freya...."


"Uwah, baru pertama kali ini ada laki-laki yang memanggil namaku tanpa kata Nona dan sebagainya."


"Memangnya gurumu memanggil mu dengan sebutan Nona Freya? Kau tahu? Di akademi, sistem kasta tidak berlaku!"


"Bercanda~. Sepertinya kamu dibenci oleh para gadis ya?"


"Bukan urusanmu!"


"Memang sih. Tapi, izinkan aku mengucap satu hal."


"Hah?!"


"Terimakasih, Zen. Tadi itu sangat menyenangkan. Sebelumnya aku pernah melawan lawan yang cukup tangguh juga namun, dia malah menyerah. Jadi tidak seru. Beda dengan dirimu."


"Lawan yang cukup tangguh? Bung, kau bertarung dengan iblis huh?"


"Kok tahu?"


"Beneran ya?"


".... aku pergi dulu, seperti yang kubilang, Yuna sangat bawel jika aku tidak mematuhi jadwal."


"Ya...."


*Tadi itu benar-benar menyenangkan. Tak kusangka, aku mendapat lawan yang menarik. Tapi, mungkin itu perkenalan yang singkat.


"Baiklah baik, apa yang Anda inginkan dariku, T u an pu tri!?"


"Kau tampak tidak puas ya?"


"....", Yuna memalingkan wajah kesalnya.


"Cabut taruhan itu!"


"?!"


"Itulah awalnya yang aku pikirkan tapi, sekali-kali memberi hadiah pada anak laki-laki tidak buruk. Aku telah sering memanjakan perempuan. Jadi, aku ingin memanjakan laki-laki..."


"Akan aku adukan hal ini kepada Baginda Ratu!"


"Tunggu, kau salah paham!"

__ADS_1


__ADS_2