
Di saat aku berfikir akan menerima hukuman dari ibundaku sendiri, secara tidak aku duga-duga, tiba-tiba saja Ibunda menangis kemudian meminta maaf kepadaku.
"Kenapa Ibunda tak menghukumku..?", saat aku bertanya mengapa dia tidak menghukumku, dia menjawab.
"Karena... Ibunda tak memiliki hak lagi. Salah Ibunda sendiri, kamu jadi seperti ini."
"...."
"Seharusnya Ibunda lebih keras saat memohonkan takhta kekaisaran untukmu... pasti... pasti kamu tidak akan jadi seperti ini."
"Nggak... ini bukan berarti aku terpaksa atau bagaimana... ini lebih ke keinginan ku sendiri."
"Tetap saja. Karena ibu hanya dapat memberimu harapan palsu, kamu jadi harus hidup mandiri secepat ini...."
"Umm...." sepertinya reuni ini akan jadi reuni yang panjang.
Apa aku juga harus menginap?
"Keputusan ada di tangan anda, Ratuku."
"Kamu telah menjadi Ratu ya... hebat sekali."
"...."
Bagaimana ya... aku tak masalah menginap satu malam di istana kekaisaran namun, entah mengapa rasanya enggan saja.
Seperti akan ada masalah besar menimpaku jika aku menginap. Ah... terserah. Lagipula, anak-anakku memerlukan waktu lebih dengan nenek mereka. Selain itu, aku masih ingin bicara dengan Ibunda setelah sekian lama.
Kesampingkan permasalahan ku mengenai takhta kekaisaran, aku kembali sebagai anak yang ingin mempertemukan kedua orang tuaku dengan cucu mereka. Aku harap ayah dapat memahami apa yang aku lakukan di istana kekaisaran ini.
"Ibunda, aku rasa ini akan menjadi reuni panjang... bolehkah aku menginap selama 3 hari?"
"Kamu mau menginap?!", wah... Ekspresi bahagianya membuat hatiku luluh. Ini seperti saat aku diberi harapan palsu olehnya.
"Maaf... aku telah bersikap lancang. Seharusnya, jika ada seorang Ratu dari negara lain yang berkunjung, sudah sepatutnya aku mempersiapkan pesta penyambutan yang meriah. Tetapi...."
"Jangan terlalu memujiku... apa kamarku masih ada?"
"Masih, dan... tidak ada yang memasukinya selain pelayan yang membersihkan kamar setiap hari."
"Bagus."
Jadi rindu dengan momen dimana aku terpaksa belajar mati-matian hanya demi menjadi pewaris. Sekarang... memang benar yang aku lakukan sekarang tak jauh berbeda dengan apa yang aku lakukan dulu sewaktu masih menjadi pewaris. Hanya saja, sekarang ini aku seorang penguasa negara. Rasanya sangat amat berbeda dengan mengurung diri di dalam kamar karena tugas tak kunjung berakhir.
"Jadi, Freya. 3 hari cukup lama. Bagaimana jika kamu ceritakan apa yang kamu lakukan selama ini?", Ibunda melepas kewibawaan nya. Dia bertingkah layaknya seorang teman perempuan di mataku saat ini.
"Saya akan menunggu di luar..."
"Ah, Yuna, di sini saja. Apa kamu sanggup menangani ayahku?"
".... jika dipikirkan lebih lanjut lagi... izinkan saya menjaga Franklin dan Niera untuk mu. Ratuku."
"Tak usah dijaga... aku ingin kamu bersantai bersama kami berdua!"
"Tetapi, yang disamping dirimu adalah..."
"Yuna, lupakan soal status. Aku yang sekarang ini adalah ibunya Freya! Anggap saja aku ibu mu juga."
".... rasanya cukup aneh. Secara, ibu saya masih hidup. Tetapi Anda...."
"Maafkan aku~."
"Sungguh... Ibu dan anak tak jauh berbeda. Kalian berdua sangat mirip."
"Apa benar begitu? Padahal Freya hanya bersamaku dalam waktu singkat. Tetapi bagaimana bisa dia menirukan ku?"
__ADS_1
"Memangnya Freya anak siapa? Tentu saja ia memiliki darah Anda mengalir di dalam tubuhnya. Tak perlu melihat dan meniru, sifat Anda telah tertanam pada diri Freya."
"Kau benar."
• Malam itu, Freya bersama ibundanya, menghabiskan satu malam penuh bersama membicarakan tentang segala hal yang telah Freya capai hingga sekarang ini.
Sementara Freya melepas rindu berbicara dengan ibundanya, Yuna yang berada di dalam kamar, mengurus kedua anak-anak Freya dan memastikan mereka berdua tidak tidur terlalu larut. Secara, para anak-anak memerlukan tidur yang cukup. Berbeda dengan orang dewasa.
"Kamu bisa tidur duluan jika mengantuk," kata Freya melihat Yuna yang tak kuasa menahan kantuk di tengah-tengah anak-anak nya.
"Maaf, Ratuku.." Yuna meminta maaf kemudian bersiap untuk tidur di antara kedua anak kandung Freya.
Sekali lagi... Freya dan Ibundanya menghabiskan waktu bersama dengan berbagai topik yang mereka bahas. Mulai dari perkembangan negara yang Freya dirikan, cerita kisah cinta Freya yang terlalu liar, dan juga, Freya sempat menceritakan diri Myline kepada Ibundanya.
Meskipun tahu Myline merupakan seorang Ratu iblis, Ibunda Freya, tak terlalu memikirkannya. Karena sekarang putrinya telah tinggal bersama makhluk buas itu selama bertahun-tahun, sudah sangat terlambat jika baru sekarang mengkhawatirkan diri Freya.
Maka dari itu, beliau tidak membicarakannya lebih lanjut dan terdiam sembari menyimak Freya yang tengah asyik bercerita.
Hingga larut malam, mereka berdua memutuskan untuk tidur bersama. Mereka berniat untuk tidur bersama namun.... Kasur di dalam kamar Freya hanya bisa memuat 3 orang di atasnya.
Mau tak mau Freya dan ibundanya harus berpindah kamar agar dapat tidur bersama. Baru kali ini selain masa kecil nya, Freya tidur di samping ibundanya sendiri. Saat itu, dia masih sangat kecil, bisa dibilang, seusia Franklin. Masih harus disusui oleh ibunda nya. Setelah berusia 3 tahun, barulah Freya dilepaskan oleh ibundanya sendiri. Mulai tidur di kamar sendiri, dan apa-apa pasti pelayan yang mengatasinya. Oleh karena itu, Freya lebih menganggap bahwa para pelayan lebih baik dibandingkan ibundanya sendiri.
Meskipun, sebenarnya yang ibundanya lakukan hanya dikarenakan faktor paksaan akibat tak kuasa menahan kata-kata buruk yang ia dengar. Seperti, "Perusak tata keturunan," atau, "Kapan kau akan memiliki anak laki-laki?", semacam itu lah.
Tapi sekarang, beliau tidak akan mendengarkan apa yang orang pikirkan tentang dirinya dan putrinya. Meskipun, telah terlambat baginya memberikan kasih sayang kepada putri nya yang telah berusia 21 tahun.
Sekarang di dalam kepalanya, hanya terdengar kata-kata penyesalan terhadap apa yang ia lakukan ke putrinya sendiri.
"Freya, kekhawatiran mu benar terjadi. Ayahmu memerintah beberapa pasukan untuk membawa Yuna dan anak-anakmu ke sebuah ruangan," keesokan paginya, Myline mengirim pesan telepati kepada diri Freya.
Pesan tersebut mengatakan bahwa, Ayah Freya telah menyekap Yuna beserta anak-anaknya.
"Tolong diurus, Myline," jawab Freya mengirimkan telepati balasan ke diri Myline.
"Ada apa, Freya?"
".....", seusai mendengar kata-kata yang Freya ucapkan, Ibunda Freya seketika memasang wajah sedih.
"Jangan bilang Ibunda akan menghalangiku lagi," untuk berjaga-jaga, Freya menanyakan hal yang mungkin akan terjadi agar dirinya tak terpengaruh oleh ibundanya.
"Freya...", rintih suara ibundanya memohon Freya tidak beranjak dari tempat tidur mereka.
"Aku akan sangat membencimu jika terus-terusan seperti ini!", jawab Freya menjawab rintihan ibundanya dengan kejam.
"Ngga.... ini suatu hal lain. Freya, kumohon."
"Kali ini apa lagi?"
"Bisakah kamu menculikku keluar dari kekaisaran ini? Statusku sebagai seorang permaisuri kaisar tak memungkinkan aku untuk keluar dengan bebas. Jadi aku tak bisa mengunjungi mu selain itu...", jeda...
"Selain itu?"
"Aku sudah muak. Freya, bisakah kamu mempercepat gerakan revolusimu?", secara tidak diduga-duga, Ibunda Freya menyetujui apa yang Freya inginkan.
"Freya, aku mohon... bawa aku pergi ke istanamu! Izinkan aku menghabiskan sisa hidupku sampai tua untuk memberikan kasih sayang yang tidak kau dapatkan sedari kamu masih kecil," ujar ibundanya memohon Freya membawanya pergi.
'Yang jadi masalah itu ayah. Jika aku membawa Ibunda pergi dari sini, otomatis kekaisaran akan mendeklarasikan perang dengan negaraku. Meskipun jika dilihat dari segi pasukan, pasukanku jauh lebih baik dibandingkan pasukan ayah. Hanya saja, pasukan hebatku hanya dapat bergerak di malam hari,' pikir Freya memikirkan segala hal yang mungkin akan terjadi jika dirinya membawa pergi permaisuri kaisar.
"Baiklah! Hanya saja, jika Ibunda tidak menepati janji, aku akan membuang Ibunda!"
".... Aku berjanji."
Dengan begitulah, Freya menuju ke tempat dimana Myline melaporkan. Myline telah berada duluan di sana, sementara itu, terlihat Yuna dan anak-anaknya yang selamat di samping Myline.
Gadis pendek dengan dada standar dan setelan yang selalu menggoda hawa nafsu... Wajar saja, dia Ratu dari segala iblis. Darah succubus atau, iblis penggoda mengalir di dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Kaisar menginginkan waktu untuk berbicara bersamamu, Ratuku. Apakah Anda berkenan?"
"Tidak. Dari pada itu, aku lapar~, Yuna, bisakah kamu memasak untuk sebuah pesta?"
"Pesta?"
"Benar, pesta penyambutan Ibundaku tercinta!", membuka portal teleportasi, Freya menggandeng ibundanya masuk ke dalam portal. Dilanjut Myline lalu Yuna dan anak-anak Freya.
"Kau serius membiarkan Ibumu tinggal di sini, Freya?!", Yuna mengerutkan keningnya.
"Apa tidak boleh? Bukankah itu baik untuk anak-anakku, benar 'kan, Niera? Kamu masih ingin bermain dengan nenek 'kan?"
"Iya!", jawab Niera dengan senyum polos di wajahnya.
Membiarkan anak sekecil itu harus menanggung beban yang diperbuat oleh leluhurnya, membuat Freya merasa kesal. Freya yakin jika tadinya, Ayahnya ingin membicarakan tentang Franklin putranya.
Freya sangat yakin jika ayahnya berniat menjadikan Franklin sebagai penerus. Dibandingkan dengan Freya, Franklin seperti sebongkah berlian di matanya.
"Franklin itu putraku. Dia akan menetap bersamaku! Aku tak akan membiarkan Franklin merasakan apa yang aku rasakan dahulu kala," ujar Freya sembari menatap Franklin yang ia gendong dengan lembut di dekapan dadanya.
"Ratuku!!! Aku datang untuk bermain dengan Niera!", Vampir.... nama aslinya Kyu. Namun Freya lebih suka menyebutnya sebagai Vampir.
Gadis berambut pixie cut seperti Freya, rambut berwarna merah, mata merah, serta gigi taring yang panjang. Dia merupakan salah satu diantara dua menteri yang berani bersikap semena-mena ke atasannya.
"Woah woah, ada pengunjung baru nih?" Vampir menyadari keberadaan Ibunda Freya.
"Perkenalkan, menteri bidang pertahanan dan kekuatan, Kyu. Freya lebih suka menyebutku vampir sih. Aku harap Ibunya lebih baik dibandingkan putrinya."
"Kyu? Haha, baiklah. Izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku, Lyliya. Ibunda kandung, Freya Von Verendrica."
"Senang bertemu denganmu, Bibi! Selain itu, Niera, coba tebak!! Aku telah mempersiapkan apa hari ini?", Vampir orangnya sangat periang. Kesampingkan soal sifatnya yang buruk di depan atasan, Vampir sebenarnya penyuka anak-anak. Setiap hari, Vampir menyempatkan diri untuk bermain bersama Niera. Dari pada dibilang menyempatkan diri, lebih tepatnya, Vampir membolos hanya demi bermain dengan Niera.
"Maafkan Niera, Niera ingin bermain bersama nenek hari ini," ucap Niera dengan lembut meminta maaf.
"Hei, Niera!!! Apa kamu berselingkuh dariku?!"
"Tidak!!! Niera suka Kyu tetapi, hari ini Niera ingin bermain bersama nenek. Jadi... jadi... maaf."
"Kuh....", dengan tampang yang amat terpukul, Kyu kemudian mundur dari ruangan kerja sang ratu.
Ia terus berjalan menuju ke pintu keluar sembari menahan kesedihannya hingga... Lyliya atau Ibunda Freya mengajaknya bergabung bersama mereka berdua.
"Seriusan?!", tanya vampir dengan mata yang berseri-seri.
"Iya, lagipula, aku membutuhkan pemandu karena belum mengenal tempat ini."
"Ah iya, kalau begitu, izinkan saya mengajak Anda berkeliling, Bibi," ajak Vampir dengan mengulurkan tangannya.
"Kau anak yang baik."
"Benarkah? Tapi kenapa Freya berkata kalau aku ini anak yang liar?"
".....", jangan bertanya padaku, begitulah ekspresi wajah Freya menatap ketiganya yang hendak meninggalkan kastil.
Selama mereka bertiga pergi bermain, Yuna memasak bersama pelayan lain yang mereka rekrut untuk membuat sebuah pesta penyambutan yang cukup meriah untuk menyambut kedatangan Ibunda Freya.
"Freya~."
"Baik-baik, bayi besarku juga haus ya?"
"Berisik! Aku berbeda dengan Franklin! Aku menghisap melalui leher sedangkan Franklin. Benar-benar berbeda!"
"Apa kamu mau menghisap di bagian lain?"
"Kau serius? Kau tahu, asi wanita sering diburu oleh para succubus.... oleh karena itu, kamu harus berhati-hati saat berhadapan dengan Ryuushi. Kesampingkan soal succubus, bagiku, menghisap darahmu saja sudah cukup."
__ADS_1
"Begitu kah? Agak menjijikan melihat orang dewasa menyusu... Ngomong-ngomong, tunggu sampai Franklin selesai ya? Aku yakin kamu akan menghisap darahku sampai habis jadi... aku khawatir Franklin terkena dampaknya."
"Cih~"