
Menari, pada awalnya, menari adalah sebuah kegiatan untuk menunjukkan rangkaian gerakan indah untuk menghibur para penonton. Menari aslinya adalah sebuah gerakan kesenian yang ditujukan untuk memberi kesan keindahan kepada para penonton. Namun, di dunia yang berbeda ini, tarian dibedakan menjadi dua pengertian. Meskipun arti kedua sama, menari dalam pertunjukan, berbeda dengan menari di dalam pertarungan.
Menari di dalam pertarungan, berarti berputar-putar sembari mengibaskan pedang tajam di tangan mereka. Tentunya, keindahan dalam menari di dalam pertarungan, dilihat dari cara mereka menebas lawan mereka. Dan itulah....
Yang dilakukan oleh diri Freya dengan sabit buatannya di masa lalu.
"Kenapa, Pak Tua?! Apa kamu belum pernah melihat kepala manusia berterbangan, darah bercucuran, dan merasakan rasa takut yang begitu menusuk?!", ucap Freya sembari terus memutar-mutar sabit yang ia pegang.
Sabit, sebuah senjata yang cocok digunakan dalam pertarungan jarak dekat. Selain mencegah lawan memasuki zona aman si pengguna, sabit memberi kesan keindahan dalam setiap gerakannya.
Jika si pengguna mampu mengoperasikan sebuah sabit di tangan mereka, mereka akan terlihat seperti tengah menari-nari dengan bersimbah darah. Seseorang yang menjadi lawan mereka akhirnya berfikir, jika mereka telah memilih lawan yang salah.
Benar-benar sebuah pertunjukan yang indah, bukan?
"Skakmat, Pak tua!", ucap Freya seakan dirinya telah mengakhiri pertempuran yang terjadi.
"Membunuhmu hanya akan menyebabkan masalah namun... jika aku membebaskan dirimu, itu juga menjadi masalah bagiku. Pilihlah, kau menyerahkan negara ini kepadaku atau, lehermu akan terputus?"
"...."
Terdiam karena rasa takut, pemikiran nya tentang diri Freya benar-benar salah besar. Dirinya berfikir jika Freya seorang pengguna sihir, oleh karena itu, dirinya mempersiapkan penghalang sihir tingkat tertinggi yang pernah ada. Meskipun, penghalang tersebut tidak mampu menahan sihir kelas S.
"Aku... menyerah."
"Baiklah~."
Singkatnya...... masalah berakhir dengan cukup aneh kembali. Setiap kali Freya menyelesaikan masalah, maka masalah tersebut tidak akan berjalan lama. Karena ia bukanlah seorang perempuan yang suka menunggu apalagi jika harus terkena harapan palsu. Dia benar-benar perempuan yang terburu-buru.
Freya menyeret pemimpin Negara Hezel ke ruang publik dan membuatnya bicara jika dia telah turun dari takhtanya. Kerajaan Hezel selanjutnya akan dipimpin oleh diri Freya dan kawan-kawan nya.
Untuk anak-anak Sang pemimpin, nasib mereka bergantung pada diri Freya karena jika kita bicara tentang sistem kasta dunia lain ini, bangsawan raja yang tidak lagi berkuasa, tidak lebih dari seorang rakyat jelata saja.
Bukan turun satu tingkatan, melainkan turun langsung ke dasar. Itulah mengapa, bangsawan raja harus mati-matian mempertahankan kekuasaannya. Dan itu jugalah apa yang dilakukan oleh Ayahanda Freya.
"Berapa usia putrimu?"
".....", menatap dengan raut wajah terkejut, Mantan raja kemudian menjawab pertanyaan Freya, "19...."
"Bagus."
"?!" Ketika Freya bersenang hati disaat mendengar usia putri pertama Mantan Raja negara Hezel, beliau langsung khawatir seketika.
"Siapa namamu?", Freya bertanya dengan lembut ke seorang perempuan yang lebih tinggi darinya.
"L--lucia," jawab gadis tersebut dengan gugupnya.
"Lucia... humu, nama yang bagus."
"Anu...."
"Tenang saja tenang saja, tak seperti dirimu, aku memperlakukan wanita dengan baik kok," ucap Freya menjawab kekhawatiran Mantan raja dengan meraih tangan kanan Lucia.
"Lalu yang dua ini?"
"Tunggu, kamu berniat membawa mereka semua?!"
__ADS_1
"Tentu saja, jangan bilang kamu tidak tahu akibatnya saat berurusan denganku?", ucap Freya.
"15... dan 8."
"Siapa namamu?", tanya Freya kepada gadis dengan perawakan yang tampak seperti gadis berusia 15 tahun.
"Alicia."
"Untuk nona kecil ini?"
"Aku, Rully!", ucap gadis kecil itu dengan senyum polos di wajahnya.
"Baiklah, itu saja, silahkan pergi, Pak tua!"
"Tetapi...."
"Tenang saja... putri-putri mu berada di tangan yang tepat kok~" ucap Freya sembari melambaikan tangannya.
"...." dengan bersedih hati, Mantan raja pergi dari panggung menuju ke suatu tempat yang ia pun tidak tahu harus kemana.
"Jadi, Lucia, Alicia, Rully. Mulai sekarang, aku Ibu kalian. Jangan sungkan menyebut diriku dengan sebutan Mama~" ucap Freya sembari melebarkan tangannya. Tak ada seorang pun dari mereka yang menerima pelukan Freya tersebut. Meskipun Rully sempat memiliki pikiran untuk menerima pelukan Freya, namun tindakan Rully dihentikan oleh kakaknya, Alicia.
"Cepat lakukan saja!", ucap Freya dengan tatapan tajam yang mencekik.
Karena takut terhadap diri Freya, keduanya ikut memeluk Freya dengan sangat terpaksa. Kecuali Rully, mereka berdua sangat terpaksa disaat harus memeluk Freya.
"Jangan sungkan ya~" ucap Freya ketika mereka sampai ke rumah.
"Uwaa, Ratu?! Kenapa kau kembali?!", ucap Vampir dengan terkejut, berbaring diatas sofa di ruang kerja Freya.
"Ini negaraku! Selain itu, sedang bermalas-malasan ya, Vampir?" ucap Freya dengan nada berat.
"Kau tahu, baru lima hari aku meninggalkan ruangan ini, tapi rasanya aku salah meninggalkan kewajiban sebesar ini pada dirimu ya, Vampir?"
"Mohon tunggu sebentar, Ratuku! Saya bisa menjelaskan!"
"Eh, sedang mencoba untuk berbicara dengan sopan, Vampir?"
"Kubilang dengerin dulu!!!"
"Pfft.... bercanda kok. Tapi tetap, aku tak mau ruangan ku kotor. Cepat bersihkan, Vampir!"
"Baik!"
"Ah, Fillfya, jika kau bergerak satu inchi saja, kau akan menerima akibatnya!", ucap Freya mengancam Fillfya yang hendak membantu diri Vampir.
"Tetapi..."
"Kalau kamu siap dengan akibatnya, silahkan saja."
"....", Fillfya pun terdiam di tempatnya sekarang.
"Ah Fillfya, jika kamu membantu Kyu membersihkan ruangan ini, kau akan kuberi hukuman. Apa kamu paham?"
"... baik."
__ADS_1
"Bagus. Selain itu, aku punya tugas lain untukmu."
"Tugas..? Tugas apakah itu, Ratuku?"
"Sebenarnya, aku mengadopsi anak .."
"Mengadopsi?!", Fillfya terkejut.
"Uwah... kau mengadopsi atau menculik? Mereka tampak tidak senang."
"Jika berani bicara sekali lagi, hukuman mu akan bertambah, Vampir!"
"......", Vampir seketika diam ketika Freya mengancamnya.
"Ceritanya panjang. Aku akan menceritakan nya setelah menjemput Yuna dan yang lain," ucap Freya sembari mengusap kepala Fillfya.
"Sekarang, tolong awasi, mereka bertiga selama aku pergi. Kyu, aku juga meminta bantuanmu."
"Iya-iya, oh ya, tadi ada orang sok yang mau menjarah ibu kota... tapi, Ryuushi langsung menangkap mereka... hahaha, dia jadi sangat aktif jika berkaitan dengan laki-laki."
"Aku bangga pada kalian."
"..... Ratu, kau sehat?"
"Sangat!!," Freya meregangkan badannya, "Baiklah, aku akan menjemput mereka dulu. Jadi.... kalian bertiga cobalah untuk membiasakan diri sini!"
"Ba--baik...", ucap mereka.
Tak lama, Freya pergi dengan portal teleportasi ke Negara Rezeria untuk menjemput Yuna dan yang lain.
Sebelum itu...
"Kau tahu? Aku tak suka ada seseorang yang mengganggu sesi pelatihan ku!", ucap Myline mengeluhkan tentang seseorang yang menyerangnya di saat ia tengah asyik menyik— melatih Niera.
"Aku tahu itu. Yuna, kau tak apa?"
"Sudah cukup lama aku tidak menggunakan kemampuan ku. Selain itu, penghalang sihir mengacaukan segalanya. Beruntung aku masih memiliki belati di pahaku."
"Niera, kau berhasil melawan berapa banyak?"
".... lima," ucap Niera dengan memalingkan pandangannya karena ia takut akan dimarahi oleh Freya.
"Itu bagus, teruslah berlatih, aku punya rencana untuk memberimu tanggung jawab atas negara yang aku kelola. Kamu harus berlatih terus menerus, Niera."
"Akan aku usahakan, Mama!", ucapnya dengan wajah berseri-seri. Sepertinya kepalanya terbentur sesuatu disaat berlatih bersama Myline.
"Bagus. Jadi, Myline. Kau telah melakukan apa yang ku perintah?"
"Mau melihatnya?", ucap Myline sembari membuka portal teleportasi menuju ke suatu tempat.
"Kepalanya telah terputus... bagus, kerja bagus, Myline," ucap Freya dengan tatapan serius setelah melihat ke sisi lain portal teleportasi.
"Membunuh seorang yang kamu kenal, cukup merepotkan bukan?"
"Iya.... maka dari itu..."
__ADS_1
"Tenang saja, aku ini budakmu sekarang!"
"Iya.."