Freya : The Emperor'S Daughter

Freya : The Emperor'S Daughter
Ch. 10 : Peperangan


__ADS_3

Digembleng maksudnya adalah dilatih secara keras dan ketat. Dan itulah yang dilakukan Myline terhadap diri Freya dan Yuna.


Ia melatih Freya dan Yuna dengan keras supaya mereka dapat menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya. Selain itu, dengan kekuatan mereka berdua, Myline mendapatkan keuntungan untuk lebih memperkuat teritorial nya secara cuma-cuma.


Aku jadi kurang memahami dengan sistem perbudakan ini.


Mereka bertarung dengan brutal, meskipun tangan dan kaki mereka terputus, tubuh mereka akan meregenerasi ulang. Tidak perlu khawatir dengan kematian, mereka tidak dapat mencapai kematian. Jadi meskipun, dipenggal kepalanya, mereka akan tetap beregenerasi dengan cepat. Akan tetapi, rasanya sangat sakit! Rasa sakit terhadap luka yang terbuat, masih terasa meskipun telah beregenerasi.


"Kakiku?!!!", Freya tampak sangat terkejut serta takut terhadap kakinya yang terlempar cukup jauh akibat tebasan pedang yang Myline lakukan.


"Arkkk.....", sesuai yang kubilang, Freya tetap akan merasakan rasa sakit yang amat luar biasa meskipun telah beregenerasi.


"Itulah tujuan latihan kita, Freya, Yuna! Akan kubuat kalian terbiasa dengan rasa sakit."


"Kau pikir aku ini Masokis?!!", bentak Freya lalu berdiri setelah kakinya selesai beregenerasi. Regenerasi nya sangatlah cepat, hanya dalam 5 detik, kaki Freya tumbuh kembali.


"Hehe, kedengarannya menarik membuatmu terpuaskan dengan rasa sakit!"


"Jangan harap! Lagipula, setelah latihan berakhir, jangan lupakan hukumanmu!"


"Iya-iya~"


Mereka berdua sempat membuat perjanjian sebelum latihan, perjanjian tersebut berbunyi, dimana setelah latihan berakhir, dan Freya mendapatkan kembali martabatnya sebagai seorang Tuan putri, maka Freya akan mendapatkan kendali sepenuhnya atas diri Myline. Setelah semua berakhir, Myline dengan senang hati akan menyerahkan jiwa dan raganya kepada diri Freya dan mengabdi pada diri Freya selamanya.


Ketiganya bertarung dengan cara membabi buta, tak peduli menyerang dengan teknik apapun, tujuan dari latihan mereka kali ini adalah untuk mendapatkan kekebalan terhadap rasa sakit yang akan selalu mereka alami karena efek keabadian.


Pada akhirnya, kekuatan besar memiliki kelemahan. Dan kelemahan harus dihilangkan dengan cara bekerja keras. Begitulah inti dari latihan yang tengah dijalani oleh Freya dan Yuna.


Meskipun terlihat, wajah puas Myline saat menikmati setiap jeritan dan wajah putus asa dari mereka berdua, namun apa yang dilakukan Myline, tidak lain untuk memperkuat mereka berdua.


Tidak pernah terlintas dalam benak Myline, untuk mendominasi Freya. Justru, Myline malah senang jika Freya mendominasi dirinya. Jadi, ia akan membuat Freya melampaui dirinya agar ketika ia berbuat salah, Freya dapat dengan mudah menghukum dirinya.


Hingga hari dimana perang dimulai, Freya dan Yuna, telah siap untuk menjadi pemeran utama dalam perang tersebut.


***


Ah.... malasnya, kenapa aku harus kembali ke istana? Aku yakin aku akan dimarahi habis-habisan oleh Mak lampir itu.... terlebih, Myline malah membakar pakaian pria yang ku bawa ke sana... mau tak mau aku harus mengenakan rok dan setelan perempuan yang Yuna pilihkan.


Aku harap aku tidak dimarahi dalam waktu lama....


"Kupikir kau sudah tak akan kembali lagi, Putri bodoh ku....?", terdengar.... aku yakin suaranya dari belakang dan dari nadanya, aku yakin dia sangat kesal...


".....??", apa aku bermimpi? Bukankah tadi kudengar nada Ibunda sangat kesal dan seakan-akan mau memarahiku. Tetapi kenapa? Kenapa dia malah memelukku dari belakang?


"Ibunda....?"


"Meskipun bersikeras ingin berpakaian wanita, tapi kamu malah memakai pakaian gadis nakal.... apa maksudmu, Putri ku yang bodoh?"


".... Yuna selalu tertawa setiap kali aku mengenakan pakaian bangsawan wanita! Jadi aku memutuskan memakai pakaian ini. Selain itu, gara-gara si bodoh itu, pakaian yang selalu kupakai menjadi debu!"


"Si bodoh?"


"Bukan siapa-siapa.... selain itu, kenapa tiba-tiba ibunda memelukku? Apakah ini sebuah sogokan untuk ku?"


"Jahat sekali kamu dengan ibundamu sendiri. Selain itu, kau tak perlu lagi repot-repot menjadi Kaisar selanjutnya..."


"Eh?!"


"Kakak sepupu mu akan mengambil alih...."


"Tidak!!!", seketika aku langsung berteriak.


"Takhta kekaisaran tak akan ku lepaskan!"


"??", terlihat wajah terkejut ibuku yang sepertinya, beliau salah memahami apa yang aku inginkan.


"Jadi, kau berniat untuk memimpin meskipun itu melanggar aturan yang diterapkan oleh leluhur kita?"


"Memangnya kenapa?! Lagipula!! Kenapa kalian melepas jabatanku sebagai calon penerus secara sepihak?! Kalian benar-benar tidak pernah menyayangi ku?!"


"Freya... tidak...."


"Diam!!!", aku menyela dengan teriakan...


"Aku tak pernah... tak akan pernah melepaskan takhta kekaisaran ini! Jika sampai ada yang merebut nya, akan aku rebut kembali meskipun harus dengan langkah kekerasan!"


"Freya!!!"


"Diam!!! Aaahhh, aku ubah rencanaku! Dalam waktu seharian ini, jika kalian tidak mengembalikan status pewaris tunggal padaku, maka akan aku biarkan kekaisaran ini kalah dalam peperangan!", aku... benar-benar, tidak paham dengan maksud mereka... Lalu untuk apa aku bekerja keras selama ini?! Mana mungkin kerja kerasku hanya terbalaskan untuk sebuah kekecewaan?! Tak akan kubiarkan!


"Freya!!?", dengan wajah marah, aku membawa Yuna pergi dari tempat Ibunda dan aku berdiri kemudian menyelidiki tentang peperangan yang akan terjadi tak lama lagi.


Saat aku sampai ke ruangan dimana ayahku berada, aku melihat, sepupuku Fernasn yang sedang berdiskusi dengan ayahku. Terlihat mereka berdua, sangat serius membahas strategi perang yang akan mereka lakukan tak lama lagi.


Ini benar-benar memuakkan....


"Benar bukan? Memuakkan bukan? Panggung yang seharusnya adalah milikmu namun, ternyata milik orang lain, terlebih itu adalah sepupumu sendiri," Myline tiba-tiba datang lalu berbicara denganku.


"Kau bilang ini panggungku bukan? Lalu kenapa ada Fernasn di sini?"

__ADS_1


"Di luar dugaan?"


"Kau memang tak berguna...."


"Ayolah, jangan kesal begitu, lagipula, ini belum berakhir."


"Berisik! Ayo pulang!", aku membuka portal teleportasi menuju ke kastil Myline.


"Aku ikut aja~," ujar Myline membopong Yuna yang terlihat sedih di sana.


Yah.... rasanya sedih jika sudah seperti ini, yang bisa aku lakukan hanyalah menyuruh para iblis mengawasi area peperangan kedua belah pihak. Karena kini Myline menjadi bawahanku sepenuhnya, maka aku mendapat wewenang untuk memerintah pasukan iblis yang Myline punya.


"Laporan?"


"Terlihat kedua belah pihak telah bersiap-siap!"


Ada dua iblis di depanku, mereka satunya mengawasi negara lain dan yang satunya mengawasi kekaisaran ku.


"Lalu mengenai pewaris, apakah kalian mendengar sesuatu dari istana?"


"Jika menginginkan jawaban yang pasti, silahkan Anda berbicara dengan iblis yang mengawasi istana."


"Ah, kalian berada di medan perang ya? Maafkan aku, lanjutkan pekerjaan kalian!"


"Baik!"


Sepertinya akan sulit, tapi mau bagaimanapun, aku tetap menginginkan takhta kekaisaran. Tak akan kubiarkan aku kehilangan hak ku sebagai pewaris. Akan kurebut meskipun harus dengan tanganku sendiri!


"Kenapa tidak dilepas saja? Toh kamu juga sudah memimpin negara iblis yang aku buat."


"Mohon maaf, aku tidak memiliki hati iblis. Jadi aku sering kasihan dengan manusia-manusia yang menjadi budak agar kau mendapatkan pasukan iblis."


"Kau benar, kalau begitu, akan kubantu kamu..."


"Terimakasih, Myline. Kuharap kita bisa bekerjasama setelah aku menjadi penerus takhta."


"Aku budakmu, tak perlu memakai surat formal atau apapun. Ketika kamu butuh bantuan, suruh saja aku."


"Baiklah."


Baiklah, sekarang, kurasa aku harus pergi...


"Yuna?"


"Dimengerti, Ratuku."


"Kau, jangan jadi seperti Myline!"


Baiklah, mari pergi.... ke istana untuk mendapatkan jawaban atas permintaanku kemarin. Apakah Ibunda sempat membahasnya dengan ayah kemarin sebelum keberangkatan atau tidak? Itu akan segera aku ketahui, dengan mata dan kepalaku sendiri.


"Tuan putri?"


"Kebetulan aku memakai jubah, jubah merupakan salah satu bagian terpenting dari pakaian seorang pemimpin yang memimpin bukan?"


"Aku rasa ruangan singgasana sedang kosong, mau masuk, Tuan putri?"


"Tentu..."


Aku membuka pintu besar menuju ke ruangan singgasana, berjalan dengan hati yang berdebar-debar, lalu menaiki beberapa anak tangga kemudian duduk dan menyilangkan kakiku di atas kursi singgasana.


"Apa yang Anda inginkan, Ratuku?", Yuna seketika berlutut lalu berkata demikian dengan senyum manisnya.


"Jangan mengejek!!", tapi senyumannya itu, terlihat seperti senyuman mengejek di mataku!


"Mana mungkin aku mengejek diri Anda."


"Kau!!! Berhenti menertawakan diriku dalam diam!"


"Aku tidak melakukan nya."


"Keparat!!!!"


Yah terserah, tapi rasanya, kursi ini masih sangat jauh dari genggaman tanganku. Aku masih belum yakin dapat menggapainya, malahan, aku yakin kursi ini tidak akan pernah aku duduki lagi setelah ini.


"Ayo pergi, Yuna."


"Baiklah!"


Ketika kami hendak pergi dari ruangan singgasana, terlihat Ibunda yang berdiri membelakangi jalan keluar kami. Dengan wajah serius, aku yakin dia berniat memarahiku karena telah memasuki ruang singgasana tanpa izin. Bahkan menduduki kursi singgasana yang bukan merupakan kursiku.


"Freya, aku tak tahu kamu kemana saja tapi, kumohon dengarkan ibu kali ini saja! Akan ibu kabulkan segala permintaan mu setelah ini!"


Permintaan ya? Aku tak akan berharap apapun darimu, aku sudah banyak kecewa dengan keputusan kalian.


"Kau, bersekutu dengan iblis, bukan?"


"Lalu apa urusanmu? Mau mengeksekusi putrimu sendiri karena aku telah melanggar salah satu peraturan yang tak boleh kulanggar sampai kapanpun?", dengan tatapan tajam, aku menatap ibuku sendiri agar eksistensi ku tidak kalah dari eksistensi ibundaku sendiri.


"Setelah membuang putrimu sendiri, lalu kau berniat mengeksekusinya? Jangan main-main..."

__ADS_1


"Freya, dengar! Kekaisaran telah dipojokkan. Aku baru saja mendengar berita tersebut dari pengirim berita melalui telepati.."


"Lalu? Bukankah kalian meremehkan perempuan? Apakah sekarang kalian berniat meminta tolong pada perempuan yang lemah ini?"


"Freya!"


"Apa!??", Aku tak sengaja membentak karena kekesalanku tak lagi terbendung.


"Maafkan Ibu...."


"Berisik... Pokoknya, karena aku bukanlahi menjadi pewaris, jadi aku bebas melakukan apapun termasuk, membiarkan kekaisaran ini runtuh karena kalah perang. Lalu kemudian, aku akan mengambil alih lagi kekaisaran ini dengan kekuatan iblis yang bersekutu denganku."


".....", terlihat ibu telah pasrah terhadap apapun jawaban yang keluar dari mulutku. Aku jadi kasihan tapi..... Ini bukan menjadi urusanku!


"Anda ingin pulang, Tuan putri?"


"Sebentar.... rasanya ada bahaya besar yang sedang menuju ke tempat ini. Lebih baik..."


"Tuan putri...", Yuna terlihat lega dan juga senang karena ucapan ku barusan.


"Kau salah paham, Yuna. Bajingan ini punya urusan denganku. Aku tak bisa meninggalkan dirinya begitu saja..."


"Kau benar, dasar, putri bego!", seseorang memukulku setelah mengatakan itu, dari kejauhan dia telah mempersiapkan tinjunya. Kemudian ketika berada dalam jarak jangkauannya, ia pun memukulku hingga aku terpental cukup jauh.


Ini sakit, brengsek!


"Kemana saja kamu ini?! Meskipun aku tahu aku tak berhak mengatakan hal semacam ini namun, mewakili permaisuri kaisar yang tak bisa mengatakan hal ini, sekali lagi aku bertanya, kenapa dengan dirimu?!"


Zen... sejujurnya aku tidak pernah mengira ia akan kesini. Aku yakin dia salah paham dan mengira aku menyukainya. Jadi dia khawatir. Tetapi, sayang sekali, tidak ada sedikitpun rasa suka yang tertuju padamu.


"Apa kau sudah berpamitan pada kedua orang tuamu? Mereka akan khawatir loh." Aku menggunakan telekinesis, mengangkat tubuhnya dengan memberikan kesan mencekik pada lehernya.


"Yah terserah, kumaafkan kamu hari ini. Aku menghargai kekhawatiran mu tetapi, kekaisaran ini tidak memerlukan gadis lemah seperti ku. Jadi, untuk apa aku di sini? Toh sepupuku akan menjadi kaisar selanjutnya."


"Kau salah!"


"Huh?!"


"Yang boleh menjadi penerus takhta kaisar hanya dirimu seorang!"


"Kau tidak salah bicara?"


"Tidak! Aku mengakui kekuatanmu, kau sangat kuat. Dengan kekuatanmu, aku yakin kekaisaran akan berjalan lebih baik lagi. Jadi, kembalilah, Freya!"


"Dari mana kamu mendapatkan kata-kata itu?"


"Entahlah.... rumornya telah menyebar, beruntung kekaisaran kita masih bisa membentuk benteng pertahanan. Jika kita cepat-cepat, maka kita berdua dapat membantu!"


"Persetan," aku tak peduli itu.


"Huh?!"


"Kubilang, kenapa aku harus menjaga kekaisaran yang bahkan tak pernah menjadi milikku?"


"Apa yang kau bicarakan?"


"Hak warisku, dicabut.. maka dari itu, keberadaan ku di sini tidak akan dihargai lagi. Jadi apa gunanya? Meskipun aku berhasil membantu, kenyataan bahwa aku bukanlah pewaris takhta lagi, masih belum berubah!"


"Bagaimana bisa....?!"


"Bisa lah, yasudah. Jika kamu sudah selesai bicara, izinkan aku pergi."


"Tidak, jangan pergi!! Kumohon, kekaisaran ini membutuhkan dirimu! Jika kita kalah dalam perang, kekaisaran akan runtuh, kerajaan dan negara yang menjadi bagian kekaisaran otomatis akan membebaskan diri dan menjadi negara yang berdiri sendiri! Tolong pikirkan kesejahteraan rakyat kita!"


"Kamu ini.... siapa sih kamu, sampai-sampai kamu berani berlutut memohon pada diriku? Sekali tidak tetap tidak!" Kalau begitu aku pergi....


"Freya!", ah, Ibunda lagi..... apalagi yang akan dia ucapkan?


"Aku akan mengabulkan segala macam permintaanmu jika kau bersedia membantu. Termasuk, menobatkan dirimu menjadi kaisar setelah perang berakhir!"


"Apa itu serius?", Ibu turut berlutut di depanku dan memohon agar aku membantu. Sebenarnya, siapa yang memberitahu mereka tentang status ku yang bersekutu dengan iblis? Ini membuatku merasa kesal!


"Jika sampai berbohong lagi, kekaisaran ini akan aku ratakan dengan tanah menggunakan tanganku sendiri!", lanjutku.


"Silahkan pegang kata-kata ku...."


Kalau sudah begini, mau tak mau aku harus melakukannya.... segera aku berbalik lalu membuka portal teleportasi menuju ke medan perang.


Mereka berdua terkejut dengan apa yang aku lakukan, namun meskipun begitu, mereka tetap berlutut pada diriku.


"Gimana nih, Yuna?"


"Bukankah ini adalah sesuatu yang kau inginkan?"


"Memang benar tapi, musuh utamaku adalah Ayahku! Meskipun ibu berkata akan menobatkan ku sebagai kaisar selanjutnya, aku khawatir jika ayah menolak dan pada akhirnya, aku akan kembali kecewa!"


"Yah, lakukan saja, Freya."


"Kau benar."

__ADS_1


***


"Dua orang gadis....? Muncul dari mana mereka...?"


__ADS_2