
Ledakan yang aku kira akulah penyebabnya, ternyata alasan terjadinya ledakan dikarenakan bola sihir tidak sanggup lagi mengkonversi energi sihir dari para murid. Secara, bola sihir tersebut telah digunakan hingga puluhan tahun. Sudah saatnya untuk diganti.
Dan kejadian tadi murni kesalahan pihak akademi dan aku, dimintai maaf hingga kepala sekolah bersujud di depanku.
"Hari ini melelahkan~"
"..."
"Maaf, Yuna. Aku tidak mungkin menyiksamu. Kau telah kesulitan dalam merawat ku. Aku tidak bisa memberimu hukuman yang keterlaluan itu."
"Eh, gak jadi? Sia-sia dong aku mempersiapkan mentalku," padahal aku telah berbaik hati mencabut hukumannya Yuna namun, perkataanya ini membuatku kesal kembali hingga melupakan wajah tertekannya.
"Kau akan tidur bersamaku malam ini!"
"Hah?!"
Jangan khawatir, dia bukannya enggan, melainkan takut. Yuna pernah aku ajak tidur sekamar namun ketika aku bangun di tengah malam, aku mendapati, tubuh Yuna yang terkapar di lantai.
Hehehe, maaf, jika tidurku pecicilan.
Sesampainya di istana, Yuna membantuku melepas setelah seragam sekolah ku. Begitupula dengan diriku yang juga membantu Yuna melepas seragamnya.
Awalnya Yuna menolak aku membantunya namun lama kelamaan, hal semacam ini menjadi kebiasaan. Tidak peduli dengan tuan dan pelayan. Teman adalah teman!
Ah ya, ngomong-ngomong, setelan seragamku itu seragam laki-laki sedangkan Yuna seragam perempuan. Kami sering digosipkan sebagai sepasang kekasih di seluruh penjuru akademi sebelum akhirnya, identitas asliku diungkap oleh bajingan satu ini.
"Hari ini, aku ingin melihatmu memakai pakaian santai."
"Tetapi, Nona?"
Wajar saja dia merasa enggan. Jika dia melakukan tindakan yang diluar batasannya sebagai seorang pelayan, Yuna pasti akan menolak dan bersikeras tidak ingin melakukan nya.
Meskipun itu perintah dari Tuannya.
"Pelayan harus menuruti keinginan Tuannya bukan?"
"Anda sangat mesum ya?"
"Aku tidak menyuruhmu memakai pakaian yang telah ku siapkan. Dari pada aku berubah pikiran lagi, segera kau berganti ke pakaian santaimu! Atau mungkin, kau mau meminjam pakaianku? Aku rasa kau cocok saat mengenakan dressku dulu."
"Itu sudah terlalu berlebihan, Nona Freya. Baiklah jika hal tersebut membuat Anda senang."
"Yeay~"
Ini adalah salah satu kebiasaan kami. Sepulang sekolah, aku biasanya diberi tugas dari ayahku. Karena aku adalah penerus tahta, aku harus bekerja keras mempelajari tentang sistem politik dan sebagainya. Padahal, jika aku anak bangsawan biasa, di tengah hari seperti ini, aku menghabiskan waktuku untuk bermain dan menjelajahi berbagai tempat.
Disamping aku mengerjakan tugas yang ayah berikan kepadaku, Yuna menemaniku di sampingku. Dia dengan pakaian santainya, sebuah setelan tanpa lengan dan celana pendek, serta rambut yang diikat dengan indahnya. Dia benar-benar memakai pakaian santainya.
Yah, aku juga begitu sih. Selain pakaian tersebut nyaman, terkadang aku sering kegerahan saat memakai pakaian formal ku. Jadi saat aku hanya bertahan di pakaian santaiku, aku jadi lebih tenang. Meskipun, ini bukan etika dan adab bangsawan raja.
"Nona, saya izin membuat minuman."
"Ah, tentu. Ambilkan cemilan juga kumohon."
"Saya akan bertanya ke Ratu terlebih dahulu."
"Ayolah, kau tak mau makan juga apa? Jika kamu bertanya ke ibuku, otomatis kita tidak akan mendapatkan cemilan."
"Itu lebih baik, Nona Freya. Apa Anda tidak takut dengan naiknya berat badan Anda?"
"Engga, kau 'kan lihat sendiri, aku sering berolahraga. Jadi lemak-lemak nya akan terkuras. Dengan kata lain, aku dapan makan sebanyak apapun jika dibarengi dengan berolahraga!"
"Kau banyak alasan, Putri."
"Hei, keparat, kau berani memanggil putri dengan sebutan kau?"
__ADS_1
"Maaf deh~"
Dia benar-benar, aku rasa aku memang harus mendisiplinkan dia sebelum dia mulai mengacaukan hidupku.
Sekitar 15 menit kemudian, Yuna kembali dengan membawa dua gelas bangsawan serta satu teko indah penuh dengan jenis minuman yang Yuna buat.
"Teh hijau, Tuan Putri?"
"Makasih, nanti ku minum. Kalau kamu haus, minum saja duluan."
"Baik."
Aku mengatakan hal tersebut setelah Yuna selesai membuatkan minuman. Normalnya aku akan langsung meminumnya namun, entah mengapa, aku masih belum haus.
"Bilang Ah."
"Ah?"
Seperti nya aku terlalu fokus dengan tugas ku sebagai penerus hingga tidak memperhatikan diri Yuna yang masuk membawa minuman dan juga sepiring biskuit di atas nampan.
Yuna memancingku dengan kata-kata tersebut. Setelah aku menatapnya seraya mengucap apa yang Yuna inginkan, Yuna langsung menyuapkan satu buah biskuit yang dia bawa itu.
"Maaf, aku tidak begitu mempedulikan. Bukannya aku sedang kesal atau apa... maaf.. aku tak akan..."
"Bilang apa sih, Nona ini? Saya adalah pelayan pribadi Anda, sudah sepatutnya saya melaksanakan hal yang Anda perintahkan, jika hal tersebut memungkinkan."
"Kau benar."
Setelah sedikit berbincang, aku kembali melanjutkan pekerjaan ku di dampingi oleh Yuna yang berdiri di belakangku.
"Duduklah, jangan terlalu formal kepadaku."
"Baik."
Pelayan memiliki kebiasaan untuk berdiri hingga berjam-jam sampai tugas mereka selesai. Mereka telah dilatih untuk berdiri sepanjang waktu yang diperlukan. Dan waktu istirahat mereka hanya pada malam hari. Terlebih, mereka yang menjadi pelayan anggota keluarga kerajaan atau kekaisaran. Mereka harus benar-benar profesional supaya mereka tidak kehilangan pekerjaan mereka.
"Apakah ada yang dapat saya bantu, Tuan Putri?"
"Ah, ini hampir selesai, setelah ini ayo pergi keluar."
"Baik."
Yah, aku mengajaknya keluar di sekitaran jam tiga sore. Di dunia ini, kami menghitung jam secara manual. Kami memperhatikan pergerakan matahari untuk menentukan waktu, karena di dunia ini, tidak ada jam seperti di dunia lamaku.
"Kita hendak pergi ke mana? Selain itu, saya merasa tidak enak jika harus berjalan tanpa seragam pelayan saya."
"Aku ingin menenangkan pikiran. Mana mungkin aku ingin melihatmu memakai pakaian pelayan. Kalau kamu berpakaian seperti pelayan, otomatis kamu menjadi pelayanku. Bukan menjadi temanku. Aku ingin kau sejenak menjadi teman dan menghabiskan waktu bersama."
"Jika itu yang Anda inginkan, saya bersedia... maaf jika lancang, Tuan putri," ucap Yuna sembari menghela nafas panjang.
"Jadi, kita mau kemana, Freya?" dengan senyum, Yuna berlari ke depan kemudian berbalik melihatku lalu berkata demikian.
"Kau benar-benar..."
"Kamu sendiri yang menyuruhku, Freya. Kita akan menghabiskan waktu bersama bukan? Seperti kencan saja. Aku yakin banyak orang-orang yang menganggap begitulah hubungan kita."
Dia benar-benar menjadi orang yang berbeda...
"Kamu saja yang memandu."
"Apa kamu serius, Freya? Baiklah, pertama-tama, aku ingin pergi ke tempat yang sangat ingin aku kunjungi namun belum kesampaian karena kau terus-terusan merepotkan diriku."
Wah... sisi menyebalkannya masih saja sama.
"Oh ya, kemana?"
__ADS_1
"Toko pakaian wanita."
"Hah?"
"Ayolah ayolah, Freya, apa kau akan tetap memakai singlet kekanak-kanakan itu? Kau sudah remaja, kau tahu?"
Sungguh, dia semakin menyebalkan...
"Freya, kau lihat— . Ah, Anda menginginkan pakain tersebut?"
Dia kembali normal? Setelah kami sampai di toko pakaian wanita, aku melihat gaun yang sangat indah sekali, terpajang di salah satu manekin di dalam toko.
"Plus satu hukuman."
"Ah, maaf, Freya. Habisnya kamu menatap gaun itu dengan tatapan mata yang sangat berharap. Jadi insting pelayanku aktif."
"Gak apa.. selain itu, apa yang ingin kamu beli? Aku yang bayar."
"Beneran?! Kau sangat baik, Freya!"
Setelah itu kami lanjut melihat-lihat. Saat melihat sisi Yuna yang lain ini, entah mengapa aku jadi merindukan masa laluku. Benar, aku punya teman-teman hebat sebelum aku meninggal dan bereinkarnasi. Aku harap mereka baik-baik saja di sana..
"Freya?", tiba-tiba saja Yuna menghampiriku di saat aku sedang melamun sembari menandangi pakaian yang sangat aku inginkan namun hanya dapat ku lihat.
"Ah, kenapa, Yuna?"
"Kamu yang bayar bukan?", beneran dah. Yuna datang dengan setumpuk pakaian yang dia ambil. Aku tidak tahu Yuna benar-benar suka atau memang asal ambil. Yang jelas, aku harus membayar semua yang dia inginkan.
"Bisa nambah lagi, Freya?"
"Hmm, tentu. Tapi, apa kau benar-benar membutuhkan semua pakaian itu?"
"Apa? Memangnya aku gadis jadi-jadian seperti dirimu? Aku suka mengaca dengan berbagai macam pakaian!"
"Iya-iya, suka-suka mu saja."
Setelah itu, aku menunggu di kasih sementara Yuna pergi mengambil pakaian lain dan kasir tengah sibuk menghitung total biaya pakaian-pakaian tersebut. Ada sekitar sepuluh pakaian, terdiri dari 3 dress, 4 pakaian normal, dan 3 dalaman. Kuh, aku benar-benar merasa terhina di saat bra milik Yuna yang pastinya sangat longgar untuk aku pakai.
"Ah, Yuna," Yuna telah kembali. Aku tidak menyadari nya karena kesal melihat kekalahan ku dari dirinya.
"Pakaian itu?"
"Aku bisa membohongi Ratu jika kau perintah. Kau suka ini bukan, Freya? Jika sampai Ratu bertanya tentang setelan ini, jawab saja kalau pakaian ini adalah milikku yang tertinggal."
"Yuna...?"
"Sudah-sudah!!! Jangan malu-malu begitu, Freya. Aku juga ingin melihatmu memakai pakaian tersebut. Jika itu ku pakai, itu akan sangat aneh. Secara, dadaku lebih besar daripada milikmu."
"Aku baru saja ingin berterimakasih namun, kurasa aku tidak perlu berterimakasih ya, Yuna?"
"Maafkan aku, Tuan putri~"
Setelah kami selesai membayar semua pakaian yang kami beli, kami kemudian singgah di sebuah kedai yang menyediakan makanan yang hanya dapat dinikmati oleh para bangsawan karena mahalnya biaya yang diperlukan untuk mendapatkan jenis makanan tersebut.
Yups, es cream. Di sini, pembuatan es cream agak sulit di lakukan. Meskipun kami dapat menggunakan sihir tipe es dan salju untuk membekukan air, yang jadi masalah di sini adalah, bahan-bahan yang diperlukan. Seperti susu sapi, air segar dari pegunungan, biaya pembuatan es batu, dan lain-lain.
Meskipun kubilang hanya dapat dinikmati oleh para bangsawan, es cream ini harganya hanya 5 perak. Rakyat jelata juga dapat menikmati es cream ini namun, mereka tidak melakukan nya. Secara, 5 perak adalah biaya hidup perhari mereka. Tidak mungkin mereka menghabiskan nya hanya untuk membeli es cream sekali makan.
"Enak?"
"Dingin, lembut, dan lezat. Makasih karena telah membawaku kesini, Freya!"
"Ya, aku senang kau terlihat bahagia."
"Freya..."
__ADS_1
"Iya?"
"Aku tidak berguna ya?"