Freya : The Emperor'S Daughter

Freya : The Emperor'S Daughter
Ch. 05 : Keaslian 03


__ADS_3

Kesenangan berakhir, sekarang kembali ke semula, sepulang sekolah pada tengah hari, aku langsung mengerjakan tugas yang telah menumpuk di luar kamarku. Jujur saja, aku pernah terpikir untuk menyerah. Namun saat aku melihat keluargaku yang menaruh harapan besar terhadap diriku, aku tak bisa menyerah begitu saja. Aku harus semangat demi mereka berdua!


Selain bisa menguasai ilmu politik, tentunya aku juga memperkuat sihirku secara diam-diam. Saat istirahat sejenak, aku sering memikirkan teori-teori sihir untuk me-refresh otakku.


Tak hanya aku pikirkan, aku juga mencoba-coba sihir yang tengah aku pikirkan hingga terlupa dengan tugas yang diberikan kepada diriku.


Aku baru tersadar jika aku telah terlalu lama beristirahat di saat Yuna mendobrak pintu kamarku untuk memberi sedikit kudapan kepadaku.


"Maaf tak bisa membantu mu, Freya."


"Tidak kok, selain itu, dengan adanya dirimu yang dapat aku ajak bicara, aku jadi semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan tugas-tugas ku."


"Baiklah, itu saja, Tuan Putri. Jika ada apa-apa, kirimkan saja telepati ke diri saya."


Yuna seketika kabur dengan buru-buru setelah aku mulai merencanakan hal buruk terhadap dirinya. Duh, dia pasti telah mempertajam instingnya.


Ya sudah, ayo kembali bekerja!


*****


"Wah-wah, wanita yang mencoba untuk menjadi seorang penerus tahta kaisar. Aku kecewa, meskipun kamu telah berpenampilan layaknya laki-laki, namun yang berubah hanyalah rambutmu saja. Kamu tetaplah seorang perempuan," seorang remaja laki-laki berambut pirang, usianya lebih tua 3 tahun daripada diriku. Dan, dirinya sedang mencoba menghina ku ya?


"Wah-wah, ada apa, Kakanda Fernasn!?", Fernasn Von Zerecia. Kakak sepupuku. Dia merupakan anak kandung bibiku atau adiknya ayah.


Statusnya masih menjadi bangsawan tertinggi namun, karena aku yang merupakan anak penerus tahta namun berkelamin perempuan, dia bisa saja dipromosikan menjadi penerus tahta jika aku benar-benar angkat tangan.


Aku tak bisa bersantai-santai hingga aku menjadi penerus tahta!


"Ada apa kau bilang? Huh... kau sangat lugu ya? Freya sepupuku. Aku sangat yakin dirimu mengetahui niat asliku datang ke tempat ini lagi," benar, perempuan harus tinggal bersama kekasihnya di suatu tempat. Dan bibiku meninggalkan istana setelah suaminya sukses dengan bisnis yang bibiku buat agar dapat bertahan hidup di suatu saat nanti. Mereka meninggalkan istana ketika aku masih berusia 5 tahun. Dengan kata lain, mereka meninggalkan istana saat Kak Fernasn berusia 8 tahun.


"Ayolah ayolah, kami tidak memerlukan laki-laki lemah. Heh, sangat lucu mendengar laki-laki lemah meremehkan wanita yang pernah mengalahkan nya di masa lampau," artinya, kami telah beradu pedang saat aku masih dibawah usia lima tahun! 4,5 tahun kalau gak salah. Kalah dengan anak kecil, tentunya dia sangat malu dan berniat balas dendam hari ini.


"Ayo tanding ulang!"


"Tak masalah. Apa perlu ada taruhannya juga, Kakanda?"


"Bagus, aku suka dirimu... mari pertaruhkan tahta kekaisaran di dalam pertandingan kita!"


"Soal itu tidak bisa, wahai Kakanda yang bodoh."


"Hah?!"


"Aku mempertaruhkan tahta kaisar yang amat berharga bagiku namun, engkau tidak mempertaruhkan sesuatu yang berharga bagimu juga. Bukankah ini tidak adil, Kakanda?"


"Cih, baiklah. Kau suka gadis 'kan? Akan kuberi kamu budak segar."


"Kakanda, kau sangat beruntung karena masih memiliki hubungan dengan kekaisaran. Jika kakanda membeli budak tanpa ketergantungan Kakak ke kekaisaran, maka kakak akan dalam bahaya!"


"Ngomong apa sih... bagaimana?!!"


"Begini saja, mari buat pertandingan ini menjadi, siapa yang kalah harus menuruti 3 kali permintaan, serta menjadi budak seharian bagi seorang yang menang. Bagaimana?"


"Apa kau yakin dengan kata-kata mu barusan?"


"Tentu. Meskipun begini, aku punya tubuh yang bagus, Kakanda~."


Setelah kami berdua menyepakati perjanjian nya, kami bersiap di posisi kami masing-masing. Sebelum itu, kami pergi ke tempat pelatihan prajurit yang luas agar kami bisa bertarung dengan leluasa.


"Bersiaplah untuk mati karena malu, Freya?"


"Wah-wah, Kakanda jadi bermulut besar ya, selama jauh dari istana?"


*3nd POV*


Fernasn melesat dengan pedang kayu di tangan kanannya, dirinya mulai menebas Freya tanpa segan-segan namun Freya berhasil menghindari serangan Fernasn dengan sempurna.


Di serangan kedua, Freya berhasil menghindari tusukan pedang milik Fernasn yang hanya terfokus untuk menang tanpa mempedulikan peraturan duel.

__ADS_1


Normalnya, pertandingan duel dilakukan dengan sistem tiga ronde. Setiap pemain yang jatuh atau keluar arena, dianggap kalah dalam satu ronde.


Akan tetapi, duel yang dilakukan oleh Freya dengan kakak sepupunya itu, bukanlah duel normal pada umumnya namun, duel diantara hidup dan mati. Pedang kayu yang mereka gunakan bukan terlihat seperti pedang kayu bagi keduanya.


Mereka berdua melihat pedang kayu bagaikan pedang dengan bilah tajam yang dapat memotong apapun. Oleh karena itulah, keduanya berhasil menangkis ataupun menyerang dengan baik.


"Kau telah berkembang ya, Kakanda?", Freya sedikit mengambil jeda.


"Ada apa? Apa hanya segini kemampuan mu?", meskipun telah terengah-engah, Fernasn masih belum menyerah!


"Enggak, itu semua baru pemanasan."


"Hah?!"


Setelah mengucapkan hal tersebut, Freya melesat dengan cepat bagaikan berteleportasi dari satu tempat ke tempat yang lain.


"Kau?!", Fernasn terkejut dengan pergerakan Freya yang tidak terlihat dengan mata kepalanya.


"Menjadi budakku akan sangat menyiksamu loh, Kakanda," dengan senyum, Freya berkata dengan begitu bersemangat ke arah Fernasn.


Freya sangat menikmati setiap detik yang dia habiskan untuk berlatih berpedang bersama seorang musuh yang cukup tangguh. Bagi Freya, kondisi semacam ini dapat meningkatkan kemampuan nya meskipun, itu sudah tidak dapat ditingkatkan lagi.


"Uwa!" Fernasn berteriak kencang sembari mengayunkan pedang kayunya ke atas untuk melempar pedang Freya yang tertahan di pedang kayunya.


"Sayang sekali, mau sekuat apapun Kakanda mencoba, Kakanda tidak akan pernah bisa mencoba untuk membuang pedangku."


"Khhkkk?!"


"Baiklah, aku yang menang!"


Kemudian, Freya menebas Fernasn tanpa perasaan hingga Kakak sepupunya itu terlempar cukup jauh dari tempat awalnya.


"Kau tahu? 3 permintaan sebenarnya kurang. Aku punya banyak sekali permintaan sebenarnya."


"Si--- sialan...."


"Kau ingin aku memberi pelayanmu seorang budak?!"


"Tidak tidak, bukan budak lagi jika dia sudah berada di bawah perlindungan ku."


"Huh?!"


"Intinya, aku ingin gadis itu punya teman bicara. Aku ingin dia tidak hanya melayaniku setiap detik. Ada kalanya bagi dia untuk beristirahat dan bermain dengan seorang teman. Kau tahu? Yuna terlihat bosan saat menunggu diriku menyelesaikan tugas-tugas ku."


"Ah.... Oke, lalu, dua nya lagi?"


"Aku ingin Kakanda mencari informasi tentang Ratu iblis."


"Ratu iblis? Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?"


"Sudahlah!", aku memukul Fernasn yang masih kesakitan karena tebasanku terlalu kuat.


"Yang terakhir, aku ingin kamu mencarikan ku material-material yang aku perlukan. Nanti kita bicarakan di dalam kamarku."


"Hmm, baiklah."


"Lalu, jangan lupakan jika kamu menjadi budakku seharian ini."


"Kuh... iya-iya, dasar bawel!"


"Fufu, aku senang, Kakanda tidak berubah meskipun menjadi kandidat kedua keturunan penerus tahta."


"Jangan banyak bacot, Freya. Lagipula, aku yang tak bisa mengalahkan perempuan, mana sanggup mengurus sebuah kekaisaran. Jangankan kekaisaran, aku saja masih ragu jika diberi tanggung jawab mengurus sebuah desa."


"Ngomong-ngomong, kapan kau akan menikah? Daripada menggoda adik sepupu mu yang masih satu darah ini, lebih baik kau mencari cewek mapan lainnya!"


"Iya-iya..."

__ADS_1


Kemudian kami berdua masuk ke kamar ku, Yuna ku suruh menunggu di depan pintu agar tidak ada seorang pun yang memasuki kamar hingga pembicaraan ku dengan Kakanda Fernasn selesai.


Jika ada seseorang yang hendak masuk ke kamar ku, maka Yuna akan mengirim telepati kepada diriku lalu aku pun akan menghentikan pembicaraan.


Itulah sistemnya. Aku tak ingin ada sesiapapun yang menganggu rencanaku!


"Bijih besi, berlian, sisik naga, kayu jati, nikel, dan emas, dalam jumlah besar? Mau kamu buat apa?", tentu dia bertanya tentang sesuatu hal yang cukup sulit untuk di dapatkan.


"Membuat senjata terkuat."


"Hah?"


"Dengar ya, Kakanda, aku ingin membuat senjata terkuat karena aku mencoba untuk mengorek informasi tentang Ratu iblis. Kalau-kalau dia datang untuk menghabisi ku, setidaknya aku dapat bertarung mati-matian melawan dirinya."


"Kau gila?!"


"Bisa dibilang."


"Freya....", dia mengkhawatirkan ku.


"Tenang saja, Kak. Aku akan baik-baik saja. Aku punya banyak sekali tujuan. Tak mungkin aku menyerah hanya karena sesuatu yang terlihat mustahil untuk dilakukan."


"...."


Kemudian, rapat kami selesai dan aku melanjutkan mengerjakan tugas. Sebelum itu, aku memanggil Yuna untuk menemaniku selama aku mengerjakan tugas.


—beberapa hari kemudian, Fernasn datang dengan barang yang aku inginkan. Hanya dalam hitungan Minggu, Fernasn mampu mencari semua yang aku inginkan.


Termasuk, teman untuk Yuna.


"Woah, tak ku sangka, kamu sangat nakal ya, Kakanda?"


"Mau ku pukul?"


"Bercanda~"


"Myline. Itulah namaku, mulai hari ini saya akan mengabdikan tubuh serta kebebasan saya kepada diri Anda, Freya Von Cellescia."


Penampilannya layaknya gadis berusia 14-15 tahun, tubuhnya ramping, aku rasa dia kekurangan asupan gizi. Mata yang berwarna merah cerah, serta rambut berwarna hitam keunguan.


Dia juga memiliki gigi taring yang cukup panjang, aku sempat mengira dia dari ras vampir namun, memangnya vampir dapat bertahan dari sengatan matahari?


"Dia dari ras vampir spesial, benar-benar segar dan belum tersentuh sama sekali. Kau ingin budak dengan kriteria seperti itu bukan?", Fernasn bertanya kepadaku.


"Tentu~"


"Myline. Mulai sekarang kamu tak perlu menggunakan kalung rantai itu...." saat aku hendak melepaskan kalung rantai yang mengikatnya, dia sontak memberontak lalu hanya melepas rantainya saja.


"Aku suka memakai sesuatu di area leherku..."


"Hmm, tapi jika begitu, kau akan terlihat aneh. Baiklah, bagaimana jika aku membelikanmu aksesoris?"


"Apa tidak merepotkan?"


"Tidak... justru aku akan senang jika kamu senang."


"Anda sungguh baik. Meskipun anda seorang laki-laki...."


"Yups!", rasanya aneh disebut sebagai laki-laki....


"Dia cewek!", ketika aku sedang mencoba mempertahankan rahasiaku, Fernasn tiba-tiba saja memukul kepalaku seraya berkata bahwa aku ini perempuan! Kejam sekali bukan? Padahal sebentar lagi dia menjadi mainan ku yang kedua!


"Haha..."


"Kalau begitu, Myline. Selamat datang di kehidupan ku, kalau bisa jangan menganggap ku sebagai majikan melainkan sebagai teman. Mengerti?"


"Baik!"

__ADS_1


__ADS_2