Freya : The Emperor'S Daughter

Freya : The Emperor'S Daughter
Ch. 17 : Musuh dalam selimut(?)


__ADS_3

Freya dengan putra dan putrinya, pergi mengunjungi negara tempat Ayah dari anak-anak Freya berada. Biasanya Freya selalu pergi dengan singkat menggunakan portal teleportasi. Namun kali ini, ia tak melakukan nya. Freya sekeluarga menaiki sebuah kereta kuda bangsawan untuk pergi ke negara Rezeria. Negara dimana Charless Von Rezeria berada.


Karena cukup jauh, Freya sekeluarga memerlukan waktu hingga 3 hari perjalanan agar mereka dapat sampai dengan selamat.


"Ratu pergi. Itu artinya.... kita bebas!!", ucap Vampir yang gembira karena akhirnya, ia dapat bermalas-malasan dengan tenang.


"Bukankah kamu selalu bebas, Kyu?" Fillfya bertanya.


"Iya sih, kalau dipikir-pikir, aku ini orang terbebas dari para menteri di kerajaan ini."


"Huh."


***


"Beri sambutan hangat kepada Ratu kerajaan Verendrica!", musik bergema setelah salah seorang prajurit membuka pesta penyambutan untuk Freya yang merupakan seorang Ratu kerajaan Verendrica.


Tak hanya Freya saja yang ke Negara Rezeria. Ibunya, permaisuri kekaisaran Cellescia, serta Yuna juga turut hadir bersama Freya dan kedua anaknya.


"Kalau dipikir-pikir lagi, baru kali ini aku merasakan hal semacam ini," ucap Freya menanggapi rasa gugupnya.


"Itu karena kamu selalu menyusup ke Negara orang tanpa izin sih, Mama," dengan nada bercanda, Niera yang memakai pakaian formal keluarga kerajaan, menjawab kegugupan Ibundanya di sampingnya.


Niera sangat suka berpenampilan tomboi. Oleh karena itu, di saat mengenakan pakaian formal seperti yang ia kenakan sekarang, dia sangat ingin sekali melepaskannya. Bahkan, selama di kereta kuda, keduanya tidak pernah memakai pakaian formal dan lebih memilih bertahan di pakaian dalam mereka, maksudku, baju tanpa lengan dengan celana pendek. Satu lapis di atas pakaian dalam.


Dirinya merasa tidak bebas bergerak di saat harus mengenakan dress keluarga kerajaan. Tentunya Freya juga ikut memakainya lantaran, dipaksa oleh Ibundanya sendiri.


Niatnya, Freya ingin mengenakan pakaian ratu yang ia kenakan di negaranya, namun hal tersebut dilarang oleh ibunda Freya dan Freya pun harus memakai pakaian yang sama sekali tak ia sukai itu.


"Oho, jadi ini anak kecil yang diam-diam bermesraan dengan suamiku?!", tampak marah, wanita dewasa berusia 34 tahun, satu tahun lebih tua dibandingkan usia Freya sekarang.


Just information, Ibunda Freya, Lyliya, berusia 48 tahun meskipun usianya kian menua, wajahnya masih bagaikan seorang gadis remaja. Darah keturunan bangsawan memang mengerikan.


Pernah suatu hari, Freya menawarkan ibundanya sebuah keabadian. Namun tetapi, beliau menolak tawaran Freya. Dirinya berkata kepada Freya, "Tidak, aku tahu kamu akan merasa sedih karena tak bisa bersama Ibunda selamanya. Sejujurnya, jika diperbolehkan, aku ingin sekali bersama dirimu selamanya namun, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua seperti ku?"


Memang menyedihkan tetapi, itu lebih baik dibandingkan membuatnya harus melihat berbagai kekejaman dunia lebih lama lagi.


Kembali ke inti, di depan Freya, berdiri seorang wanita dewasa berusia 34 tahun, memiliki Putra berusia 15 tahun dan putri berusia 12 tahun.


Dia adalah, Illya Von Rezeria. Istri resmi Charless Von Rezeria.


"Auch, Sayangku, istrimu membentak ku~" Freya mencoba membalas sindiran yang diberikan oleh Illya.


"Ayolah, Freya, malu tahu."


"Cih, padahal usiamu sudah sangat tua. Tapi kau masih saja malu-malu kucing ya~. Baiklah, ayo simpan itu untuk malam nanti," ucap Freya memancing kemarahan Illya.


"Brengsek!!!", jiwa kewibawaan bangsawannya seketika menghilang di saat ia mendengar ucapan Freya tersebut.


"Tenanglah, Freya hanya bercanda."


"Jahatnya, padahal sudah jauh-jauh aku datang kemari," ucap Freya sembari menggembungkan pipinya.


"Ayolah, ingatlah kenapa kamu datang ke sini. Aku tak bisa tenang karena kondisi Ayahku sedang kritis," ucap Charless yang tampak tidak tahan lagi dengan sikap Freya di saat seperti ini.


Benar, mereka pergi ke Negara Rezeria tak hanya sebatas untuk bermesraan. Mereka datang secara formal untuk membahas tentang, siapa yang telah meracuni Raja kerajaan Rezeria.


Jika berada di posisi Freya, Freya akan langsung bertanya dan menuduh Ayahnya lah yang telah melakukan tindakan sekeji itu namun, kemarin saat ia pergi ke Istana kekaisaran Cellescia dan melihat langsung wajah ayahnya, ayahnya sontak berkata.


"Selamat datang, putriku, ada apa tiba-tiba datang? Apa kamu rindu?"


"Hentikan senyum bodohmu itu!", Bentak Freya dengan Ibundanya disamping dirinya.


"Kenapa kalian menatapku dengan tatapan tajam?", Beliau tampak tidak memahami sama sekali tentang apa yang sedang Freya bahas.


"Kesampingkan soal itu, silahkan duduk terlebih dahulu."


Keduanya pun duduk.


"Jadi, apa yang kamu inginkan dari Pak Tua yang membuangmu ini, Freya?", dengan tatapan yang kurang bersemangat, Kaisar bertanya tentang mengapa Freya repot-repot pergi menemuinya.


"Jangan berlagak bodoh! Ayah 'kan, yang meracuni ayah mertuaku?!", dengan raut wajah marah nan kesal, Freya bertanya dengan nada tinggi.


"Ayah mertua? Maksudmu, Raja Kerajaan Rezeria?"


"Benar! Kau yang meracuninya bukan?!"


"Aku? Kenapa aku harus?"


"Huh?! Bukankah kau sama sekali tidak menyukaiku?! Maka dari itulah kamu mencoba membunuhnya?!"


"Tidak," jawabnya, "Memang benar dulu dia itu musuhku tetapi, sekarang kami menjalin hubungan kerja sama," lanjutnya.


"Hah?!"


"Benar, kami menjalin kerja sama karena merasa kami saling membutuhkan. Tanpa perang, kerajaan Rezeria terikat denganku. Itulah kekuatan hukum timbal balik!"


"Hei, Pak tua," ucap Freya dengan nada tinggi,"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!"

__ADS_1


"Ah, maaf," ucap Kaisar, "Aku terlalu senang menceritakan pencapaian ku kepada Putriku yang merupakan korban dari kebodohanku. Akan tetapi, Freya, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan," dari raut wajahnya, memang benar dia tidak berbohong dan Freya juga memahaminya namun, siapa lagi musuhnya selain ayah kandungnya sendiri? Selama ini ia merasa tidak pernah memiliki musuh lain selain ayahnya. Tetapi... kenapa, apa mungkin....


Jadi begitulah, cerita tentang bagaimana Freya pergi ke Negara Rezeki secara formal.


"Jadi, bukan Ayahmu ya?"


"Iya, bukan nya aku memihak pada Ay-- Pak tua itu! Akan tetapi, dari raut wajahnya, aku sangat sekali yakin bahwa bukan dia pelakunya."


"Jadi siapa dong?!", Illya membentak.


"Aku akan bertanya kepada kalian berdua," ucap Freya menatap keduanya dengan sangat serius.


"Apa salah seorang dari kalian memiliki musuh? Atau mungkin, Ayah kita memiliki musuh yang tak pernah kita sadari?", ucap Freya berpendapat.


Kemungkinan yang paling mungkin ada di musuh dari sang Ayah sendiri. Tetapi, sepertinya, perkiraan Freya salah total.


Mereka menjawab tidak untuk semua pertanyaan. Dan hal ini membuat Freya kebingungan sekarang.


"Myline!!! Tolong aku!" teriak Freya membuat semuanya merasa malu.


"Myline? Kepada siapa kamu berbicara? Bukankah nama putrimu itu, Niera?"


"Ah nggak, ini beda lagi," ucap Freya, "Myline kumohon! Maafkan aku karena melarangmu ikut bersamaku, jadi, tunjukkanlah dirimu! Aku tahu kamu ada di ruangan ini!", ucapan Freya membuat seluruh orang di dalam ruangan merasa merinding.


Tak lama kemudian, Myline menampakkan wujudnya di ruangan tersebut.


"Aku telah menyebar berbagai pasukan iblis untuk melakukan pengamatan. Aku memerintah masing-masing 10 iblis ke seluruh negara yang berhubungan dengan kalian," ucap Myline menunjukkan diri dengan aura yang mencekam.


"Berhenti memata-matai ku!"


"Hahaha, maaf. Kamu pikir aku akan tenang sehari tanpa menghisap darahmu?"


"Dasar vampir sialan!"


"Sudahlah," ucap Myline menenangkan Freya.


"Kau semakin tua ya, Bocah."


"Senang bertemu denganmu lagi, Nona Myline."


"Myline saja tak apa, lagipula, kamu memanggil Tuanku tanpa sebutan Nona. Aku merasa tidak enak jika harus dipanggil Nona sedangkan Freya Tuanku, dia hanya kamu panggil dengan namanya," ucap Myline dengan senyumnya yang membuat merinding seluruh orang di dalam ruangan. Selain Freya dan yang lain, semuanya dibuat merinding dengan senyum Ratu iblis di dalam ruangan tersebut.


"Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah, menunggu kabar dari anak buahku...", ucap Myline yang secara perlahan meraih leher Freya kemudian menggigitnya.


"Mohon yang sopan, Myline!", Yuna yang melihatnya, seketika menarik Myline hingga ia terjatuh.


"Hoi, kamu juga yang sopan dong!", akan tetapi, bukannya membuat suasana tenang kembali, Yuna ikut menggigit leher Freya.


"Maaf~" dengan senyum cantik, Yuna kemudian berdiri kembali di belakang Freya bersama dengan Myline.


"Mereka berdua itu sama saja ya~," ucap Niera dengan tangan dibelakang kepala. Dirinya lupa sejenak jika ia tengah berada di sebuah acara formal.


Sontak, ketika ia ingat kembali, dirinya langsung malu dan bersikap seperti wanita kembali.


"Niera tumbuh seperti dirimu, Freya."


"Masa sih? Yah, apa kamu tahu? Niera sering sekali berpetualang di alam lepas. Aku takut dia kenapa-napa, tolong marahi dia, kamu ayahnya 'kan? Dia sama sekali tidak mendengar setiap ucapanku!"


"Mama?!"


"Niera, ucapan ibumu semata-mata hanya untuk melindungi mu dari bahaya."


".... Huh? Mama, apa kau tidak memberitahu Papa kalau aku kini abadi sepertimu?", ucap Niera yang membuat semuanya menjadi terkejut.


"Aku lupa~"


"Mama, Kakak, kalian berdua kembalilah!", ucap Franklin yang duduk dengan tenang di ruangan tersebut.


"Ada apa sih, Franklin? Apa kamu cemburu? Dari tadi Ibu mu hanya memberikan kasih sayangnya kepada Kakakmu saja," ucap Myline menggoda Franklin yang masih berusia 12 tahun.


"Hah?! Tunggu, berapa kali harus aku bilang, jangan memelukku dari belakang tanpa izin!"


"Cih~"


"Kalian semua, bisa diam?!", Semuanya kehilangan kendali. Ketika Ibunda Freya, Lyliya membentak keluarga besarnya, seketika Freya dan yang lain menjadi tenang kembali.


Kini, semuanya normal kembali. Jika dilihat dari sudut pandang Illya, Freya dan yang lain, apa benar mereka ini bangsawan? Begitulah pikirnya.


"Untuk sekarang, akan aku coba untuk menyembuhkan beliau. Sayang, apa kamu mengerti jika selir mu ini menginginkan bayaran yang sepantaran dengan apa yang harus aku lakukan?"


"Hei tunggu! Kalian bermesraan di depan mataku?! Apa kamu benar-benar seorang bangsawan?!", sontak, ketika Freya membelai Charless, Illya seketika marah dan langsung mendorong Freya hingga dia terjatuh.


"Baiklah, langsung ke kamarnya saja~ ", setelah berdiri kembali, Freya langsung membawa semua orang yang bersamanya tadi, pergi ke kamar tidur Ayah mertuanya.


"Enggak didengerin?!"


Mereka sampai di kamar tidur Raja.

__ADS_1


Ketika membuka pintu, terlihat banyak sekali pelayan serta penjaga yang menjaga Raja dengan ketat.


"Apa bisa disembuhkan, Freya?", tanya Charless dengan menaruh harapan kepada diri Freya.


"Tenang saja~ yang penting kamu jangan melupakan bayarannya!"


"Berhenti menggoda suamiku!", Illya kehilangan kesabarannya, dirinya memukul kepala Freya dengan cukup keras.


"Charless, istrimu... dia jahat!!! dia tega memukul ku. Bukankah itu jahat?!"


"Kubilang!!"


"Tidak~ Charless, aku takut~," ucap Freya sembari bersembunyi di belakang Charless.


"Baiklah baiklah, rasanya enggak seru karena wajah Charless sangat kusut bagaikan kain pel."


Freya beranjak dari belakang tubuh Charless kemudian menuju ke samping kiri tempat tidur Ayah mertuanya.


"Freya ya?", dengan suara lemah, Ayah mertuanya bertanya dengan kondisi yang masih berbaring.


"Maaf karena memberi sambutan seburuk ini."


"Ah, tidak perlu memaksa berdiri dulu!,"


"Tapi, tidak sopan membiarkan seorang Ratu..."


"Sebentar ya, Ayah."


"Kau memanggilku Ayah...?"


"Tentu saja, meskipun hanya selir, aku tetap menganggap mu sebagai ayah mertuaku."


"Hah, sungguh aneh."


"Benar 'kan? Jadi, cepatlah sembuh dan bermain lagi denganku!"


"Pak Tua seperti ku ini sudah tidak kuat bermain kejar-kejaran."


"Aku tahu itu. Setidaknya, aku tak mau kamu tiada secepat ini. Ayah."


".... Kalau begitu, aku berharap pada dirimu. Aku tahu kamu orangnya licik. Jadi tenang saja, akan aku bayar jasamu ini."


"Terimakasih..."


Kemudian Freya menjulurkan tangannya ke atas Ayah mertuanya yang terbaring lemah.


"Mama terkadang punya sisi imut juga ya?", ucap Niera.


"Yah, dia tomboy sih. Lagian kamu juga sama, Niera," ucap Myline.


"Kau benar..."


"Kalian berdua...", Illya mendekati Niera dan Myline.


"Wah, Mak lampir datang," ucap Niera.


"Aku mau menghilang dulu,"


"Temani aku, bangsat!", menggenggam tangan Myline, Niera tak membiarkan Myline pergi meninggalkan dirinya sementara ada seorang istri yang ingin melampiaskan amarahnya kepada anak-anak dari pelakor yang berselingkuh dengan suaminya.


"Ada apakah gerangan, Nona Illya," dengan senyum terpaksa, Niera mencoba berbicara sopan terhadap seorang bangsawan selain keluarganya.


"Tidak, aku hanya.... Niera bukan?"


"Iya, kenapa?"


"....." Illya terdiam.


"Tidak ada. Aku hanya ingin berkenalan secara resmi dengan dirimu, Niera. Perkenalkan, istri calon raja kerajaan Rezeria, Illya Von Rezeria."


"Niera Von Verendrica."


"Niera..."


"Ada apa?!"


"Kamu jangan jadi seperti ibumu ya?"


"... Sudah dua kali aku mendengar kata-kata itu dalam sehari ini. Sebenarnya seberapa terkenalnya Mama sih?!"


"Dari yang kudengar, Freya orangnya blak-blakan, tapi, di saat ia mulai berserius, dirinya pasti akan mendapatkan apa yang ia inginkan meskipun harus menaklukkan berbagai rintangan yang menghalanginya. Begitulah apa yang Charless katakan padaku."


"Kalau begitu, tidak masalah aku menjadi seperti ibuku dong?"


"Maksudku, tingkah lakunya yang membuat orang khawatir."


"..."

__ADS_1


__ADS_2