Freya : The Emperor'S Daughter

Freya : The Emperor'S Daughter
Ch. 03 : Keaslian 01


__ADS_3

Tiba-tiba Yuna berkata jika dirinya tidak berguna di depanku. Padahal tepat seperti apa katanya beberapa saat lalu, aku terus-terusan merepotkan dirinya. Dan sekarang, dia berkata jika dirinya tak berguna? Kenapa bisa?


"Kau berguna untukku, Yuna. Teruslah bersamaku selamanya."


"Jika itu yang kau minta. Ah, aku masih diperbolehkan untuk bersikap santai bukan?"


"Tentu, kamu boleh bertingkah semacam apapun jika berada di dekatku."


"Terimakasih."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau beropini jika dirimu tidak berguna?", aku mempertanyakan tentang maksud dari ucapan Yuna barusan.


"Ya, pasalnya, kamu lebih kuat daripada diriku, ketika melihat kabut hitam kebiruan yang keluar dari bola sihir tadi, aku merasa bahwa diriku bukan menjadi penjaga melainkan menjadi seseorang yang dijaga," alasan yang cukup sepele.


"Memangnya kenapa?"


"Tidak... aku senang jika kamu memperlakukan ku sebagai seorang teman tapi, aku masih belum sanggup untuk melindungi mu. Secara, pelayan tak hanya berguna untuk melayani, mereka juga melindungi tuan mereka."


*Clak* Aku menyentil kening Yuna yang sepertinya berpendapat jika tugasnya sebagai pelayan, belum terpenuhi.


"Apa yang kamu lakukan?!"


"Sudah aku bilang bukan? Jangan terlalu formal pada diriku. Bego~"


"Hah?! Kau barusan menyebutku bego?"


"Kenapa? Kau memang bego bukan?!"


"Freya!!! Coba lihat dirimu sendiri sebelum kau menghina seseorang!", uwah, dia benar-benar marah?


"Aku sudah mengaca siang tadi dan aku terlihat cantik nan indah," aku rasa ini akan jadi menyenangkan.


"Freya!!!?"


"Sudah-sudah, hahahahahaha...."


"Freya?"


Tanpa sadar aku tertawa karena teringat masa dimana aku nongkrong dengan teman-teman ku di dunia lamaku.


"Maaf, sudah sangat lama aku tidak bertengkar dengan seorang teman. Ini cukup menyenangkan."


"Kau ini..."


"Maaf Yuna... nanti aku beri kau hadiah."


"Kau pikir semuanya bisa terselesaikan dengan uang?"


"Boneka beruang?"


"Ya, okelah. Baik, ngomong-ngomong Freya, apa kau menyukaiku?", tiba-tiba saja Yuna mempertanyakan hal semacam itu.


"Kenapa kau bertanya?", coba kugoda dia sedikit lagi.


"Soalnya, kamu terus memandangi ku dengan tersenyum seperti itu. Kau tahu? Jika kamu beneran cowok, aku sudah benar-benar membeku!", bohong, yang ada cowoknya yang membeku karena ucapan blak-blakan yang keluar dari mulutmu.


"Tentu saja iya. Aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu..."


"Eh?!", seperti dugaan, wajah Yuna memerah. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah disaat Yuna mulai tergoda dengan gombalanku namun, aku rasa tidak masalah menggodanya lebih lama lagi.


"Apa Anda serius?"


"Tentu, aku mencintaimu lebih dari siapapun," dengan tersenyum, aku mengatakan gombalan yang mampu meluluhkan hati seorang wanita. Termasuk cewek yang suka menghinaku ini.


"Ah.. enggak, ini salah... kamu Tuan Putri sedang aku hanya pelayanmu. Selain itu, hubungan sesama gadis itu tidak diperkenankan... gak, ini salah. Tapi kenapa?!", jantung Yuna pasti berdetak kencang. Sepertinya sudah saatnya aku mengakhiri candaan ini... aku jadi merasa semakin bersalah.

__ADS_1


"Yuna, maaf ya?"


"Eh? Ah, sekali lagi Anda mempermainkan saya, saya akan mengadukan tindakan Anda ke Ratu!"


"Eh?!", kita sama-sama memiliki senjata terkuat untuk menaklukkan satu sama lain. Yuna memiliki koneksi dengan ibuku yang membuatnya mampu melaporkan semua tindakanku. Untuk sekarang, Yuna sering berbohong. Jadi aku aman meskipun begitu, jika Yuna benar-benar membocorkannya, aku bisa mati!


Berbeda dengan Yuna, senjata terkuat yang kumiliki untuk menaklukkan Yuna adalah, memanjakan dirinya. Setelah dia mulai memasuki mode manja, aku dapat dengan mudah menyerangnya dari berbagai sisi. Meskipun kami sama-sama memiliki senjata terkuat, Yuna selalu saja mengalah dariku. Aku sangat beruntung.


"Capeknya~"


"Padahal Anda yang mengajak keluar."


"Berisik, Yuna, mulai hari ini, jangan gunakan bahasa formal untuk berbicara pada diriku! Jika masih kau gunakan, maka aku tidak akan mempedulikan nya."


"Kalau begitu, tadi Anda ditunggu oleh Ratu di dalam ruangan kerja kedua orang tua Anda."


"Eh?! Seriusan?"


"Enggak, bohong kok. Mana mungkin aku menemui Ratu dengan pakaian sehari-hari ku ini. Selain itu, Freya, katanya kamu tidak akan mempedulikan ucapanmu jika aku menggunakan bahasa formal. Tapi kenapa?", sial... dia tersenyum seakan-akan mencoba untuk mengejek dan menjatuhkan ku!


"Akan kubuat kau tidak tidur malam ini!"


"Eh?! Tidak, Tuan Putri. Kumohon jangan lakukan hal keji tersebut pada diriku!"


"Eh? Apakah kamu takut?"


"Tidak! Tapi, aku belum siap!"


"Hahaha, maka bersiaplah, Yuna. Kita akan menghabiskan malam bersama..."


"Tidak...."


Biasanya, orang akan menganggap kata menghabiskan malam sama halnya dengan *** namun sebenarnya yang terjadi di sini adalah.


"..... Dan anak laki-laki tersebut, berbalik badan seraya berharap agar dirinya dapat kabur dari sesosok berbaju putih di depannya. Sosok yang penuh bersimbah darah, rambutnya sangat panjang, wajahnya mengerikan. Anak laki-laki tersebut berharap dapat kabur dengan tenang namun ternyata...." aku membacakan cerita horor yang mana, Yuna sangat tidak menyukai cerita horor ataupun sesuatu yang menakutkan.


Kami melakukan aktivitas ini dengan posisi, aku mendekap tubuh Yuna dari belakang. Bisa dibilang, aku memangku Yuna lalu membacakan cerita yang aku ingat dari dunia lamaku.


"Sesosok itu berada tepat di depan wajahnya meskipun telah berganti arah."


Karena dekatnya telinga Yuna dengan mulut ku, hal ini membuat Yuna semakin terbayang-bayang akan gambaran dari setiap kata yang aku ucapkan.


"...", eh, Yuna nangis?


"Kau tahu apa yang terjadi pada anak laki-laki itu?"


"Aaa--apa?"


"Dia... menjerit ketakutan. Suaranya terdengar hingga ke luar rumah angker yang ia masuki. Ketika mencoba untuk kabur, sungguh malang...."


"Sesosok itu ada di depannya lagi?"


"Muncul dari atap...."


"Kkkkk... apakah itu sesosok yang sama?"


"Tidak lah. Bukankah wanita berbaju putih itu tengah mengejar anak laki-laki di dalam cerita?"


"Lalu, siapa?"


"Dia.... legenda menyebutkan, nama dari sesosok yang muncul dari atap, adalah, tuyul...."


"Apa itu?"


"Badannya kecil, hampir mirip dengan anak-anak goblin namun larinya sangatlah cepat."

__ADS_1


"?!"


"Anak laki-laki tersebut berhasil menghindari tuyul tersebut namun malangnya, dia tersungkur ke lantai kayu. Kakinya terkena luka sobek. Akibat lantai yang berlubang."


"Sobek?! Maksudmu itu parah?!"


"Ya.."


"Hentikan... Freya, sudah cukup aku akan melakukan apapun selain hal ini jadi, hentikan, kumohon."


"Tidak, ini hukuman kau tahu!"


"..... Enggak!!!" dia meronta-ronta. Beruntung aku mendekap tubuhnya dengan cukup erat. Jadinya dia tak bisa kabur dariku.


"Melakukan hal mesum, tidak lebih buruk daripada mendengarkan cerita semacam itu...."


Ini cukup aneh, baik bagiku, dan juga bagi Yuna. Pasalnya, setelah aku mencoba menahan Yuna yang hendak kabur dari kamarku, aku membanting Yuna ke atas kasurku lalu aku mendudukinya. Dan sekarang, kami benar-benar malu.


"Maaf."


"Tidak masalah... lain kali ikat saja aku."


"Ya, terimakasih sarannya."


"Eh?"


Setelah kejadian itu, suasana nya jadi canggung. Aku tak berani berkata apapun kepada Yuna. Begitupula dengan diri Yuna. Kami hanya terbaring menghadap ke masing-masing sisi lain. Sampai Yuna menyuruhku menatap dirinya.


"Terimakasih, Freya. Hari ini sungguh menyenangkan. Aku hampir melupakan jati diriku sebagai seorang pelayan dikarenakan apa yang aku lakukan bersamamu hari ini."


"Aku ikut senang jika kamu senang, Yuna. Selain itu, teman terdekat yang aku miliki hanya dirimu seorang. Aku tidak keluar sebelum tugas selesai. Jadi aku jarang keluar bersama teman-teman akademiku."


"Lebih baik begitu dari pada jika kamu jalan dengan cewek, aku takut dia akan meminta pertanggungjawaban dari dirimu."


"Mau ku bacakan cerita sebelum tidur?"


"Tidak, terimakasih."


Lalu, Yuna memejamkan matanya. Begitupula dengan diriku. Kami berdua tidur dan terbangun di hari esok yang cerah.


Aku tidak pernah tahu jika Yuna dapat seimut ini. Sebelumnya yang kutahu, dia hanyalah orang menyebalkan. Pada awal kami berdua bertemu, dia langsung mengatakan kata-kata yang begitu menusuk hati.


Aku sangat ingat. Pada saat itu aku masih berusia 9 tahun. Dan pada saat itulah, aku mendapatkan pelayan pribadi yang mana pelayan tersebut, sepantaran dengan diriku. Aku agak terkejut awalnya. Aku pikir mempekerjakan anak untuk menjadi pelayan itu sesuatu yang buruk. Jadi aku sedikit kesal kala itu.


Nah di saat itu lah, Yuna pertama kali menghinaku. Awalnya aku merasa kesal dengan setiap ejekan Yuna. Namun lama kelamaan, aku jadi terbiasa dan kami telah bersama kurang lebih 6 tahun lamanya.


Dan selama 6 tahun lamanya kami bersama, aku baru saja menyadari jika Yuna hanyalah gadis biasa. Uwah, apa yang aku katakan?


Lupakan....


"Loh, mau kemana dengan koper-koper itu, Freya? Selain itu, kenapa kau tidak membangunkan diriku. Aku pelayanmu, kau tak perlu capek-capek mengurusi apa yang menjadi tugasku..."


Freya menghiraukan perkataan Yuna kemudian melanjutkan apa yang dia kerjakan. Setelah memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper, termasuk pakaian Yuna, Freya kemudian melepas pakaian tidurnya lalu menggantinya dengan seragam sekolah.


"Apa kamu lupa? Bukankah hari ini kita ada kemah bertahan hidup?"


"Eh?", Yuna terkejut dengan ucapan Freya barusan. Dengan keras Yuna mengingat apa yang terjadi kemarin lalu kemudian tak lama, dirinya tersadar dengan apa yang dia tak sengaja lupakan.


"Di dalam hutan? Di tengah hutan? Kita akan tinggal di dalam hutan selama 5 hari lamanya?", dengan perasaan takut, Yuna meminta penjelasan ulang tentang apa yang dia ingat kemarin.


"Yups."


"Enggak!!! Freya, bisakah kamu berangkat tanpa diriku?", bukannya membantu Freya, Yuna malah masuk kembali ke dalam selimutnya.


Hal tersebut sontak membuat Freya seketika berlari menuju ke tempat Yuna tidur kemudian memaksanya untuk bangun.

__ADS_1


"Apa kita benar-benar harus melakukan hal semacam ini?", sesampainya di lokasi, Yuna bertanya kepada Freya tentang kemah bertahan hidup yang akan mereka jalani.


<>


__ADS_2