
Freya dan Yuna telah sampai di medan berperang antara kekaisaran dengan kerajaan hanya karena mereka ingin mengangkat calon kaisar baru selain Freya.
Mereka berdua berjalan menuju ke lokasi dimana raja negara seberang berada. Tentunya keberadaan Freya dan Yuna disambut baik oleh para prajurit. Terlebih, perang akan berjalan lama dan tentunya para prajurit akan bosan jika tidak ada hiburan sama sekali. Oleh karena itu, mereka tidak menanyai dari mana Freya dan Yuna berasal. Mereka langsung membawa Freya dan Yuna masuk agar keduanya dapat dengan mudah dijebak.
Begitulah niat mereka pada awalnya. Meskipun, hal semacam ini tentunya membawa petaka bagi kerajaan mereka, namun disaat nafsu tidak lagi terbendung, maka akal tak lagi berguna.
Niatnya Freya dengan Yuna ingin sedikit bermain-main, dengan artian, mencincang beberapa prajurit. Akan tetapi, sepertinya mereka harus mengurungkan niat mereka karena keduanya langsung dibawa menuju ke tempat dimana raja berada.
Prajurit yang sangat pengertian. Mereka membiarkan Raja mereka mencicipi Freya dan Yuna terlebih dahulu. Barulah kemudian mereka menggilir Freya dan Yuna.
Namun, sayangnya mereka tidak mengetahui jika.....
"Pedang?!"
"Sialan, dikeluarkan dari mana pedang miliknya itu?!"
"Lindungi paduka!!!"
"Eits, jangan bergerak. Sedikit saja bergerak, leher Raja kalian akan putus. Asal kalian tahu saja, pedang ini terbuat dari material yang keras. Selain itu, ini juga tajam," dengan senyum menyeringai, Freya berkata untuk menakut-nakuti para pasukan yang ada.
Tak hanya Freya yang mengeluarkan senjata, Yuna juga mengeluarkan belati dari balik roknya, kemudian bersiaga melindungi Freya.
"Paman, aku di sini untuk bernegosiasi."
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku merupakan putri kekaisaran yang sedang Anda lawan."
"Huh?!"
"Aku punya penawaran menarik."
".... Apa itu?", Raja terlihat tertarik dengan perkataan Freya. Meskipun dibilang terlihat tertarik, ini lebih seperti Raja tertekan dan mau tak mau harus mengiyakan apa kata Freya.
"Pura-pura lah mengalah. Aku akan menjamin keselamatan mu jika kamu menurut."
"Pura-pura kau bilang?"
"Setelah aku mendapatkan atau tidak mendapatkan apa yang aku mau, kau bebas melakukan apapun termasuk, berperang ulang dengan kekaisaran ku."
"Huh?!"
"Ayolah, Paman. Bantu aku, aku membutuhkan bantuan mu agar diriku menjadi kaisar wanita pertama yang melanjutkan perjuangan Ayahku!"
"Apa mungkin, kamu nekat melakukan hal ini hanya untuk sekedar cari muka?"
"Benar sekali~"
"Ah sudahlah, mau ditolak tapi leherku akan terputus. Mau tak mau aku harus mengiyakannya ya?"
"Benar sekali, Paman!"
"Baiklah. Ngomong-ngomong jika kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan...?"
"Aku akan pergi, entah kemana angin membawaku."
"Kau akan melepaskan diri dari kekaisaran?"
"Aku tak diperlukan di sana, jadi untuk apa aku bertahan?"
"Aku tak habis pikir," Raja menghela nafas.
"Kau benar..."
"Bagaimana jika kamu ke negara ku saja? Akan kuberikan posisi yang pantas untukmu," ucap Raja membuat Freya sedikit terkejut sekali bersedih.
"Aku menghargai tawaran Anda tetapi, sayangnya aku memiliki satu negara yang juga saya pimpin."
"Eh... kalau begitu, bisakah kita bekerja sama?"
"Mohon maaf, negaraku masih primitif. Bahkan penghasilan negara kami masih dari berburu dan menjual kulit."
"Kalau begitu, akan kami bantu."
"Apa Anda yakin? Negara saya adalah tempatnya monster dan iblis... yah, aku akan sangat senang jika Anda benar-benar menjalin hubungan kerja sama dengan kami tetapi, masalahnya adalah, kenyamanan Anda saat bekerja sama dengan kami."
"Kau memimpin iblis dan para monster?"
"Begitulah... awalnya negara ini punya temanku, namun karena dia sangat sombong dengan kekuatannya, negaranya jadi terlantar dan kini, negaranya sangat primitif."
__ADS_1
"Tak masalah! Yang terpenting, pemimpinnya bukanlah seorang iblis juga."
"Terimakasih."
Dengan begitulah, Freya mendapatkan satu negara untuk diajak bekerja sama. Meskipun masih belum saling menguntungkan tapi Freya akan berusaha agar negaranya dapat menguntungkan.
Raja pura-pura tertangkap oleh Freya, kemudian menandatangani surat perjanjian masuk wilayah dan akhirnya, Raja dibebaskan.
Sesuai apa yang Freya inginkan meskipun begitu.....
**
Baiklah, ini dia....
Berdiri di dalam ruang singgasana, aku, Yuna, Ibunda, Fernasn dan juga yang duduk di atas singgasana, Ayahku.
Aku pergi ke ruang singgasana untuk menagih janji yang Ibunda janjikan sebelum aku berangkat membantu kekaisaran.
"Apa yang akan dikatakan dunia jika kekaisaran dipega—"
"Cukup!", Ibunda membentak ucapan ayah yang berniat mengacaukan perasaanku.
"Janji adalah janji, jika tanpa adanya Freya di sana, kekaisaran kita akan kalah berperang dan semuanya akan hancur berantakan! Termasuk kedamaian kita!"
"Tak sopan! Memangnya kau siapa hingga menjanjikan hal bodoh tanpa persetujuan ku?!", mulai... Ayah selalu menjunjung tinggi aturan para leluhur. Jadi ia tidak akan pernah menyerahkan segalanya padaku. Meskipun aku telah berjuang banyak demi kekaisaran ini.
"Sudah cukup! Kekuatan Freya lebih besar dari apa yang kau pikirkan!"
"Lebih besar..? Bisa apa gadis seperti Freya itu? Jika tidak dibantu oleh Yuna, pasti dia akan tertangkap oleh lawan dengan sangat mudah."
"Sayang!"
"Diamlah!!"
Benar, kalian lebih baik diam....
"Apa yang anak ini ingin lakukan?"
Aku mengangkat tangan kananku, kemudian membuka sebuah portal menuju ke tempat dimana kontrak wilayah kekaisaran dengan kerajaan disembunyikan.
"Singkatnya, apa yang Ibunda bilang adalah kebohongan, ya?"
Seketika surat tersebut terbakar dari bawah lalu lenyap menjadi debu di tanganku.
"Ahh, memang seharusnya, aku biarkan kekaisaran ini hancur dalam peperangan, 'kan, Ibunda?! Apakah dirimu melihatnya? Tatapan Ayahanda yang tampak tidak memerlukan anak perempuan?! Hahahaha, hahahah ha..."
"Anak ini gila, penjaga!!", wah, ayah hendak mengusirku?
"Jangan bergerak, aku mohon," dengan seringai, aku menahan tanganku untuk aku jentikkan. Tapi, karena mereka tetap bergerak, apa boleh buat.
Akhirnya aku jentikkan saja jariku. Sontak, tak lama kemudian, muncul dalam jumlah banyak, sekeleton yang bersembunyi dibalik bayangan di dalam ruangan singgasana ini.
Mereka melingkari tempatku berdiri, mereka tak akan membiarkan seorang pun melewati batas yang telah ditentukan.
"Ah, aku akui itu dibantu dengan tentara iblis. Tapi bagaimana dengan hal ini, Ayahanda...."
"Freya, kumohon!!"
"Diamlah, Bu! Seperti yang aku bilang, jika kau berbohong, akan aku ratakan kekaisaran ini dengan tanganku sendiri! "
"Tolonglah!!! Baiklah, akan aku bujuk ayahmu. Tolong jangan.... bunuh dia!"
"Kau memerintah atau melarang? Terdengar jeda dalam ucapanmu. Tapi, ku beri satu kali kesempatan lagi untuk kalian. Jika kalian tetap bersikeras mempermainkan ku, aku juga akan bersikeras meratakan kekaisaran ini dengan tanah!"
Aku bodoh ya? Aku tahu hal ini tidak akan membuahkan hasil, namun aku tetap menaruh harapan... benar-benar bodoh.
"Freya!!! Kau sangat lama!!!"
"Myline?"
Di saat ketegangan mulai memuncak, Myline tiba-tiba datang menghampiriku, hanya satu tujuannya. Yaitu, dia menginginkan jatah darah dariku!
"Aku lapar kau tahu?! Aku belum menghisap sedikitpun darah dari tubuhmu hari ini!"
"Ayolah Myline, sebentar lagi, kau mengacaukan momen ku!"
"Eh?!"
"Kalau butuh bantuanku, jangan sungkan-sungkan!"
__ADS_1
Kemudian Myline pun pergi... sebelum dia memojokkan diri, Myline sengaja menusuk seorang prajurit kemudian mewadahi darah yang muncrat dari tubuh prajurit tersebut dengan menggunakan gelas anggur yang ia bawa.
Sudah jelas Myline ingin melihat kehancuran kekaisaran ini dengan mata kepalanya sendiri....
"Siapa dia tadi.....?!", dengan raut wajah takut serta badan gemetar, ayah bertanya padaku.
Tentunya aku tak menjawab, aku tak peduli. Biarkan dia tertekan rasa takutnya.
"Tidak...."
"Heh.... Seharusnya aku tidak membantu kalian ya...? Kalau begitu, selamat tinggal..."
"Freya, jangan!!!"
Mereka sangat ketakutan di saat aku mengangkat tangan kananku, meskipun tampangnya datar, Ayah terlihat gemetaran menunggu serangan ku selanjutnya.
"Ah, lupakan.... jika dengan tanganku sendiri, ini jadi tidak seru," benar, aku punya ide lain.
"Heh," Myline menyeringai kemudian mendekatiku.
"Dari pada aku hancurkan, kelak suatu saat nanti, aku akan kembali untuk mengambil alih takhta yang seharusnya menjadi milikku. Kak Fernasn, jangan dendam padaku! Dari awal, takhta kekaisaran hanyalah milikku!"
"Benar, Freya.... dari pada mengurusi kekaisaran bobrok ini, lebih baik kau mengurusi negaraku..."
"Diamlah, memulai ulang itu sulit, jadi akan aku gunakan negaramu sebagai ujicoba."
"Baiklah, Ratu ku."
"Berisik!! Dengan begitulah, Freya Von Cellescia melepas nama keluarga ku dalam pertemuan kita yang terakhir ini! Aku harap kita tidak menjadi musuh disaat aku kembali suatu saat nanti."
Setelah itu, aku menjentikkan jari dan kami bertiga, tenggelam di dalam portal teleportasi.
Aku ingin terlihat keren kau tahu?
"Kenapa kau melepas kekuatan sebesar itu, Sayangku?!"
"Mau bagaimana lagi?! Mau dilihat dari mana pun, perempuan tidak akan cocok menjadi pemimpin. Lagipula, lihatlah Fernasn, dia sangat bijak menyikapi segala hal dan sigap dalam menindak lanjuti permasalahan!"
"...."
****
Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan....
Aku mengecek berkas-berkas yang Myline serahkan padaku. Berkas-berkas tersebut meliputi berbagai macam kebutuhan yang harus segera ditindaklanjuti.
Dan yang paling mengejutkannya lagi, berkas-berkas itu jumlahnya tidak kurang dari apa yang Ayahku sering berikan padaku dulu.
"Sebuah negara memerlukan sumber penghasilan, apa sumber penghasilan yang kita punya?", aku bertanya pada Myline yang sepertinya, tidak terlalu memperdulikannya.
"Menjarah?"
"Hei bung, aku ingin negara yang sehat!"
"Sepertinya aku punya beberapa tambang tapi tidak kupedulikan."
"Bagus, kita bisa gunakan tambang sebagai senjata utama dalam menjalin hubungan kerja sama. Yang kita perlukan sekarang adalah, pekerja."
"Ah, jangan khawatir dengan pekerja, ada banyak iblis yang aku punya...."
"Bagus, setidaknya dalam sebulan, kita bisa mengajari mereka. Lalu, masa penghuni negara hanya beberapa iblis? Selain itu, mereka tinggal di bawah tanah? Ayolah, kita butuh negara berbentuk negara kau tahu?"
"Itu sih... akan kuserahkan pada dirimu."
"Oke, aku bisa meminta pertolongan pada kerajaan seberang kekaisaran. Lalu, kalau bisa tambahkan beberapa ras lain ke negara ini. Aku yakin banyak yang mau masuk ke wilayah dimana terdapat orang kuat di dalamnya."
"Apa yang kau rencanakan, Freya?", wajar dia bertanya.
"Tidak ada yang spesial, hanya saja, aku penasaran, apa kucing di dunia ini selembut kucing di dunia ku."
"Ah... hahahaha, tapi asal kamu tahu saja, kucing di dunia ini berwujud manusia!"
"Aku tahu itu! Katanya ras beast merupakan salah satu ras dengan pertumbuhan yang cukup lambat bukan?"
"Baiklah baiklah, apapun demi dirimu. Apa perlu kita menambah elves ataupun dark elves?"
"Itu menarik juga, lebih banyak warga lebih baik. Dan hal itu membuatku bersemangat!"
"Dimengerti, segera akan aku carikan!"
__ADS_1
Dan inilah, awal kisah ku membangun negaraku sendiri.