Freya : The Emperor'S Daughter

Freya : The Emperor'S Daughter
Ch. 16 : Sebelum kejadian


__ADS_3

Ibunda ikut tinggal bersamaku mulai kemarin. Meskipun aku masih khawatir dengan Ayahanda yang akan mendeklarasikan perang, untuk sekarang, aku rasa hari-hariku yang damai akan berjalan cukup lama.


Setidaknya... sampai Franklin berhenti menangis!


—12 tahun kemudian


Franklin telah tumbuh dewasa, meskipun kubilang dirinya telah tumbuh dewasa, usianya baru genap 12 tahun. Tetapi, bakatnya dalam mengendalikan pedang di tangannya, hampir setara dengan teknik berpedang yang aku kembangkan untuk para tentaraku.


Perlu waktu cukup lama bagi para tentaraku untuk mengendalikan teknik berpedang buatanku. Akan tetapi, Franklin dapat melakukannya hanya dalam waktu beberapa bulan. Normalnya, mereka yang berlatih teknik berpedang pedang yang aku kembangkan, memerlukan setidaknya 3 tahun untuk dapat menguasai teknik berpedangku.


Tetapi Franklin.... aku rasa DNA juga berpengaruh terhadap kekuatan nya.


"Mama!! Apa ada hal lain yang dapat aku coba? Aku bosan jika harus berlatih pedang terus-menerus setiap hari."


"Mmm," dengungku, "Coba tanyakan itu pada Myline."


"Geh....", terlihat wajah tak senang terukir di wajah nya, "Aku malas berurusan dengannya. Aku yakin dia hanya akan menggodaku!"


"Haha itu sudah jelas. Hanya kamu satu-satunya laki-laki di dalam kastil ini."


"Yasudah, aku mau lanjut berlatih dulu!"


"Baik~ jangan memaksakan diri ya?"


"Mama tenang saja!"


Putraku tumbuh sempurna seperti yang aku harapkan. Begitupula dengan Niera, putriku yang berusia 18 tahun.


"Hei, Niera... berapa kali harus Mama katakan, kenapa pakaianmu selalu saja rusak saat kamu kembali?"


"Ah... apa tadi terkena ranting-ranting tajam...?"


"Tidak mungkin, kain dan benangnya dipilih langsung olehku. Mana mungkin pakaian yang kita gunakan mudah rusaknya."


"..."


"Yah, sudahlah. Pergi mandi sana. Dan, sesekali tatalah penampilanmu! Bukankah kamu perempuan?"


"Berisik~ memangnya Mama tak pernah mengaca hah?"


"Justru karena aku mengaca, aku memintamu melakukan hal yang tak aku lakukan dulu. Aku tak ingin kamu menyesal di akhir nanti."


"Tenang saja, aku tidak berniat memecahkan perawanku sebelum menikah kok. Jadi aku tak akan menjadi seperti dirimu."


"Huh, setidaknya aku akan senang jika kamu membawa pulang seorang laki-laki untuk dikenalkan kepadaku. Tapi yang ada, kamu setiap hari pulang dengan hasil buruanmu. Ayolah, Mama mu ini tidak selamanya bermalas-malasan. Aku perlu menjadi ratu di negaraku!"


"Aku belum berniat untuk menikah. Selain itu, aku tidak suka dijodoh-jodohkan. Jadi, aku mohon dengan sangat, supaya Mama memahami perasaanku."


"Meskipun begitu Niera, kamu harus segera mencari jodoh! Mama mu ini ingin cucu darimu."


"Apa kau sedang sakit?", putriku pasti menganggapku aneh di saat aku berkata seperti itu kepada dirinya.


"Sudah, apa kamu sangat suka menunjukkan kulitmu?", aku mengalihkan pembicaraan dan menyuruh Niera pergi mandi.


"Aku tak ingin mendengar kata-kata itu dari perempuan yang selalu berpakaian seksi di depan mataku."


"Ini masih terbilang sopan kau tahu!"


"Iya-iya, suka-suka Mama saja. Ngomong-ngomong, aku ingin pergi menemui Ayah. Aku ingin bicara sesuatu dengan dirinya."


"Ah, kalau begitu aku ikut."


"Kenapa?", pakai nanya. Sudah jelas aku juga merindukan dia! Meskipun dia telah menikah sekarang, aku masih mencintainya.


"Ah, wajahmu memerah. Mama sangat lucu di saat menahan malu. Seharusnya Bibi Myline dan Bibi Yuna ada di sini untuk melihat wajah mama yang malu."


"Berisik!"


"Hahaha..."


Dibandingkan menyebutnya sebagai anak, aku merasa jika Niera bukanlah anakku melainkan, seperti temanku sendiri. Berbicara dengan leluasa, status ibu dan anak hanya sebatas rasa sungkan. Ah, aku harus mulai menata dirinya agar masa depannya terjamin.


"Yuna."


"Ya, Ratuku?"


"Aku memerintah dirimu untuk segera memiliki anak!", dengan senyum, aku membelai pipi Yuna dengan wajah kami yang berdekatan antar satu dengan yang lain.


"Ada apa tiba-tiba? Freya, apa kamu sakit?"


"Jangan menyukaiku, Yuna. Aku perempuan, dan aku tidak dapat memberimu seorang anak."


"Seriusan, kamu ini kenapa sih, Freya!" Yuna dengan malu melepaskan diri dariku. Dan lalu menjauh sejauh-jauhnya dari tempat ku berdiri.


Entah apa yang ia pikirkan. Sebagai seorang majikan yang baik, aku harus lebih memperhatikan dirinya.


****


Berlari di lorong dengan seragam pelayannya, Yuna berlari tanpa tujuan. Setidaknya tujuannya kali ini adalah untuk pergi menjauh dari Freya.


"Ah...."


Di saat ia tidak memperhatikan sekeliling, di persimpangan, Yuna menabrak Vampir yang tengah berjalan santai bersama dengan Fillfya.


"Auch.. kenapa sih, Yuna? Biasanya kamu memarahiku saat aku berlari di lorong. Kenapa sekarang malah kamu yang berlarian di lorong?", ucap Vampir yang masih terduduk di lantai.


"Tunggu, kenapa wajahmu memerah?! Kenapa matamu berair? Yuna, kau menangis?", lanjut Vampir setelah melihat kondisi wajah Yuna setelah Yuna berdiri kembali.


"Bukan urusanmu!", ucap Yuna kemudian melanjutkan langkahnya.


Itulah niat awal Yuna setelah ia bangun berdiri kembali.


"Itu urusan ku juga! Kau dan Freya tak pernah bertengkar selama ini. Jadi, ceritakan ada masalah apa sampai membuatmu seperti ini? Setidaknya jika kamu menceritakan nya ke seseorang, pasti beban yang kau tanggung akan semakin ringan.", hanya saja, Vampir mencegahnya pergi. Alhasil, Yuna terpaksa harus menuruti keinginan Vampir agar ia dapat kabur dengan selamat.


"Apa Fillfya mengganggu? Kalau kamu merasa terganggu dengannya, aku akan menyuruhnya pergi sebentar," ucap Vampir setelah membawa Yuna ke tempat rahasianya.


"Aku justru ingin kamu pergi dari hadapanku, Kyu," ucap Yuna dengan wajah masamnya.


"Jahatnya~"


"Fillfya, aku ingin saran darimu," ucap Yuna dengan tidak mempedulikan keberadaan Vampir.

__ADS_1


"Huh?", Fillfya yang hanya terseret ikut oleh si Vampir, seketika bingung dengan apa yang akan Yuna tanyakan kepada dirinya.


"Jadi, Fillfya. Bagaimana perasaanmu jika seseorang yang kau cintai, berkata kepada dirimu untuk tidak mencintainya lagi?", Yuna bertanya sesuai apa yang ia alami.


"Mmm... aku rasa aku akan sangat kecewa. Kesampingkan soal sifat Kyu yang terus-menerus membuatku cemburu, Kyu tidak pernah menyuruhku untuk berhenti mencintai dia," jawab Fillfya menjawab pertanyaan Yuna, "Selain itu, kenapa kamu bertanya tentang hal itu? Apa Ratu yang mengatakan kata-kata itu pada dirimu?", tanya Fillfya.


"Hari ini, entah mengapa Freya tiba-tiba menyuruhku untuk mencari pasangan. Aku rasa dia rindu momen dimana dia kesusahan dengan tangisan anak-anaknya saat masih kecil. Freya ingin merawat setidaknya satu bayi lagi namun, Charless telah menikah dengan seseorang. Jadi, sulit bagi Freya mencari momen bersama bersama Charless. Oleh karena itu, dia menyuruhku untuk segera memiliki momongan."


"Kenapa tidak kamu turuti saja?", Vampir memberi Yuna saran.


"Tidak bisa."


"Huh?"


"Aku tak bisa meninggalkan Freya. Jika aku menikah, otomatis aku akan tinggal bersama dengan suamiku untuk selama hidupnya. Dengan kata lain, aku harus meninggalkan Freya setidaknya 40-60 tahun lamanya. Aku tak ingin itu terjadi! Aku tak ingin jauh dari Freya. Dia yang membawaku ke tempat ini tetapi dia juga yang mengusirku dari tempat ini... bukankah ini aneh?", perlahan, Yuna mulai meneteskan air mata nya.


"Tapi, bukankah Freya ingin merawat satu bayi lagi?", Vampir bertanya.


"Iya, tapi..."


"Tak perlu hidup bersama dengan suamimu. Kamu hanya perlu benih darinya dan itu sudah cukup untuk membuat Freya senang," Vampir memberikan saran.


"...."


"Seperti ini. Kamu mengandung anak dari lelaki berinisial A misalnya. Setelah mengetahui hamil, kamu langsung memutuskan lelaki A itu dan kemudian kembali ke Freya. Lalu kalian bisa merawat anak itu bersama-sama. Selain itu, aku jadi punya teman bermain lagi! Duh... semenjak mereka beranjak dewasa, mereka jadi sulit diajak bermain," keluh Vampir.


"Tetapi, aku.... takut. Aku masih terbayang dengan teriakan Freya saat ia melahirkan Niera dan Franklin. Freya yang sekuat itu, tidak mampu menahan rasa sakit saat melahirkan. Apalagi dengan diriku?"


"Tenang saja, itu normal kok. Selain itu, kamu telah abadi bukan? Mungkin rasa sakitnya tak akan terasa jika kamu mampu menahannya."


"Makasih, Fillfya. Aku menghargai saran darimu tapi.. sejujurnya, aku ingin malam pertamaku bersama Freya. Bukan laki-laki lain," ucap Yuna sembari menatap langit biru yang cerah.


"Kenapa kamu tidak memaksa Freya untuk melakukan itu?", Vampir bertanya.


"Aku akan dicap sebagai pelacur jika melakukan hal itu secara sadar. Selain itu, tidak sopan memaksa seorang Ratu untuk meniduri diriku."


"Kalau begitu, maka jawabannya hanya ada di Ryuushi," ucap Vampir memberi Yuna saran.


"Ryuushi?", Yuna menanyakan ulang.


"Aku yakin dia punya obat yang cocok untuk kasus mu ini," dengan senyum licik, Vampir memberi saran negatif pada diri Yuna.


"Yuna, jika kamu ingin menemui Ryuushi sekarang, dia berada di ruangannya. Lalu, aku ingin ikut bersamamu," ucap Fillfya menggandeng tangan Yuna.


"Kau berselingkuh di hadapanku secara terang-terangan?!", Vampir sontak marah dengan apa yang ia lihat tadi.


Setelah Yuna berterimakasih kepada Kyu dan Fillfya, Yuna dan Fillfya kemudian menuju ke tempat dimana Ryuushi, succubus yang jago membuat ramuan berada.


"Ada apa, tak biasanya, pelayan pribadi Ratu, tangan kiri Ratu datang ke ruangan ku selain memarahiku?"


"Ryuushi, aku mohon apa kamu punya ramuan cinta? Jika tak punya, apa kamu bisa membuatnya?"


"Ramuan cinta?", Ryuushi menanyakan kembali.


"Iya," tegas Yuna.


"Eh, aku tak percaya, gadis yang selalu mengagumi Ratu, berniat untuk meracuni Ratu."


"Lalu, untuk apa kamu meminta ramuan cinta? Kau tahu, aku menyebutnya racun karena efeknya baru akan berhenti setelah dua hari."


"Aku tidak meracuni dia!", tegas Yuna kembali.


"Iya deh iya. Lalu, Fillfya. Apa kamu ingin mengasari Kyu lagi?"


"Apa tidak boleh? Aku dan Kyu terikat sebuah kontrak."


"Baiklah. Yuna, jangan biarkan Ratu keluar kamar setelah menegak ramuan cinta itu," ucap Ryuushi membuat peringatan bagi diri Yuna.


"Dimengerti."


Setelah keduanya mendapat apa yang mereka mau, keduanya langsung berpisah dan segera menuju ke tempat target.


Freya berada di kamarnya, memikirkan tindakan ayahnya yang tak kunjung berhenti. Ayah Freya selalu memaksa Freya untuk memberikan putranya agar dijadikan sebagai penerus kekaisaran. Tetapi, Freya tetap menolaknya. Hingga sekarang, Freya masih memikirkan langkah selanjutnya.


Mungkin ia tidak fokus gara-gara hal tersebut.


"Yuna, kau kembali?"


"Ah, hohoho, nikmati waktu kalian," saat Yuna kembali, terlihat Myline yang hampir selesai menghisap darah Freya. Baru setengah dari porsinya yang biasa, Myline harus pergi lebih cepat dari biasanya karena kedatangan Yuna dengan ramuan cinta di kantongnya.


"Tunggu, kenapa pintunya kamu kunci? Yuna, katakanlah sesuatu!", dengan keringat dingin mengalir di pipinya, Freya memohon pada diri Yuna agar tidak melakukan sesuatu yang tidak ingin Yuna sesali di kemudian hari.


"Freya, aku memerlukan waktu khusus. Selama menjadi pelayanmu, aku tidak pernah digaji olehmu."


"Tidak pernah digaji? Yuna, bukankah kamu bisa langsung ambil uangnya saja?", Freya perlahan mundur menjauhi Yuna.


"Ahn... Kenapa kau jahat padaku, Freya?"


"... Yuna, apa maumu? Jangan membuatku takut dong!"


"Apa mauku? Aku mau, aku ingin dirimu. Freya, menyatulah denganku!", Yuna memojokkan Freya ke tempat tidur di kamarnya.


"Menyatu...? Yuna... jangan bilang?"


"Benar, mari lakukan itu, Freya," ucap Yuna sembari mengambil ramuan cinta di dalam kantungnya.


"Tunggu, dari mana kamu dapat benda itu?!", sontak, Freya berteriak kencang ketika melihat sebuah ramuan cinta yang Yuna bawa.


"Freya, aku akan menanyakan hal ini pada mu sekali lagi. Freya, apa kamu menyukaiku?"


"...."


"Jawab dong, Freya ~" ucap Yuna membelai pipi halus Freya.


Freya di sana, terlihat pasrah dengan keadaannya sekarang. Ia pasrah dipojokkan oleh diri Yuna karena ia tak ingin menyakiti Yuna lebih jauh lagi.


Freya sadar, jika Yuna marah terhadap dirinya karena dirinya memaksakan kehendaknya pada diri Yuna. Sebagai permintaan maaf, Freya hendak menuruti satu keinginan Yuna. Namun tetapi, sebelum ia meminta maaf, Yuna telah bertindak terlebih dahulu.


Karena sangat terpaksa akibat tidak ingin Yuna menjauh darinya lagi, Freya tak melakukan apapun di saat Yuna memaksanya kali ini. Yang bisa ia lakukan hanyalah meredakan emosi Yuna jika memungkinkan.


Akan tetapi, ketika Yuna telah usai meminum habis ramuan yang terdapat di dalam botol kecil itu, Freya hanya bisa berharap jika Yuna tidak melakukan hal aneh disaat ia dalam pengaruh ramuan cinta.

__ADS_1


"Tidak.. .", menahan tangis, Freya memohon ampun kepada diri Yuna agar setidaknya, Yuna tidak menyiksa diri Freya.


Mengingat jika Yuna sangat suka mendominasi diri Freya, membuat Freya memiliki semacam ketakutan terhadap diri Yuna. Ia takut jika Yuna akan benar-benar mendominasi dirinya.


"Ini hukuman, Freya~"


"....."


*******


"Wah.... dalam tiga hari ini, jeritanmu sangat kencang yah? Duh, seharusnya aku mengintip masuk kemarin," ucap Myline di meja makan.


Mereka membahas tentang jeritan Freya selama tiga hari ini. Tak hanya jeritan, teriakan minta maaf juga terdengar hingga ke luar kamarnya. Tangisannya juga ikut terdengar oleh para bawahannya. Termasuk, ibu dan anak-anaknya.


"...."


"Weh.... tumben kamu enggak memberontak seperti biasanya?"


"Ugh, berisik, Myline. Aku tak tidur selama tiga hari tahu! Semua badanku terasa nyeri, meskipun keabadian telah memulihkan tubuhku kembali, rasa nyerinya masih terasa!", ucap Freya sembari menyantap sarapannya setelah tiga hari tidak makan dan minum.


"Fre--- Ratuku...", di saat Yuna datang untuk bergabung setelah beberapa saat, seketika Freya langsung tersedak lantaran terkejut dengan suara Yuna yang ia dengar.


Meskipun tahu jika Yuna yang normal sangat berbeda dengan Yuna yang dalam pengaruh obat-obatan, trauma yang Freya alami tak dapat reda dalam waktu yang begitu singkat.


"Wah, orang terkuat di kerajaan Verendrica, kalah dengan tangan kirinya sendiri. Kau sangat imut, Freya."


"Berisik!", dengan malu dan takut, Freya mengatakan hal itu tanpa mengangkat kepalanya. Hal itu dikarenakan, Yuna duduk di samping dirinya.


Ia sangat ingin menjauhi Yuna sementara sampai trauma nya mereda namun, jika ia melakukan nya, maka Freya hanya akan membuat Yuna memiliki alasan untuk menghukumnya lagi.


"Selanjutnya, tak kubiarkan kamu berada di atasku!", ucap Freya dengan nada tegas.


"Maaf...."


"Yah, terserah. Setelah makan, ikut aku, Yuna!"


"Kemana?"


"Hah?!", Freya seketika menatap tajam ke diri Yuna.


"Baik."


Semua orang yang berada di ruang makan, tidak berani mengucap sepatah kata apapun, termasuk ibunda Freya sendiri. Dan bahkan, Vampir yang biasanya selalu nimbrung dalam pembicaraan Freya, kali ini hanya terdiam saja di kursinya.


Sepertinya Vampir dan Freya mengalami kejadian yang sama.


"Freya, kamu marah padaku?"


"...."


"Kumohon jawab aku!", Yuna memaksa Freya berbicara.


"Huh.. " menghela nafas, Freya bersiap-siap menjawab pertanyaan Yuna.


"Kau pikir, ada orang yang bersedia dipaksa begituan selama tiga hari penuh tanpa istirahat sedikit pun?!"


"Maafkan aku."


"Sudahlah. Anggap saja setimpal kali ini."


"Jika memang benar begitu, Anda hendak membawaku kemana?"


"Aku akan membuatmu hamil bagaimanapun caranya! Ini hukuman karena telah lancang kepada tuanmu sendiri!"


"....." Yuna hanya bisa terdiam mengikuti kemana Freya yang membawanya pergi.


"Tunggu, Freya, kamu serius?!"


"Benar, inilah hukumanmu!"


Freya dan Yuna sampai di sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut, terdapat beberapa laki-laki yang telah bersiap-siap di dalamnya. Tentunya, hal ini membuat Yuna merasa takut.


"Kumohon.... aku... bersedia mengandung anak untukmu. Tapi, bukan seperti ini caranya. Aku mohon, izinkan aku... memilih suamiku sendiri...."


"Aku izinkan kok!"


"Mmmnnn....", dalam cahaya pagi yang menyengat, Yuna perlahan membuka matanya, dirinya bangun dari mimpinya yang cukup menyeramkan namun juga menyenangkan.


"Dimana ini?"


"Kamar kita!"


"..... Apa yang terjadi, Freya? Aku tidak ingat apapun," dengan mata yang masih setengah terbuka, Yuna menguap lalu mulai beranjak dari tempat tidurnya.


"Padahal kamu sangat takut dengan hukuman yang akan kuberikan. Tapi kenapa kamu tetap memaksa ku untuk melakukan nya?"


"... Maaf."


"Tidak apa. Justru sebagai pelajaran, jangan pernah meminum ramuan cinta lagi! Tubuhmu tidak kuat menahan efek dari obat itu dan membuatmu tidur seharian penuh," ucap Freya menasehati Yuna.


"Tidur?"


"Sayang sekali ya, kamu berniat ingin melakukan nya denganku tapi kamu malah pingsan. Nakal~" ucap Freya seraya menyentil kening Yuna.


"..... Jadi...... ", dengan raut wajah sedih, Yuna menatap Freya dengan penuh rasa kecewa yang ia sebabkan sendiri.


"Benar, yah, aku juga merasa bersalah karena dulu telah merayumu... tetapi Yuna, kita berdua perempuan. Dan perempuan tak bisa melakukan nya bersama."


"....."


"Dari pada itu, untuk merilekskan pikiranmu sekarang ini, ayo pergi berjalan-jalan melihat negara yang kita buat bersama?"


"....", dari raut wajahnya yang sedih, Yuna seketika riang kembali disaat Freya mengajaknya berkencan.


"Tenang saja, Yuna. Kau tak akan pernah jauh dariku selamanya. Maafkan aku karena telah memaksakan kehendak ku pada dirimu," ucap Freya sembari meminta jabatan tangan dari Yuna.


Dengan senyum tipis, Yuna meraih tangan Freya kemudian dirinya berdiri lalu bersiap-siap untuk pergi untuk berkencan bersama Freya seharian.


Meskipun dalam benak Yuna, Freya melakukan hal ini sebagai permintaan maaf nya atas apa yang ia ucapkan pada beberapa hari lalu, Yuna tetap merasa bahagia lantaran Freya tetap menjadi diri Freya.


Berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Freya yang lemas membuat Yuna khawatir.

__ADS_1


__ADS_2