
Aku dengan sadar menceritakan kisah seram kepada Yuna tepat di malam sebelum kami pergi melakukan kemah bertahan hidup. Aku juga sengaja mengajak Yuna jalan-jalan dan memanjakan dirinya supaya dia melupakan apa yang akan kami lakukan keesokan harinya.
Aku pernah bilang bukan? Yuna sangat mudah diserang saat dia berada di dalam mode manja nya.
Karena keisengan ku malam tadi, Yuna benar-benar terlihat gelisah hari ini. Terlebih, di saat hari mulai malam dan regu kami mulai mempersiapkan api unggun, Yuna terus-menerus menempel erat di tanganku.
Ketika kami membagi tugas, Yuna terpilih secara acak untuk mencari kayu bakar. Dan aku terpilih secara acak untuk menyiapkan tenda. Tugas kami sangat berbeda jauh namun, hahaha, Yuna membantuku membangun tenda. Karena dia seorang pelayan, tentu saja dia sangat lihai dalam membangun tenda. Kau tahu? Pelayan dapat melakukan apapun.
"Seperti yang aku bilang, hantu itu mitos," aku mencoba menenangkan Yuna yang tak kunjung melepaskan genggaman nya dari lengan kiriku.
"Kalau kamu tidak mau mencari kayu bakar, kenapa tidak tinggal di tenda saja? Lagipula kamu telah menyelesaikan tugasku. Bisa dibilang kita bertukar tugas."
"Pelayan harus selalu berada di dekat Tuannya."
"Terserah kamu saja lah."
Kemudian kami berdua pergi menyusuri hutan dan mengambil berbagai ranting-ranting pohon yang berserakan di tanah. Saat aku berbalik melihat Yuna, dirinya terpaku seraya menatap ke depan. Aku bertanya-tanya tentang apa yang membuatnya terpaku di sana namun, setelah aku mendekati dirinya... sungguh tak aku sangka...
Terdapat seorang gadis cantik tersenyum lebar menatap ke arah langit senja. Dengan gaun hitam gelap, berpakaian khas wanita di dalam dongeng, memiliki gigi taring yang cukup panjang, dengan dua buah tanduk melingkar di setiap sisi kepalanya.
Tak hanya itu, dia juga memiliki ekor berbentuk hati, dan sayap kelelawar yang besar.
"Aku merasakan aura mengerikan, Yuna, ayo pergi!"
"Ti....", Yuna begitu ketakutan. Dia sampai-sampai tidak berfikir terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanku.
Ketika fokus ku terfokus kepada diri Yuna yang tercengang di sampingku, aku terkejut saat melihat kembali ke arah wanita tersebut. Tiba-tiba saja, dirinya menatap balik ke arah kami sembari menyeringai lalu melesat ke arah kami!
Dia terbang! Dengan sayapnya, wanita tersebut terbang melesat ke arah aku dan Yuna... tidak, hanya Yuna!
Wanita berpenampilan iblis itu mengincar Yuna. Sontak saja, aku langsung mencoba mendorong Yuna agar terhindar dari tabrakan namun, itu tidak sempat!
Wanita itu berhasil menyentuh Yuna, lebih tepatnya, menembus diri Yuna. Aku tak tahu apa yang tengah terjadi. Yang jelas, Yuna seketika pingsan setelah wanita tersebut menebus tubuhnya.
Jika dikaitkan dengan dunia lamaku, hal semacam ini dinamakan dengan nama, kerasukan.
"Fre--Freya?", Yuna telah bangun. Dengan sigap aku memberinya air karena dari semalam dia tidak minum air.
"Aku ada di mana?"
"Tenda."
"Kemana semuanya?"
"Mereka berburu."
"Begitu ya? Kamu tidak ikut berburu juga?"
"Tidak, lagipula, pelayan harus selalu berada di dekat Tuannya bukan? Dalam kondisi mu yang pingsan, mana mungkin kamu akan selalu mengikuti ku kemana pun. Lagipula, aku penasaran dengan kondisimu. Bagaimana perasaanmu? Kamu telah pingsan selama semalaman penuh," aku benar-benar penasaran. Kuharap Yuna memberikan jawaban yang aku harapkan.
"Tidak tahu, seakan-akan aku mengenal jelmaan iblis kemarin. Padahal aku baru saja bertemu kemarin."
"Apa ada hal aneh yang kau rasakan?"
"Perutku terasa sakit..."
Karena benar-benar khawatir, aku langsung mengangkat baju yang dia pakai agar perutnya terlihat olehku. Dia sedang mengenakan piyama. Aku menggantinya semalam.
"Freya, kau mesum---" wajah Yuna seketika memerah. Dirinya tak berani menatap ku saat aku mulai mengusap perutnya. Yuna, tidak memberontak. Yuna membiarkan aku mengusap perutnya.
__ADS_1
"Hei, kau hanya kelaparan! Duh, jangan membuatku khawatir~", aku lega. Syukurlah tidak terjadi hal serius seperti yang aku bayangkan setelah kejadian kemarin.
"Sungguh, kau benar-benar suka membuatku salah paham ya, Tuan... Putri," ucap Yuna dengan sikap dinginnya kepadaku meskipun, dirinya masih belum sanggup menatap mata ku.
"Yang mengganti pakaian ku semalam siapa?"
"??", kok dia bertanya sih? Bukankah sudah jelas itu aku?
"Ah, pantas saja. Apa kau sengaja tidak memakaikan dalaman kepadaku?"
"...... Yuna."
"Ya?"
"Kau ingin aku hukum?", dengan senyum, aku bertanya tanpa rasa bersalah kepada Yuna.
".... Kau sangat brengsek!"
"Lagipula, tidur itu enaknya hanya pakai piyama. Itu bagus untuk kesehatan."
"Tahu darimana?"
"..."
"Ah, sudahlah," Yuna terlihat kesal kemudian mulai melebarkan tangannya.
"Huh?"
"Kali ini, pasangkan pakaianku selengkap-lengkapnya!"
"Kau.... Jangan melupakan statusmu!", Aku memukul kepalanya dengan pelan kemudian meninggalkan dia yang hendak berganti pakaian.
"Memang benar, namun kemudian dia menghilang," aku kemudian menjelaskan kebenaran yang terjadi kemarin kepada Yuna
"Setelah dia menembus tubuhmu, kau langsung pingsan dan dia seketika menghilang. Makanya aku bertanya dengan panik padamu setelah kamu bangun."
"Aku senang kamu menghawatirkan diriku, Freya."
"Serius kamu tidak merasakan apapun?"
"Ya... seperti yang kau bilang, aku hanya kelaparan. Ngomong-ngomong, lauk hari ini apa?"
"Ikan."
"Ikan? Kau yang membakarnya?"
"Tentu!"
"Masih ada yang mentah?"
"Hei!!! Kau dapat terkena masalah jika menghina masakanku!!", keparat, Yuna meragukan kemampuan memasak ku!? Heh, kalau saja dia tahu jika aku selalu memasak makanan untuk keluargaku. Aku jadi sedikit rindu... apa adik-adikku dapat bertahan tanpa aku? Aku harap pak tua itu tidak kembali ke rumah mereka.
"Iyadeh iya....", aku rasa, Yuna mengasihani diriku karena tiba-tiba saja aku memasang wajah melas.
Kemudian, kami berdua pun menyantap hidangan yang telah aku siapkan sembari menunggu Yuna terbangun dari pingsannya.
Kami berdua makan, kemudian setelah selesai, Yuna berdiri kemudian, mengajakku untuk berburu menyusul teman satu regu kami.
Yuna terlihat begitu bersemangat. Meskipun masih ada yang mengganjal di hati ini, aku harap, tidak ada sesuatu yang terjadi pada Yuna. Tingkah lakunya masih sama seperti yang biasa, bahkan kata-kata menusuknya juga terasa sakit saat kudengar.
__ADS_1
Dalam kondisinya seperti ini, aku yakin sekali, tidak ada yang salah dengan diri Yuna. Namun kenapa aku terus-terusan khawatir dengannya?
"Freya... Kau dengar?"
"Um?", apa tadi Yuna berbicara sesuatu? Sial, aku terlalu memikirkan keadaannya sampai tidak fokus seperti ini. Gak boleh, jika aku tidak fokus di sini, otomatis kami akan mudah dikalahkan.
"Seperti yang aku bilang, tidak ada yang salah dengan tubuhku. Percayalah..."
"Yuna, apa kamu tahu?"
"Soal apa?"
"Pada saat dia menembus dirimu, aku terus-terusan berfikir jika dia bersemayam di dalam tubuhmu. Aku khawatir, aku tak ingin kalau sampai terjadi apa-apa kepada dirimu, Yuna."
"Tenang saja, Freya. Aku benar-benar baik-baik saja."
"Tapi tetap saja, aku khawatir. Aku tak bisa menyerang dirimu jika sampai kekhawatiran ku benar-benar terjadi."
"Apa maksudmu?", karena sudah terlanjur maka, sekalian saja...
"Aku takut kamu dikendalikan oleh wanita iblis itu. Aku takut jika kau menyerangku dan aku takut jika aku harus menyerang dirimu juga. Aku tak ingin kamu menjadi musuhku... di sisi lain, aku tak tahu tentang bagaimana caranya memisahkan dirimu dengan dirinya."
"Kau hanya kebanyakan membaca dongeng. Aku baik-baik saja kau tahu?"
Kuharap begitu.
Kemudian, kami melanjutkan perjalanan kami menemukan teman satu regu kami. Di dalam hutan, terdapat banyak sekali semak-semak dan pepohonan, pohon-pohon di hutan ini tidak cukup berdekatan antar satu dengan yang lain. Jadi, kami dapat bergerak dengan leluasa.
Setelah kami menemukan mereka, kami kemudian bergabung dan membantu mereka dengan buruan yang kami temukan.
Begitu pula dengan hari-hari lainnya. Kami menghabiskan waktu bersama, dan ini menjadi kali pertamanya aku berbincang-bincang dengan sepuas hati bersama teman-teman ku yang lain. Ini menyenangkan.
Aku tak ingin kesenangan ini berakhir namun, waktu berjalan dengan cepat. Kesenangan yang aku inginkan berjalan begitu cepat. Meskipun waktu 5 hari penuh itu cukup lama, namun jika dilakukan dengan bersenang-senang, maka 5 hari terasa seperti 1 hari.
"Kita pulang ya?"
"Kamu kecewa, Freya?"
"Ya... ahhh, aku ingin bersenang-senang lagi," dengan keluhan keluar dari mulutku, aku berjalan masuk ke istana bersama Yuna si sampingku.
"Freya..."
"Hmm?"
"Bukankah saya adalah boneka Anda?"
"Apa yang kau katakan?"
"Kamu sering sekali mempermainkan diriku, bukankah aku sama seperti boneka?"
"Boneka dan manusia itu berbeda. Jika boneka tersebut berwujud dan memiliki jiwa manusia maka, yang ada aku telah melanggar hukum!"
"Tapi kamu selalu saja mempermainkan aku. Apa kamu mau bilang jika kamu melanggar hukum?"
"... ah sudahlah, aku lelah. Yuna, gendong!"
"Saya akan membawakan tas Anda saja."
"Cih~."
__ADS_1