
Kamar Bella.
"Emang dasar ya Kak Daniel! Digodain malah marah-marah ga jelas. Siapa yang ga kesel coba!" gerutu Bella tak habis pikir.
Kania yang berada di samping Bella, langsung menenangkan adik dari Daniel tersebut. "Mungkin Kak Daniel emang ga suka digodain Bell. Buktinya aja Kania juga diacuhin sama Kak Daniel," ucap Kania.
"Iya juga sih ya. Tapi kan biasanya Kak Daniel ga marah kalo Bella godain," ujar Bella sambil bersedekap dada.
"Terus sekarang kita harus apa supaya Kak Daniel ga marah lagi sama kita?" tanya Kania.
Tampak Bella mulai berpikir. Lalu tak lama setelah tu, Bella menjentrikan jarinya seraya tersenyum penuh lebar. "Aha! Bella punya ide, Kak!"
"Ide apa, Bell?"
"Sini Kak, Bella bisikin!"
🍀
🍀
🍀
Ruang Kerja Daniel.
"Bagaimana, Arez? Kau sudah menghukum si baj*ingan Jack?" tanya Daniel usai sambungan telponnya tersambung dengan Arez yang kini tengah mengawasi Jack di ruang bawah tanah.
"Sudah, Tuan!"
"Bagus! Terus awasi dia! Dan ya, jika kau sudah dapat informasi tentang keluarga Kania, segera beritau aku!" peringat Daniel.
"Baik, Tuan."
Tutt!
Sambungan telpon berakhir.
Kini Daniel beralih menatap layar laptopnya. Setelah itu Daniel kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Ceklek!
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Daniel yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, tidak sempat menoleh pada orang itu. Ia hanya langsung menebak bahwa yang membuka pintu itu adalah Bella.
"Ck. Tumbenan sekali kau datang ke ruang kerja Kakak. Mau minta maaf?" tanya Daniel.
Hening.
Tak ada respon apapun.
"Kenapa diam? Bingung gimana cara ngungkapin maafnya?"
"Kak Daniel!"
Seketika Daniel melototkan matanya. Pasalnya suara itu bukan suara adiknya, Bella. Melainkan suara Kania.
"Kau? Kenapa kau ada di sini?" tanya Daniel panik, saat matanya menangkap sosok Kania tengah berdiri di ambang pintu.
"Mau hibur Kakak," jawab Kania, lalu bergegas menghampiri meja kerja Daniel.
Melihat Kania berjalan mendekatinya, Daniel langsung berdiri dan melangkah mundur menjauhi Kania.
__ADS_1
"Pergi dari sini! Jangan ganggu aku!" usir Daniel dengan suara tegasnya.
Kania menggeleng dan terus berjalan mendekati Daniel.
"Jangan mendekat, Kania!" peringat Daniel sembari berjalan mundur.
Ya, saat ini Daniel sedang dalam mode ingin menghindari Kania. Ia tidak ingin berdekatan dengan gadis polos itu untuk sementara waktu.
"Kania, aku peringati sekali lagi, jangan mendekat ke arah sini!"
Kania tak menghiraukan ucapan Daniel. Ia terus mendekati lelaki itu dengan tatapan seperti singa bu*as yang sedang kelaparan.
Bruk!
Punggung Daniel sudah menempel pada dinding. Ini artinya ia tidak bisa berjalan mundur lagi.
Bahkan saat ini Kania sudah berdiri di hadapannya.
"Kak!" panggil Kania dengan suara manjanya.
Glek!
Daniel menelan ludahnya saat Kania memanggilnya seperti itu.
"Kakak mau liat tidak atraksi ular berbisa seperti apa?" tanya Kania dengan nada sen*sual.
Lantas Daniel terbelalak mendengarnya.
Tunggu, kenapa gadis polos seperti Kania bisa seagre*sif dan sena*kal ini?
"Jangan main-main, Kania!" peringat Daniel dengan keringat dingin yang mulai bercucuran membasahi area dahinya.
Daniel menghela napas gusar. Kenapa gadis ini sulit sekali dikasih tau.
"Kania, please. Keluar sekarang! Jangan ganggu pekerjaanku!" usir Daniel dengan menatap tajam ke arah Kania yang masih stay berdiri di depannya.
Kania tak menghiraukan perkataan Daniel dan malah sibuk menanggalkan selimut yang sebelumnya menutupi area tubuhnya.
Ya, dari awal masuk ke ruang kerja Daniel, Kania sudah membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Astaga!" kaget Daniel dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain setelah melihat pakaian yang dikenakan Kania.
Ya, saat itu Kania memakai mini ho*t pants jeans ditambah mini tank top yang menampakan bela*han da*da. Siapa coba yang tidak tergoda dengan tubuh mungil si gadis lugu itu.
"Apa-apaan ini, Kania? Kenapa kau memakai baju pendek begitu?" tanya Daniel panik.
"Gerah, Kak. Makannya Kania pakai baju ini," jawab Kania.
Apa katanya tadi? Gerah? Ah, yang benar saja, malam ini cuaca begitu dingin. Kenapa gadis itu malah berkata gerah.
"Kania, please. Keluar dari sini sekarang!" titah Daniel berusaha untuk tidak ngegas.
Kania menggeleng kuat.
"Kak!" Kania kembali memanggil Daniel dengan suara manjanya.
Hal itu membuat Daniel semakin merinding dengan tingkah aneh Kania.
"Kakak yakin ga mau liat atraksi ular berbisa?" tanya Kania dengan menaik-naikan kedua alisnya.
__ADS_1
Atraksi ular berbisa? Astaga! Membayangkannya saja Daniel sudah merasa ngeri.
"Engga. Aku lagi sibuk," timpal Daniel datar dan bergegas untuk pergi.
Melihat hal itu, Kania cepat-cepat memenjarakan tubuh Daniel dengan kedua tangannya.
"Jangan pergi, Kak. Kakak kan belum liat atraksi ular berbisa dari Kania," ucap Kania menatap Daniel dengan tatapan menggoda.
"Jangan bersikap seperti ini Kania!" pinta Daniel dengan suara beratnya.
"Syuttt ..." Kania sejenak meletakkan jari telunjuknya di bibir Daniel. Setelah itu, Kania mulai mengalungkan kedua lengannya di leher lelaki itu.
Glek!
Daniel kembali menelan ludahnya saat melihat tingkah Kania semakin bru*tal.
Sementara itu, Kania mulai menarik tengkuk Daniel agar semakin mendekat ke arahnya.
"Nikmati saja pertunjukannya, Kak!" bisik Kania di akhiri dengan mengecup singkat telinga Daniel, bahkan kini Kania sudah mulai berani menggigit telinga lelaki tampan itu.
"Oh sh*it!" rutuk Daniel dalam hatinya.
Entah kenapa Daniel tidak bisa menolak perlakuan Kania yang nakal seperti ini padanya.
🍀
🍀
🍀
Di sisi lain, Bella dengan santainya sedang menyeduh teh manis di dapur.
Entah kenapa malam ini Bella begitu puas setelah dirinya memberikan solusi ampuh pada Kania. Sampai-sampai Bella menyuruh gadis lugu itu untuk latihan agar nantinya dia terlihat lihai ketika sedang menggoda Daniel.
"Hahaha, selamat menikmati masa-masa indah, Kakakku sayang! Bella jamin malam ini Kakak ga akan tahan liat tingkah na*kal Kak Kania," ujar Bella sambil cekikikan.
Bella kemudian mulai menyeruput teh manis tersebut dengan penuh anggun.
🍀
🍀
🍀
Di ruang kerja Daniel.
Tampak Kania sedang menarik kursi kebesaran milik Daniel untuk ia letakkan di tempat di mana Daniel berdiri saat ini.
"Duduk, Kak!" titah Kania sembari mendudukan Daniel di atas kursi.
Daniel sekilas berdecih kesal. Entah kenapa malam ini ia begitu si*al karena sudah terjebak di situasi seperti ini.
"Selamat menikmati pertunjukannya, Kak Daniel!" bisik Kania kembali, lalu di akhiri dengan mengecup singkat pipi Daniel.
Bersambung
Ya ampun Bell, ajaran kamu. 😭
Kania yang tadinya polos jadi cewek bar-bar dong. 😭🤣
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote semuanya. 🤗