Gadis Polos Milik Monster Tampan

Gadis Polos Milik Monster Tampan
Part 6


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Kak, Bella ga bisa lama-lama di sini. Bella harus ke kampus," ucap Bella sesekali melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya.


"Ya udah, Bella hati-hati ya di jalannya," peringat Kania.


Bella kemudian memeluk erat tubuh Kania. Entah kenapa Bella merasa tidak tega jika harus meninggalkan Kania bersama Milla.


"Kak, Kakak harus janji ya kalau ada apa-apa sama Kakak, Kakak langsung telpon Bella," ujar Bella pelan.


Kania mengangguk. Lalu membalas pelukan Bella. "Iya, Bell. Kania janji!"


Bella cukup merasa tenang. Ia lalu berpamitan pada Milla. "Aunty, Bella pulang dulu ya!"


"Iya, Bella. Sering-sering ya kamu main ke sini," sahut Milla dan langsung direspon anggukan kepala dari Bella.


"Ya udah, Bella pamit ya. Bye, Kak ... Bye, Aunty..." Bella melambaikan tangan sebelum beranjak keluar.


"Bye juga, Bell!"


Setelah Bella pergi, Milla mengajak Kania untuk duduk di sofa karena ada hal yang ingin dia bicarakan dengan gadis itu.


"Kania Sayang, kau mau menikah tidak?" tanya Milla seraya membelai lembut surai rambut Kania.


"Menikah?"


"Iya, menikah. Menikah itu nanti kamu akan punya teman bermain, Sayang. Jadi kamu ga akan sendirian lagi," jawab Milla sesekali menyelipkan senyum liciknya.


Mendengar kata 'teman bermain', Bella langsung mengangguk antusias. "Iya, Mommy. Kania mau. Kapan Kania akan menikah?" tanya Kania dengan nada tidak sabar.


"Secepatnya, Sayang! Nanti sore kamu siap-siap ya, soalnya teman main kamu akan datang ke sini buat ngajak kamu bermain," ujar Milla dengan nada lembut.


"Oke, Mommy!"


Milla kemudian memeluk erat tubuh Kania. Setelah itu, ia diam-diam mulai menyunggingkan senyum evil-nya.


🍀


🍀


🍀


Jam menunjukan pukul 3 sore. Dan sesuai permintaan Milla, kini Kania sudah didandani oleh para maid dengan sangat cantik.


"Ya ampun, cantik sekali anak Mommy!" puji Milla seraya menatap Kania dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan senyuman lebar.


Ya, Kania memakai mini dress berwarna merah di atas lutut dengan rambut yang dicepol tak terlalu rapi hingga memperlihatkan jenjang lehernya yang putih.


"Makasih Mommy," ucap Kania dengan tersenyum manis.


"Ayo, Sayang! Kita ke bawah!" ajak Milla yang direspon anggukan kepala dari Kania.


Milla kemudian menuntun Kania keluar kamar dan bergegas menemui seseorang di ruang tengah.


Skip.


"Halo, Mr!" sapa Milla seraya mengulurkan tangannya di hadapan pria berjas hitam.


"Halo, Mill," balas pria itu.


Setelah berjabat tangan, pria itu menatap ke arah Kania. "Dia yang namanya Kania, Mill?" tanyanya dengan tersenyum menyeringai.


"Iya, Mr! Gimana? Cantik 'kan?"


"Cantik sekali, Mill." Pria itu mulai berdiri dan berjalan mendekati Kania. "Dan juga terlihat sangat se*xy," godanya dengan berbisik di telinga Kania.


Mendengar hal itu, Kania hanya tersenyum manis.


"Ini siapa, Mom?" tanya Kania.


"Teman mainmu, Sayang. Namanya Jack," jawab Milla memperkenalkan pria itu.

__ADS_1


"Teman main? Tapi kenapa dia terlihat seperti Daddy-Daddy, Mom. Padahal 'kan Kania maunya teman main seperti Kak Daniel," ucap Kania sekilas menatap tidak suka ke arah pria yang usianya sebaya dengan Milla.


Raut wajah Jack seketika berubah menjadi masam. "Jangan membicarakan nama pria lain di depanku, Sayang," bisik Jack dengan sedikit menekan kata.


"Sorry, Jack. Aku akan beri pengertian pada Kania dulu," ucap Milla.


"Silahkan!"


Milla kemudian menarik tangan Kania ke tempat yang tak jauh dari posisi Jack berdiri.


"Kania Sayang, Mommy mohon terima Jack sebagai teman mainmu. Justru pria seperti dia jauh lebih berpengalaman dalam hal bermain. Mommy jamin kalo kamu temenan sama Jack, kamu akan puas mainnya Sayang!" ujar Milla panjang lebar.


"Benarkah itu, Mom?"


Milla mengangguk mengiyakan.


"Yaudah, Kania mau jadi teman mainnya Uncle Jack, Mom!" ucap Kania.


Milla kemudian menarik kembali tangan Kania dan berjalan menghampiri Jack.


"Dia sudah setuju Jack," ucap Milla seraya tersenyum menyeringai.


"Bagus sekali, aku senang mendengarnya. Ayo Sayang, kita main!" ajak Jack dan Kania hanya mengangguk.


Jack mulai merangkul bahu Kania dan membawa gadis itu keluar rumah.


Sementara Milla mulai tersenyum puas melihat anak tirinya sudah dibawa pergi oleh pria hidung be*lang.


Hah, akhirnya masalah utama terselesaikan juga! batin Milla.


🍀


🍀


🍀


Di sisi lain.


Mansion Daniel.


"Ada apa, Bell?" tanya Daniel, yang saat itu sedang mengolesi memar di wajahnya menggunakan salep.


"Kak, Bella kepikiran Kak Kania nih. Kira-kira Kak Kania baik-baik aja ga ya?" ucap Bella gelisah sambil duduk di samping Daniel.


"Bukannya kamu punya nomor Kania? Kenapa ga telpon dia aja?" tanya Daniel.


"Ya itu masalahnya Kak, Kak Kania ga angkat telpon dari Bella. Makannya Bella cemas," jawab Bella dengan nada lirih.


Daniel selesai mengobati memar di wajahnya, setelah itu ia duduk bersila menghadap adiknya.


"Sesayang itu kamu sama Kania, hm?" tanya Daniel sesekali membelai lembut surai rambut Bella.


Bella mengangguk pelan.


"Yaudah besok kita ke rumahnya!" final Daniel.


"Beneran Kak?" tanya Bella, yang direspon anggukan kepala dari Daniel.


"Yeayyy.. Kakak emang baik deh, jadi makin sayang sama Kakak," girang Bella sambil memeluk erat tubuh Daniel.


"Kakak juga sayang kamu, Bell. Apapun yang Adik Kakak ini inginkan, pasti akan Kakak kabulin," sahut Daniel membalas pelukan Bella.


🍀


🍀


🍀


Jam 5 sore, Daniel mengajak Bella ke Mall. Sudah lama lelaki itu tidak mengajak adiknya jalan-jalan. Karena sebulan full ini ia hampir disibukan oleh pekerjaan.


"Jangan lupa Kak pakai masker sama kacamata biar lukanya ga diliat sama orang lain!" peringat Bella sebelum beranjak keluar dari mobil.

__ADS_1


"Iya tau, dasar cerewet!" cibir Daniel dan langsung memakai masker serta kacatamata hitam.


Skip.


Daniel dan Bella mulai memilih-milih baju di tempat pakaian fashion pria dan wanita.


"Menurutmu ini bagus ga, Bell?" tanya Daniel sambil menunjukan setelan blazer wanita berwarna cream pada Bella.


"Ya ampun, lucu sekali! By the way, mau beliin untuk siapa, Kak? Untuk Kakak ipar ya?" goda Bella dengan menaik-naikan kedua alisnya.


Menyadari hal itu, Daniel langsung merilekskan tenggorokannya. "Ekhem. Engga! Tadinya Kakak mau beliin untuk kamu," dusta Daniel.


"Untuk aku atau Kakak ipar?" tanya Bella tak henti-hentinya menggoda Daniel.


Daniel akhirnya tak berbicara lagi. Lelaki itu malah sibuk memilih baju yang lain.


Sedangkan Bella terkekeh melihat Kakaknya salah tingkah.


"Oya Kak, Bella ke tempat koleksi kacamata dulu ya. Bella mau beli soalnya," ucap Bella.


"Ya udah sana."


Usai kepergian Bella, Daniel mengambil kembali setelan blazer cream yang sempat ia simpan pada tempatnya.


Setelah itu Daniel membawa setelan blazer tersebut ke kasir untuk dibayar.


"Terimakasih telah membeli pakaian di tempat kami Tuan dan selamat datang kembali," ucap desk kasir seraya tersenyum ramah.


"Mr Daniel!"


Seseorang tiba-tiba memanggil nama Daniel. Setelah dilihat, ternyata seorang pria paruh baya memakai setelan jas hitam.


"Mr Jack?"


Ya, orang itu adalah Jack.


"Wah, Mr Daniel. Aku ga nyangka kita akan bertemu di sini," sahut Jack antusias.


Mereka pun sejenak berpelukan.


"Bagaimana kabarmu, Mr? Menurut kabar beredar, kau mengalami kecelakaan hingga membuat wajahmu luka-luka?" tanya Jack.


"Kabarku baik, Mr. Kebetulan saat ini aku sedang dalam masa pengobatan. Oya, bagaimana Mr bisa mengenaliku, padahal aku pakai penyamaran?" Daniel balik bertanya.


"Pakai insting," canda Jack.


Daniel hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.


"Oh ya, Mr ke sini sama siapa?" tanya Jack.


"Sama Adikku, Bella," jawab Bella.


"Ohh Bella..."


"Kalau Mr ke sini sendirian?" tanya Daniel.


"Tidak! Kebetulan aku ke sini sama mainan baru!" jawab Jack dengan berbisik.


Dahi Daniel langsung berkerut. "Mainan baru?"


"Iya, mainan baru. Kau mau tau orangnya, Mr? Biar aku kenalkan!"


"Sayang! Kemarilah!" panggil Jack pada seorang gadis yang sedang memilih baju yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Mendengar suara panggilan dari Jack, gadis itu langsung datang menghampiri.


"Ini dia mainan baruku, Mr," ujar Jack seraya merangkul erat bahu gadis itu.


Sontak mata Daniel langsung membulat saat melihat gadis yang tengah dirangkul oleh Jack.


"Kania!" kaget Daniel.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komen dan vote semuanya ❤🤗


__ADS_2