Gadis Polos Milik Monster Tampan

Gadis Polos Milik Monster Tampan
Part 8 [ 18 ++]


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Kenapa kau begitu terkejut melihatku Mr Jack?" tanya Daniel dengan tersenyum menyeringai.


"Kau? Bagaimana kau bisa tau aku ada di sini?" tanya Jack seraya meraba-raba saku celana belakangnya dan mengambil sesuatu di dalam sana.


"Ck." Daniel tertawa kecil ketika melihat benda tajam sedang dipegang oleh Jack. "Ternyata kau ingin main senjata ya," ucap Daniel mulai berjalan menghampiri Jack.


Melihat hal itu, Jack langsung mengarahkan pistol tersebut ke arah Daniel.


"Katakan! Bagaimana kau bisa tau?" tanya Jack perlahan mendekat pada Kania.


"Hmm, bagaimana ya? Sepertinya aku tau pakai otak," jawab Daniel di akhiri dengan menunjuk-nunjuk sisi dahinya.


Grep!


Dengan gerak cepat Jack menarik tangan Kania agar berdiri lalu menahan gadis itu sembari memusatkan pistol ke sisi dahinya.


"Huaaa, Uncle mau ngapain Kania?" tanya Kania ketakutan.


"Diam! Aku tidak akan melukaimu, Sayang. Hanya saja aku ingin menakuti pria di hadapan kita ini," bisik Jack di akhiri dengan meniup telinga Kania hingga membuat gadis itu bergidig jijik.


"Lepasin Kania, Uncle!" pinta Kania sambil meronta. Namun, Jack tidak menggubrisnya.


"Hikss, Kak Daniel.. Tolongin Kania, Kak. Kania takut," lirih Kania seraya beralih menatap Daniel yang hanya berdiam diri di tempat tanpa melakukan apapun.


"Sayang, sepertinya dia tidak peduli padamu. Bagaimana kalau kau ikut denganku ke surga?" tanya Jack dengan tersenyum menyeringai.


Kania menggeleng kuat. "Engga! Kania ga mau!"


Perlahan Daniel melangkah mendekat ke arah Jack dan juga Kania. Melihat hal itu, Jack langsung menekankan lubang pistol tersebut ke sisi dahi Kania.


"Jangan berani mendekat, Mr Daniel! Jika kau masih berani, aku akan menembak gadis tidak berdosa ini!" ancam Jack.


"Silahkan saja!" sahut Daniel santai.


"Kau mendengarnya, Sayang? Dia dengan senang hati mempersilahkanku untuk mengirimmu ke surga! Apa kau siap, hm?" tanya Jack kembali berbisik di telinga Kania.


Kania menggeleng seraya menangis. "Tidak! Hikss, Kak Daniel. Tolongin Kania, Kak!" isak Kania.


Daniel kembali berjalan mendekati Jack. Jack yang melihat hal itu, tidak ingin tinggal diam, dia bersiap untuk menekan trigger pistol.


"Mr Daniel, aku sudah memperingatimu, tapi kau tidak mendengarkanku! Baiklah, sepertinya dengan cara ini, kau akan bungkam. Bersiaplah untuk melihat milikmu mati!" ucap Jack tersenyum evil.


"Hiksss, Kak Daniel!" Tangis Kania semakin pecah.


"Dalam hitungan 3, aku akan mengirimmu dulu ke surga Sayang!" bisik Jack.


"Tidak!!"


"3..."


Daniel semakin melangkah maju.


"2..."


"Jangan, Uncle!!"


"1..."


"Jangan!!!"


Trek! Trek!


Jack mulai panik ketika pistolnya tidak mengeluarkan peluru. Ia sudah berusaha menekan-nekan triggle pistol, tapi tetap saja peluru itu tidak keluar.


"Ahh sial, kenapa pelurunya tidak ada!" kesal Jack setelah memeriksa magazine pistolnya ternyata kosong.

__ADS_1


"Ada apa Jack? Kelihatannya kau kesal!" ucap Daniel dengan tersenyum menyeringai.


Daniel kemudian merebut pistol itu dari tangan Jack. "Ah, aku mengerti! Pistolmu ini tidak berguna ya? Cup.. Cup.. Cup, kasihan sekali! Apa kau perlu bantuanku untuk mengisi peluru ini?" tanya Daniel dengan mengangkat kedua alisnya.


"Sialan!" umpat Jack, hendak meraih tangan Kania. Namun, dengan cepat Daniel terlebih dulu menarik tangan Kania ke dalam dekapannya.


"Jangan coba-coba merebut milikku lagi, Jack!" tekan Daniel dengan menatap Jack tajam.


"Milikmu? Ck. Dia milikku, Mr. Apa kau sudah lupa itu?" tanya Jack sinis.


"Tentu saja tidak! Haruskah ku ingatkan lagi, Kania adalah milikku sejak awal! Jika kau berani mengatakan dia milikmu, maka nyawamu taruhannya," timpal Daniel tak ingin kalah sinisnya dari Jack.


Daniel kemudian menjentikkan jarinya beberapa kali. Hingga tak lama kemudian enam orang bertubuh kekar dengan memakai setelan jas formal serta kacamata hitam mulai datang memasuki kamar.


"Tuan!" Terlihat enam orang itu mulai berjajar rapi seraya memberi sikap hormat pada Daniel.


"Bawa dia ke ruang tahanan bawah tanah. Aku ingin dia dihukum, dan jangan lupa introgasi dia juga!" titah Daniel dengan tegas.


"Baik Tuan!" timpal mereka secara bersamaan.


Dua dari enam orang itu mulai menahan tangan Jack. "Baj*ingan! Kau berani menangkapku, hah?!" geram Jack berusaha melepas diri dari cengkraman anak buah Daniel.


"Kau kalah cepat, Jack. Kalau saja tadi kau bertindak cepat, mungkin saja anak buahku tidak akan bisa menangkapmu," sahut Daniel dengan tersenyum menyeringai.


"Sialan! Kau akan menyesal telah menangkapku, Mr Daniel!" pekik Jack dengan wajah yang sudah merah padam karena emosi.


"Benarkah? Kita lihat saja nanti, Jack, siapa yang akan menyesal nantinya," ujar Daniel.


"Kau yang akan menyesal, ba*jingan. Kau!" teriak Jack ketika dirinya mulai diseret paksa oleh anak buah Daniel keluar dari kamar.


"Lepaskan aku, breng*sek! Lepaskan!"


Kini sosok Jack sudah hilang dari pandangan Daniel dan Kania.


Melihat hal itu, bibir Kania langsung membentuk senyuman mengembang. Berbeda dengan tubuhnya yang masih gemetaran karena menahan rasa takut.


Kania menggeleng. "Kania baik-baik aja, Kak," jawab Kania seraya melepas diri dari dekapan Daniel.


"Awww," ringis Kania sambil memegang lehernya kuat-kuat.


"Kenapa? Apa kau terluka?" tanya Daniel.


Kania hanya menjawab dengan anggukan. Sementara Daniel mulai menyingkirkan telapak tangan Kania dari leher.


Sontak Daniel terkejut saat melihat ada luka cakaran di leher Kania.


"Kenapa lehermu terluka?" tanya Daniel panik.


"Hiksss, Uncle Jack yang mencakar leher Kania Kak," jawab Kania disertai dengan tangisan.


"Sakit," cicit Kania ketika merasakan lukanya semakin perih karena terlalu lama dibiarkan.


"JACK!!!" murka Daniel tak terima.


Daniel kemudian mengeluarkan handphone dari saku celananya. Setelah itu ia menelpon anak buahnya.


"Arez, pastikan Jack dihukum dengan berat. Aku tidak mau jika dia sampai baik-baik saja," titah Daniel dengan tegas.


"Baik Tuan!"


Tut!


Daniel mematikan sambungan telponnya.


"Hikss, sakit," rintih Kania sembari memegang kembali lehernya yang terluka.


"Jangan dipegang, Kania. Nanti rasa perihnya bertambah. Lebih baik kita obati ya!" seru Daniel dengan nada lembut.

__ADS_1


Kania mengangguk. Lalu Daniel mulai menuntun Kania menuju ranjang tidur dan memintanya untuk duduk.


"Sebentar! Aku cari obatnya dulu!" ucap Daniel, kemudian bergegas keluar kamar dengan langkah terburu-buru.


Selang beberapa menit...


Daniel kembali ke kamar sambil membawa kotak P3K.


"Duduk yang benar!" pinta Daniel.


Kania mengangguk. Ia lalu naik ke kasur dan mulai duduk bersandar pada sandaran kasur.


Sementara Daniel terlihat menggulungkan lengan kemejanya sampai sikut. Setelah itu ia duduk di samping Kania.


"Pelan-pelan, Kak!" pinta Kania saat Daniel mulai menekan-nekan lukanya dengan kain basah.


"Shhh," ringis Kania menahan rasa perih pada lehernya.


"Tahan sebentar!"


Daniel mulai mengolesi luka di leher Kania dengan krim antiseptik.


"Sakit," keluh Kania.


"Kamu tenang aja, ini ga akan sakit!" ucap Daniel mencoba meyakinkan Kania.


Daniel kemudian menutupi area luka Kania dengan perban perekat.


"Udah selesai! Apa masih sakit?" tanya Daniel memastikan.


"Masih Kak," cicit Kania.


Daniel kembali mendekatkan wajah pada leher Kania yang terdapat luka. Setelah itu, jarinya perlahan mengusap lembut luka Kania yang sudah ditutupi oleh perban.


"Kamu tenang aja, Kania! Sakitnya ga akan lama!" ucap Daniel pelan dan di akhiri dengan menghirup aroma parfum yang masih menempel di leher gadis itu.


Kania tak berbicara lagi. Bahkan menangis pun tidak. Saat ini Kania sedang merasakan jantungnya berpacu sangat cepat saat Daniel berada di jarak yang sangat int*im dengannya.


'Kenapa jantung Kania deg-degannya kenceng banget ya,' batin Kania merasa heran.


Cup!


Daniel tiba-tiba mencium perban luka tersebut.


"Kak, Kakak lagi ngapain?" tanya Kania seraya mengerjapkan matanya berulang kali.


Daniel tak merespon. Lelaki itu malah berpindah tempat ke sisi leher Kania yang tidak terdapat luka.


Cup!


Daniel kembali mencium jenjang leher Kania yang putih. Kali ini ciuman itu sangat lama. Membuat sang empu merasa geli sendiri.


"Kak, apa yang Kakak lakukan?" tanya Kania sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


Lagi-lagi Daniel tak menjawab.


"Shhh ...." Kania memejamkan matanya saat Daniel mulai melu*mat ceruk lehernya dengan gan*as.


"Kakk!" Suara Kania tertahan ketika bibir Daniel terus menerus melu*mat habis lehernya.


"Ahh.." Suara desa*han mulai lolos dari mulut Kania saat Daniel tiba-tiba menggigit lehernya.


Bersambung


**OMG 🙈🙈🙈


Jangan lupa like, komen dan vote semuanya ❤🤗**

__ADS_1


__ADS_2