Gadis Polos Milik Monster Tampan

Gadis Polos Milik Monster Tampan
Part 15


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah tiba di Mansion, Daniel berjalan masuk ke dalam, diikuti oleh Arez dari belakang.


"Kania! Kania!" panggil Daniel dengan sedikit berteriak.


Namun, tidak ada sahutan dari si pemilik nama.


"Ke mana dia?"


"Mungkin Nona Kania sedang mandi, Tuan," timpal Arez menebak-nebak.


Daniel sekilas memandang ke arah pintu utama. Di mana beberapa bodyguard yang dia suruh untuk menjaga Kania tidak ada juga di sana.


"Ke mana mereka?" ucap Daniel merasa heran. Daniel kemudian mengambil ponsel dari saku celananya, lalu menelpon salah satu bodyguard-nya.


Tutt ... Tutt ....


"Ck." Daniel berdecak kesal karena tidak ada satupun di antara mereka yang mengangkat telpon darinya.


"Kurang ajar!" gerutu Daniel dengan memasang raut wajah kesal.


"Biar aku cari mereka, Tuan," ucap Arez lalu bergegas melacak seluruh isi mansion.


Daniel tak henti-hentinya menghubungi para bodyguard meskipun Arez sudah pergi mencari.


Tuttt ... Tuttt ....


"Arghh!" geram Daniel dan langsung bergegas ke kamar Bella untuk memeriksa keberadaan Kania.


Ceklek.


Setelah pintu terbuka, Daniel tidak melihat ada Kania di dalam. Ke mana gadis itu pergi?


Karena merasa cemas, akhirnya Daniel memutuskan untuk pergi mencari keberadaan Kania di seluruh Mansion.


Skip.


Daniel menghentikan langkahnya di dekat pintu halaman belakang setelah mendengar suara seseorang yang tidak asing lagi di telinganya.


"Hahaha ... yang cepet dong, Om. Masa gitu aja udah lemes!"


Penasaran, Daniel langsung berjalan menuju halaman belakang.


Setelah tiba di sana, lelaki tampan itu terlihat terkejut saat melihat Kania sedang bermain kuda-kudaan dengan salah satu Bodyguard-nya.


"Kania," ucap Daniel kaget.


Sementara tiga Bodyguard lainnya terlihat sedang meratapi nasib. Pasalnya mereka didandani oleh Kania menjadi seorang wanita.


"Apa-apaan ini?" tanya Daniel.


"Tuan, bantu kami, Tuan!" Tiga Bodyguard yang didandani seperti wanita langsung menghampiri Daniel sambil memohon-mohon.


"Dari tadi kami disiksa sama Nona Kania," sahut salah satu di antara mereka sambil memasang wajah memelas.


Daniel beralih memandang ke arah Kania.


Terlihat gadis itu semakin bersemangat bermain kuda-kudaan dengan Bodyguard-nya.

__ADS_1


"Om, lebih cepat lagi Om!" pinta Kania, di mana posisinya saat ini duduk menunggangi punggung si Bodyguard.


Mau tak mau Bodyguard itu merangkak lebih cepat lagi, sesuai permintaan Kania.


"Kania," panggil Daniel dengan sedikit meninggikan nadanya.


Namun, Kania tak menghiraukan panggilan Daniel. Ia malah semakin meminta Bodyguard itu untuk lebih cepat lagi dalam merangkak.


Daniel yang melihat hal itu, merasa marah. Ia tidak terima jika Kania berada di posisi seperti itu dengan Bodyguard-nya.


Tanpa pikir panjang, Daniel menghampiri Kania lalu memegang pergelangan tangan gadis itu.


"Ayo turun!" titah Daniel.


"Apaan sih, Kak? Orang Kania lagi asik main kuda-kudaan sama Om ganteng," ucap Kania ketus.


Daniel menghela napas panjang. Ia berusaha untuk tidak emosi dalam situasi seperti ini.


"Mau main kuda-kudaan kan? Ayo, main kuda-kudaannya bersamaku. Kita mainnya di kamar, bagaimana?" tanya Daniel dengan mengangkat kedua alisnya.


Kania menggeleng. "Ga mau! Kania ga mau main sama Kakak!" ketus Kania.


"Kenapa, hm?" tanya Daniel seraya berjongkok di hadapan Kania.


Kania kembali menggeleng dan tidak bicara lagi.


Melihat hal itu, Daniel langsung mencubit pelan pipi Kania. Ia benar-benar gemas dengan wajah cemberut gadis itu.


"Bagaimana? Mau main bersamaku?" tanya Daniel dengan nada lembut.


Kania tak menjawab.


"Diam berarti iya," ucap Daniel dan langsung menggendong Kania ala bridal style.


Daniel kemudian membawa Kania keluar dari halaman belakang, lalu bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Di Kamar.


Daniel secara perlahan meletakkan tubuh Kania di atas ranjang tidur king size miliknya.


"Masih tidak mau bicara, hm?" tanya Daniel seraya mendudukan diri di samping Kania. Lalu mengusap lembut pipi gadis itu.


Kania tak menyahut dan malah memalingkan wajahnya ke arah lain.


Melihat hal itu, Daniel pun menarik napas panjang dalam-dalam. Ternyata membutuhkan kesabaran extra agar bisa membuat gadis itu tersenyum kembali.


"Apa kamu marah gara-gara tadi pagi aku bentak kamu?" tanya Daniel dengan nada lembut.


"Itu Kakak tau! Kenapa baru peka sekarang?" tanya Kania sambil mengerucutkan bibir dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.


Daniel terkekeh. Kenapa gadis di sampingnya ini menggemaskan sekali jika sedang merajuk.


"Ya udah, aku minta maaf."


Kania berdecak kesal. Ia lalu beralih menatap Daniel dengan tajam. "Kenapa singkat? Kakak ga tulus bilang minta maaf ke Kania?"


"Tulus, Kania. Memangnya kamu mau aku jabarin minta maafnya sepanjang apa? Sepanjang sungai?" tanya Daniel seraya jemari tangannya mulai membelai rambut Kania dengan lembut.


"Ishh ..." kesal Kania sembari menyingkirkan tangan Daniel dari rambutnya.

__ADS_1


Melihat hal itu, Daniel tertawa kecil. Ternyata menyenangkan sekali menggoda orang yang sedang marah.


"Kania, lihat aku!" pinta Daniel saat Kania berpaling wajah darinya.


Tak ada respon dari Kania. Hal itu membuat Daniel harus turun tangan sendiri, memutar dagu Kania agar mau menatapnya.


"Kania, aku bener-bener minta maaf. Aku ga ada niat buat bentak kamu. Tadi pagi aku cuma marah karena kamu tiba-tiba nyerang tamuku tanpa alasan. Bagaimana kalau dia terluka? Siapa yang bertanggung jawab? Aku juga 'kan?"


Mata Kania berkaca-kaca. Entah kenapa penuturan Daniel tersebut membuatnya ingin menangis.


"Sekarang aku tanya, kenapa kamu nyerang Tasya?" tanya Daniel seraya jemari tangannya tak berhenti mengusap lembut pipi Kania.


"Karena kata Bella, dia itu orang jahat. Makannya Kania ga segan-segan kasih pelajaran ke dia buat ngelindungin Kakak," lirih Kania dengan kepala tertunduk.


"Jangan terlalu percaya omongan Bella, Kania. Kadang-kadang dia itu suka bercanda ga tau tempat."


"Jadi Bella cuma bercanda, Kak?" tanya Kania.


Daniel mengangguk mengiyakan.


"Maaf," cicit Kania.


Daniel tersenyum penuh arti. Setelah itu, ia mengacak-acak puncak kepala Kania dengan gemas. "Ga perlu minta maaf, yang lalu biarlah berlalu."


"Sekarang senyum!" pinta Daniel sambil mengangkat dagu Kania agar menatapnya lebih intens.


Bibir Kania perlahan membentuk senyuman kecil. Setelah itu, Kania mulai menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Daniel.


"Kania merindukan Kakak!" ungkap Kania.


"Kenapa rindu padaku, hm?" tanya Daniel seraya membelai rambut Kania dengan lembut.


"Seharian ini Kania acuhin Kakak, makannya Kania jadi rindu," jawab Kania dengan memasang wajah imut.


Daniel terkekeh mendengarnya. "Rindu sentuhanku maksudnya?" goda Daniel.


Refleks Kania menarik kepalanya dari da*da Daniel, lalu ia menatap lelaki tampan itu dengan tatapan tanda tanya.


"Ingin melakukan kejahatan?" tanya Daniel dengan menaik-naikan kedua alisnya.


"Maksud Kakak?"


"Bukannya tadi kamu ingin main kuda-kudaan?" tanya Daniel, yang langsung direspon anggukan kepala dari Kania.


"Kalau gitu ayo kita main kuda-kudaan secara ile*gal," ajak Daniel dengan tersenyum menyeringai.


Terlihat Kania mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali, masih tidak mengerti dengan perkataan Daniel yang mengajaknya main kuda-kudaan secara ile*gal.


"Mau mencoba?"


"Hmm?"


Daniel yang gemas dengan reaksi Kania, langsung mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. "Bagaimana kalau, satu lawan satu semalaman," bisik Daniel.


"Kamu setuju?"


"Emang ga bakal capek Kak main kuda-kudaan semalaman? Om ganteng yang tadi aja udah lemes duluan, padahal baru satu jam Kania ajak mainnya. Apalagi ini semalaman, emang Kakak kuat?" tanya Kania memastikan.


"Kuat kok, Sayang!" jawab Daniel di akhiri dengan mengecup singkat telinga Kania.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komen dan vote Semuanya. 🤗


__ADS_2