Gadis Polos Milik Monster Tampan

Gadis Polos Milik Monster Tampan
Part 16


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Kak!" gumam Kania dengan mata membulat. Ia begitu terkejut saat melihat aksi Daniel yang cukup li*ar di area da*danya.


Ingin sekali Kania menghentikan aksi Daniel tersebut. Tapi hatinya selalu berkata 'jangan dihentikan'. Karena terlanjur menik*mati, Kania akhirnya memilih menuruti apa kata hatinya.


Sementara itu, tangan Daniel yang semula memegangi gunung Kania, kini mulai turun ke bawah menuju perut Kania.


"Kak!!" Kania menggeliat geli saat Daniel mengusap perutnya dengan lembut.


Melihat hal itu, Daniel pun tersenyum.


Setelah puas mengusap di bagian perut Kania, kini Daniel kembali menggerakan tangannya ke bawah.


"Ck, rupaya kamu sudah basah ya Kania," kekeh Daniel saat tangannya menyentuh aset paling berharga milik Kania yang masih terbungkus celana segitiga.


"Hiksss ..."


Daniel lantas menjauhkan tangannya dari aset berharga tersebut setelah mendengar suara tangisan.


"Ada apa, Kania?" tanya Daniel panik saat netranya mendapati Kania sedang menangis tersedu-sedu.


"Hikss, Kania ga tau Kak. Rasanya pengen nangis aja," jawab Kania lirih.


Daniel tersenyum sendu. Ia pun segera mengusap pipi Kania yang basah karena air mata. Setelah itu, Daniel langsung menarik tubuhnya dari tubuh Kania, lalu berpindah posisi menjadi duduk.


"Kenapa, hm?" tanya Daniel seraya membantu Kania merubah posisi menjadi duduk.


"Mungkin Kania belum siap disentuh lebih kayak tadi Kak," lirih Kania dengan kepala tertunduk.


Lantas Daniel mulai mengusap wajahnya kasar. Ia baru menyadari tindakannya barusan sangatlah bo*doh. Ia tadi hampir akan merenggut kehormatan gadis polos itu sebelum waktunya.


"Arghh, kenapa lagi-lagi aku nurutin has*rat!" gerutu Daniel pada dirinya.


Daniel kemudian menatap Kania kembali. Terlihat gadis itu masih menundukan kepala seraya meneteskan air mata.


"Maaf, Kania. Tidak seharusnya tadi aku sentuh sembarangan aset berharga kamu. Aku ..."


"Arghh ..." Daniel benar-benar geram pada dirinya.


Daniel pun beranjak dari tempat duduk lalu ia mulai berlutut di hadapan Kania seraya menurunkan baju gadis itu yang sempat tersingkap karena ulahnya.


"Kania." Daniel perlahan meraih kedua tangan Kania yang tampak mulai gemetaran.


"Maafkan aku! Tadi aku benar-benar khilaf! Tolong maafkan aku, Kania! Aku janji padamu, aku tidak akan melakukan tindakan bo*doh seperti tadi lagi! Tolong maafkan aku!" sesal Daniel seraya menempelkan dahinya di kedua tangan Kania.


Kania tersenyum. Lalu perlahan tangannya mulai terulur mengusap-usap puncak kepala Daniel. "Tidak apa-apa, Kak. Kakak ga salah kok dalam hal ini."


Sekilas Daniel tersenyum miris. Setelah itu ia kembali mendongakan kepala menatap wajah Kania.


"Jangan terlalu baik, Kania. Kalo kamu mau hukum aku, hukum aja Kania. Jangan sungkan!" peringat Daniel seraya membelai rambut Kania dengan lembut.


"Engga, Kak. Kania ga bisa hukum Kakak," sahut Kania.


"Kamu bisa, Kania. Cepat hukum aku. Terserah kamu mau pukul aku atau apa."

__ADS_1


"Ga bisa, Kak."


"Kamu pasti bisa, Kania."


"Engga bisa, Kak."


"Bisa, Kania."


"Kak ..."


"Ya sudah, biar aku saja yang putusin hukuman apa yang cocok untuk kesalahanku," ucap Daniel mengakhiri perdebatannya dengan Kania.


"Hukuman apa, Kak, memangnya?" tanya Kania.


"Aku akan menikahimu, Kania!" tandas Daniel di akhiri dengan mengusap lembut pipi Kania yang memerah.


"Menikah?" tanya Kania sedikit terkejut saat Daniel mengutarakan akan menikahinya.


"Iya, Kania. Apa kamu bersedia menjadi istriku?" tanya Daniel seraya memegang kembali kedua tangan Kania.


"Kakak serius?"


"Sejak kapan aku tidak serius, Kania. Buktinya selama ini aku selalu berada di samping kamu," jawab Daniel di akhiri dengan menatap lekat wajah Kania.


Kania tersenyum mendengarnya. Entah kenapa perkataan Daniel barusan membuat hati Kania merasa tersentuh.


"Aku ingin menghabiskan banyak waktu lagi denganmu, Kania. Aku harap kamu menerima lamaran dadakanku ini," ucap Daniel, kali ini menatap Kania dengan penuh pengharapan.


"Aku tau lamaran dadakan ini tidak romantis. Tapi aku janji padamu Kania, setelah kita menikah nanti, aku akan membuat hari-harimu penuh dengan keromantisan," ucap Daniel lagi.


"Bagaimana? Apa kamu mau, hm?" tanya Daniel sesekali mengusap pipi Kania dengan lembut.


Kedua mata Daniel tampak berbinar setelah mendengar jawaban dari Kania. Tanpa pikir panjang lagi, lelaki itu tampan itu mulai menarik tubuh Kania ke dalam pelukannya.


"Aku janji Kania, aku tidak akan menyakitimu. Terimakasih sudah memberiku jawaban yang pasti," ucap Daniel sembari mengecup puncak kepala Kania berulang kali.


Kania kembali mengangguk. Lalu perlahan kedua tangannya mulai terangkat dan melingkari punggung Daniel dengan sangat erat.


"Kania juga mau bilang makasih Kak, selama ini Kakak selalu memperlakukan Kania dengan baik," ucap Kania.


"Itu sudah menjadi tugasku, Sayang," gumam Daniel di akhiri dengan mengecup singkat pundak Kania.


Brak!


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dengan lebar.


"AAAA, O MY GOD.. SUMPAH INI BUKAN MIMPI KAN. TADI KAKAK BENERAN LAMAR KAK KANIA KAN."


Melihat kedatangan Bella yang secara mendadak, membuat Daniel langsung melepas pelukannya dengan Kania.


"Sejak kapan kau ada di sana?" tanya Daniel menatap kehadiran Bella dengan sinis.


"Sejak tadi Kak," jawab Bella seraya cengengesan.


"Jangan bilang kau menguping pembicaraan Kakak dengan Kania?" selidik Daniel.

__ADS_1


"Nguping dikit kok Kak. Paling tadi Bella ngupingnya dari bagian ini nih. 'Ck, rupanya kamu sudah basah ya Kania'," ucap Bella seraya mengulum bibirnya menahan tawa.


Blush!


Seketika pipi Daniel langsung memerah.


Ahh, sial, kenapa Adiknya bisa mendengar hal itu.


"Bentar deh Kak, maksudnya yang basah itu apa ya?" tanya Bella sengaja menggoda Kakaknya supaya lebih malu lagi.


"Ga usah pura-pura polos kamu, Bella," kesal Daniel seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Bella polos kok Kak. Makannya Bella nanyain itu ke Kakak," ucap Bella berusaha untuk tidak tertawa keras.


Daniel tak merespon. Lelaki itu memilih diam daripada menjawab pertanyaan aneh adiknya.


"Hahaha, Bella bercanda Kak. Bella sebenarnya tau kok maksud yang basah-basah itu kayak apa. Pasti dunia kenikmatan kan!" frontal Bella.


"Bella!" ucap Daniel berusaha untuk tidak ngegas mendengar Adiknya berbicara ngelantur.


"Wait, Kak. Biar Bella tebak, pasti Kakak udah ga tahan kan pengen unbo*xing Kak Kania?" goda Bella seraya menaik-naikan kedua alisnya.


"Ga usah bicara sembarangan. Emang kamu punya bukti?" tanya Daniel datar.


"Ya adalah," jawab Bella seraya bergegas menghampiri Kania.


"Nih buktinya." Bella menunjuk ke arah leher Kania yang terdapat banyak tanda kepemilikan karena ulah Kakaknya.


"Kakak masih mau ngelak?" tanya Bella sambil berkacak pinggang.


Daniel menarik napas panjang. Ternyata percuma ia sembunyikan keinginanannya itu, ujung-ujungnya juga Bella akan tau semuanya.


"Oke, Kakak ngaku. Kakak emang udah gak tahan ingin ngajak Kania jalan-jalan ke surga dunia," jawab Daniel.


"Woaww." Bella mulai bertepuk tangan melihat keberanian Kakaknya dalam mengaku.


"Surga dunia itu apa, Bell?" tanya Kania pada Bella.


"Kakak mau tau? Sini Bella bisikin!"


Kania kemudian mendekatkan telinganya pada mulut Bella.


"Surga dunia itu adalah tempat paling ternikmat dan terindah sedunia. Kalo Kakak ke sana, pasti Kakak bakal ketagihan," bisik Bella.


"Ho, beneran Bell?" tanya Kania dengan memasang ekspresi kaget yang lucu.


"Beneran Kak."


"Kak Daniel," panggil Kania pada Daniel yang saat ini sedang bermain ponsel di atas sofa.


"Ada apa?" tanya Daniel.


"Kita nikah sekarang yuk, Kak. Kania udah ga sabar pengen diajak jalan-jalan ke surga dunia sama Kakak!" ucap Kania dengan antusias.


Daniel yang kebetulan sedang minum air putih, langsung tersedak setelah mendengar ucapan Kania.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komen dan vote semuanya. 🤗


__ADS_2