
...🍀🍀🍀...
Di Ruang Tengah.
"Mr Daniel tenang saja! Kali ini aku tidak akan teledor lagi dalam mengelola administrasi keuangan!" ucap wanita itu. Sebut saja namanya Tasya. Dia adalah sekretaris di perusahaan milik Daniel.
"Oke, aku percaya. Tapi kamu tau kan konsekuensinya jika teledor lagi seperti kemarin?" tanya Daniel menatap Tasya di sebrang sana dengan tatapan elang-nya.
"T-tau Mr," jawab Tasya gelagapan saat melihat tatapan Daniel yang cukup mematikan.
Srtt!
"Ho Ya ampun!" kaget Tasya saat seseorang tiba-tiba mengarahkan pi*sau ke dekat lehernya dari arah belakang.
"Maaf ya Nek. Jika kedatangan Nenek ke sini cuma untuk jahatin Kak Daniel doang, maaf-maaf nih Kania terpaksa harus sem*belih Nenek," ucap Kania dengan nada savage-nya.
"WHAT?"
Sementara itu, Daniel dibuat kaget dengan tingkah Kania yang tiba-tiba bersikap tidak sopan pada tamunya.
"Kania!!" ucap Daniel sedikit meninggikan nadanya.
"Sutt Kak Daniel diem aja. Biar Kania urusin Nenek-nenek jahat yang satu ini!" ucap Kania sekilas meletakan jari telunjuknya di bibirnya sendiri, meminta Daniel untuk tidak bicara.
Daniel menepuk dahinya. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa setiap saat Kania selalu berbuat ulah.
"Kania, kembalikan pisau itu sekarang!" pinta Daniel sembari berdiri dari tempat duduknya.
Kania menggeleng. "Ga, Kak. Orang Kania aja belum kasih pelajaran, masa harus dikembalikan pisaunya," ucap Kania.
Daniel menghela napas gusar. "Kania, jangan bertindak gegabah! Pisau itu bukan mainan!" peringat Daniel.
Kania tidak menghiraukan ucapan Daniel dan malah semakin mendekatkan pisau itu ke leher Tasya.
"Mr, siapa gadis ini? Kenapa dia terlihat menakutkan?" tanya Tasya panik. Ia tidak berani bergerak, takut pi*sau itu menggoresi lehernya.
"Heh, Nek. Nenek siap gak Kania jadiin sup?" tanya Kania sembari memperlihatkan centong sayung pada Tasya.
"Kamu udah gila ya," geram Tasya.
"Kania!" pekik Daniel.
Kali ini kesabaran Daniel sudah habis. Dengan langkah cepat Daniel mendekati Kania.
"Kembalikan pisau itu padaku!" pinta Daniel.
Kania menggeleng tidak mau.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, Kania!" ucap Daniel dengan meninggikan nadanya.
Kania terdiam setelah Daniel membentaknya. Bahkan gadis lugu itu jadi penurut.
"Ya udah, nih Kania kembalikan!" ucap Kania seraya menyodorkan pisau itu pada Daniel.
Tanpa ada pembicaraan lagi, Kania berlalu pergi ke lantai atas dengan memasang wajah cemberut.
Melihat hal itu, Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan tingkah Kania yang kadang berubah-ubah.
Kadang melawan, kadang penurut. Kadang li*ar, kadang imut. Kadang bikin ngeselin, kadang bikin ngangenin.
🍀
🍀
🍀
Kamar Bella.
__ADS_1
Terlihat Kania sedang duduk di tepi kasur sambil memeluk erat boneka kesayangannya.
Bella yang kebetulan baru selesai mandi, dikejutkan dengan kehadiran Kania yang tiba-tiba berada di kamarnya.
"Loh Kak Kania. Bukannya tadi Kak Kania lagi labrak si pelakor?" tanya Bella seraya mendudukan diri di samping Kania.
"Hehe gak jadi dikasih pelajaran Bell," jawab Kania sambil cengengesan.
"Kenapa?"
"Ga papa," timpal Kania dan kembali memasang wajah kusut.
"Beneran? Kok wajah Kakak kayak kusut gitu?"
"Beneran kok Bell," ucap Kania seraya tersenyum lebar.
"Ya udah, Bella ganti baju dulu ya Kak. Bentar lagi mau kuliah," ucap Bella yang langsung direspon anggukan kecil dari Kania.
🍀
🍀
🍀
Kini Kania berada di ruang tengah sambil menonton acara kesukaannya.
Tampak Kania tidak bisa berhenti tertawa karena acara yang sedang ditontonnya benar-benar begitu humoris.
"Hahaha.. Masa kambing dibilang domba."
Tap ... Tap ... Tap ...
Terdengar suara langkah kaki seseorang menuruni anak tangga. Setelah Kania lihat, ternyata Daniel.
Refleks Kania pun menghentikan tawanya dan langsung memasang wajah kusut setelah melihat sosok Daniel dari kejauhan.
Kania tak menjawab dan malah menggeser tubuhnya ke samping kiri, menjauhi Daniel.
"Kenapa menjauh?" tanya Daniel heran.
Lagi-lagi Kania tidak merespon. Hal itu lantas membuat Daniel sedikit jengkel karena dua pertanyaannya barusan tidak dijawab sedikitpun oleh Kania.
"Kania, aku bertanya padamu. Kenapa tidak dijawab?" tanya Daniel.
Krik ... Krik ...
Daniel menghela napas panjang. Ternyata sulit sekali memahami emosi wanita.
"Kania," panggil Daniel dengan nada lembut.
Kania tetap acuh.
Daniel kemudian menggeser tubuh ke samping kiri mendekati Kania. Melihat hal itu, Kania pun langsung berpindah duduk ke kursi sebrang.
"Kania, jangan buat aku kesal. Bicaralah sekarang!" pinta Daniel berusaha untuk tidak ngegas.
"Mochi, Mochi denger ga? Tadi ada yang ngomong sama Kania, tapi ga nampakin wujudnya. Apa jangan-jangan itu hantu lagi Chi?" tanya Kania pada boneka kesayangannya.
Mata Daniel membulat. Apa katanya tadi? Hantu? Yang benar saja, pria setampan dirinya disamakan dengan hantu.
"Kania, kesabaranku sudah habis. Kau mau bicara atau ku hukum?" tanya Daniel seraya bersedekap dada dengan bibir yang membentuk senyuman miring.
Tidak ada jawaban dari Kania. Gadis itu malah sibuk melihat-lihat langit rumah.
"Oh, ternyata kau suka dihukum ya," ucap Daniel sembari bangkit dari tempat duduknya, lalu perlahan berjalan mendekati Kania.
Melihat hal itupun Kania langsung lari terbirit-birit menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar Bella dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ck." Daniel tersenyum smirk melihat kepanikan Kania. Entah kenapa jika dalam mode marah seperti itu, Daniel jadi semakin bersemangat menggodai Kania.
"Tuan..."
Langkah Daniel langsung terhenti saat Arez memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Daniel.
"Tuan Rendra ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan Group LN. Dia memintaku untuk mengatur pertemuannya denganmu," timpal Arez.
"Atur pertemuannya sekarang! Dan jangan lupa siapkan mobil."
"Baik Tuan."
Arez berlalu pergi menyiapkan mobil. Sementara Daniel melihat sejenak ke kamar Adiknya dari kejauhan sembari tersenyum menyeringai.
"Lihat aja nanti Kania, kau pasti akan ku hukum," ucap Daniel dalam hatinya.
🍀
🍀
🍀
Setengah hari ini Kania benar-benar bosan. Ia benar-benar tidak punya aktivitas apapun selain menonton dan membaca.
Kalau saja ada Bella, mungkin Kania tidak akan merasa kesepian.
Kebetulan di Mansion ini, hanya ada Kania, dan juga beberapa bodyguard yang diperintahkan oleh Daniel untuk menjaga Kania.
"Hey Om, main yuk!" ajak Kania kepada para bodyguard yang sedang menjaga di pintu utama.
"Hah?"
Para Bodyguard itu terlihat saling menatap satu sama lain, saling bertanya-tanya apakah mereka harus menyetujui ajakan Kania atau tidak.
🍀
🍀
🍀
Pukul setengah lima sore ...
Daniel kini sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Arez, apa kau punya kekasih?" tanya Daniel pada Arez yang tengah menyetir mobil.
"Eh? Pu--punya, Tuan."
"Apa Kekasihmu pernah marah?"
"Pernah, Tuan. Dulu Kekasihku itu marah karena dia melihatku berbicara dengan seorang wanita. Dia mengira wanita itu adalah selingkuhanku. Padahal cuma sekedar rekan biasa," jelas Arez.
"Lalu bagaimana caramu membuat kekasihmu tidak marah lagi?" tanya Daniel.
"Kebetulan kekasihku itu suka yang romantis-romantis, Tuan. Makannya aku bikin kejutan romantis untuk dia," ungkap Arez.
Daniel memanggut-manggutkan kepala mengerti. Lalu berpikir, apakah kejutan romantis akan membuat gadis lugu seperti Kania tidak marah lagi padanya?
"Oya Arez, apa kau setuju wanita itu menyusahkan? Kenapa mereka selalu punya emosi yang sulit dipahami oleh kita, para pria?" tanya Daniel mengalihkan pembicaraan pada topik lain.
"Terkadang para wanita suka gitu, Tuan. Mereka mudah sekali tersinggung dan marah meskipun penyebabnya adalah hal sepele."
"Hmm." Kali ini Daniel sedang berpikir apa yang membuat Kania marah sampai tidak mau bicara padanya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote semuanya. 🤗