Gadis Polos Milik Monster Tampan

Gadis Polos Milik Monster Tampan
Part 7


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Kak Daniel? Kakak di sini juga?" tanya Kania.


Daniel menghela napas kasar. Kenapa harus Kania yang menjadi mainan baru Jack.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Jack memandang Daniel dan Kania secara bergantian.


"Iya, Uncle. Dia Kakak temannya Kania," jawab Kania seraya tersenyum manis. Karena merasa gemas, Jack langsung merangkul bahu Kania dengan mesra.


Sementara Daniel terang-terangan menatap Jack dengan sorotan mata tajam yang mematikan. Ia hapal betul pria seperti apa Jack itu.


"Jack, apa kau sengaja ingin membuatku marah?" tanya Daniel, di mana kali ini tidak menyebut Jack dengan sebutan Mr lagi.


"Apa maksudmu, Mr?" tanya Jack tidak mengerti.


Dengan gerak cepat Daniel menarik tangan Kania agar berdiri di sampingnya. "Dia milikku!" parau Daniel.


"Apa? Apa maksudnya mainan baruku adalah milikmu?" tanya Jack merasa tidak terima jika Kania diambil oleh Daniel.


"Kau tidak percaya dia milikku, Jack? Apa kau perlu pembuktian?" tanya Daniel sambil membuka masker dan juga kacamata hitamnya.


"Iya," jawab Jack menantang.


Tanpa pikir panjang, Daniel mengambil handphone dari saku celananya. Setelah itu ia menelpon seseorang.


"Datanglah kemari!" titah Daniel pada orang suruhannya.


"Baik, Bos!"


Daniel mematikan sambungan telponnya. Setelah itu ia kembali menatap Jack dengan tersenyum menyeringai.


"Kau memanggil siapa? Apa kau ingin macam-macam denganku? Ayolah! Aku tidak ingin ada tumpah darah di antara kita, lebih baik kita bicarakan masalah ini secara baik-baik," ujar Jack.


"Benarkah? Terus apa solusinya?"


"Solusinya kau harus menyerahkan Kania kepadaku. Jika tidak--"


"Jika tidak apa, Jack? Kau ingin membunuhku? Ck, sepertinya kau memang ingin main-main denganku," ucap Daniel perlahan mendekati Jack dengan tersenyum sinis.


"Jangan membuatku marah, Mr!" peringat Jack.


"Kau juga, Jack. Jangan pernah membuatku marah!" sahut Daniel tak ingin kalah dari Jack.


"Sialan!" umpat Jack lalu berjalan menghampiri Kania dan menarik kasar tangan gadis itu untuk keluar dari Mall.


"Sakit, Uncle! Uncle mau bawa Kania ke mana?" tanya Kania sesekali menoleh ke belakang. Lebih tepatnya pada Daniel yang hanya berdiam diri di tempat.


Kak Daniel, batin Kania dengan mata berkaca-kaca.


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


Diam-diam Jack membawa Kania ke tempat Hotel. Saat ini pria paruh baya itu merasa sangat emosi dan bergai*rah secara bersamaan. Ia ingin melampiaskan semua perasaan itu dengan bercinta.


Ya, bercinta dengan Kania.


"Ucle, kenapa Uncle membawa Kania ke sini?" tanya Kania mulai merasa takut saat Jack memperlakukannya dengan kasar.


"Kita akan bermain," jawab Jack sembari terus menyeret tangan Kania menuju kamar.


"Bermain? Memangnya kita akan bermain apa Uncle?" tanya Kania lagi.


"Bermain ranjang, Sayang!" timpal Jack di akhiri dengan mengunci pintu kamar.


Jack kemudian melepas jas hitamnya. Setelah itu, ia mulai mendekati Kania secara perlahan sembari membuka kancing kemejanya satu per satu.


"U--uncle mau apa?" tanya Kania ketakutan saat melihat Jack menatapnya dengan tatapan buas.


"Mau main denganmu!" jawab Jack di akhiri dengan menarik pinggang Kania hingga tubuhnya menempel dengan tubuh Jack.


"Lapasin Kania, Uncle!" pinta Kania merasa risih saat Jack berada di dekatnya.


"Jangan jual mahal, Sayang! Sebaiknya kau puaskan aku malam ini!" ujar Jack dengan tersenyum menyeringai.


"Puaskan?"


Jack hendak menyambar bibir Kania, namun dengan gerak cepat Kania mendorong wajah Jack dengan kasar.


"Jangan, Uncle! Jangan cium Kania! Kania ga mau!" tolak Kania.


"Kau berani menolakku hah?" marah Jack seraya menarik rambut Kania ke belakang dengan kasar.


"Ahh, sakit Uncle!" rintih Kania berusaha melepaskan cengkraman Jack dari rambutnya.


"Ini akibatnya jika kau tidak patuh padaku. Sekarang puaskan aku!" titah Jack seraya menarik tengkuk Kania agar mau mencium bibirnya terlebih dahulu.


Kania menggeleng-gelengkan kepala. Ia berusaha menahan diri agar bibirnya tidak bersentuhan dengan bibir Jack.


Bugh!


Kania menendang paha Jack dengan keras, alhasil membuat sang empu merintih kesakitan.


Kania kemudian berlari menuju pintu dan menggedor-gedor pintu tersebut dengan sangat keras berharap seseorang akan datang menyelamatkannya.


Brug! Brug! Brug!


"Huaaa, tolongin Kania! Kania takut berada di sini!" jerit Kania sembari menangis sejadi-jadinya.


Melihat hal itu, Jack langsung tertawa. "Hahaha ... teriaklah sesuka hatimu, Sayang. Kamar kita ini kedap suara, jadi tidak akan ada orang yang datang mengganggu kita. Termasuk si baj*ingan Daniel sekalipun!"

__ADS_1


Kania tak peduli. Ia terus menerus menggedor pintu dengan sangat keras.


"Kemarilah, Sayang!" goda Jack seraya berjalan mendekati Kania dengan keadaan telan*jang dada.


Kania menggeleng dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar.


"Sudah kubilang Sayang, jangan jual mahal!" peringat Jack dengan tersenyum menyeringai.


Perlahan Kania melangkah mundur saat predator ga*nas semakin mendekat ke arahnya.


"Jangan coba-coba deketin Kania, Uncle! Uncle itu jahat! Kania benci sama Uncle!" ketus Kania.


"Saat marah, ternyata kau makin cantik ya," goda Jack.


Melihat Jack yang semakin dekat, Kania akhirnya memilih untuk kembali berlari. Namun, saat ingin lari, Jack tiba-tiba mencakar leher Kania hingga memerah.


"Aahh." Kania langsung terduduk memegang lehernya yang terasa sakit.


"Tidak sia-sia juga aku punya kuku panjang," gumam Jack seraya tersenyum puas.


"Hiksss, jangan deketin Kania, Uncle!" lirih Kania sembari beringsut ke belakang manjuhi Jack yang semakin mendekat ke arahnya.


Kania berhenti beringsut ketika punggungnya menempel pada dinding. Sementara Jack, ia mulai berjongkok di hadapan Kania dan langsung mencengkram kasar rahang gadis itu.


"Kau mau lari ke mana lagi hah?" tanya Jack.


"Hiksss, sakit Uncle!" Kania berusaha melepas cengkraman Jack dari rahangnya.


"Puaskan aku dulu, Sayang. Baru ku lepaskan!" ucap Jack.


"Hikss, ga mau!" tolak Kania.


Emosi Jack mulai naik. Ia benar-benar marah karena Kania tak kunjung memulai aktivitas pan*asnya.


Brak!


Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan lebar. Hal itu lantas membuat Jack tidak jadi menurunkan mini dress yang dipakai oleh Kania.


"Kepa*rat! Siapa yang berani mengganggu?" geram Jack seraya berdiri dari jongkoknya.


"Aku!" ucap seseorang yang kini tengah berdiri di ambang pintu dengan bersedekap dada.


Sontak Jack terbelalak melihat orang itu.


"Mr Daniel!" ucap Jack kaget.


"Hikss, Kak Daniel!" lirih Kania seraya tersenyum senang melihat kehadiran Daniel.


Bersambung


Jangan lupa like, komen dan vote semuanya ❤🤗

__ADS_1


__ADS_2