Gadis SMA Milik Casanova

Gadis SMA Milik Casanova
BAB 10


__ADS_3

"Aduh, badan aku sakit semua..." Silvi mengerjapkan matanya saat mentari telah bersinar terang menembus kaca jendela.


Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Perlahan dia menggeser tubuhnya tapi kedua pahanya terasa sakit, belum lagi rasa mengganjal yang tersisa di bagian intinya.


Dia melihat tubuhnya yang polos di balik selimut. Tanda merah memenuhi tubuhnya terutama di sekitar dadanya. Rasanya dia sangat jijik dengan dirinya sendiri. Semalam benar-benar seperti mimpi buruk baginya.


Silvi kembali meneteskan air matanya. "Hidup aku sudah hancur. Sekarang aku hanya akan menjadi boneka pelampiasan hasrat saja."


"Sayang, sudah bangun." kata Andika yang kini berjalan masuk ke dalam kamar.


Silvi hanya membuang wajahnya dari Andika.


Andika membawa susu hangat dan roti isi selai untuk Silvi.


"Minum susu dulu, biar badan kamu segar lagi."


Silvi tak melihat Andika sama sekali. Orang itu berkata manis hanya karena ada maunya saja.


Perlahan Silvi bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia meringis kesakitan. Badannya terasa remuk seperti tak memiliki tulang.


Andika kini duduk di samping Silvi dan mengusap rambut Silvi. "Kamu jangan pernah menolak kebaikan aku. Kalau kamu nurut sama aku, aku gak akan nyiksa kamu."


Silvi hanya terdiam. Dia mengusap asal air matanya. "Aku mau ke sekolah."


"Ini sudah jam 8, dan kamu gak mungkin ke sekolah dengan keadaan seperti itu. Aku sudah panggilkan tukang massage, dan menyiapkan makanan bergizi serta vitamin buat kamu." Andika kembali menyodorkan segelas susu itu lagi. "Minum!"


Kali ini Silvi mau meminumnya. Dia habiskan segelas susu itu. Kemudian Andika menyuapinya roti. "Kamu harus ingat, kamu sudah menjadi istri aku. Apa yang kita lakukan semalam, tidak berdosa. Jadi setelah ini lakukan dengan hati, karena aku tidak akan memberi obat lagi."


Silvi tak menjawabnya. Dia kini seperti boneka yang dipermainkan Andika.


Perlahan Silvi berdiri, tapi saat dia melangkahkan kakinya terasa sangat sakit. "Aww," pekik Silvi sambil membungkukkan badannya.


Andika kini menggendong tubuh Silvi dan membawanya ke kamar mandi. Dia turunkan tubuh itu di dalam bathup. "Kamu berendam dengan air hangat agar rasa sakit dan lelah di tubuh kamu hilang." Andika menghidupkan kran dan mengisi bathup itu dengan air hangat. Dia masih saja mengintai tubuh Silvi. Meski sebenarnya dia ingin mengulangnya lagi, tapi kali ini dia masih punya hati.


Setelah itu dia keluar dan membiarkan Silvi berendam sendiri. Kemudian Andika menelepon tukang bersih-bersih agar membereskan kamarnya yang berantakan.

__ADS_1


...***...


"Silvi kenapa gak masuk lagi?" gumam Dion, dia kini duduk seorang diri di depan kelas sambil menatap layar ponselnya. Sudah banyak pesan yang dia kirim sejak pagi sampai pulang sekolah tak ada satupun yang berhasil terkirim karena nomor Silvi tidak aktif.


"Apa kaki Silvi sakit lagi? Biar gue jenguk ke rumahnya saja."


Dion berdiri lalu dia berjalan menuju tempat parkir. Dia segera menaiki motornya dan memakai helmnya. Beberapa saat kamudian, motornya telah melaju menuju rumah Silvi.


Gue merasa Silvi punya masalah yang sangat berat. Tapi apa? Gue akan mencari tahu masalah Silvi yang sebenarnya.


Beberapa saat kemudian, Dion telah sampai di depan rumah Silvi. Dia turun lalu mengetuk pintu rumah Silvi. Sampai beberapa kali tapi tidak ada yang membuka pintu itu. Akhirnya dia duduk di teras rumah Silvi, memutuskan untuk menunggu kepulangan mereka.


Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Pak Adi pulang.


"Dion, sedang apa di sini?" tanya Pak Adi setelah turun dari motornya.


Dion berdiri lalu bersalaman dengan Pak Adi. "Saya mau bertemu Silvi. Silvi mengapa tidak masuk sekolah? Apa kaki Silvi sakit lagi?"


Pak Adi terdiam beberapa saat. "Silvi kemarin ke rumah neneknya, di sana ada acara. Nanti malam baru pulang. Besok pasti sudah masuk sekolah." kata Pak Adi berbohong.


"Iya, hati-hati ya."


Dion berjalan menuju motornya lalu menaikinya. Dia masih berpikir, kenapa Silvi sebenarnya?


...***...


Malam itu, Silvi hanya terdiam di kamar Andika. Dia menatap ponselnya yang mati. Sepertinya ponselnya sengaja di rusak Andika.


Beberapa saat kemudian Andika masuk ke dalam kamar dengan membawa setumpuk buku milik Silvi. "Ini buku-buku kamu. Semua perlengkapan sekolah kamu juga sudah aku ambil. Besok kamu boleh sekolah tapi tetap dalam pengawasanku."


Silvi hanya terdiam. Tanpa menoleh Andika sedikitpun yang sedang meletakkan buku-bukunya di atas meja.


Kemudian Andika duduk di sebelah Silvi. "Jangan muram terus seperti ini. Kamu harus biasa hidup denganku."


Silvi hanya terdiam seribu bahasa. Sejak tadi pagi dia biarkan Andika berbicara sendiri. Dia tidak akan meresponnya.

__ADS_1


"Masih kurang apa lagi? Badan kamu sudah di massage. Sudah minum suplemen juga. Masih sakit?" Andika menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipi Silvi. "Nanti kamu juga bisa melakukan perawatan. Kamu mau apa, pasti akan aku turuti, asal kamu tidak pernah menolakku."


Silvi memundurkan kepalanya. Dia tidak akan terpengaruh dengan kata-kata manis Andika.


Satu tangan Andika kini merengkuh pinggang Silvi. Kemudian dia menciumi leher Silvi.


Silvi hanya terdiam, seperti boneka yang hanya pasrah dimainkan pemiliknya.


"Silvi, tidak ada wanita yang senikmat kamu. Hingga aku ingin mengulanginya lagi dan lagi." Satu tangan Andika menurunkan lengan setali Silvi. Ciumannya berpindah ke bahu Silvi yang terlihat sangat seksi.


Silvi hanya terdiam sambil memejamkan matanya. Dia sudah lelah untuk melawan.


Ciuman Andika semakin turun ke bawah. Dia nikmati dua bulatan yang menonjol itu hingga suara decapan terdengar memenuhi kamar.


Silvi mulai resah. Andika memang selalu bisa memancing hasrat wanita. Dia pastikan tubuh Silvi akan menerimanya dengan terbuka meski hatinya menolak.


Ciuman itu semakin turun dan singgah di atas buah sintal itu. Menghisap dan menyapunya lembut.


Silvi hanya menggigit bibir bawahnya. Rasa nikmat menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya. Padahal jelas-jelas dia menolak dan membenci Andika.


Andika tersenyum kecil. "Sekeras apapun hati kamu menolak tapi tubuh kamu sangat meresponnya dengan bagus." Satu tangannya kini sudah menyelinap masuk ke inti Silvi dan membelainya lembut.


Silvi semakin menggigit bibir bawahnya. Dia tahan suara yang seharusnya tidak keluar dari bibirnya.


"Sudah basah, itu tandanya kamu sudah bisa menerima kehadiranku lagi. Malam ini aku kasih kelonggaran satu kali saja karena kamu besok sudah mulai sekolah."


Silvi hanya terdiam. Dia hanya pasrah menerima setiap perlakuan Andika.


Hanya suara Andika yang mendominasi permainan panas itu. "Ough, sayang, kamu memang sangat nikmat."


💕💕💕


.


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2