
Hari-hari yang dilalui Silvi tak lepas dari cengkeraman Andika. Tiga minggu sudah dia tinggal di apartemen Andika. Dia juga hanya dua kali bertemu dengan Ayahnya.
Selama dia menurut dengan Andika, Andika pasti akan bersikap manis padanya.
Hari Minggu itu, Silvi mencoba bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi. Sebenarnya dia merasa sangat bosan, tidak ada ponsel yang dia pegang. Andika sangat membatasi komunikasi Silvi.
Andika kini duduk di sebelah Silvi. "Gini dong, nonton tv. Banyak pilihan film, drakor juga ada."
Beberapa saat kemudian ada seseorang yang menekan bel pintu Andika.
Andika berdiri dan membuka pintunya. Dia terkejut saat Laura tiba-tiba masuk dan memeluknya.
"Andika, aku kangen. Kamu kok gak pernah hubungi aku selama tiga minggu ini." Tatapan mata Laura kini beralih pada Silvi yang sedang berdiri. "Dia siapa?"
"Laura, dia hanya kucing kecil. Ayo, kita ke kamar saja." Andika menutup pintunya kembali lalu dia menggandeng Laura ke kamarnya.
"Oo, jadi kamu sudah punya peliharaan baru jadi lupa sama aku."
"Bukan gitu, akhir-akhir ini aku sibuk."
Silvi hanya terbengong menatap mereka berdua berlalu menuju kamarnya. Bahkan Andika saja tidak menutup kamarnya hingga suara vul gar dari mereka berdua begitu terdengar jelas.
"Andika, kamu memang paling bisa buat aku melayang."
Silvi merasa sangat geram saat mendengar suara laknat itu dari mereka. Bisa-bisanya mereka berbuat mesum secara terang-terangan.
Silvi membuang napas kasar lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Untunglah kamar yang dibuat Andika me sum bukanlah kamar yang dia tempati untuk tidur. Dia menutup telinganya dengan bantal tapi suara laknat itu masih saja terdengar.
Tiba-tiba Silvi merasa takut. Dia kini duduk di tepi ranjang. "Kalau Pak Andika sering berganti pasangan seperti itu, bukan tidak mungkin dia mengidap penyakit menular. Bagaimana kalau dia tularkan ke aku."
Otot-otot Silvi kini terasa menegang. "Menjijikkan sekali." Silvi mengambil bantal lalu memukulinya. "Harusnya orang seperti itu gak hidup di sini."
"Terus, harus hidup dimana?"
Pertanyaan itu membuat Silvi terkejut. Begitu cepat Andika berdiri di ambang pintunya.
"Jangan kaget, dia sudah aku suruh pulang. Hanya sebentar, masih lama durasi aku sama kamu." kata Andika seperti tak berdosa sama sekali.
Silvi tak peduli dengan hal itu, yang jelas dia merasa semakin jijik dengan Andika.
Andika kini duduk di sebelah Silvi, tapi Silvi menggeser dirinya. Akhirnya Andika menahan pinggang Silvi agar Silvi tidak berpindah lagi.
__ADS_1
"Lepasin! Aku jijik sama Pak Dika."
"Oke, aku akan mandi dulu."
"Cih, aku gak mau lagi melayani Pak Dika. Aku gak mau tertular penyakit karena Pak Dika sering berganti pasangan."
Seketika Andika tertawa dengan keras. "Kamu pikir aku bodoh. Aku selalu pakai pengaman saat berhubungan dengan mereka semua. Hanya dengan kamu, aku melakukannya tanpa pengaman. Karena kamu istri aku, jadi jika terjadi apa-apa dengan kamu aku pasti akan bertanggung jawab dan kamu juga akan menjadi partner tetap aku sampai nanti."
"Istri siri aja bangga."
"Mau jadi istri sah? Belum waktunya." Andika berdiri lalu mengusap puncak kepala Silvi. "Aku akan bersih-bersih dulu. Setelah ini aku pastikan Laura gak akan ke sini lagi."
Silvi mengelak usapan dari Andika.
Andika hanya tersenyum lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
"Menyebalkan!" Silvi menghempaskan dirinya di atas ranjang. Beberapa saat kemudian dia menguap panjang. Tak butuh waktu lama, dia pun tertidur.
...***...
Pagi hari itu, hampir saja Silvi terlambat bangun. Semalam Andika kembali menyerangnya sampai dia merasa kelelahan.
"Badan aku lemas sekali." Silvi duduk di depan meja riasnya setelah selesai mandi. Dia juga sudah memakai seragamnya.
Andika sudah menunggunya di meja makan. "Kamu sarapan dulu, sebentar lagi aku antar."
Silvi hanya mengambil roti dan mengolesnya dengan selai.
"Sarapan pakai nasi saja. Kalau cuma roti nanti kamu lapar." kata Andika. Akhir-akhir ini dia memang semakin perhatian dengan Silvi karena Silvi selalu mengikuti semua perintahnya.
Silvi hanya menggelengkan kepalanya.
Andika tahu, Silvi memang keras kepala. Dia kini mengambil kotak bekal lalu mengisinya dengan nasi dan lauk. "Jangan lupa dimakan. Hari ini wajah kamu pucat. Aku gak mau kamu sakit."
Silvi hanya menghela napas panjang. Tentu saja, Andika tidak mau Silvi sakit agar malam-malamnya tidak terlewat.
Setelah selesai sarapan, Andika mengantar Silvi ke sekolahnya.
Andika beberapa kali melirik Silvi yang hanya berdiam diri dengan wajah pucatnya. "Kalau sakit, kita periksa ke rumah sakit saja."
"Aku gak papa." jawab Silvi menolak tawaran Andika.
__ADS_1
"Ya sudah." Beberapa saat kemudian Andika menghentikan mobilnya 10 meter sebelum gerbang sekolah.
Silvi turun dari mobil lalu berjalan menuju gerbang sekolah. Setelah melewati gerbang sekolah, Dion datang menghampirinya. "Silvi, lo sakit? Wajah lo pucat."
Silvi menggelengkan kepalanya. "Hanya capek aja." jawab Silvi sambil berlalu mendahului Dion.
Setelah bel masuk berbunyi, Silvi dan teman lainnya segera berganti seragam olahraga.m di toilat.
"Silvi leher lo kenapa merah-merah gitu. Habis dicium siapa? Dion?" tanya salah satu teman Silvi yang tanpa sengaja melihat tanda merah di leher Silvi.
Seketika Silvi menutup tanda merah itu. "Nggak! Ini cuma gatal aja. Aku habis makan udang jadi alergi." kata Silvi berusaha mencari alasan kemudian dia berjalan keluar dari toilet.
Beberapa teman-temannya mulai bergosip tentang Silvi.
"Benar kan? Kedekatan Silvi dan Dion itu memang mencurigakan. Ngakunya aja gak pacaran."
"Iyalah, yang terakhir kalian lihat waktu main dance tango, mereka berdua nempel-nempel kayak gitu."
"Tapi berapa minggu ini mereka saling menjauh."
"Kayaknya mereka berdua baru buka segel. Biasalah, habis buka segel tuh malu-malu gitu."
Tanpa sengaja Dion mendengar percakapan teman-teman Silvi yang tidak tahu diri itu. Dia kepalkan tangannya, seandainya mereka bukan perempuan, ingin sekali dia menghajar mereka satu per satu. Kemudian Dion melangkahkan kakinya menuju lapangan. Dia melihat Silvi yang sudah berdiri di pinggir lapangan. Ingin dia menghampirinya tapi pemanasan sudah dimulai.
Dion mengikuti pemanasan itu. Sesekali dia melihat Silvi yang bergerak melamban tidak segesit biasanya.
"Silvi!"
Dion segera berlari dan meraih tubuh Silvi yang jatuh pingsan. "Silvi lo kenapa?" Kemudian dia menggendongnya menuju UKS. Dia tak peduli lagi dengan gosip teman-temannya.
Dion menurunkan Silvi di atas bed UKS. "Silvi bangun." Pandangan mata Dion kini juga tertuju pada tanda merah di leher Silvi.
Sebenarnya siapa yang ngelakuin ini sama lo?
.
💕💕💕
.
Like dan komen...
__ADS_1
.