
"Yon, bukannya kata lo itu mobil grab ya? Kenapa masih nungguin lo?" tanya Silvi karena mobil yang dia tumpangi tadi bersama Dion masih ada di tempat parkir.
"Iya, gue ambil yang paket 2 jam." Dion membuka pintu mobil lalu membantu Silvi masuk ke dalam mobil.
Setelah Dion masuk ke dalam mobil, mobil itu segera melaju menuju rumah Silvi.
Sepanjang perjalanan pulang, Silvi hanya diam sambil menatap kosong jalanan sore hari itu.
Dion hanya menatap Silvi dari samping, dia tahu pasti Silvi sedang mempunyai masalah yang berat. Dia biarkan Silvi larut dalam kesendiriannya, karena jika nanti sudah waktunya, pasti Silvi akan bercerita padanya.
Sampainya di depan rumah Silvi, Dion segera membantu Silvi turun dari mobil.
"Gue gendong. Kan kaki lo gak boleh digerakkan." Dion mengangkat tubuh Silvi lalu menurunkannya sesaat di kursi teras rumah untuk mengambil kunci yang disembunyikan di dekat pot, kemudian dia membuka pintu itu.
Dion kembali mengangkat tubuh Silvi lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Lo turunin di sini saja." kata Silvi yang meminta duduk di ruang tamu. Dia tidak enak jika ada lelaki yang melihat kamarnya.
Setelah menurunkan Silvi, Dion kini duduk di sebelahnya.
"Makasih ya, lo udah bantu gue." kata Silvi. Kebaikan Dion padanya sudah tak terhitung lagi.
"Iya. Kalau lo ada masalah, lo bisa cerita sama gue. Gue pasti akan bantu lo selagi gue bisa."
Silvi hanya terdiam. "Gue gak papa. Gue akan mengatasi masalah gue sendiri." Meski dari raut wajah Silvi dia tidak bisa berbohong. Dia sendiri tidak yakin bisa mengatasi masalahnya.
"Gue tunggu sampai Ayah lo pulang ya. Lo mau makan? Gue pesankan makanan."
Silvi hanya menggelengkan kepalanya tapi Dion tetap memesankan makanan untuk Silvi lewat aplikasi online. "Jangan sampai lo telat makan. Setelah makan lo juga harus minum obat biar cepat sembuh."
Silvi hanya menatap Dion, kemudian dia tersenyum kecil. Andai saja dia bisa bersama Dion, hidupnya pasti akan bahagia.
Hingga sore hari Dion masih menemani Silvi di rumahnya.
Beberapa saat kemudian Pak Adi sudah pulang ke rumah. Dia masuk dan melihat kaki Silvi yang dibalut perban coklat. "Kaki kamu kenapa?" tanya Pak Adi dengan khawatir.
Silvi justru menangis dan memeluk Ayahnya.
Melihat hal itu, Dion pamit undur diri. "Om, saya mau ambil motor Om dulu. Permisi."
"Terima kasih ya nak Dion."
"Iya Om, sama-sama."
Setelah Dion keluar dari rumah Silvi, Pak Adi kini duduk di sebelah putrinya.
__ADS_1
"Silvi cerita sama Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Adi.
Silvi mengusap air matanya asal. "Tadi pagi saat Silvi berangkat ada yang mendorong motor Silvi hingga Silvi terjatuh. Kaki Silvi tertindih motor dan sakit. Silvi gak bisa mengikuti kompetisi itu. Silvi sudah gagal mendapatkan uang itu Ayah." Silvi semakin menangis tersedu. Dia sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk lepas dari Andika.
Pak Adi kembali memeluk Silvi. Dia usap lembut kepala Silvi. Dia merasa menjadi seorang Ayah yang tidak berguna saat tidak bisa melindungi anak semata wayangnya.
"Dan, ternyata Pak Dika yang sengaja melakukan itu agar Silvi tidak bisa mengikuti pertandingan itu." lanjut Silvi lagi.
Pak Adi semakin mengeratkan pelukannya. "Silvi, maafkan Ayah telah membawa kamu masuk dalam masalah ini. Maafkan Ayah."
Silvi menggelengkan kepalanya. "Ini bukan salah Ayah."
Mereka masih saja berpelukan. "Kamu belum istirahat kan? Ayo, Ayah bantu istirahat."
"Silvi sedari tadi mau ke kamar mandi." kata Silvi. Karena dia tidak enak meminta bantuan Dion untuk ke kamar mandi.
"Ya udah ayo. Ayah gendong." Pak Adi melepas pelukannya lalu meraih tubuh Silvi dan mengangkatnya.
"Ayah, Silvi berat."
Pak Adi hanya tersenyum masam. "Bagaimanapun juga kamu tetap putri kecil Ayah."
...***...
"Apa yang harus aku lakukan?" Silvi menghela napas panjang. "Apa Dion punya uang sebanyak itu?" Meski ragu, kali ini tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada Dion. Meski nanti Dion tidak memiliki uang itu, tapi setidaknya Dion akan memberinya solusi.
Silvi akhirnya menghubungi Dion. Hanya beberapa kali nada sambung, Dion sudah menerima panggilan Silvi.
"Yon, lo dimana?" tanya Silvi.
"Gue lagi di kafe nongkrong sama anak-anak lain. Kenapa?"
"Hmm..." Silvi menghentikan perkataannya sesaat. "Ya udah, gue ke sana ya."
"Kaki lo udah sembuh?"
"Udah." jawab Silvi singkat.
Setelah mematikan panggilannya, Silvi kini berdiri lalu memakai jaketnya dan bersiap untuk pergi.
"Silvi, mau kemana? Ini sudah sore." tanya Pak Adi saat melihat Silvi sudah memakai jaket dan melangkah keluar.
"Silvi mau bertemu Dion. Sebentar saja. Ada di kafe dekat sini, yang biasanya dibuat nongkrong teman-teman."
"Kaki kamu beneran sudah sembuh?" tanya Pak Adi sambil melihat kaki putrinya.
__ADS_1
"Sudah Ayah."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya."
Setelah mencium punggung tangan Ayahnya, Silvi keluar dari rumah dengan mengendarai motor Ayahnya.
Baru saja Silvi pergi, beberapa saat kemudian Andika datang bersama anak buahnya ke rumah Pak Adi. Mereka memaksa masuk ke dalam rumah dan mengacak seluruh isi rumah itu.
"Pak Dika. Maaf kami belum bisa membayar hutang itu." kata Pak Adi. Dia sangat takut, Andika akan membawa paksa Silvi.
Kedua anak buahnya kini menyergap Pak Adi. "Dimana Silvi?"
"Dia tidak ada di rumah. Saya mohon, jangan pernah sakiti Silvi."
"Tidak ada di rumah? Anda pasti bohong!" Andika menyuruh anak buahnya mencari Silvi di dalam rumah, tapi Silvi memang tidak ada di rumah itu. "Kemana Silvi! Suruh dia pulang!" bentak Andika pada Pak Adi.
Pak Adi hanya terdiam. Dia tidak mungkin menyerahkan putrinya pada pria kejam seperti Andika.
Andika menyergap kaos depan Pak Adi. "Suruh dia pulang sekarang juga!"
"Saya tidak akan membiarkan Pak Dika membawa putri saya!" Pak Adi berusaha melepas tangan Andika. Tapi cengkeramannya sangat kuat.
Kini Andika mendorong Pak Adi dengan kuat hingga dia terjatuh dan kepalanya terbentur ujung meja. Ada setitik darah yang mengalir dari pelipisnya.
Andika mencari ponsel Pak Adi, setelah mendapatkannya dia menghubungi Silvi lewat panggilan video.
Beberapa saat kemudian, Silvi mengangkat panggilan itu.
"Kamu pulang sekarang atau Ayah kamu akan hancur di tangan aku!"
💕💕💕
.
Kejam sekali kamu Andika. Nanti aku laporkan sama Papa Reka.
.
Like dan komen ya.. ðŸ¤
.
Coba2 tema kayak gini, entah ada yg suka atau gak..
.
__ADS_1