Gadis SMA Milik Casanova

Gadis SMA Milik Casanova
BAB 23


__ADS_3

Silvi tersenyum merekah saat melihat hasil kelulusan yang sekarang dia pegang. Dia berhasil lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.


"Rika, gue berhasil." Silvi meloncat-loncat senang sambil berpegangan tangan Rika


"Yee, selamat ya. Kita semua berhasil lulus dengan nilai yang bagus."


Mereka saling berpelukan untuk mengungkap rasa bahagia.


Semua murid berkumpul dan merayakan hari kelulusan bersama. Pilox dan spidol warna-warni kini sudah memenuhi seragam putih mereka.


Hidup Silvi sekarang sudah bahagia, meski tanpa sadar jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia merindukan seseorang yang tak pernah lagi menemuinya.


Setelah hari kelulusan itu, Silvi terus berjuang mengikuti beberapa tes untuk mendapatkan beasiswa.


Hidupnya sekarang sangat beruntung, dia berhasil masuk di salah satu kampus impiannya dan mendapat beasiswa penuh. Tentu saja dia mengambil fakultas kesenian.


"Dion, makasih ya. Selama ini lo udah banyak banget bantu gue."


"Iya, sama-sama. Gue seneng lo bisa semangat lagi kayak gini."


Sore hari itu mereka mengobrol di sebuah kafe sambil menikmati segelas es coklat klasik.


"Sil, dua bulan lagi ada kompetisi Tango Dance, dan dibuka untuk umum. Kita ikut yuk."


Silvi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Iya, kali ini pasti kita menang."


Senyuman merekah itu tiba-tiba sirna saat mengingat kejadian yang hampir satu tahun berlalu. Kenangan itu memang pahit, tapi rasanya Silvi sangat merindukannya. Mengapa bisa benci itu berubah menjadi rindu.


"Kenapa?" tanya Dion yang melihat raut wajah Silvi tiba-tiba berubah.

__ADS_1


Silvi menggelengkan kepalanya. "Gak papa. Nanti kita atur jadwal latihan ya."


Kemudian mereka terdiam dan menghabiskan es mereka masing-masing.


"Sil, kita sudah bersahabat lama. Gue memang pernah ada perasaan sama lo, tapi untuk saat ini gue sudah mencoba berdamai dengan perasaan gue sendiri." kata Dion pada akhirnya.


Silvi hanya terdiam menatap Dion.


"Gue tahu kalau lo kangen sama Pak Dika."


Dengan cepat Silvi menggelengkan kepalanya. "Nggak! Gue gak pernah kangen sama Pak Dika. Gue juga gak pernah mikirin dia."


Dion justru tertawa mengingat takdir kisah ini. "Gue bawa lepas lo dari dia, tapi ternyata justru cinta yang mengikat kalian. Ya, lucu. Sepertinya ini yang dinamakan benci jadi cinta."


"Idih, cinta apaan. Gue gak ada perasaan apa-apa. Hidup gue udah tenang sekarang."


"Lo gak usah bohong sama gue. Lo udah beberapa kali salah panggil gue dengan sebutan Pak Dika." Dion tersenyum kecil, dia kini menyandarkan punggungnya sambil melihat ekspresi Silvi dengan pipi yang merona.


"Kalau lo mau, gue bisa suruh Pak Dika buat temui lo. Sekarang gue percaya, dia juga sudah banyak berubah."


Seketika Silvi mencubit lengan Dion. "Ih, nggak. Awas aja lo bilang sama tuh orang. Ngeselin!"


Dion hanya tertawa melihat pipi Silvi yang semakin merona.


"Memang lo sering ketemu sama Pak Dika?" tanya Silvi pada akhirnya. Rasa penasarannya sudah mengalahkan rasa gengsinya.


"Ya hanya beberapa kali sih bahas proyek. Karena sedikit-sedikit gue mulai bantu Papa pegang perusahaan.


"Terus? Terus?" Silvi sekarang sangat berantusias ingin mendengar cerita Dion tentang Andika. "Apa Pak Dika sekarang masih sering ganti-ganti wanita?" Tanpa sadar Silvi menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu ditanyakan pada Dion.

__ADS_1


Dion semakin menatap Silvi, sedetik kemudian dia tersenyum. Ternyata benar dugaannya, jika Silvi memang mencintai Andika. "Kalau soal itu ya gue gak tahu. Mau titip salam?"


"Nggak!" Tersadar betapa bodohnya Silvi yang menanyakan hal memalukan itu pada Dion. "Ya udah, gue pulang dulu ya. Nanti kita atur jadwal latihan kita."


"Mau diantar?" tawar Dion.


"Gak usah. Gue bawa motor sendiri." Kemudian Silvi berdiri. Dia melangkahkan kakinya sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tanpa sengaja dia kini menabrak dada bidang seseorang. Seperti aroma yang dia kenal. Silvi kini mendongakkan kepalanya. Waktu seolah berhenti berputar saat kedua pasang mata itu saling menatap.


"Silvi, apa kabar?" tanyanya dengan senyuman manis yang memiliki lesung pipi itu.


Silvi seolah membatu. Dia tidak menjawab maupun bergerak sedikit pun.


Tersadar, Silvi hanya mampu menggeser tubuhnya dan pergi meninggalkan Andika. Dia semakin mempercepat langkah kakinya sambil mengusap dadanya yang hampir saja kehilangan jantung.


Orang itu udah kayak hantu, tiba-tiba muncul. Untung jantung gue gak sampai lompat.


Silvi mendumel sendiri sambil menaiki motornya. Tangannya saja masih terasa tremor.


"Moga gak ketemu lagi sama dia." Silvi menghela napas panjang lalu mulai melajukan motornya.


Tentu saja itu hanya di bibir saja. Pipinya kini bersemu merah, dadanya masih bedebar. Beberapa saat kemudian, Silvi sudah sampai di rumahnya. Dia masuk ke dalam rumahnya sambil mengucap salam.


"Silvi, Ayah mau keluar sebentar. Mana kunci motornya?" kata Ayahnya yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Ini Ayah." Silvi memberikan kunci motor itu, lalu dia berlalu menuju kamarnya. Dia kini duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba bayangan Andika terlintas lagi dalam ingatannya.


Silvi akhirnya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Semua kenangannya bersama Andika terus berputar diingatannya. Entahlah, mengapa tiba-tiba dia merindukan sentuhan Andika.


💕💕💕

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2