
Akhirnya sanggar tari milik Silvi telah diresmikan. Sejak saat itu, dia disibukkan dengan mengajar seni tari di sanggarnya. Setidaknya, dia sudah tidak bersedih karena keinginannya memiliki buah hati belum juga terwujud. Bahkan di usia pernikahannya yang menginjak tiga tahun.
Sore hari itu, Andika menjemput Silvi di sanggar seperti biasanya.
"Sayang, udah selesai?" Andika memeluk Silvi dari belakang saat berada di kantor Silvi.
"Iya, sebentar aku kemasi dulu kertas-kertas ini."
Andika melepas pelukannya dan membantu Silvi merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.
"Sayang, wajah kamu kok pucat?" tanya Andika sambil mengusap pipi Silvi.
"Iya Mas, rasanya aku capek banget hari ini."
"Ya sudah, nanti sampai rumah langsung istirahat. Beberapa hari ini kamu keluhatan lemas." Andika merengkuh pinggang Silvi keluar dari kantornya. Setelah mengunci semua pintu sanggar, mereka berdua menuju tempat parkir.
Setelah masuk ke dalam mobil, beberapa saat kemudian mobil mereka melaju.
Silvi menguap beberapa kali lalu akhirnya tertidur.
Andika hanya tersenyum sambil sesekali mengusap puncak kepala Silvi. Setelah menghentikan mobilnya di depan rumah, Andika membangunkan pelan Silvi. "Sayang, sudah sampai. Mau aku gendong?"
Silvi membuka matanya. "Tidak usah, Mas. Aku bisa jalan sendiri." Dia menguap panjang sambil menutup mulutnya lalu membuka pintu mobil. Baru saja Silvi melangkahkan kakinya, tiba-tiba tubuhnya limbung dan dia tak sadarkan diri.
"Astaga, sayang!" Andika langsung meraih tubuh Silvi. "Sayang, kamu kenapa?" Andika kembali membawa Silvi masuk ke dalam mobilnya.
Tak butuh waktu lama, Andika melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Setelah sampai di rumah sakit, Andika segera membawa Silvi ke IGD. Dia kini menunggu hasil pemeriksaan di luar IGD dengan khawatir.
Semoga Silvi tidak kenapa-napa.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani Silvi keluar. Dia tersenyum pada Andika.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Andika sambil mendekat.
"Tidak apa-apa. Selamat ya, Bapak akan menjadi seorang Ayah."
Seketika mata Andika berkaca-kaca. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Maksud Dokter, istri saya hamil?"
"Iya, lebih pastinya, silakan Bapak dan istri langsung menuju poli kandungan untuk melakukan USG. Biar diantar suster."
"Iya Dok, terima kasih." Andika segera masuk ke dalam ruangan. Dia langsung memeluk Silvi dengan air mata bahagia yang telah berurai. "Sayang, kamu akan jadi seorang ibu."
Silvi mengeratkan pelukan Andika. Air mata bahagia juga telah berurai membasahi pipinya. Akhirnya setelah tiga tahun penantian, mereka diberikan kepercayaan.
Andika melepas pelukannya, kemudian dia hapus air mata Silvi yang membasahi pipinya. Begitu juga dengan Silvi, dia hapus air mata Andika.
"Aku sangat bahagia sayang." Satu kecupan hangat mendarat di kening Silvi. "Ayo, sekarang kita lihat calon anak kita." Andika membantu Silvi bangun dan berpindah ke kursi roda yang sudah dibawa suster.
Kemudian dia mendorongnya sampai ke poli kandungan.
Dokter kandungan menyambut mereka sangat ramah. Kebetulan sekali, Dokter kandungan itu adalah Dokter yang menangani program hamil Silvi.
"Pak Dika, Bu Silvi, selamat akhirnya usaha kalian berhasil. Mari langsung USG."
Mereka berdua menuju ruang USG. Andika membantu Silvi naik ke atas brangkar USG. Setelah gel dioles di atas perut Silvi, Dokter mengarahkan alat perekam USG itu.
"Selamat Pak, Bu, janinnya sudah 9 weeks."
Senyum Andika dan Silvi semakin mengembang. Kedua tangan mereka kini saling terpaut semakin erat.
__ADS_1
"Detak jantungnya juga sudah ada."
Air mata bahagia kembali menetes di pipi mereka saat mendengar detak jantung calon buah hatinya untuk yang pertama kalinya.
"Banyak istirahat ya, jangan beraktifitas terlalu berat dulu. Terlihat kandungannya masih sangat lemah."
Kemudian Dokter beralih memeriksa tensi darah Silvi. "Ada keluhan?"
"Iya, beberapa hari ini terasa lemas dan pusing. Kadang juga mual tapi masih bisa saya tahan."
"Tensinya memang cukup rendah. Perbanyak istirahat saja. Saya resepkan beberapa vitamin dan penguat kandungan, jangan lupa diminum secara teratur."
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Andika dan Silvi keluar dari rumah sakit.
"Sayang, selamat datang di perut Mama," kata Andika setelah masuk ke dalam mobil. Dia mengusap lalu mencium perut Silvi yang masih terlihat datar. Kemudian dia menegakkan dirinya dan mencium pipi Silvi. "Makasih sayang. Mulai sekarang aku akan lebih ketat menjaga kamu."
"Sama-sama, Mas. Aku sangat bahagia. Akhirnya kita akan memiliki buah hati."
"Iya, jadi gak sabar mau kasih tahu Ayah, Papa, dan Mama." Andika menghidupkan mesin mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil itu melaju meninggalkan tempat parkir rumah sakit.
Silvi masih saja tersenyum sambil mengusap lembut perutnya. Rasanya dia sangat bahagia, akhirnya semua usaha dan doanya terwujud.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
__ADS_1