
Kebahagiaan Andika semakin lengkap dengan kehadiran putra keduanya yang bernama Alvian Sanjaya. Dia sangat tampan, tentu saja mewarisi wajah tampan Papanya.
"Kak Shilla, jaga adiknya ya," kata Andika yang sedang menjaga kedua anaknya yang hanya berjarak satu tahun itu. Shilla kini berusia dua tahun dan Alvian sudah berusia satu tahun.
"Jaga adek." Shilla tersenyum dengan wajah polosnya.
"Iya, Mama masih mengajar sebentar lagi pulang." Andika yang memang sudah pulang sejak siang sengaja menjaga kedua anaknya sendiri karena baby sister mereka sedang cuti sakit. Dia kini berjalan ke dapur dan menghangatkan ASIP untuk Alvian.
"Papa," Shilla menghampiri papanya lalu menggandeng tangan Papanya dan menariknya.
"Mau kemana? Sebentar ya, Adek haus, nanti menangis."
"Mau kamal mandi."
"Shilla sakit perut? Ayo sayang." Andika memberi botol susu pada Alvian dulu lalu mengantar Shilla ke kamar mandi.
Putri sulungnya memang sangat pintar. Baru berusia dua tahun tapi sudah lolos toilet training.
"Papa, sini aja."
"Iya, Papa tunggu di sini."
Meski demikian, Shilla sangat penakut. Dia tidak berani saat berada di toilet sendiri.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tangis Alvian. Seketika Andika keluar dan melihat Alvian jatuh di lantai. Alvian memang sedang aktif-aktifnya belajar berjalan.
"Vian, sayang, cup-cup. Jangan menangis." Andika menggendong Alvian dan membawanya ke toilet karena Shilla sudah teriak-teriak.
__ADS_1
"Vian turun sebentar ya, Papa mau bersihkan kakak dulu."
Tapi tangis Alvian semakin kencang, sedangkan Shilla juga sudah teriak-teriak bilang sudah.
Andika menghela napas panjang, bukannya kesal tapi dia merasa sangat gemas dengan kedua anaknya. Untunglah malaikat penolong sekarang sudah datang.
"Astaga, kenapa nangis semua."
"Ini Alvian habis jatuh. Dia gak mau turun, sedangkan Shilla sudah selesai."
Silvi meraih Alvian dan menenangkannya sedangkan Andika kini membersihkan Shilla.
"Jatuh dimana sayang? Mana yang sakit?" tanya Silvi yang kini duduk di sofa ruang tengah sambil memangku putra keduanya.
Alvian menunjuk lututnya yang sakit.
Beberapa saat kemudian Andika keluar dari toilet dan duduk di sebelah Silvi bersama Shilla.
"Besok waktu aku kerja, Mama biar ke sini ya bantu kamu. Lumayan kalau mereka lagi rewel bareng gini." Andika tersenyum kecil lalu mengusap Shilla yang kini terbaring di pangkuannya.
"Ya kan memang gitu tiap hari. Masih mau nambah lagi gak?" goda Silvi.
Seketika Andika tertawa lalu mencium pipi Silvi. "Kalau jadi ya gak papa. Tapi untuk sementara dicegah dulu."
"Shilla udah tidur." Andika mencium kecil kening Shilla yang kini tidur di pangkuannya.
"Alvian juga udah tidur."
__ADS_1
"Kita tidurin di kamar yuk. Kita quality time berdua," kata Andika di dekat telinga Silvi.
"Aku mau mandi."
"Ya udah mandi bareng aja." tangan Andika menyingkirkan rambut Silvi hingga terlihat leher mulus Silvi. Dia usap lembut leher itu dengan jemarinya.
"Mas, kita pindah mereka ke kamar dulu."
Mereka berdua berjalan menuju kamar lalu menurunkan Shilla dan Alvian di atas ranjang. Mereka berdua sama-sama tersenyum memandang wajah pulas kedua buah hatinya.
"Sayang." Andika menggeser tubuhnya dan duduk di samping Silvi.
"Apa?"
"Aku sayang kamu," kata Andika sambil meraih tubuh Silvi.
Silvi semakin tersenyum lalu duduk di pangkuan Andika. Dia lingkarkan tangannya di leher Andika. "Aku juga sayang sama Mas Dika." Sedetik kemudian wajah itu saling mendekat. Mereka menikmati manisnya madu dengan penuh cinta.
Cinta yang berawal dengan air mata, kini berakhir dengan kebahagiaan. Andika benar-benar menunjukkan sisi terbaik di dirinya. Di sisa umurnya, dia akan selalu menjaga dan mencintai Silvi serta buah hatinya.
..._SELESAI_...
.
Singkat banget ya cerita ini.. ðŸ¤
.
__ADS_1
Mampir ke novel author lainnya yuk..