
Sampainya di rumah, Silvi langsung memeluk Ayahnya.
"Silvi, kenapa nak?" tanya Pak Adi karena Silvi menangis dalam pelukannya.
"Ayah akan jadi kakek," kata Silvi sambil meregangkan pelukannya.
"Kamu hamil nak?" tanya Pak Adi memastikannya.
Silvi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah. Semoga kamu dan calon cucu Ayah sehat selalu sampai lahiran nanti." senyum Pak Adi mengembang dengan sempurna. Dia usap perut Silvi yang masih datar itu dan memberikan doa yang terbaik untuk Silvi dan buah hatinya.
"Amin, Ayah."
"Sayang, kamu istirahat dulu. Katanya capek. Makan malamnya kita adakan besok saja ya, kita undang Papa sama Mama."
"Iya, Mas." Silvi menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya bersama Andika. Dia kini duduk di tepi ranjangnya karena memang badannya masih sangat lemas. "Aku mau mandi tapi badan aku lemas banget ya rasanya."
"Kalau mau mandi, ayo aku bantu." Andika melepas jasnya lalu mengambil baju ganti untuknya dan untuk Silvi.
Kemudian Andika meraih tubuh Silvi dan menggendongnya menuju kamar mandi. Dia dudukkan Silvi di atas kloset lalu membantunya membuka baju.
"Mandi sebentar saja, terus kamu makan lalu istirahat."
Silvi hanya menganggukkan kepalanya. Dengan telaten Andika memandikannya. Membasahi tubuhnya dengan air lalu memberi sabun.
"Mas, biar aku mandi sendiri."
"Kamu kelihatan lemas banget biar aku saja."
__ADS_1
Setelah tubuh Silvi bersih dari sabun, dia keringkan tubuh itu dengan handuk lalu membawanya keluar dari kamar mandi.
"Mas Dika mandi saja, biar aku pakai baju."
"Ya sudah, setelah ini kita makan ya."
Silvi menganggukkan kepalanya. Setelah dia memakai baju, dia merebahkan dirinya di atas ranjangnya. Baru beberapa detik, dia sudah tertidur dengan lelap.
Setelah selesai membasuh dirinya, Andika keluar dari kamar mandi, dia tersenyum menatap istrinya yang sudah tertidur dengan nyenyak. Dia kini duduk di samping Silvi dan menutup kaki Silvi dengan selimut.
Dia usap lembut rambut Silvi. "Sehat terus ya sayang. Aku akan selalu menjaga kamu."
Andika terus menatap lekat wajah pulas Silvi. Tiba-tiba dia teringat bayang di masa lalunya, saat dia sengaja mendorong Silvi hingga jatuh dan mengalami keguguran.
"Aku janji, aku akan selalu menjaga dan membahagiakan kamu. Aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu pada kamu." Satu kecupan hangat mendarat di kening Silvi.
...***...
Di rumah, Andika juga tidak memperbolehkan Silvi melakukan apapun. Andika benar-benar melayani Silvi dan memenuhi semua keinginannya.
"Ayo, makannya dihabiskan," kata Andika yang sedang menyuapi Silvi malam hari itu.
Silvi menggelengkan kepalanya, karena nafsu makannya memang turun. "Gak enak makan, Mas."
Andika akhirnya meletakkan sendoknya karena jika dipaksa Silvi justru akan mual. "Terus kamu maunya apa?"
"Aku mau minum susu aja." Silvi berdiri tapi dicegah oleh Andika.
"Aku buatin. Kamu duduk saja." Andika berdiri dan berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Mas, aku gak papa. Mas jangan terlalu manjain aku, nanti aku jadi malas." Silvi menyusul langkah Andika, lalu berdiri di samping Andika yang sedang menuang susu.
"Gak papa. Kalau aku gak manjain kamu terus manjain siapa lagi. Yang penting kamu dan calon anak kita sehat. Ingat pesan Dokter, kamu gak boleh terlalu banyak gerak dulu."
Mendengar hal itu seketika Silvi mencium pipi Andika. "Makasih, Mas."
"Sama-sama sayang. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku juga gak bisa ikut merasakan saat kamu pusing, mual, dan lemas. Aku hanya bisa memberi kamu kenyamanan." Andika memberikan segelas susu hangat agar segera diminum Silvi. "Dihabiskan mumpung masih hangat."
Silvi segera meneguk susu itu hingga habis. Lalu mereka berjalan menuju kamar untuk istirahat.
Setelah Silvi merebahkan dirinua, Andika membuka perut Silvi dan bermain di atasnya. "Perutnya sudah sedikit kelihatan." Ritual setiap malam, Andika selalu mengusap dan menciumi perut Silvi.
"Mana sih Mas? Belum kan baru jalan tiga bulan."
"Ini sayang, udah kelihatan dikit. Besok waktunya kamu periksa. Aku anterin ya."
"Iya Mas. Setelah dari sanggar saja."
Setelah menciumi perut Silvi, Andika beralih memeluk Silvi. "Kamu jangan terlalu capek. Sudah ada guru pengganti, kamu gak boleh ikut gerak."
Silvi menganggukkan kepalanya. "Protektif banget." Dia cubit hidung Andika karena terkadang perhatian Andika memang terlalu berlebihan.
"Karena kita sudah menunggu kehadirannya selama tiga tahun, makanya aku ingin benar-benar menjaga kamu."
Silvi kini menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andika. "Aku sayang Mas Dika."
"Aku juga sayang kamu." Andika mengecup puncak kepala Silvi.
💕💕💕
__ADS_1
.
Like dan komen ya...