
Setelah Ayahnya pulang, Silvi hanya duduk saja di sofa. Dia tidak tahu, bagaimana nasibnya setelah ini. Dia seolah berada di kandang singa yang sudah siap menerkam dirinya.
"Kamu mandi dulu, terus ganti baju. Mulai sekarang anggap apartemen ini seperti milik kamu sendiri." kata Andika.
Silvi hanya membuang pandangannya, akhirnya Andika menarik tangan Silvi. Dia sedikit memaksa membawanya masuk ke dalam kamar.
Seketika Silvi bergidik ngeri saat melihat nuansa kamar itu sangat romantis seperti kamar pengantin baru yang sebenarnya. Dia tidak pernah membayangkan ada dalam kondisi seperti ini.
"Kenapa?" Andika memeluk tubuh Silvi lalu mengendus leher Silvi.
Silvi berusaha melepas tangan Andika.
"Kamu menurut saja sama aku. Hidup kamu pasti akan bahagia." kata Andika lagi.
Andika melepas pelukannya lalu membuka sebuah lemari. "Kamu lihat, aku sudah memenuhi semua perlengkapan kamu. Kamu tinggal pilih mau pakai yang mana. Tapi untuk malam ini, kamu harus pakai ini."
Andika mengambil salah satu gaun tidur berwarna merah yang tipis dan menerawang. Lalu memberikannya pada Silvi.
Silvi hanya menggenggam gaun tidur itu dan menundukkan pandangannya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi saat dia hanya memakai gaun tidur itu.
"Pasti ini pas buat kamu." Tiba-tiba saja Andika memegang dada Silvi. "Size 36b, masih padat dan kencang. Mantap sekali."
Dengan kasar, Silvi menepis tangan Andika. Dia masih tidak rela tubuhnya di sentuh Andika.
"Jangan marah. Kita kan sudah suami istri. Sekarang kamu mandi, aku tunggu di sini." Andika mengerlingkan matanya. "Jangan lama, kalau lama aku dobrak." Kemudian Andika duduk dengan santai di tepi ranjang.
Silvi kini masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menutup pintu, dia buka seluruh pakaiannya dan mengguyur tubuhnya di bawah air shower. Dia menangis sesenggukan. Sudah tidak ada jalan keluar lagi. Hidupnya akan berakhir di tangan Andika.
Setelah selesai mambasuh tubuhnya, Silvi memakai handuk dan menyeka air yang menempel. Dia menatap gaun tidur itu.
"I haven't a choice."
Silvi menghela napas panjang. Lalu dia memakai gaun tidur itu. Memang sangat pas di badannya. Dia terlihat sangat sexy dan mempesona.
Air mata itu masih saja mengalir di pipinya.
Aku gak mau seperti ini.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu membuat Silvi menoleh. Dengan terpaksa, dia akhirnya membuka pintu itu.
Mata Andika tidak berkedip menatap keindahan yang ada di depan matanya. Seketika dia memeluk Silvi dan mencium paksa Silvi.
Silvi berusaha menolak tapi lehernya di tahan oleh Andika.
Bibir yang tertutup rapat itu kini terbuka karena satu gigitan kecil dari Andika.
Andika terus memagut bibir Silvi meski tanpa balasan. Benar-benar bibir yang sangat manis. Sepertinya memang belum ada kumbang yang menghisap madunya.
Andika melepas pagutannya dan menatap Silvi yang masih saja menangis.
"Cup! Cup! Jangan menangis sayang. Kita akan menikmati malam yang indah ini berdua." Andika menuntun Silvi untuk duduk di tepi ranjang. "Kamu minum dulu biar rileks."
Silvi menatap minuman itu. Dia bisa menebak, pasti ada sesuatu di dalam minuman itu.
"Cepat minum!" Andika mendekatkan gelas itu di bibir Silvi dan memaksanya untuk minum.
Mau tidak mau Silvi akhirnya meminum air itu.
"Habiskan!" Andika terus mendorong gelas itu hingga air minum itu habis tak tersisa.
Silvi mengusap bibirnya yang basah. Benar saja, setelah beberapa menit kemudian, sesuatu di dalam minuman itu mulai bereaksi.
Badan Silvi terasa panas. Dia menyibakkan rambut yang menutup telinganya.
Andika tersenyum miring, lalu dia duduk di samping Silvi. "Kenapa sayang?" Dia endus leher yang tidak tertutup rambut itu lalu menyapunya. Terasa sangat manis.
Silvi ingin mendorong kepala Andika tapi dia seolah tak memiliki tenaga. Bahkan tubuhnya semakin terasa memanas dan menginginkan sebuah sentuhan yang lebih dari itu.
"Pak Dika sudah kasih obat apa?" tanyanya dengan suara parau.
"Sesuatu yang membuat kamu bisa menikmati permainan ini. Agar kamu tidak merasa sakit saat pertama kali merasakannya."
"Aku gak mau!" tolak Silvi meski sebenarnya tubuhnya sangat menginginkan sebuah sentuhan.
__ADS_1
"Gak mau. Benarkah?" Andika semakin menyentuh tubuh Silvi. Dia kembali menyapu leher Silvi. Menggigitnya kecil lalu menyesapnya dan meninggalkan jejak di sana.
Tangan Andika mulai beraksi menelusuri tubuh Silvi. Tubuh yang sangat dia dambakan. Tubuh yang sangat indah dengan dada yang masih padat dan ranum. Dia buka temali gaun itu hingga terpampanglah keindahan yang membuat air liur Andika hampir menetes.
"Jangan!" ucap Silvi yang sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menolak.
Andika memegang kedua buah sintal itu. Me re mas nya secara perlahan. "Mantap sekali." Lalu dia pilin kedua pu ting yang telah menegang itu.
"Pak jangan!!" Silvi tak bisa menguasai dirinya sendiri. Gairah itu semakin memenuhi dirinya. Dia justru menikmati setiap sentuhan Andika. Suara de sah tak bisa lagi Silvi tahan. "Ahh..."
"Uh, indah sekali suaranya. Aku sudah tidak sabar ingin segera merasakanmu." Andika semakin menjelajahi tubuh Silvi. Semakin Silvi meliukkan tubuhnya, gairah Andika semakin memuncak.
"Aku sudah tidak tahan lagi." Andika kini melepas semua pakaiannya. Kemudian dia mengungkung tubuh polos Silvi. Wajah Silvi sudah memerah, efek obat itu benar-benar sudah mematikan kerja otak Silvi.
Andika membelai inti Silvi yang sudah sangat basah itu. "Masih vir gin." Andika tersenyum miring. "Kamu akan menjadi wanitaku selamanya."
Kini Andika menghentakkan miliknya, berusaha menerobos pintu yang sangat sempit itu.
"Aw," Silvi memekik kesakitan saat Andika menghentaknya dengan kuat.
"Seperti yang aku duga, ini memang sangat nikmat." Andika menggerakkan pinggulnya naik turun. Dia nikmati setiap gesekan yang dia ciptakan. Semakin dia tambah kecepatannya terada semakin menghanyutkan.
Suara Andika semakin keras. Dia benar-benar sangat menikmati permainannya. "Rasanya aku tidak bisa berhenti sayang. Kamu terlalu nikmat."
Silvi tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Efek dari obat itu membuatnya menikmati setiap permainan Andika. Bahkan dia sudah mencapai pelepasannya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Setelah ini, kamu pasti tidak akan menolak setiap aku menginginkanmu." Andika semakin menambah gerak tubuhnya hingga keringat membasahi tubuh mereka berdua.
Entah sampai berapa kali Andika mengulang pergulatan itu. Yang jelas, malam itu adalah malam kehancuran Silvi.
Sejak malam itu, kehidupan Silvi akan berubah sepenuhnya. Dia akan menjadi pelampiasan hasrat Andika.
.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya..