
"Kita lewati malam ini dengan penuh cinta." Andika semakin mendekatkan dirinya. Dia cium lembut bibir Silvi. Mereka saling berbalas setiap pagutan itu, tanpa ada paksaan seperti dulu lagi. Semua mengalir apa adanya dan begitu indah.
Satu tangan Andika kini menelusuri pinggang ramping Silvi. Mengusapnya lembut, lalu melepas temali gaun tidur itu dan membuang kain tipis itu ke lantai.
Mereka melepas pagutan dengan napas yang sama-sama berat. Pandangan mata Andika kini tak lepas dari lekuk tubuh indah Silvi yang semakin terlihat sexy. Gairahnya semakin terbakar. Rasanya dia ingin segera menuntaskan permainannya. Dia rebahkan tubuh Silvi di tengah ranjang.
"Kamu makin sexy." Kedua tangan itu menangkup dan me re mas kedua buah sintal yang semakin berisi. Sedangkan bibirnya menyusuri leher putih Silvi.
Silvi semakin mendongakkan kepalanya. Bibirnya kian men de sah saat jemari Andika bermain di puncak yang telah menegang itu.
Bibir Andika kian turun, dia ciumi dan membuat beberapa tanda merah di sekitar dada Silvi lalu menghisap lama di puncaknya. Satu tangannya telah berhasil melepas gstring dan membuangnya ke lantai. Dia belai inti Silvi yang telah basah.
"Ahh, Mas." tubuh Silvi semakin bereaksi menerima sentuhan Andika yang selalu membuatnya candu.
"Sayang, aku sangat merindukan kamu." kata Andika sambil menatap lekat wajah merah Silvi yang telah terbakar gairah.
"Aku juga."
"Kamu rindu sentuhan aku?"
Silvi hanya mengangguk kecil.
"Ah sayang, aku semakin gak tahan." Andika melepas celananya lalu mengungkung tubuh Silvi. Dia tautkan kedua tangannya dengan jemari Silvi. Mereka saling bertatapan lekat. "Sudah siap berpetualang bersamaku?"
Silvi tersenyum kecil sambil mengangguk.
"Makasih sayang." Andika kembali mencium bibir Silvi saat dia menghentakkan miliknya.
"Ahh, Mas." Sudah hampir satu tahun tidak merasakannya, rasanya sedikit sakit dan terkejut.
__ADS_1
"Sakit?" Kali ini Andika berusaha memberi kenyamanan pada Silvi. Dia pelankan gerakannya.
"Sedikit sakit."
"Rasanya memang sangat menggigit sayang." Andika kembali membungkukkan dirinya lalu dia ciumi leher Silvi dan meninggalkan tanda merah di sana.
Semakin lama ritme gerakan Andika semakin cepat. Suara nikmat Silvi semakin terdengar keras, tanpa rasa malu seperti dulu. Mereka benar-benar menikmati setiap gerakan yang mereka ciptakan.
Silvi semakin mencakar punggung Andika saat akan mencapai puncaknya.
Andika semakin mempercepat gerakannya. Dia sudah hafal dengan ekspresi Silvi saat akan mencapai puncaknya. Beberapa saat kemudian tubuh Silvi menggelinjang dengan suara Silvi yang semakin keras.
"Pelepasan pertama." Andika tersenyum kecil, karena dia tidak akan berhenti sebelum Silvi sampai di puncaknya untuk yang ketiga kalinya.
Kemudian Andika membalik tubuh Silvi, lalu memegang pinggulnya dan kembali menghujamnya lagi.
Suara de sah kembali terdengar dari mulut Silvi dan juga Andika. Keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua.
"Mas, aku udah gak tahan lagi." Silvi semakin menggigit bibir bawahnya. Rasanya semakin nikmat dan membuatnya mabuk kepayang.
"Lepaskan saja sayang. Gak usah ditahan."
Beberapa saat kemudian, tubuh Silvi kembali mengejang lalu melemas lagi.
Kali ini Andika kembali membalik tubuh Silvi. Dia semakin menindih tubuh yang telah berpeluh itu.
"Aku cinta kamu. Aku sayang kamu."
Andika semakin mempercepat gerak tubuhnya. Beberapa saat kemudian hasratnya telah tuntas dibarengi dengan era ngan yang keras.
__ADS_1
Andika kini melepas penyatuannya lalu menjatuhkan dirinya di sebelah Silvi. "Akhirnya, setelah satu tahun tidak merasakannya." Dia kini meraih tubuh Silvi dan memeluknya. "Makasih, sudah mau menerima aku lagi."
"Mas Dika, udah cukup bilang makasihnya. Dari kemarin udah berulang kali ucapin itu."
"Iya, karena aku masih gak menyangka, aku bisa mendapatkanmu lagi setelah semua kesalahan yang aku perbuat."
"Yang penting sekarang Mas Dika sudah memperbaiki semua kesalahan itu."
"Jadi makin cinta sama kamu." Andika menciumi pipi mulus Silvi lalu menggigitnya kecil. "Sayang, once again. Oke?"
Silvi hanya mencubit dada bidang Andika. "Gak capek?"
"No, kan kamu gak mau bulan madu karena gak mau cuti kuliah lama-lama. Ya udah kita habiskan waktu tiga hari tiga malan full di dalam hotel."
Silvi hanya tersenyum kecil. Dia kini duduk dan mengambil air mineral lalu meneguknya agar tidak dehidrasi. Lalu dia duduk di atas pangkuan Andika.
"Sayang, kamu mau di atas?" kedua tangan Andika kini memainkan kedua buah sintal yang masih bulat dan padat itu.
Silvi hanya tersenyum malu sambil menggerakkan pinggulnya di atas sesuatu yang telah berdiri lagi.
"Akhirnya kamu mau dengan sukarela memimpin gerakan. Ayo sayang, udah gak sabar mau merasakan go ya ngan kamu."
Andika semakin berdesis nikmat saat Silvi mulai menggerakkan pinggulnya di atasnya. Semakin lama gerakan Silvi semakin cepat.
Malam itu, mereka benar-benar menikmati malam yang panjang hingga menjelang pagi saat tenaga mereka sudah terkuras.
💕💕💕
.
__ADS_1
Like dan komen ya..