
Author peringatkan, cerita ini memang banyak mengandung unsur negatif. 🤭
Yang tidak suka boleh di skip... 😂
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
.
Pagi itu, Silvi berjalan perlahan masuk ke dalam sekolah. Kakinya masih terasa berat saat melangkah karena rasa nyeri itu masih belum hilang, meski sudah tidak sesakit kemarin.
"Silvi," Dion berlari ke arahnya lalu berjalan di samping Silvi. "Gue kemarin cariin lo ke rumah tapi kata Ayah lo, lo ke rumah nenek lo."
"Hmm, iya, ada acara di sana." jawab Silvi datar. Dia tidak berani menatap wajah Dion.
"Kaki lo masih sakit?" tanya Dion karena dia melihat Silvi yang berjalan sedikit terpincang.
"Iya, gue kemarin kecapekan jadi kaki gue sakit lagi." Setelah itu Silvi hanya terdiam. Tak ada percakapan lagi antara Dion dan Silvi meski mereka tetap berjalan beriringan menuju kelas.
Silvi kini duduk di bangkunya. Dia mengeluarkan bukunya dan fokus membaca.
Dion terus menatap Silvi yang terlihat semakin muram.
Silvi lo sebenarnya kenapa?
Dion menghela napas panjang. Silvi sama sekali tidak mau cerita apapun dengannya. Silvi semakin tertutup dan seolah menjaga jarak dengannya.
Beberapa saat kemudian, dia melihat Rika yang baru saja masuk ke dalam kelas. Mungkin Silvi membutuhkan seorang sahabat. Sudah hampir dua tahun, Silvi selalu sendiri.
Kemudian Dion berdiri dan menghampiri Rika. Dia menarik tangannya, mengajaknya mengobrol berdua.
"Apaan sih lo!" Rika menarik kasar tangannya.
"Lo kenapa gak mau berteman lagi dengan Silvi?" tanya Dion. Meskipun sebenarnya dia sudah tahu alasan yang sebenarnya.
"Bukan urusan lo!!"
"Oke, asal lo tahu aja, Silvi sangat menghargai lo sebagai sahabatnya. Dia masih peduli dengan perasaan lo. Gue sama sekali gak pernah jadian dengan Silvi."
Rika hanya membuang napas kasar. "Lo bisa ngomong kayak gitu karena lo suka sama Silvi."
"Lo udah 18 tahun, udah bukan anak kecil lagi. Harusnya lo bisa berpikir dewasa. Ini semua bukan salah Silvi. Persahabatan yang lo jalin semenjak SMP rusak hanya karena hal kayak gini."
Rika hanya membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Dion.
...***...
Sepulang sekolah, Silvi masih saja duduk di dekat tempat parkir.
__ADS_1
"Sil, ayo bareng gue." tawar Dion sambil menghentikan motornya di dekat Silvi.
Silvi menggelengkan kepalanya. "Gue dijemput Ayah. Kebetulan Ayah sudah pulang."
Dion tidak bisa memaksa. "Ya udah, gue duluan ya." Kemudian Dion melajukan motornya meninggalkan area sekolah.
Setelah sepi, barulah Silvi keluar dari gerbang sekolah. Dia melihat mobil Andika sudah menunggunya tak jauh dari sekolahnya.
Dia hela napas panjang. Dia hanya bisa pasrah menerima keadaan ini. Kemudian dia masuk ke dalam mobil Andika dan langsung mendapat senyuman hangat dari Andika.
"Kalau kamu nurut gini makin cantik." satu usapan lembut mendarat di pipi Silvi.
Silvi hanya terdiam. Dia seperti mati rasa, untuk sekadar berbicara pun rasanya semakin malas.
"Bicara dong, sampai kapan kamu diam terus kayak gini." Andika mulai melajukan mobilnya. "Aku sudah belikan kamu tas dan sepatu, besok bisa kamu pakai ke sekolah." kata Andika lagi.
Silvi hanya membuang pandangannya.
Satu tangan Andika memegang tangan Silvi. Karena tidak ada respon, akhirnya satu tangan itu mengangkat rok Silvi lalu mengusap lembut pa ha Silvi yang mulus.
Silvi hanya memejamkan matanya. Dia benar-benar seperti seorang wanita murahan yang bisa disentuh Andika sesuka hati. Meski dia berstatus istri Andika, tapi tetap saja dia merasa jijik saat disentuh Andika.
Tangan Andika kian merambat ke atas, dia menyusup di balik kain segitiga Silvi. Silvi kian menggigit bibir bawahnya. Tangan Andika memang sudah sangat pro mengobrak-abrik benteng pertahanan Silvi.
Silvi akan menutup kedua kakinya tapi Andika semakin intens memainkannya.
"Gak usah kamu tahan. Nikmati saja."
Andika menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Dia kini menatap wajah Silvi yang telah memerah. Satu tangannya kini melepas dua kancing tengah kemeja Silvi lalu menyusup ke dalam dan me mi lin puncak buah sintal yang telah mengeras.
Napas Silvi semakin tidak beraturan. Dia semakin membusungkan dadanya.
"Keluarkan saja. Jangan ditahan."
Beberapa saat kemudian, tubuh Silvi mengejang dengan de sah yang tertahan.
Andika tersenyum puas telah berhasil membuat Silvi melemas. Dia melepas tangannya lalu beralih ke resleting celananya. Dia buka dan dia keluarkan miliknya yang telah mengeras.
Andika meraih kepala Silvi dan memaksanya membungkuk di pangkuannya.
"Aku gak mau!" Silvi berusaha memberontak tapi tangan Andika begitu keras menekannya.
"Sebagai ganti aku telah memuaskanmu barusan."
Silvi berusaha memberontak lagi. Mata jelinya melihat polisi yang berjalan mendekat.
"Lakukan sekarang!!" perintah Andika.
__ADS_1
Silvi akhirnya melakukan perintah Andika. Dia berharap polisi segera ke sini. Dia ingin melaporkan tindakan be jat Andika.
"Kamu hisap sampai pangkal jangan di ujungnya saja." Andika menekan kepala Silvi sampai dia hampir tersedak.
Dengan terpaksa Silvi menaik turunkan kepalanya meski sebenarnya dia sangat jijik dengan apa yang dilakukannya sekarang.
"Iya, bagus. Terus kayak gitu. Ah, mantap. Kamu hisap terus." Tangan Andika menyingkirkan rambut Silvi yang menutupi wajahnya. "Sayang, iya terus." Mulut Andika terus berdesis nikmat, belum juga keluar tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara ketukan di jendela mobilnya. Seketika Andika mendorong Silvi dan merapikan celananya. Dia tutup kemeja Silvi dengan jasnya yang sudah dia lepas sebelumnya.
Andika membuka kaca jendelanya. Dia tersenyum pada seorang polisi yang mendekat.
"Loh, Pak Andika." kata polisi itu yang ternyata mengenal Andika.
Silvi tak menyangka, polisi itu justru mengenal Andika.
"Pak Eko, maaf saya berhenti sebentar larena sedang mencari kunci rumah adik saya yang jatuh di bawah." kata Andika memberi alasan palsu.
"Pak Andika punya adik perempuan?"
"Iya, sebenarnya anak tante, tapi sudah saya anggap seperti adik sendiri. Ini kuncinya sudah ketemu."
"Ya sudah, saya kira ada masalah di dalam mobil ini. Pak Reka sekarang sibuk apa?
"Papa sekarang sudah tidak sibuk lagi. Perusahaan saya yang pegang. Sedangkan beberapa instansi pendidikan di pegang adik saya. Silakan mampir ke rumah, Pak."
"Kalian memang hebat. Ya sudah kapan-kapan saka, hati-hati."
Andika kembali menutup kaca mobilnya lalu mulai melaju.
Silvi hanya berdengus kesal. Sepertinya Andika memang bukan orang sembarangan. Dia tidak akan lepas dari Andika.
"Kenapa? Mau lapor polisi? Polisi tidak akan percaya dengan laporan kamu." Andika kembali memegang tangan Silvi. "Nanti kita lanjut di apartemen biar puas." Kemudian Andika mencium punggung tangan Silvi.
Silvi menarik tangannya hingga terlepas.
"Silvi, suatu saat nanti kamu pasti akan ketagihan sama aku."
"Gak akan!"
"Bibir kamu boleh menolak tapi tubuh kamu sudah sangat kecanduan dengan sentuhanku."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
__ADS_1