Gadis SMA Milik Casanova

Gadis SMA Milik Casanova
BAB 38


__ADS_3

Hari itu, Silvi sangat sibuk di sanggarnya karena akan ada beberapa kompetisi yang diikuti anak didiknya.


"Tangannya kurang ke atas, tatapan matanya ke samping, kurang membungkuk." Silvi memberi sedikit contoh gerakan pada anak didiknya yang ditiru dengan baik oleh mereka. "Iya, bagus."


Setelah selesai, Silvi kini duduk di kursi sambil meminum air mineral. Kakinya sudah terasa pegal, begitu juga dengan pinggangnya.


"Sayang, keliatan capek banget." Andika datang dan langsung duduk di sebelah Silvi. "Kamu istirahat, jangan ngurusin sanggar dulu." Satu tangan Andika kini mengusap perut Silvi yang sudah sedikit terlihat. Usia kandungannya memang sudah hampir empat bulan.


"Iya Mas, soalnya anak-anak ikut kompetisi. Setelah kompetisi selesai, aku cuma mau mengawasi mereka aja."


"Ya udah, ayo kita pulang lalu istirahat." Andika berdiri lalu membantu Silvi berdiri.


Baru beberapa langkah berjalan, Silvi membungkukkan tubuhnya karena perutnya terasa nyeri.


"Sayang kenapa?" tanya Andika dengan panik.


"Perut aku sakit, Mas."


Mata Andika membulat saat melihat cairan merah menembus rok Silvi. Dia sangat takut, sekelebat bayangan masa lalu melintas lagi di benaknya. "Sayang, kita ke rumah sakit sekarang." Andika segera menggendong Silvi menuju mobilnya.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, beberapa saat kemudian mobil Andika melaju dengan kencang menuju rumah sakit.


"Mas, aku kenapa? Aku takut."

__ADS_1


"Kamu tenang sayang. Jangan panik. Semoga gak terjadi apa-apa."


Tangan Silvi kini mengusap perutnya dengan mata yang telah mengembun. "Sayang, yang kuat ya. Maafin Mama. Mama harusnya istirahat terus."


Beberapa saat kemudian mobil Andika telah sampai di rumah sakit. Andika segera membawanya ke IGD. Selama pemeriksaan Andika menunggunya di depan ruangan dengan harap-harap cemas.


Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Silvi dan kandungannya.


Andika sangat takut kehilangan calon buah hatinya lagi, tapi jika memang sudah ditakdirkan seperti itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Silvi keluar, Andika segera menghampirinya. "Bagaimana kondisi istri saya Dokter?"


"Syukurlah, kandungannya tidak kenapa-napa tapi harus istirahat total selama satu minggu agar tidak terjadi pendarahan lagi karena kandungan istri Anda masih lemah, dan saya sarankan untuk tidak beraktifitas terlalu berlebih." terang Dokter itu.


"Iya, Dok. Terima kasih."


Sampainya di dalam ruangan, dia langsung menciumi kedua pipi Silvi dan setengah memeluknya. "Sayang, syukurlah kamu dan anak kita tidak apa-apa."


Silvi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


"Kamu jangan keras kepala lagi, pokoknya kamu harus istirahat total di rumah. Biarkan untuk sementara sanggar diurus guru lain. Yang penting kamu dan calon kita baik-baik saja."


"Iya, Mas. Aku juga takut banget kehilangan lagi."

__ADS_1


Tangan Andika kini beralih mengusap perut Silvi. "Aku akan selalu menjaga kamu dan calon anak kita. Untuk sementara kamu gak boleh jalan dulu. Kalau mau ke kamar mandi, atau kemanapun bilang sama aku, biar aku gendong."


Silvi tersenyum kecil. Lalu mengusap pipi Andika yang sekarang menatapnya. "Minta cium boleh."


"Of course sayang. Cium aja, no lebih-lebih." Andika mendekatkan dirinya lalu mencium lembut bibir Silvi. Setelah itu dia melepaskan pagutannya. Mereka saling bertatapan dan tersenyum.


Sejak saat itu, Andika selalu menggendong Silvi saat Silvi akan ke kamar mandi atau kemanapun. Setelah pulang ke rumah pun tetap sama, karena Silvi tidak boleh terlalu banyak gerak dulu. Meskipun terkadang Silvi merasa bosan karena hari-harinya hanya di rumah saja. Untunglah ada Andika yang menghibur dan menemaninya.


"Mas, bosan..."


"Mau jalan-jalan ke taman. Tapi pakai kursi roda ya..."


Silvi menggelengkan kepalanya. "Itu namanya gak jalan-jalan Mas."


"Sabar sayang. Nanti setelah memasuki trimester tiga kamu sudah boleh beraktifitas kecil. Ini semua demi calon buah hati kita."


"Makasih Mas, sudah menemani aku berjuang." Kedua tangan Silvi melingkar di pinggang Andika yang duduk di sampingnya.


"Aku harusnya yang makasih sama kamu. Baru empat bulan, perjuangan kamu sudah luar biasa. Belum bulan-bulan selanjutnya." Satu kecupan mendarat di kening Silvi. "I love you."


"I love you too..."


Tangan mereka berdua kini bermain di perut Silvi. "Kamu pengen cewek atau cowok sayang."

__ADS_1


"Apa aja Mas. Yang penting dia sehat."


Kemudian Andika memeluk Silvi dan mengusap rambutnya untuk memberinya kenyamanan.


__ADS_2