Gadis SMA Milik Casanova

Gadis SMA Milik Casanova
BAB 22


__ADS_3

Andika kini berlutut di hadapan Silvi. "Aku mohon." Dia tak peduli dengan pandangan mata orang-orang di sekitarnya termasuk Rika dan Dion. "Kembalilah padaku..."


Silvi menatap nanar Andika. Semua perlakuan Andika terlintas kembali di benaknya. Dia menarik kedua tangannya yang Andika genggam.


"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Kemudian Silvi membalikkan badannya.


Andika kembali menahan tangan Silvi. Dia kini berdiri. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa kamu lagi. Mulai sekarang, aku akan melepasmu. Kamu bebas memilih pasangan hidup kamu, yang jauh lebih baik dari aku. Semoga kamu selalu bahagia." Perlahan Andika melepas genggaman tangannya. Dia membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya perlahan menuju mobilnya.


Silvi kembali memutar tubuhnya. Dia melihat punggung Andika yang kian menjauh. Mengapa rasanya seperti seseorang yang baru putus cinta.


Silvi tidak akan mengejar Andika. Tidak akan pernah. Dia kembali berjalan menuju motornya.


"Sil," panggilan Dion menghentikan langkah kakinya. Dia sampai melupakan harus menemui Dion saat itu. "Lo gak papa?" tanya Dion.


Silvi menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tersenyum. "Gue gak papa. Sorry, mood gue berantakan, gue pulang sekarang ya."


"Sil, sebenarnya gue mau kasih buku-buku ini buat lo dan beberapa program beasiswa di perguruan tinggi." Dion memberikan satu tote bag yang berisi beberapa buku-buku tebal.


"Thanks ya." Silvi melihat isi dalam tas itu. Ada beberapa buku untuk mempersiapkan ujian akhir dan tes ke perguruan tinggi.


Dion terus menatap wajah Silvi. Dia tahu, ada sebuah kesedihan yang tersemat di hatinya. "Sil, gue tahu seseorang seperti Pak Dika gak pantas dimaafkan tapi pasti ada sesuatu yang membuat lo gak rela melepas Pak Dika."


Seketika Silvi menatap Dion. "Gak rela? Kenapa gue gak rela? Dia jahat, gue gak mungkin mengulangi kesalahan yang sama." Kemudian Silvi naik ke atas motornya. "Sekali lagi thanks ya, gue mau giat belajar biar bisa masuk perguruan tinggi dengan beasiswa."


Kemudian Silvi mulai melajukan motornya meninggalkan Dion yang masih berdiri mematung.


Entahlah kenapa tiba-tiba air mata itu mengalir di pipi Silvi. Dia bisa tertawa menutupi semua perasaannya di depan Dion, tapi saat dia sendiri, dia tidak mungkin bisa menahan perasaannya.


Harusnya gue senang, Pak Dika udah pergi dari hidup gue. Bukannya sedih kayak gini.


Beberapa saat kemudian motor Silvi berhenti di depan rumahnya. Dia segera turun lalu mengucap salam. Dia kini masuk ke dalam kamarnya. Meletakkan tote bag di atas meja belajarnya.

__ADS_1


Dia berjinjit mengambil kardus yang baru saja dia singkirkan. Dia ambil lagi boneka teddy lalu memeluknya.


"Lupakanlah."


Dia hempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dia hanya menatap langit-langit kamarnya yang kusam.


Beberapa saat kemudian, dia mengangkat boneka teddy tepat di atas wajahnya.


"Hah! Ngeselin." Kemudian dia lempar boneka itu hingga terpental ke tembok.


Silvi kini duduk di tepi ranjang. "Gue harus fokus belajar. Gak boleh mikirin Pak Dika ataupun yang lainnya yang gak penting dalam hidup gue."


Kemudian Silvi berdiri dan mengeluarkan isi tote bag. Ada beberapa buku tebal yang harus segera dipelajari. Tapi matanya berbinar saat melihat sebuah brosur salah satu perguruan tinggi negeri.


"Fakultas kesenian?" Salah satu di dalam kampus itu ada fakultas seni tari. "Gue harus masuk kampus ini!"


...***...


Langkahnya kini terhenti di dekat koridor kelas saat Rika menghadangnya


Silvi hanya menatap Rika sesaat, seperti biasa dia hanya melewati badan Rika.


"Silvi, makasih." ucap Rika.


Kalimat itu membuat Silvi menghentikan langkahnya. "Buat?"


"Kemarin lo sudah menolong gue."


Silvi hanya mengangguk pelan. Dia akan melangkahkan kakinya tapi kali ini tangannya di tahan oleh Rika.


"Sil, gue minta maaf sama lo."

__ADS_1


Perlahan Silvi memutar tubuhnya. "Gue udah maafin lo." Dia tersenyum menatap Rika.


"Gue sudah banyak salah sama lo. Hanya karena sakit hati, gue musuhin lo. Gue harusnya lebih memilih persahabatan ini daripada rasa dendam itu."


Silvi hanya terdiam menatap Rika.


"Apa lo gak mau bersahabat dengan gue seperti dulu lagi?" tanya Rika.


Silvi melangkah maju lalu memeluk Rika. "Lo tetap sahabat gue dari dulu sampai sekarang."


Rika terharu mendengar kalimat Silvi. Dia merasa menjadi seseorang yang paling jahat di dunia ini saat dia memusuhi sahabatnya sendiri hanya karena seorang lelaki.


"Thanks." ucap Rika dengan mata yang berkaca.


"Udahlah." Silvi melepas pelukannya. "Kita gak usah bahas masalah ini lagi. Kita lupakan. Gue mau fokus belajar dulu."


"Tapi kalau soal pelajaran kita tetap jadi rival." Rika menggandeng lengan Silvi. Mereka berjalan bersama menuju kelas.


"Oke, siapa takut. Gue pasti juara satu."


"Juara satu dari bawah."


Mereka berdua tertawa. Setelah sekian lama akhirnya Silvi bisa tertawa lepas lagi bersama sahabatnya.


Di ujung koridor kelas, Dion hanya berjalan pelan sambil tersenyum menatap senyum bahagia Silvi.


Gue bahagia melihat lo bahagia. Akhirnya satu rencana gue berhasil...


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2