
Setelah tiga hari dirawat d rumah sakit, Silvi dan bayinya diperbolehkan untuk pulang. Andika sangat bahagia dengan kehadiran buah hatinya. Dia seolah tidak mau jauh meski hanya sebentar.
"Shilla cantik, besok Papa kerja ya." celoteh Andika sambil menggendong Shilla yang anteng karena sudah kenyang ASI. "Nanti setelah pulang kerja Papa gendong lagi."
Shilla hanya menguap. Dia sudah sangat mengantuk.
"Ngantuk ya. Tidur ya. Mulai malam ini Shilla tidur sama Mama dan Papa." Andika mencium kecil pipi Shilla yang chubby. Beberapa saat kemudian Shilla sudah tertidur dengan nyenyak. Dia kini mendekati Shilla yang sedang duduk bersandar di headboard. "Sayang, sudah minum susu?"
"Belum Mas. Sebentar aku ambil dulu."
"Biar aku ambilkan. Kamu duduk saja di sini." Andika menurunkan Shilla secara perlahan di tengah ranjang lalu dia keluar dari kamarnya.
Silvi tersenyum kecil menatap putrinya yang sedang tertidur dengan nyenyak. "Bersyukur ya sayang, punya Papa sebaik Papa Dika. Yang sayang banget sama kamu dan sama Mama."
Setelah melahirkan, Andika semakin memanjakannya, bahkan Andika selalu menemaninya bergadang saat mengasihi Shilla.
Beberapa saat kemudian Andika masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu dan sepiring roti.
"Aku bawain roti sekalian. Kalau nanti kamu lapar tinggal makan." Andika meletakkan piring itu di atas nakas lalu memberikan segelas susu pada Silvi. "Dihabiskan susunya mumpung masih hangat."
Silvi segera menghabiskan susu itu. Setelah susu itu habis dia meletakkan gelas di atas nakas lalu merebahkan dirinya di samping putrinya.
__ADS_1
Andika kini duduk di samping Silvi sambil mengusap rambut Silvi.
"Mas, makasih ya sudah merawat aku dan Shilla."
"Sayang, itu sudah menjadi tanggung jawab aku. Mulai sekarang kamu dan Shilla adalah prioritas utama aku."
Silvi menarik lengan Andika agar mendekat.
"Kamu hadap ke Shilla saja ya. Aku peluk dari belakang." Andika merebahkan dirinya di belakang Silvi lalu memeluknya dari belakang.
"Mas, aku masih gendut ya?"
Silvi kini memainkan tangan Andika yang ada di perutnya. Andika si casanova itu sudah tidak ada lagi, dia sekarang sangat lembut dan bisa menahan diri. Bahkan sejak Silvi hamil, karena kandungan Silvi yang sangat lemah, selama 9 bulan Andika hampir tidak pernah menyentuhnya, karena pernah sekali melakukannya perut Silvi langsung kram. Sejak saat itu Andika lebih memilih menjaga Silvi.
"Sayang, nanti kamu pengen cepet punya adik atau gak?" tanya Andika.
Silvi tersenyum kecil. Usia Shilla baru juga 4 hari. "Gak tahu Mas, tapi kalau dikasih kepercayaan dengan cepat, aku juga mau."
"Oke, kalau gitu dua bulan lagi gak usah konsultasi. Langsung saja. Kita juga gak tahu kapan jadinya. Apa lama seperti sebelumnya."
Silvi menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Andika semakin mengendus leher Silvi. Menghirup dalam aroma Silvi yang sangat dia suka. "Aku udah gak sabar menunggu kamu."
"Menunggu apa?"
"Mau makan kamu."
Silvi justru tertawa kecil. "Mas, bisa tahan lama ya ternyata."
"Iya, demi kamu dan Shilla. Aku pasti bisa tahan. Tapi nanti kalau kamu udah siap, rasakan kebuasan aku."
"Ih, takut."
Andika semakin mengeratkan pelukannya. "Sayang, udah deh gak usah ngomongin itu. Yang bawah jadi bereaksi."
Silvi memutar tubuhnya lalu tersenyum menatap Andika. "Karena selama ini Mas Dika udah ngerawat aku dengan baik, aku kasih sedikit servis deh buat malam ini."
"Apa sayang?"
Silvi duduk lalu mengikat rambutnya ke atas. Hanya dengan lirikan mata Andika sudah paham.
"Sayang, tahu aja kalau aku mau itu."
__ADS_1