
Hari-haripun berlalu begitu cepat. Hanya tinggal menghitung hari saja buah hati Silvi dan Andika akan lahir.
Andika sudah tidak sabar bertemu dengan buah hatinya. Setiap hari dia bermain dengan perut Silvi yang bergerak tak beraturan.
"Sayang, heboh sekali di dalam. Jangan keras-keras nanti perut Mama sakit. Mama udah sering ngerasain kontraksi palsu, kalau udah gak sabar digendong sama Papa, beri kemudahan Mama melahirkan kamu ya sayang." Tak cukup hanya usapan tangan tapi juga ciuman berulang di perut besar Silvi.
"Ih, Mas geli..." Silvi selalu merasa geli saat bibir itu menyapu perutnya, ditambah respon dari dalam perut yang sangat luar biasa.
Andika kini merengkuh bahu Silvi dan mengusap lengannya. "Semoga semua diberi kelancaran ya."
"Iya Mas. Aku deg-deg an banget. Akhir-akhir ini udah semakin sering kontraksi palsunya. Tadi siang aja juga terasa."
"Untunglah semua pekerjaan udah aku pasrahkan semua pada assistan aku. Pokoknya aku akan terus menemani kamu berjuang."
Silvi tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Andika. Sejak awal hamil sampai sekarang Andika sangat memanjakannya. Dia sangat beruntung memiliki suami seperti Andika.
"Sayang, kalau kamu takut kamu bisa melahirkan secara sesar dengan metode eracs sesuai penjelasan Dokter. Kamu langsung bisa gerak." kata Andika lagi. Dia memberi opsi lain pada Silvi jika memang Silvi takut.
Silvi menggelengkan kepalanya. "Aku mau melahirkan secara normal Mas. Selama kondisi memungkinkan aku akan berusaha."
"Ya sudah, terserah kamu sayang. Aku akan selalu menemani kamu." Andika kini membantu Silvi merebahkan dirinya. "Kamu istirahat, sekarang sudah malam."
__ADS_1
Tiap malam Silvi sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia juga sulit memindah posisi tubuhnya.
Tapi malam itu perutnya semakin terasa tidak nyaman. Sesekali terasa mulas lalu kencang. Pinggangnya juga terasa sakit.
"Sayang, gak bisa tidur?" Andika berusaha memberi kenyamanan pada Silvi tapi Silvi semakin bergerak tak nyaman. "Sayang kenapa?"
"Perut aku gak nyaman. Mulas rasanya."
Seketika Andika membuka matanya lebar. Dia kini terduduk sambil mengusap perut Silvi yang mengencang. "Sakitnya udah beratur? Kontraksi palsu atau gimana?"
Silvi menggelengkan kepalanya. "Gak tahu Mas. Udah dua kali hilang timbul."
Beberapa saat kemudian, rasa mulas itu kembali muncul. Andika segera menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa ke rumah sakit. Tak lupa juga menghubungi Mamanya agar bisa menemani Silvi.
"Sayang makin sakit?" Andika kembali duduk di samping Silvi sambil mengusap keringat yang membasahi pelipisnya.
Silvi hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau udah gak bisa tahan, kita ke rumah sakit saja ya."
"Tunggu beberapa jam lagi saja. Nanti kalau rasa sakitnya semakin sering baru kita ke rumah sakit."
__ADS_1
"Oke." Kemudian Andika mencium kening Silvi. "Semoga semua lancar."
Silvi hanya menganggukkan kepalanya sambil meringis menahan rasa sakit.
Hingga tengah malam rasa mulas itu kian sering. Akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit bersama Ayahnya Silvi dan kedua orang tua Andika.
Silvi cukup tenang menghadapi kontraksinya. Sesuai arahan Dokter yang sebelumnya sudah dia mengerti. Di tambah dengan dukungan dan semangat dari Andika yang luar biasa. Meskipun terasa sakit tapi hatinya sangat bahagia.
Hingga waktunya tiba, Andika benar-benar menemani Silvi berjuang. Beberapa kali dia menangis haru melihat usaha Silvi yang sangat luar biasa.
Akhirnya buah hati yang telah dinantikan itu kini terlahir ke dunia. Suara tangisnya menggema memenuhi ruangan bersalin. Air mata haru semakin mengalir di pipi Andika dan Silvi.
Bayi cantik dan lucu itu kini berada di dada Silvi. Bergeliat dan mencari sumber kehidupannya.
"Hai, sayang. Anak cantiknya Papa. Akhirnya Papa bisa ngobrol sama kamu secara langsung. Shilla Putri Sanjaya." Satu kecupan mendarat di pipi Silvi yang sedang teesenyum.
"Cantik dan berlesung pipi kayak Papa."
Mereka sama-sama tersenyum menatap bayi mungilnya yang telah berhasil menemukan sumber kehidupannya.
Kebahagiaan mereka kini telah lengkap dengan kehadiran seorang buah hati mereka.
__ADS_1