Gadis SMA Milik Casanova

Gadis SMA Milik Casanova
BAB 14


__ADS_3

"Silvi!" Menyadari ada yang tidak beres, Andika berjongkok dan meraih tubuh Silvi. "Silvi!!!" Dia menggoyang tubuh Silvi yang kini tak sadarkan diri.


"Astaga!" Kedua mata Andika melebar saat melihat darah menembus rok abu Silvi. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Silvi?"


Andika segera mengangkat tubuh Silvi dan membawanya keluar. Dia segera masuk ke dalam lift, setelah sampai di lantai dasar, dia menuju tempat parkir dan memasukkan Silvi ke dalam mobilnya.


Beberapa saat kemudian mobil Andika segera melaju menuju rumah sakit dengan kencang.


Terbesit rasa bersalah di hati Andika. Sepertinya dia memang terlalu kasar pada Silvi. "Arrgghh, baru kali ini aku merasa bodoh. Bagaimana kalau Silvi sampai kenapa-napa."


Setelah sampai di rumah sakit, Andika segera membawa Silvi ke IGD.


"Anda tunggu dulu diluar."


Andika akhirnya hanya duduk diluar ruangan sambil menunggu Dokter yang melakukan pemeriksaan. Dia menunggunya dengan sangat cemas dan gelisah


Setelah menunggu hampir satu jam, Dokter yang menangani Silvi akhirnya keluar.


"Anda siapanya pasien?" tanya Dokter itu.


"Saya..." Andika terdiam beberapa saat. Dia juga bingung harus menjawab apa.


"Apa Anda yang melakukan pelecehan terhadap pasien?" tanya Dokter itu.


"Saya suaminya." kata Andika pada akhirnya. Dia tidak mau dituduh telah melecehkan Silvi.


"Suami? Pasien masih memakai seragam sekolah. Anda jangan mengaku-ngaku. Serahkan bukti-bukti yang kuat terlebih dahulu, jika tidak kasus ini akan kami laporkan ke polisi."


"Dokter, memang apa yang terjadi pada Silvi?" tanya Andika. Sepertinya ada masalah yang serius hingga dia harus dicecar pertanyaan seperti ini.


"Pasien mengalami keguguran. Kami juga menemukan sejumlah kekerasan seksual di tubuhnya. Pasien baru saja tersadar dan menangis histeris. Seperti mengalami sebuah trauma, jadi masalah ini akan kami usut. Anda harus memanggil orang tua pasien dan orang tua Anda agar semua masalah lebih jelas. Mari ikut ke ruangan saya terlebih dahulu."


Keguguran? Itu berarti Silvi hamil anak aku.


Andika mengepalkan kedua tangannya. Bisa-bisanya dia membunuh calon anaknya sendiri.


Andika kini mengikuti Dokter itu ke ruangannya.

__ADS_1


"Kasus seperti ini sering terjadi di rumah sakit. Kali ini kami tidak mau kecolongan lagi. Jika pasien memang menjadi korban, dia harus mendapatkan perlindungan hukum."


Dengan terpaksa, Andika akhirnya menghubungi Ayah Silvi dan juga Papanya. Dia bisa pastikan, Papanya pasti akan marah besar dengannya. Dia tidak bisa mengelak lagi.


Beberapa saat kemudian Papanya datang terlebih dahulu. Dia kini duduk di sebelah Andika.


"Dika, Papa kira kamu sakit. Ada masalah apa sampai kamu ditahan di ruang rumah sakit seperti ini?" tanya Pak Reka dengan panik.


Andika bingung mau menjelaskannya. "Aku..."


"Maaf, saya mencurigai adanya tindak kekerasan seksual oleh Pak Dika pada anak SMA." kata Dokter itu pada akhirnya karena Andika hanya diam saja.


Seketika Pak Reka menatap putranya dengan tajam. "Apa yang kamu lakukan? Jujur sama Papa!!" bentaknya.


"Sebenarnya aku sudah menikah siri dengan anak Pak Adi sebagai pengganti hutangnya."


Plak!!! Plak!!!


Pak Reka menampar pipi kiri Andika dengan keras. Tak cukup sekali tapi dia tambah lagi di pipi kanannya. "Papa tidak pernah mengajarkan kamu bertindak kejam seperti itu! Apa motif kamu menikahi putri Adi, kamu jadikan sebagai budak **** kamu! Iya! Astaga." Pak Reka mengusap dadanya yang terasa sesak. "Hanya karena hutang 60 juta kamu tega menyiksa seorang anak SMA."


"Pa, tidak seperti itu. Aku..."


Andika hanya terdiam.


"Pasien mengalami keguguran dan ada beberapa kekerasan seksual di tubuhnya." jawab Dokter itu lagi.


Pak Reka semakin mengusap dadanya. "Andika, mengapa dia bisa keguguran?"


Andika kali ini tak menyangkalnya. "Iya, ini semua salah aku."


"Kamu harus mempertanggung jawabkan semua kesalahan kamu!"


Beberapa saat kemudian, Pak Adi masuk ke dalam ruangan itu. "Silvi dimana? Apa yang terjadi dengan Silvi?" tanya Pak Adi dengan panik. Dia mencengkeram kedua sisi jas Andika.


"Adi, maaf. Putra saya sudah sangat keterlaluan." kata Pak Reka.


Mendengar ucapan Pak Reka seketika Pak Adi melepas sergapannya. "Pak Reka."

__ADS_1


"Adi, mengapa kamu gak bilang masalah ini pada saya? Saya akan bantu kamu."


"Iya Pak. Ini memang salah saya. Harusnya saya segera melunasi hutang itu."


"Ini salah Andika. Kamu silakan melaporkan kasus ini pada polisi." kata Pak Reka. Dia tidak akan membela anaknya yang jelas-jelas salah.


"Silvi kenapa?" tanya Pak Adi.


"Silvi keguguran."


"Ya Allah, Silvi..." Pak Adi keluar dari ruangan itu dan segera mencari ruangan Silvi.


...***...


Setelah Silvi dipindah ke ruang rawat, dia memikirkan cara untuk kabur dari Andika. Dia sudah tidak sanggup lagi dengan perlakuan Andika. Bahkan dia sampai mengalami keguguran. Bagaimana kalau nanti dia hamil lagi, dia tidak ingin hal yang sama terulang lagi. Apalagi sampai memiliki anak dari Andika.


Perlahan dia duduk di tepi brangkar. "Aku harus kabur dari sini!"


Silvi melepas paksa jarum infus di tangannya lalu dia berjalan mengendap keluar dari ruangannya. Meskipun perutnya masih terasa sakit dan badannya lemas, dia harus bisa segera kabur.


Setelah sampai di lorong rumah sakit, dia mempercepat langkah kakinya. Dia kini berjalan di pinggir jalan. Hari sudah mulai gelap. Dia tidak tahu harus kemana lagi.


"Aku gak mau pulang ke rumah dengan keadaan seperti ini. Apalagi kalau Pak Dika tahu aku pulang ke rumah pasti Pak Dika akan menyiksa Ayah lagi."


Dia berjalan cukup lama tanpa arah dan tujuan.


Merasa lelah, Silvi kini menghentikan langkah kakinya di dekat jembatan. Dia melihat ke bawah jembatan. Terlihat arus sungai yang sangat deras. Seolah ada yang berbisik di telinganya.


Lompat ke bawah dan masalah kamu akan selesai. Kamu tidak akan merasakan penderitaan ini lagi.


Silvi menuruti bisikan setan itu. Dia naik ke pagar jembatan dengan pandangan mata yang terus melihat aliran sungai itu.


Hidup aku sudah hancur. Biarkan aku pergi saja dari dunia ini. Ayah maafkan Silvi...


💕💕💕


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2