
...πππ...
Krekkkkk!
(Suara pintu dibuka)
Diantara ingin tahu dan penasaran, Risma pun segera membuka pintu kamar Aliza tanpa permisi. Karena baginya, tidak akan ada sopan santun lagi jika harus menangkap basah perselingkuhan Aliza.
"Tertangkap kamu!" Risma berujar dan segera masuk. Risma menyipitkan matanya, tatapannya tertuju kepada Aliza yang tengah duduk di depan meja rias dengan tenang.
"Dimana laki-laki itu? Hah?" Cerca Risma. Aliza segera berdiri dengan raut wajah bingung, "Laki-laki apa? Tidak ada siapapun disini!" Jawab Aliza.
Risma tak akan percaya begitu saja, dia melangkah dan mencari keberadaan seseorang yang dia dengar tadi di setiap sudut kamar. Bahkan dia samasekali tidak peduli walaupun harus menggeledah kamar seseorang.
"Kak. Apa yang kamu lakukan? Tidak ada siapapun disini!" Cegah Aliza dengan menghalangi jalan Risma.
"Pergi!" Risma membanting tubuh Aliza hingga jatuh ke atas kasur.
"Aku yakin kamu menyembunyikan seseorang di dalam kamar ini. Aku mendengar suaranya tadi!" Lanjut Risma yang masih terus mencari kesemua tempat. Mulai dari sudut-sudut yang kecil, belakang pintu, di toilet. Namun tidak seorang pun yang dia temukan disana, membuatnya menjadi kesal.
"Dimana kamu menyembunyikan orang itu Aliza?" Tanya Risma dengan nada tinggi.
"Aku tidak menyembunyikan siapapun. Kenapa kamu bersikap seperti ini?"
"Aku yakin kamu membawa selingkuhan mu masuk kesini disaat Mas Argan tidak ada di rumah. Aku akan menemukannya, dia pasti disini!" Risma melirik lemari besar yang bewarna Cokelat disana, lalu melangkah menuju lemari tersebut. Dia membuka satu persatu lemari tersebut. Bahkan tidak ada batasan lagi untuknya, dia membuka semua lemari yang ada, namun tidak menemukan siapapun.
Aliza nampak berdiri di belakang Risma sambil menatap cemas, "Kak Risma, sudahlah! Aku sudah katakan tidak ada siapapun!" Bentak Aliza.
Risma seketika menghentikan kegiatannya, dia berdiri mematung cukup lama, lalu kemudian dia berbalik dengan raut wajah yang tajam.
"Saat ini aku tidak bisa menangkap mu bersama selingkuhan mu itu. Tapi ingat! Suatu saat aku pasti menangkap mu. Ingat itu!" Ujar Risma geram sambil menunjuk wajah Aliza. Sorot matanya sangat tajam, sampai-sampai Aliza merasa ngeri sendiri.
Risma pun pergi meninggalkan kamar Aliza dengan membawa kekesalan di hatinya. Dia nampak mendecah setelah sampai keluar, "Jelas-jelas aku mendengar suara itu, tapi kenapa tidak ada siapapun?" Geram Risma.
Risma pergi menuju kamarnya. Dia benar-benar bingung kenapa bisa tidak ada orang di kamar Aliza. Suara itu jelas terdengar di telinganya, dia tidak mungkin salah dengar. Memikirkan itu, Risma semakin curiga kepada Aliza, dan berpikir bahwa Aliza sedang bermain-main dengannya.
"Saat ini kamu lolos Aliza. Tapi aku tidak akan berhenti mencari tahu semua tentang kamu. Kita lihat saja, siapa yang akan menang nantinya, kamu, atau aku?" Gumamnya sendiri sambil meremas kertas di atas meja riasnya dengan geram.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam kamar Aliza. Kini Qian telah keluar dari persembunyiannya. Aliza nampak membantu Qian untuk keluar sana, yaitu sebuah ruangan kecil tempat penyimpanan barang-barang ibu kandung Qiandra. Tidak ada seorang pun yang tahu ruangan itu kecuali ayahnya dan juga dia. Bahkan, Aliza pun baru mengetahuinya sekarang.
Ruangan itu di tutupi oleh meja rias di balik dinding. Sebenarnya, itu mudah saja di buka karena memiliki tombol tertentu. Karena bibinya itu tidak mengetahuinya juga, jadi keberadaan Qian tidak akan dia temukan dimanapun.
"Huh. Kau membuatku takut. Hampir saja ketahuan Tante mu." Aliza menghela nafas lega.
Qiandra hanya tersenyum, "Bagaimana kalau kita melakukannya lagi, aku sangat ingin!" Qian mulai menggoda Aliza.
Aliza melototinya dengan wajah marah, "Apa kamu sudah tidak waras? Sekarang ada Tante mu disini. Jadi jangan membuat masalah! Sekarang pergilah dari sini!" Usir Aliza cepat.
"Baiklah. Aku pergi. Tapi berjanjilah, kamu tidak akan menolak jika aku datang lagi! Punyamu sangat nikmat!" Jawab Qian sambil menggoda Aliza.
Pipi Aliza seketika merah merona, dia segera mendorong tubuh Qian pergi sebelum keduanya kembali diselimuti hasrat yang memabukkan.
Pagi hari pun menyapa. Aliza bangun lebih awal. Seperti biasanya dia menyiapkan makanan untuk semua orang sebelum orang-orang bangun dan keluar dari kamarnya.
Pagi ini Aliza membuat Roti bakar dengan selai jeruk kesukaannya. Semuanya nampak siap di atas meja, tidak lama Risma pun turun dan di susul oleh Qian di belakangnya.
Qiandra dan Risma duduk di kursi meja makan. Keduanya nampak mencicipi roti bakar yang di buat oleh Aliza.
Qiandra makan dengan tenang, namun berbeda dengan Risma yang nampak meludahkan roti yang dia makan ke lantai dengan ekspresi jijik.
"Makanan apa ini? Apa tidak ada selai lain selain selai jeruk? Oh astaga aku sangat benci selai jeruk. Kamu tidak bisa bekerja dengan baik ya Aliza? Kamu mau bikin lambung saya kambuh? Istri seperti apa dia, kenapa juga mas Argan menjadikan wanita seperti ini menjadi istrinya. Bahkan dia tidak bisa membuat roti yang enak!" Cerca Risma menghina Aliza.
"Ada apa ini?" Argan menyeru yang terlihat baru datang setelah pergi keluar kota kemarin.
Pagi ini dia sengaja pulang lebih awal, karena dia ingin bertemu Aliza sebelum akhirnya dia akan berangkat bekerja lagi.
Semua orang sontak menoleh ke arah suara. Namun, langkah Risma sudah lebih dulu menghampiri Argan dan mengambil tas kerja Argan serta membawanya untuk duduk di kursi meja makan.
"Kalian bertengkar?" Tanya Argan lagi yang sejak tadi tidak ada siapapun yang menjawab pertanyaan ketika dia datang.
"Anu..." Aliza hendak menjawab, namun segera dipotong oleh Risma.
__ADS_1
"Tidak ada yang bertengkar mas. Tapi istrimu membuatkan roti bakar yang sangat jelek dan tidak enak. Kamu tahu sendiri bukan, aku tidak suka selai jeruk, tapi dia membuatnya untukku. Aku jadi marah karena dia!" Jawab Risma cepat.
"Aliza. Kenapa membuat roti dengan selai jeruk? Qiandra juga tidak menyukainya. Memangnya Qian tidak bicara? Dan kamu kenapa tidak bertanya dulu sebelum membuatkan sesuatu?" Tanya Argan dengan nada sedikit kasar.
Aliza sontak terkejut, dia terkejut melihat suaminya malah membela Risma dibandingkan dia. Dia juga tidak tahu jika Qiandra juga tidak suka selai jeruk, sebab sejak tadi dia melihat Qiandra memakan roti buatannya tanpa memperlihatkan ekspresi wajah tidak senang sama sekali.
"Mas... Aku tidak tahu!"
"Kamu selalu saja begitu Aliza. Aku sudah menyuruhmu untuk menyuruh pelayan saja yang menyiapkan makanan. Jagan kamu! Sekarang kamu mau membela diri disaat kamu tidak tahu bahwa orang-orang dirumah ini tidak menyukai makanan mu?" Kini Argan malah memarahi Aliza. Membuat Kedua mata Aliza berkaca-kaca dan hendak menangis.
Ini pertama kalinya Argan memarahi Aliza. Entah sebab apa? Aliza merasa Argan menjadi berubah.
"Oh ya Argan. Kamu juga jangan percaya sama istrimu bila pergi keluar kota. Siapa tahu dia pergi bersama laki-laki lain atau menyembunyikan seseorang disini." Ujar Risma.
Argan menoleh kepada Risma dengan raut wajah tajam, "Maksud kamu?" Tanya Argan tajam.
"Maksud aku. Jangan terlalu percaya sama wanita jaman sekarang. Bisa saja kan ketika kamu pergi dia malah menemui mantan pacarnya atau dia memiliki laki-laki lain di luaran sana!" Jawab Risma mulai mengompori Argan.
"Tante!" Bentak Qiandra marah. Qiandra menatap Tantenya tajam, dan merasa tidak terima mendengar ucapan Tantenya tersebut yang menjelek-jelekkan Aliza.
Risma dan Argan sontak terkejut. Sementara Aliza sudah pergi dari sana dengan setengah berlari.
"Apa Tante sadar dengan perkataan Tante? Selama ini Aliza tidak pernah seperti itu. Aliza adalah wanita yang baik. Dia dari keluarga yang baik-baik. Tante baru mengenalnya sehari, tapi sudah membuat keributan dengan menjelek-jelekkan Aliza!" Ujar Qiandra menyeka Risma dan protes mengenai pendapat Risma tentang Aliza.
Risma balas menatap Qian dengan wajah tajam, "Kamu berbicara seperti kamu sudah mengenal Aliza sangat lama. Apa kamu sudah mengenal Aliza sejak dulu hingga kamu berani berkata seperti itu? Apa kamu suaminya? Atau pacarnya yang setiap saat selalu membela dia? Bahkan ayahmu, suaminya, tidak membela dia!" Risma menyeka, dan langsung membuat Qiandra terbungkam.
Ingin sekali dia menjawab semua pertanyaan itu, tapi dia hanya pergi dengan membawa kekesalan.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya βΊοΈ
__ADS_1