
...πππ...
Usai membeli baju. Argan pergi membeli bunga untuk Aliza. Malam ini, seluruh hidupnya akan dia berikan kepada Aliza.
Menghabiskan malam yang panjang, makan malam romantis, dan masih banyak hal lagi yang akan dia lakukan kepada Aliza.
Setelah menikah selama dua minggu, selama ini pula Argan meyakinkan dirinya untuk mencintai Aliza sepenuh hati. Memberikan seluruh hidupnya, dengan mempercayai dan membuat dirinya yakin, bahwa Aliza tidak akan berpaling darinya setelah sepenuh hati dia memberikan hidupnya kepada wanita yang jauh lebih muda darinya tersebut.
Memikirkan malam ini, Argan tersenyum sendiri sambil mencium aroma bunga mawar yang sengaja dia beli di toko bunga.
Awalnya dia memang tidak siap memberikan nafkah batin kepada Aliza, sebab masih ada bayang-bayang kenangan bersama mendiang istrinya terdahulu. Namun, sekarang dia sudah yakin dan akan memulai cinta barunya bersama Aliza.
Malam hari, Argan datang dan Aliza segera menghampiri Argan, suaminya, di depan pintu.
"Sayang." Argan memeluk tubuh Aliza. Lalu kemudian memberikan bunga mawar putih kepada Aliza.
"Maukah kamu hidup bersamaku selamanya?" Ujar Argan seraya duduk berjongkok dengan kepala menengadah keatas, serta sebelah lututnya yang bertumpu di lantai dan Sebelah tangannya memberikan sebuah bunga mawar putih ke hadapan Aliza.
Aliza masih menatap suaminya dengan wajah bingung. Dia ragu harus menjawabnya seperti apa. Terlebih lagi, dia merasa terkejut mendapati suaminya yang begitu romantis malam ini.
Sementara itu. Qiandra menatap kedua orang itu dari lantai atas dengan wajah memerah. Kedua tangannya mengepal kuat di pagar besi tempatnya berdiri.
Risma juga memandangi Argan dan Aliza dengan wajah yang sama. Dia mencintai Argan, tapi tidak pernah mendapatkan balasan dari rasa cintanya tersebut. Dan sekarang, Argan malah meminta wanita lain untuk menemaninya sepanjang hidupnya. Jika itu dia, tentu saja dia akan menerima segera. Tidak seperti Aliza yang nampak ragu menjawab permintaan suaminya itu.
Memikirkan itu semua, membuat Risma mendecah saking kesalnya.
"Aliza. Maukah kamu hidup bersamaku selamanya?" Tanya Argan yang kembali mengulang pertanyaannya.
Aliza tersenyum kikuk, "I-iya Mas. Aku mau!" Jawab Aliza terbata.
Argan tersenyum senang. Dia mengambil cincin berlian didalam saku bajunya, lalu memasangnya di jari tangan Aliza. Dia segera bangun dan kembali memeluk tubuh Aliza penuh kebahagiaan. Melihat adegan romantis ini, Qian yang semula berdiri di lantai atas, kini pergi dengan membawa hati yang kesal.
Aliza menatap ke lantai atas, dia melihat bayangan Qiandra yang sudah pergi. Dia tahu, Qiandra pasti akan marah kepadanya. Tapi bagaimana lagi, dia juga istri ayahnya dan tidak mungkin akan menjauhi atau menolak sentuhan suaminya sendiri. Yang ada malah menimbulkan kecurigaan kepasa suaminya itu.
"Sekarang. Cepat ganti bajumu. Berdandan-lah yang cantik, karena kita akan makan malak di luar." Ujar Argan lagi.
Aliza sontak menatap suaminya terkejut, "Makan diluar? Tapi kenapa Mas? Aku sudah masak makan malam" jawab Aliza.
"Sudah sana. Jangan banyak protes. Kita akan menghabiskan malam bersama diluar. Kamu sudah lama bukan menunggu malam ini? Aku akan memberikan seluruh hidupku kepadamu Aliza. Malam ini kamu akan menjadi milikku!" Jawab Argan bersemangat.
Aliza membelalakkan matanya sempurna. Dia hampir saja pingsan mendengar hal itu, tapi Argan segera menangkap tubuh Aliza yang oleng.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Argan khawatir.
"A-aku baik-baik saja Mas. Aku pergi dulu!" Jawab Aliza dan segera berpamitan pergi.
"Eh. Ini ada baju yang aku belikan tadi." Argan memberikan tas baju kepada Aliza.
"Pakailah, dan untuk baju tidurnya pakai saja nanti ketika kita sampai di suatu tempat. Jangan melupakan bajunya ya!" Bisik Argan manja di telinga Aliza.
Aliza menjadi merinding dibuatnya, dia pun segera beranjak setelah mengambil baju-baju itu.
Argan pikir, Aliza juga bersemangat untuk malam ini. Itu sebabnya, Aliza segera pamit untuk pergi ke kamar. Dia tidak tahu, Aliza berusaha menyembunyikan kegugupannya dan ketakutannya, hingga dia memilih pergi sebelum Argan menyadari ekspresi wajahnya.
"Aku akan membuatmu menjerit malam ini Aliza. Malam ini adalah milik kita berdua!" Gumamnya di dalam hatinya dengan penuh semangat.
Di dalam kamar. Aliza sudah memakai bajunya. Dia duduk di kursi meja rias untuk berdandan, namun Argan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Cepatlah. Aku sudah tidak sabar!" Ujarnya dengan suara serak dan penuh hasrat.
Melihat Aliza berpakaian seksi, jiwa kelelakian Argan memuncak. Dia sangat berhasrat dan ingin memberikan penyatuan yang amat sempurna untuk Aliza. Dia pun menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak tergoda.
__ADS_1
Argan agak tidak nyaman di malam pertamanya melakukan di rumah. Itu akan membatasi setiap aksi brutalnya malam. Sebab itulah dia memesan hotel untuk malam pertama mereka.
"Sayang. Aku tunggu kamu di mobil ya!" Ujar Argan kembali. Aliza mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah kepergian Argan, Aliza sedikit menghela nafas berat, "Bagaimana ini? Jika Argan tau aku sudah tidak perawan lagi, dia pasti akan sangat marah. Bagaimana aku menghadapi dia?" Lirih Aliza bingung.
Kemudian, dia teringat dengan Qiandra. Dia menelpon Qiandra lalu detik berikutnya dia mematikan teleponnya sebelum telepon itu diangkat.
"Bagaimana ini. Jika aku memberitahu Qiandra, dia akan marah dan melupakan posisinya sebagai seorang anak. Qiandra, apa yang harus aku lakukan?" Gumam Aliza cemas.
"Aku mengirim pesan saja!" Ujarnya kemudian.
Aliza pun nampak mengetik beberapa kata disana, lalu mengirimnya kepada Qiandra.
"Aku pergi dulu. Ayahmu mengajakku makan malam di luar. Jangan tunggu aku, malam ini mungkin aku tidak pulang!"
"Jika Argan mengetahuinya, aku akan mengatakan bahwa aku sudah bermain gelap bersama laki-laki diluar. Aku tidak ingin Qiandra akan dibenci oleh ayahnya. Biarlah aku saja yang menanggung semua kesalahan ini!" Gumam Aliza lagi.
Setelah berpikir keras, Aliza pun menemukan cara agar Qian tidak terseret masalah jika sewaktu-waktu Argan mengetahui bahwa dirinya sudah tidak perawan. Dengan begitu, Qiandra tidak akan dibenci oleh ayahnya sendiri karena dia.
Aliza pun bangun dari duduknya dan pergi menyusul suaminya. Didalam ketakutan, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia siap menerima konsekuensinya malam ini.
"Hidup ku akan berakhir malam ini juga!" Gumam Aliza cemas.
Sesampainya di dalam mobil, Argan tersenyum ke arah Aliza. Sebelah tangannya merangkul pundak Aliza dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.
"Aku mencintaimu sayang!" Ungkap Argan sambil memegang dagu Aliza yang manis.
Aliza sedikit mendongak, dan wajah Argan berada di atas wajahnya.
Cup!
Namun tiba-tiba, dia teringat dengan wajah Qiandra. Segera dia menyudahi ciuman ini dengan pura-pura terbatuk.
Uhuk uhuk.
Argan nampak khawatir, "Sayang. Kamu kenapa?" Tanya Argan cemas.
"Aku ingin minum!" Jawab Aliza dan terus pura-pura batuk.
Argan mengambil Air mineral yang biasa dia taruh di dalam mobil, lalu memberikannya kepada Aliza.
Aliza langsung meminum airnya, di dalam hati, dia menggerutu dirinya sendiri.
"Astaga. Apa aku sudah gila? Ciuman ayah dan anak ini sungguh membuat aku hampir kehilangan akal. Kenapa aku begitu saja menikmati ciuman mas Argan? Jangan-jangan aku juga menyukainya?" Gumam Aliza di dalam hatinya cemas.
"Tidak-tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku mencintai Qiandra, hanya dia saja. Maafkan aku Mas Argan. Aku akan mengatakan perasaan ku kepadamu yang sebenarnya. Aku tidak mencintaimu, aku hanya tidak tega menyakiti perasaan mu saja. Jangan membuatku terjebak oleh pesona kalian berdua. Ini tidak boleh terjadi."
"Mas,. maafkan aku, aku tidak mencintaimu tapi aku mencintai anakmu Qiandra. Kami, sudah melakukan hubungan terlarang. Malam pertama yang seharusnya menjadi milik kita, tapi sudah di ambil oleh anakmu." Namun nyatanya, kata-kata ini hanya bisa dia ucapkan di dalam hati saja. Sungguh sulit mengungkapkan semuanya kepada Argan. Pria yang memiliki umur 42 tahun ini sangat baik kepadanya, membuat Aliza tidak tega bila menyakiti perasaannya.
Tidak lama, mobil mereka pun sampai di sebuah restoran berbintang. Mereka berdua turun dari mobil. Tidak ada yang menduga bahwa Aliza adalah istri Argan, semua orang yang melihat kecantikan Aliza, menyangka bahwa Aliza adalah ANAK dari seorang Argan dan bukannya istri.
Namun, ketika keduanya duduk di meja VIP khusus pasangan yang sedang kencan, membuat semuanya mengerti bahwa Aliza adalah istri Argan.
"Oh astaga. Wanita secantik dan semuda itu ternyata istrinya ya? Aku lihat-lihat gadis itu lebih cocok jadi anaknya saja hahahah" terdengar gelak tawa mengejek di ujung sana. Semua orang membicarakan hubungan Argan dan Aliza yang memiliki umur terpaut jauh 21 tahun.
Aliza meringis tak enak hati, namun Argan seolah tak peduli. Hidupnya adalah dunianya. Dia tidak peduli apapun kata orang, yang penting Aliza menerimanya sebagai suami, itu saja.
Semula semuanya berjalan lancar. Makan malam romantis dan berbincang banyak hal. Kini Argan dan Aliza sudah sampai di hotel. Aliza nampak takjub melihat hiasan bunga mawar di sepanjang kamar. Warna lampu yang temaram, membuat suasana semakin romantis.
"Sayang!" Argan memeluk tubuh Aliza dari belakang. Hembusan nafasnya di leher jenjang Aliza membuat Aliza merasakan sesuatu menggerayangi tubuhnya.
__ADS_1
"IloveYou" bisik Argan manja. Dia mengecup leher Aliza lalu menggigitnya.
Aliza menggeliat dan Argan segera membalikkan tubuh Aliza kepadanya. Kini keduanya nampak saling menatap. Perlahan, wajah Argan semakin mendekat. Menatap benda kenyal yang sejak tadi menggoda hasratnya.
Semakin lama, Argan semakin mendekat. Wajah keduanya kini berjarak hanya satu senti, dan siap untuk melahap santapannya malam ini. Deruan nafas berat terdengar dan bisa mereka rasakan satu sama lain.
Kringggggg Kringggggg!
Argan yang hendak mencium bibir Aliza sontak terkejut ketika mendengar suara telepon.
"Maaf!" Argan mengabaikan telepon itu dan meletakan nya di atas meja. Dengan suasana hati yang penuh hasrat, Argan menggendong tubuh Aliza ke atas kasur.
Aliza sudah pasrah, setelah ini dia akan di tendang oleh suaminya sendiri.
Kringggggg!..
Kembali suara itu terdengar. suara telepon dari arah meja. Itu adalah telepon Argan. Argan mendecah kesal. Suara telepon itu sungguh mengganggu moment-moment bahagianya. Segera dia beranjak untuk mematikan teleponnya, namun hal itu langsung terhenti ketika dia melihat nama anaknya dilayar telepon.
"Qiandra?"
"Hallo Qiandra. Ada apa?" Tanya Argan setelah mengangkat telepon anaknya.
"Pa. Aku kecelakaan. Aku luka parah, papa bisa pulang gak? Gak ada yang ngurusin aku di rumah!" Jawab Qiandra.
"Apa?" Argan nampak terkejut.
"Kamu kecelakaan?" Tanya Argan mengulangi lagi untuk memastikan.
Sontak Aliza terkesiap mendengar itu, dia pun mendekati suaminya.
"Mas? Qiandra kecelakaan dimana?" Tanya Aliza khawatir.
"Tidak tahu!" Jawab Argan.
"Qiandra. Kamu dimana sekarang?" Tanya Argan kepada Qiandra.
"Aku dirumah pa!" Jawab Qiandra.
"Kenapa tidak kerumah sakit?"
"Tidak Pa. Cepatlah pa. aku kesakitan!"
Keduanya saling menatap dan mereka pun nampak khawatir dan memutuskan untuk pulang.
"Kamu tunggu di rumah ya. Papa akan pulang sekarang. Akan papa telepon Dokter Anjas. Kamu tetap lah di rumah!" Perintah Argan.
Setelah itu, keduanya memutuskan pembicaraan dengan mematikan teleponnya. Malam panjang yang dibayangkannya sejak tadi, kini harus kandas karena keselamatan anaknya lebih penting dari malam panjang bersama Aliza.
"Mas. Ayo cepat!" Seru Aliza. Argan sontak terbuyar, dia menatap sekilas kamar yang sudah dia pesan itu, lalu kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya. Ayo!" Ajaknya kemudian. Aliza dan Argan pun pulang kerumahnya.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya βΊοΈ
__ADS_1