
...💮💮💮...
"Aliza! Kau disini?" Tanya Argan dengan tatapan menyelidik. Pasalnya, di dapur juga ada Qian yang sedang duduk di meja makan.
Aliza menghampiri suaminya, "Sayang! Maaf! Aku sedang mengambil minum. Eh ternyata, Qian juga kesini, katanya dia lapar, makanya aku mau masak untuk dia! Kamu kenapa kesini?" Tanya Aliza balik.
"Oh begitu. Tadi, aku ke kamar, tapi kamu tidak ada disana, makanya aku nyusul kesini" jawab Argan.
"Qian. Tumben kamu mau makan malam-malam begini?" Tanya Argan kepada anaknya dengan tatapan heran.
"Iya pa. Nafsu makan Qian lagi naik. Jadi sering lapar kalau sudah malam" jawabnya.
"Mas. Kamu juga mau makan? Sekalian biar aku bikinkan." Sambung Aliza.
"Tidak usah. Biar untuk Qian saja. Kalau gitu, Mas pergi ke kamar"
Aliza hanya mengangguk. Lalu Argan pun pergi meninggalkan Aliza dan Qian di dapur.
Setelah kepergian papanya. Qian menghampiri Aliza dan memeluknya dengan penuh kasih.
"Terimakasih untuk malam ini!"
Cup!
Selepas memberikan kecupan hangat, Qian pun juga ikut pergi dari sana. Sementara, Aliza nampak masih mematung di tempatnya. Untuk beberapa saat, dia merasa sudah kehilangan nafas. Dia sangat takut. Kedatangan Argan yang tiba-tiba tadi, membuat Aliza hampir saja mati berdiri.
Namun, ketika dia memikirkan percintaan hebat mereka tadi, rasanya Aliza ingin sekali melayang. Rasanya begitu berbeda. Mengapa sentuhan itu selalu saja membuatnya mabuk kepayang?
Alih-alih memikirkan, Aliza beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Mas!" Seru Aliza.
Lagi-lagi seruannya tidak di jawab. Ketika dia mendekati suaminya, ternyata Argan sudah tertidur.
Ya, begitulah suaminya. Sepulang bekerja, selalu saja tertidur dan lupa kepada istri yang membutuhkan kasih sayang.
Aliza tidak terlalu memikirkannya, sebab dia juga tidak terlalu mencintai suaminya. Hanya Qian. Hanya Qian lah yang bisa membuat Aliza melayang bagaikan di awan surga. Bahkan, sisa-sisa percintaan mereka tidak Aliza lupakan begitu saja.
Pagi hari. Nampak Aliza sedang menyiapkan sarapan pagi. Kopi susu adalah kesukaan suaminya. Jadi Aliza tidak pernah lupa untuk membuat kopi susu setiap paginya.
Tidak lama. Argan pun turun. Nampak dia sudah rapi dengan baju formalnya. Rambutnya yang disisir rapi dengan posisi menyamping ke kanan, membuat penampilan Argan terlihat sangat sempurna. Walaupun umur suaminya sudah cukup tua, namun masih terlihat tampan dan berwibawa. Wajar jika Qian mewarisi wajah ayahnya yang terlihat seperti pangeran Eropa. Terkadang, Aliza merasa gila memikirkan kedua pria itu. Keduanya begitu memikat Aliza. Hingga Aliza merasa sangat sulit melepaskan diri dari mereka berdua.
"Sayang!" Seru Argan. Lalu mengecup kening Aliza.
"Silahkan duduk mas. Aku akan mengambilkan kopi mu!" Ujar Aliza.
Tidak lama. Qian pun menyusul dengan pakaian rapi. Ya, Qian memang ingin pergi ke kampusnya. Sebab itulah dia pun juga berpakaian rapi. Bedanya, hari ini, Qian terlihat sangat bahagia dari hari-hari sebelumnya. Senyum manisnya pun nampak tidak hilang dari bibirnya.
"Selamat pagi semuanya!" Sapa Qian. Lalu duduk di kursi meja makan.
"Pagi nak. Kamu terlihat sangat bahagia hari ini, kenapa?" Tanya Argan penasaran. Sebab, beberapa hari lalu, jangankan ikut makan bersama, menyapa pun tidak.
Qian hanya tersenyum, "Tidak ada Pa. Qian hanya sedang bersemangat aja!" Jawab Qian. Lalu dia mengambil roti panggang dan melahapnya.
"Mas! Kopinya!"
__ADS_1
"Aku juga mau susunya!" Ujar Qian.
"Baiklah. Tunggu sebentar!" Jawab Aliza. Namun, sebelum Aliza beranjak, Qian memberikan senyuman manisnya kearah Aliza.
Argan melihatnya. Dia menoleh ke sisi Aliza dengan tatapan heran dan Aliza segera beranjak sebelum menyadari bahwa dia sempat melototi Qian tadi. Sungguh, jantungnya terasa ingin keluar dari tempatnya karena ulah Qian. Pria itu sangat suka membuat ulah dan membuat dia merasa spot jantungan mendadak.
"Apa mereka sudah baikan? Sebelumnya Qian sangat marah mengetahui bahwa aku menikah lagi. Tapi....hah sudahlah, mungkin Qian sudah bisa menerima Aliza sebagai ibunya saat ini. Semoga saja!" Batin Argan.
Sementara itu. Argan tidak tahu kebenarannya, bahwa Qian sedang menggoda Aliza. Dia juga tidak tahu, bahwa Istri dan Anaknya telah menjalin hubungan terlarang yang mungkin tidak akan terbayangkan olehnya sebelumnya.
"Ini susunya!" Ujar Aliza memberikan segelas susu di depan Qian.
Qian mengedipkan sebelah matanya kepada Aliza dengan genit. Aliza sampai menganga, takut, jika Argan melihatnya.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu terus berdiri di situ?" Tanya Argan.
Aliza tersenyum kikuk dan langsung duduk ke kursinya. Wajahnya terlihat sangat cemas. Dia hanya bisa menggerutu di dalam hati menghadapi sikap Qian barusan.
"Dasar. Anak tiru kurang ajar!" Gerutu Aliza kesal di dalam hatinya.
Qian hanya tersenyum melihat wajah cemberut itu, sementara Aliza merasa was-was atas tingkah Qian barusan. Takut. Itulah yang dia rasakan.
Hubungan gelap yang terjalin antara dia dan Qian. Membuat Aliza seringkali merasa takut. Dia merasa sangat bersalah telah menghianati suaminya. Namun bagaimana lagi? Hubungan itu telah terjadi. Bahkan, hubungan itu seakan menjerat dirinya terlalu jauh dan semakin dalam.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️